ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KELANJUTAN DARSA


__ADS_3

"Sebelumnya, kamu sudah lihat Darsa sampai mana, Dar?" ucap Sastro mengawali sebuah perbincangan panjang.


"Aku lihat dia nikah," Jawab Darto singkat.


"Baik, maka saya tidak perlu repot menceritakan awal mula dendam Gending berasal," ucap Sastro kemudian duduk bersila di samping Wajana yang sudah duduk terlebih dahulu


"Setelah menikah, Darsa pergi meninggalkan kampungnya. Dia dan Si Mbok ikut tinggal di rumah mempelai wanita, dan tak lupa juga Darsa membawa Gending ke sana,"


"Gending ikut?!" timpal Darto menghentikan cerita Sastro.


"Iya, Dar. Mau bagaimanapun Darsa sudah menganggap Gending itu sebagai adik perempuannya, dan hingga sejauh itu Darsa belum tau tentang perjanjian yang Gending lakukan dengan si ular, karena kami terus membantu menutupinya," Jawab Sastro sembari menundukkan wajah, merasa takut jika Darto marah.


"Ya! Kalian memanglah seburuk itu!" ketus Darto singkat kemudian menghela nafas panjang dilanjut menyalakan rokok di tangannya.


"Lalu? Bagaimana kelanjutannya?" ucap Darto sembari meniup asap dari bibirnya, menghasilkan kepulan kelabu yang mengambang di udara.


"Mereka tinggal satu atap untuk waktu yang cukup lama, Dar. Semuanya tampak normal, tidak ada masalah apapun yang terjadi. Gending ikut di rumah itu sebagai rewang, tugasnya hanyalah bersih-bersih dan memasak setiap harinya. Meski Gending menyimpan amarah, dia tetap menahan hingga berbulan-bulan lamanya," Sastro berhenti kemudian merebut rokok yang sudah menyala di tangan Darto.

__ADS_1


"Kamu merokok?" Darto benar-benar melongo melihat Sastro yang merokok di depannya.


"Dulu banyak orang yang ngasih sesaji makanan ditambah rokok juga, Dar. Meski sekarang sudah enggak lagi," jawab Sastro singkat sembari menghisap rokok di tangannya.


Melihat itu Darto hanya menggelengkan kepala dan sedikit tertawa, kemudian kembali bertanya, " Terus bagaimana bisa Gending membunuh istri Darsa?"


Mendengar pertanyaan Darto, Sastro mendongak sembari meniup kepulan asap di bibirnya, kemudian kembali bercerita, "Semuanya berubah, ketika perut Istri Darsa mulai membesar, Dar. Darsa memberi perhatian lebih kepadanya, sehingga Gending yang setiap hari melihat kemesraan mereka langsung gelap mata. Dia hengkang dari rumah itu dengan alasan ingin mencoba peruntungan, dan Darsa serta istrinya langsung memberikan ijin." kembali Sastro menghisap rokok di tangannya.


"Kepergian Gending tidak begitu lama Dar. Setelah setengah taun dia kembali ke rumah Darsa, dia banyak bercerita kepada Darsa dan Istrinya bahwa selama dia pergi dia sudah membantu banyak orang melahirkan, dia berkata jika dia bekerja menjadi asisten dukun beranak. Jan, kamu deh yang lanjut cerita, capek aku ngomong dari tadi," ketus Sastro setelah melihat Wajana bengong di depannya.


"Baik, setelah itu Istri Darsa melahirkan dengan bantuan Gending, Dar. Istrinya meninggal di saat yang sama, dan Darsa mengetahui jika penyebab kematiannya tidak lain adalah Gending yang selama ini dia percaya," sambung Wajana sembari mendongak, mencoba mengingat apa yang terjadi di masa lalu.


"Suami mana yang sudi istrinya dilihat lelaki lain ketika melahirkan? Kita semua menunggu di ruangan sama, Aku, Sastro juga Darsa bisa masuk ke kamar Darsa tidak lama setelah suara tangis bayi pecah. Sayangnya ketika kami masuk, Istri Darsa sudah tidak bernafas, sedangkan Gending sudah pergi melalui jendela. Memang belum jauh, punggungnya masih kelihatan, tapi semua orang fokus membantu Darsa yang tampak begitu kebingungan," ucapan Wajana terhenti, dia menunduk, mengingat kesalahan yang pernah dia lakukan dulu.


