
Setelah cukup beristirahat, Wajana yang bangun paling perama langsung membangunkan lima temannya. Dia menepuk pundak dari kelima sahabatnya secara bergantian, kemudian kembali membagikan sisa buah yang dia bawa sebelumnya.
Darto dan lima temannya benar-benar siap untuk kembali bertempur, perut mereka sudah terisi dan juga energi mereka sudah pulih sepenuhnya, setelah beristirahat untuk waktu yang cukup lama.
"Ayo kita kembali lagi," ucap Darto sembari melompat naik ke atas pundak Maung yang sudah berubah dalam wujud harimau.
Semuanya temannya langsung mengangguk, sama seperti sebelumnya, Maung membawa Darto dan Wajana, sedangkan Komang membawa Jaka dan juga Sastro di atas pundaknya.
Kali ini mereka tidak berpencar, mereka melesat saling beriringan, melewati tepi danau untuk menuju pintu yang sebelumnya pernah mereka gunakan untuk masuk ke tempat ini.
Warna dari air danau benar-benar berbeda dengan sebelumnya, yang semula berwarna hitam kebiruan, kini menjadi biru cerah tanpa sedikitpun noda hitam di tengahnya.
"Lihat itu, Dar... Mungkin yang membuat warna danau menjadi hitam adalah semua musuh yang sudah kita kalahkan," ucap Maung sembari terus berlari.
"Iya, Maung... Itu benar-benar pertempuran yang lama," Darto terkekeh pelan.
Sepanjang perjalanan Maung terus bercerita banyak hal. Dia benar-benar berbeda dari sebelumnya, setelah berhasil memberantas seluruh penghuni kamar nomor tujuh.
Tepatnya, bukan hanya Maung saja. Sastro, Wajana, Komang dan Jaka pun semakin mempercayai Darto. Mereka merasa bisa menyingkirkan apapun penghalang, jika Darto yang memimpin semuanya.
Hari demi hari yang sudah dihabiskan bersama, semakin dan semakin mempererat tali yang biasa kita sebut sebagai persaudaraan diantara mereka. Bedanya, mereka itu bukanlah hanya saudara biasa, melainkan enam saudara yang hidup untuk tujuan yang sama dan juga siap untuk mati bersama.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya enam pria itu berhasil sampai pada tempat tujuan mereka. Tanpa menunggu lama mereka bergegas keluar, kemudian langsung melangkah menuju ke depan pintu nomor enam.
Seperti biasa Darto langsung memegang gagang pintu, dia menoleh pada lima sahabatnya, kemudian berkata, "Kalian siap?"
Sama halnya seperti pintu-pintu sebelumnya, lima teman Darto langsung mengangguk dan membuat Darto langsung memutar gagang pintu di tangannya.
Darto membuka pintu tanpa pikir panjang, dan kali ini yang terlihat di sepanjang mata memandang adalah hutan lebat yang hampir mirip dengan hutan tertua tempat Eyang Semar dan Maung tinggali.
"Ini bukan hutan kami, Dar," ucap Maung setelah selesai memastikan keadaan dari balik pintu.
"Benar, Maung... hutan milik Eyang bukan kumpulan pohon kapuk seperti ini," jawab Darto sembari mengangguk.
Tempat yang tampak di depan enam pria tersebut adalah tempat dimana ratusan pohon kapuk dengan ukuran yang sangat besar tumbuh saling berhimpitan.
__ADS_1
Satu batang pohon ukurannya lebih besar dari ukuran rumah milik Darto di kampung, dan tingginya benar-benar membuat kita harus mendongak untuk melihat pucuk yang tertutup rapat oleh dedaunan rimbun.
Setiap batang pohon benar-benar memiliki lumut yang sangat tebal, menandakan jika pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun lamanya.
"Kita berpencar lagi?" tanya Komang kebingungan.
"Jangan... Kita bisa tersesat kalau terpisah," jawab Darto kemudian menoleh pada lima sahabatnya, "Kalian tunggu dulu di sini," sambungnya lagi.
Setelah mengucap kata tersebut, Darto menghilang dari tempatnya berdiri, dia berpindah ke atas pohon di dekatnya kemudian melihat kondisi sekitar dari atas sana.
Jaka menyusul Darto, dia berpindah tepat di samping Darto dan berkata, "Tidak terlihat apa-apa, Kang."
Benar... yang diucapkan Jaka adalah kondisi yang terlihat dari tempat Darto dan Jaka berada. Mereka tidak bisa melihat apa-apa, selain rerimbunan daun yang begitu lebat di sepanjang mata memandang.
"Jak... Lempar aku ke atas," ucap Darto sembari melompat.
Jaka langsung tahu apa yang diinginkan oleh temannya, dia langsung menendang telapak kaki Darto dan menjadi tolakan, tepat sebelum Darto jatuh dari lompatan kakinya.
Dengan kekuatan tendangan Jaka, Darto kembali melambung begitu tinggi ke atas udara. Dia menyibak rerimbunan daun di atas pohon dan terus melesat naik melebihi tinggi pohon yang terbentang di bawahnya.
