
Darto tidak bergeming, sedangkan Dava langsung terkejut setelah mendengar sebutan panggilan yang ayahnya miliki. Dava tidak membuka suara, meski sebenarnya di dalam hatinya bersarang sejuta pertanyaan dan juga rasa penasaran.
"Sastro ... Wajana ... apa maksud kalian memanggilku Gusti?" tanya Darto heran, dia langsung menoleh ke arah dua pria di belakangnya tanpa menggubris wajah heran Anaknya.
Mendengar pertanyaan itu, Wajana dan Sastro malah justru kebingungan. Mereka saling bertatap untuk mencari alasan.
Setelah cukup lama saling bertatapan, Wajana akhirnya membuka suara terlebih dahulu, "Gusti tidak tahu?"
"Cukup! Panggil saja namaku seperti dulu," sergah Darto merasa tidak senang dengan panggilan barunya.
"Maafkan kami, Gus ... Dar. Kabar tentang kamu yang berhasil lulus dari ujian Eyang, sudah menyebar ke seluruh penjuru alam kami," timpal Sastro.
"Lalu?" Darto mengernyitkan keningnya.
"Sudah menjadi tradisi kaum kami, untuk menghormati setiap mahluk apapun yang mendapat ajaran dari Eyang," jawab Wajana memotong ucapan Sastro.
"Iya, Dar. Dia itu sosok yang selalu mendidik entah itu manusia maupun bangsa kami. Setiap anak didiknya selalu memiliki tahta yang jauh melebihi bayangan kami, setelah mahluk itu lulus dari ujian yang Eyang berikan," Sastro menimpali.
Darto hanya diam setelah mendengar itu, dan sejurus kemudian kembali bertanya, "Apa Jaka juga akan kalian panggil dengan sebutan yang sama?"
"Sudah pasti," jawab Sastro dan Wajana serempak.
"Hah ... kalian ini memang suka merepotkan dari dulu. Panggil saja namaku, toh kalian kan temanku, bukan bawahanku," ucap Darto sedikit ketus.
Sastro dan Wajana langsung mengulum senyum sambil bertukar tatap. Mereka berdua merasa senang, melihat kepribadian Darto yang tetap sama meski sudah sangat berbeda tingkatan dengan mereka.
"Ada apa kamu memanggil kami, Dar?" tanya Sastro sedikit memasang wajah heran.
"Aku mau minta bantuan kalian," sahut Darto singkat kemudian menoleh pada Dava, "Latih anakku agar bisa menjaga diri dan keluarganya ketika aku pergi," sambung Darto kembali sembari menunjuk Dava.
Mendengar itu, Dava langsung menatap Sastro dan Wajana dengan wajah bingung. Namun ketika melihat wajah Dava yang kebingungan Darto kembali berkata, "Mereka akan menjadi lawan dan guru untuk pertarungan latihan kamu, Dava. Mulai sekarang, curi saja semua ilmu yang mereka punya, aku juga dulu belajar sama mereka."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ayahnya, Dava langsung mengangguk dengan wajah sumringah. Dia merasa senang karena langsung mendapatkan guru tanpa melakukan banyak usaha.
"Latih dia selayaknya kalian melatih anak sendiri, tidak apa-apa jika hanya terluka. Tapi kalau sampai ada yang berlebihan, akan aku balas kalian berkali lipat," sambung Darto sembari menatap Sastro dan Wajana.
Sastro dan Wajana bergidik ngeri mendengar arahan serta ancaman yang keluar dari bibir Darto. Dari ucapan itu mereka merasa sedikit keberatan, mengingat harus melatih Dava dengan cara yang tidak mudah.
Jika terlalu lembek, maka Dava tidak akan menunjukkan hasil yang bagus. Namun jika terlalu keras dalam melatih, maka nasib dua lelaki itu yang akan menjadi buruk.
"Kenapa kalian pucat sekali? Kalian tidak mau? Yasudah biar aku carikan guru yang lain saja," ketus Darto setelah melihat dua lelaki di depannya memasang wajah ragu.
"Tidak, Dar. Tapi ada yang perlu saya pastikan terlebih dahulu," sahut Wajana.
"Apa?" jawab Darto singkat.
"Maksudnya tidak apa-apa jika terluka itu bagaimana?" tanya Wajana.
"Asal tidak terpisah anggota badannya, aku bisa menyembuhkannya," sahut Darto.
Dava yang masih ketakutan bertanya pada Bapaknya dengan perasaan gelisah, "Pak ... apa Dava akan terluka?"
