ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
POCONG BERDARAH


__ADS_3

Setelah kumandang Adzan kembali terdengar, Anto, Darto serta Pak Sapto bergegas menuju langgar, meraka menunaikan shalat jamaah isya di tempat itu, dan bergegas pergi menuju rumah masing-masing.


Darto tampak berlari, dia sedikit terburu-buru menyibak gang kecil hingga sampai di pertengahan sawah. Ketika berada di rumah pak Sapto, Darto teringat dengan sosok hitam besar yang dulu pernah dia lihat di depan kebun pisang milik Si Mbah. (episode 2)


"Assalamu'alaikum," ucap Darto mencoba berinteraksi dengan sosok hitam yang selalu berdiri di samping jalan menuju rumahnya. Darto sedikit curiga dengannya, karena Si Mbah tidak pernah mengusik kehadirannya sejak dulu.


"Wa'alaykumussalam," jawab sosok tersebut kemudian tersenyum memampangkan barisan gigi tajam dari wajah berbulu miliknya.


Darto sedikit ngeri melibat gigi yang terpampang di depannya, namun hatinya merasa lega karena mahluk itu menjawab salamnya. Bisa dibilang kecurigaan Darto sama sekali tidak meleset.


"Kamu teman Si Mbah, kan?" tanya Darto kembali sembari menatap mahluk itu dengan tatapan menyelidik. Dia ingin mendapatkan jawaban dari kecurigaan yang bersarang di dalam hatinya.


Mahluk itu hanya mengangguk setelah mendengar pertanyaan Darto, kemudian kembali membuka suara besar miliknya "Maaf saya tidak pernah menyapa, saya takut jika Nak Darto takut dengan saya,"


"Sudah.. Setidaknya sekarang saya tahu kalau kamu di pihak saya, sekarang aku mau minta bantuan sama kamu. Tolong ceritakan apapun yang kamu tau dari sosok yang suka ngetuk pintu," ucap Darto sembari menatap mata menyala milik mahluk itu.


"Dua hari setelah kamu pergi, buto ireng datang lagi, Dar. Bisa dibilang pocong itu keliling kampung buat cari kamu, karena buto ireng tidak bisa menemukan kamu malam itu," ucap sosok itu sembari membalas tatapan Darto.


"Syukurlah kalau memang begitu. Tapi bukannya Lastri sudah musnah, ya? Kenapa pocong itu masih ada?" tanya Darto sembari mengernyitkan dahi di wajahnya.


"Bukan cuma satu, Dar. Pocong merah yang berkeliling ada dua," jawab singkat mahluk hitam kemudian memalingkan pandangan ke arah rumah Darto.


"Lebih baik kamu bertanya dengan nenek yang kamu bawa di dalam tas," sambung sosok itu kembali.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Darto langsung mengangguk kemudian pamit dan pergi menuju rumahnya. Dia mencari batu hitam yang berisi sosok nenek yang pernah membuntuti istri Anto. Setelah mengacak isi Tasnya, akhirnya Darto menemukan batu yang sudah ia persiapkan untuk rencananya.


"Sepertinya kamu harus kerja lebih awal Nyi," ucap Darto sembari menggenggam batu hitam di tangannya, tak lama setelah itu sosok nenek keluar dan muncul di depan Darto.


"Ada yang bisa saya bantu, Den?" ucap sang Nenek sembari menunduk. Dia merasa takut setelah sedikit merasakan energi yang terpancar dari tangan Darto, ketika dirinya di panggil.


"Saya cuma mau tanya, sebenarnya ada berapa pocong merah yang buto ireng punya?"


"Seingat saya ada empat, Den. Pocong pertama sudah mati sejak dulu, dan yang terakhir juga mati belum lama ini,"


Setelah mendengar ucapan Nenek, Darto mengangguk, dia paham dengan situasinya. Satu pocong adalah yang dibunuh oleh mendiang ayahnya, dan yang terakhir adalah Lastri yang sudah binasa.


"Bisa kamu cari mereka?" ucap Darto kembali sembari menatap lurus ke arah Nenek di depannya.


"Bisa, Den. Mereka dekat," ucap Nenek sembari menutup matanya.