"Lalu?" singkat kata keluar kembali dari bibir Darto.


"Setelah prosesi pemakaman istri Darsa selesai, kita berdua mengakui kesalahan kami kepada Darsa. Kami memberitahukan semua yang sudah terjadi kepada Gending, Hari itu pertama kali kami mendapat cacian dari Bibir Darsa yang terkenal tidak pernah marah," tubuh Wajana dan Sastro seketika bergetar, mereka mengingat satu kejadian yang begitu menakutkan yang pernah mereka alami dulu.

__ADS_1


"Kami dihajar, dibuang, kemudian diasingkan untuk waktu yang cukup lama. Hingga ketika anak Darsa sudah berumur 7 tahun, Darsa memanggil kami kembali. Kita pergi mencari Gending setelah Darsa menitipkan Anaknya kepada Si Mbok dan juga mertuanya. Dari situ Darsa melakukan perjalanan panjang dalam hidupnya, dia terus bertanya tentang keberadaan Gending di setiap tempat yang ia lalui, hingga dua tahun lamanya," Timpal Sastro, Dia kembali berbicara setelah melihat Wajana bungkam karena mengingat siksaan yang mereka lalui dulu.


"Tepat setelah 25 bulan, Akhirnya Darsa dan Gending kembali bertemu, Dar. Tanpa sengaja Darsa menemui sebuah pertunjukan di tengah desa, dan di sana ada Gending yang sedang menari di tengah kerumunan warga. Kamu tau apa yang terjadi selanjutnya?" sambung Sastro kemudian menatap mata Darto dengan tatapan tajam.


"Apa?!" jawab Darto sedikit geram setelah mendengar semua itu.


"Darsa langsung melompat ke tengah kerumunan, dia menarik paksa Gending dari sana, namun yang terjadi malah tidak seperti yang Darsa harapkan. Semua penonton juga pengiring gamelan berebut berlari ke arah Darsa dan saat itu juga Darsa mendapat bogem mentah dari semua orang yang ada di sana," Sastro menggelengkan kepala sembari menghela nafas panjang.


"Setelah itu, Darsa pingsan. Gending menyuruh semua orang untuk pergi dengan cara memeluk Darsa sembari berteriak kepada semua orang, dia berteriak sebuah kalimat yang memberi tahukan kepada semua orang jika Darsa adalah kakaknya. Semua orang bingung mendengar perkataan Gending, mereka merasa bersalah, dan langsung membawa Darsa ke rumah tabib yang tidak jauh dari pusat tontonan. Ketika Darsa sadar, dia langsung mencekik Gending yang duduk di samping dipan. Darsa benar-benar merasa marah melihat Gending yang tampak santai setelah apa yang dia lakukan kepada istrinya. Yang aneh itu Gending, Dar, dia tidak melawan, Bahkan dia tidak meronta. Justru dia malah kebingungan karena Darsa perlahan melepas cengkeraman tangan di lehernya. Waktu itu Gending terkihat sudah siap mati, dia berfikir setidaknya dia mati ditangan orang yang tepat, mengingat Darsa adalah orang yang memberikan kehidupan baru untuknya," ucap Sastro terhenti, dia menatap Darto dengan tajam.


"Apa kamu ingin melihat langsung semua itu?" tanya Sastro kembali.


"Jangan tanya lagi! Sekarang juga, bawa aku ke sana!" ucap Darto dengan nada kesal, mengingat kenapa tidak dari tadi saja dia dibawa ke sana.


"Tapi saya tidak bisa membantumu jika sekarang saya membawamu ke sana, butuh tenaga banyak untuk berbagi ingatan tanpa perjanjian," sambung Sastro menatap Darto tajam, dia menjelaskan jika sekarang membawa Darto menjelajah ingatannya maka lusa Sastro tidak bisa membantu pertarungan Darto dan Gending.


"Tidak masalah, Saya butuh kebenaran itu sekarang juga," jawab Darto singkat kemudian membalas tatapan tajam Sastro.

__ADS_1


Mendengar jawaban Darto, Sastro langsung menempelkan kening miliknya dengan kening milik Darto. Dalam sekejap Darto berhasil dibawa kedalam rentetan kejadian yang menimpa Darsa dan Gending di masa lalu, saat itu juga Darto melihat dengan jelas, semua jawaban dari sebuah pertanyaan yang terus ia pikirkan.


Bersambung,-


__ADS_2