"Kita lurus saja dari sini. Nanti ada tempat yang berbeda dari ratusan pohon besar ini," ucap Darto sembari mengacungkan jari telunjuk, menuju arah dimana dia melihat pohon yang paling besar diantara pohon besar yang lainnya.
Jaka yang baru sampai di atas tanah juga langsung ikut mengangguk, kemudian empat pria kembali menaiki Maung dan Komang untuk menuju tempat yang Darto tunjukkan.
Setelah hampir setengah jam Maung dan Komang berlari, pohon besar yang sempat Darto lihat dari atas udara mulai tampak dari kejauhan.
Dua buah pohon raksasa berdiri berdampingan, di tengah padang semak yang mengelilingi dua buah pohon tersebut.
Ratusan pohon yang lain tumbuh cukup jauh dari dua pohon tersebut, hingga terlihat ada satu tempat lapang berbentuk lingkaran di sekitar dua pohon raksasa itu. Tempat lapang tersebut hanya di penuhi semak belukar setinggi dada Darto.
Maung dan Komang tidak menghentikan langkah kakinya, mereka terus berlari dan melompat ke tengah semak, namun Darto berteriak ketika melihat sesuatu yang tersimpan di balik belukar tersebut.
Dengan wajah panik Darto berkata, "Maung! Komang! Mundur!"
Maung dan Komang tidak bisa menyanggupi permintaan Darto, karena mereka sudah terlanjut melompat, dan tengah mendarat dari lompatannya itu.
__ADS_1
Melihat Maung dan Komang tersudut, Darto langsung mengarahkan energi ke atas tanah dari atas udara. Dia menyebarkan energi dalam sekejap mata, dan berhasil membungkus semua tempat disekitar mereka.
Tepat sebelum Maung dan Komang mendaratkan kaki, Jaka yang paham dengan tindakan Darto langsung menjentikkan api yang dia buat dalam sekejap mata, dia mengarahkan bulatan api miliknya pada energi Darto, yang sudah menyelimuti semak seperti kabut di bawah kakinya.
Akhirnya dentuman besar kembali terjadi ketika dua energi miliknya dan energi milik Darto berbenturan.
Dari dampak serangan tersebut terdengar ratusan pekik suara jerit, dan juga Darto beserta lima temannya terpental mundur hingga membentur pohon di belakang mereka.
"Sebenarnya ada apa di sana, Dar?" Maung berbicara sembari mencoba berdiri.
"Ada tumpukan tubuh di bawah semak!" Darto memasang wajah tertekan dan sangat pucat.
"Tubuh apa, Kang?" Jaka penasaran.
"Kalian semua tidak lihat?" Darto kembali melempar pertanyaan.
Mendengat pertanyaan itu, lima teman Darto hanya menggelengkan kepalanya. Mereka tidak melihat sesuatu yang aneh, bahkan mereka benar-benar terkejut ketika Darto berteriak dengan begitu kerasnya.
"Ada mayat berserakan disana, aku bahkan melihat satu yang masih memiliki tubuh segar, dia masih mengeluarkan darah, dan dia berbaring di samping tubuh yang sedang dikerubungi cacing dan serangga lainnya," Darto menjawab sembari menutup mulut. Dia berangsur mundur dari lima kawannya, kemudian memuntahkan buah yang belum lama ia makan.
Darto benar-benar muntah kala itu, dia melihat satu penampakan yang cukup menjijikkan, melebihi mayat mengambang di dalam kamar nomor tujuh.
Mendengar pernyataan tersebut, Jaka yang penasaran langsung mendekat ke arah semak. Dia membuka sedikit semak yang menghalangi pandangan, kemudian langsung mencium bau yang begitu menusuk, menyeruak masuk melalui kedua lubang hidung miliknya.
Jaka juga langsung memuntahkan isi perutnya di tempat tersebut, dia tidak bisa menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul, setelah melihat bangkai yang sedang dikerumuni lalat dan juga cacing tanah di depan wajahnya.
Tanpa enam pria itu sadari, sesuatu seperti bangkai manusia masih sering muncul di dalam semak setiap harinya.
Jiwa yang menjadi persembahan untuk iblis selalu menjadi makanan untuk iblis tersebut, tapi tubuh yang sudah tidak memiliki jiwa selalu dibuang ke dalam kamar nomor enam.
Darah yang terserap oleh tanah di kamar tersebut menjadi salah satu sumber dimana sungai darah berasal, sedangkan tubuh yang membusuk dari setiap jasad menjadi satu pupuk yang bisa memberi nutrisi untuk setiap pohon yang ada di dalam kamar.
Hutan belantara yang tumbuh dari pupuk manusia, sudah begitu banyak menyerap daging dari setiap korbannya, terutama dua pohon besar yang sedang dikelilingi tumpukan mayat tersebut, di sana ada satu rahasia yang mungkin akan membuat Darto dan Jaka merasa tercengang.
Bersambung....
__ADS_1