Mendengar pertanyaan dari Darto, Sang Nenek hanya tertunduk, dirinya gemetaran, tampak sekali dia tengah ketakutan.


"Maaf, Den. Saya masih mau hidup," ucapnya sembari gemetar, tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan.


"Tidak, Nyi. Saya yang minta maaf," ucap Darto sembari menghela nafas, dia mencoba lepas dari rasa emosi yang mulai merambat dari dada hingga ubun-ubun kepala.


Sosok itu kembali mendongak, Dia menatap Darto dengan serius kemudian berkata, "Mereka sudah menemukan Aden! sebentar lagi mereka ke sini!"

__ADS_1


Setelah mengucap kalimat itu, sang nenek langsung hilang bagai kepulan asap. Dalam rasa takut dia masuk kembali kedalam batu di tangan Darto, dia benar-benar tidak ingin semua bawahan buto tahu jika dirinya memberikan bantuan kepada Darto.


Darto maklum dengan ketakutan sang nenek, dia bahkan menutupi batu yang dihuni nenek itu menggunakan kain yang sudah terpapar dengan energi yang Darto miliki, sehingga kini teman miliknya tidak bisa lagi mendeteksi energi maupun lokasi dari nenek tua tersebut.


Setelah menyembunyikan sang nenek, Darto bergegas menuju teras rumah miliknya. Dia duduk bersila sembari terus berdzikir di dalam doanya. Perlahan dari kejauhan tampak dua sosok yang melompat, postur mereka sama, baju yang mereka kenakan juga sama, sama-sama mengenakan kafan yang berlumur darah, dan kepala yang menggantung di atas dadanya.


Setiap lompatan mahluk itu berpindah, "Bug" hanya dalam satu kedipan mata salah satunya sudah tepat berdiri di depan Darto. Dia memberikan senyum menyeringai, dari wajah dan kepalanya yang terbalik.


Melihat itu, Darto tidak bergeming, begitu juga sosok pocong tersebut, di antara mereka seperti ada dinding yang menghalangi. Sosok itu benar-benar terpental ketika mencoba untuk lebih dekat lagi dengan Darto.


Angin mulai bertiup kencang, namun tidak separah seperti yang Darto bayangkan. Darto pikir akan datang hujan beserta petir sama seperti ketika dirinya melawan buto ireng, tapi tebakannya benar-benar salah. Kali ini hanya angin ribut yang menyertai pertengkaran mereka.


"Bug" Salah satu pocong yang lain mencoba menyerang Darto dari belakang, namun usahanya juga sia-sia, dia seperti menabrak dinding yang tak kasat mata.


Perlahan angin ribut semakin menggila. Bahkan beberapa batang pohon pisang berhasil roboh di buatnya, ketika cahaya putih mulai terpancar dari sebelah tangan milik Darto.


"Wajana! Sastro!" teriak Darto memanggil kedua temannya. Kali ini dia tidak memanggil mereka dengan julukan 'Kakek' lagi, karena rasa hormat yang Darto miliki sudah musnah setelah menyaksikan kelakuan mereka berdua di masa lalu.


Mendengar panggilan Darto, cincin dan kalung yang berada di dalam tas di kamar rumah Darto menyala, kemudian secara tiba-tiba dua sosok yang baru saja dia panggil sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Mereka berdua itu termasuk hasil karya kalian! jika Gending tidak kalian suruh bersekutu, maka buto ireng juga tidak akan ada, begitu juga dengan kedua pocong itu. Jadi silahkan kalian bersihkan masalah yang kalian berdua perbuat, sekarang kalian punya kesempatan untuk menebus dosa yang kalian ciptakan," teriak Darto tanpa menoleh ke belakang, dia masih sedikit malas ketika harus menatap Sastro dan Wajana.


Sastro dan Wajana seketika tertegun setelah mendengar ucapan Darto. untuk sejenak mereka saling bertatap, kemudian saling mengangguk, dan melompat ke arah dua pocong berdarah yang di depan Darto. dan pertarungan antar mahluk gaib pun benar-benar terjadi malam itu.

__ADS_1


Bersambung,-


...Jangan lupa dukungannya 😊...


__ADS_2