"Dava ... jika dalam pertempuran nyata, kamu bisa kehilangan kepala, Nak. Jadi kalau hanya terluka terkena tebasan, Bapak janji akan menyembuhkan kamu dengan segenap kemampuan Bapak," ucap Darto dengan tatapan tajam yang mengarah pada anaknya.
Dava hanya bisa tertegun dengan ucapan yang keluar dari bibir Bapaknya. Sungguh bagi Dava yang hidup di dunia damai tidak akan pernah bisa membayangkan kepala seseorang terpisah dari badannya. Namun berbeda dengan Darto, yang pernah terjun langsung ke masa di mana membunuh merupakan ajang yang sangat digemari oleh setiap pria.
"Baik, sekarang kalian mulai saja latihannya, akan aku pantau kalian setiap hari. Ajarkan Dava cara menggunakan energi, dan langsung saja kalian bertarung jika Dava sudah bisa menggunakan senjatanya," sambung Darto kepada ketiga pria yang tengah saling memandang.
Mendengar ucapan itu, Sastro dan Wajana berkenalan terlebih dahulu, mereka menjabat tangan Dava secara bergantian sembari mengucapkan nama yang mereka miliki.
Setelah saling berkenalan, Sastro dan Wajana langsung mengajari Dava untuk menggunakan energi di tangannya menjadi senjata. Setelah Dava bisa menciptakan senjata di tangannya mereka berdua langsung mengajarkan cara bertarung pada Dava.
Hari demi hari berlalu, Jaka juga sudah tiba di pesantren kembali. Jaka ikut menonton pelatihan Dava yang dilakukan setiap hari di tepi danau. Jaka yang baru pertama kali melihat Dava bertarung, langsung takjub dan terkesima dengan ketangkasan putra Kakaknya. Matanya terus membulat melihat Dava yang sangat lincah memainkan energi, meski baru berlatih selama seminggu.
__ADS_1
"Kang ... kenapa Kang Darto mengajari Dava bertarung?" tanya Jaka sembari terus memperhatikan pertarungan Dava melawan dua pria tua di depannya.
"Untuk jaga-jaga, Jak. Biar dia bisa menjaga keluarga kita pas kita pergi," sahut Darto dengan tatapan lurus, dia terus menatap Dava, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Jaka.
"Semoga kita bisa pulang cepat ya, Kang. Aku takut, Kang. Kalau kita tidak bisa melihat keluarga kita lagi," ucap Jaka menunduk.
"Jaka ... kamu boleh tinggal di sini saja. Biar aku yang urus banaspati dan mahluk sesembahan Raja Satria. Kamu tidak harus ikut," jawab Darto sembari menoleh ke arah Jaka. Darto benar-benar merasa kasihan dengan pemuda di depannya. Mengingat Jaka sudah menjadi salah satu korban yang menerima akibat dari tuntutan takdir yang Darto emban.
"Tidak, Kang. Setelah semua yang Kang Darto berikan kepada Jaka dan keluarga Jaka, bahkan jika itu mati, Jaka tetap akan maju jika kematian Jaka berarti bantuan untuk Kang Darto," ucap Jaka begitu tulus, dia menatap Darto dengan tatapan sendu, disertai sudut bibir yang melengkung ke atas di wajahnya.
"Yah ... aku juga tahu kalau kamu pasti berkata seperti itu, Jak. Sebelumnya terimakasih ya, Jak. Aku benar-benar akan kerepotan jika kamu tidak ikut kali ini," jawab Darto sembari mengacak rambut Jaka.
"Kang Darto dapat salam dari Si Mbok dan Mbah Akbar," ucap Jaka.
"Wa'alaykumussalam, Jak. Mereka sehat, Kan?" sahut Darto.
"Si Mbah sudah sembuh dari sakitnya, Kang. Seminggu setelah Jaka pulang, Si Mbah dipanggil sama Yang Maha Kuasa. Makanya Jaka sedikit lama pulangnya kemarin, karena bantu Si Mbok dan suami barunya buat menerima tamu," ucap Jaka dengan mata berair.
"Maafkan aku Jak," ucap darto sembari menghambur memeluk Jaka.
Dalam dekapan tangan Daro, Jaka kembali meneteskan setitik demi setitik bulir bening dari dagunya. Sama halnya dengan Darto, bulir bening juga kembali merembes dari sudut matanya.
"Kita harus selesaikan ini sampai tuntas, Jak. Supaya bisa hidup berdampingan dengan keluarga yang tersisa," ucap darto sembari melepas pelukannya.
Jaka langsung mengangguk, kemudian berkata, "Kapan kita akan berangkat?"
"Satu bulan ... biar aku latih Dava selama satu bulan. Itu bagus untuk Ratna, Magisna, Harti dan kedua orang tuanya. Karena jika Dava sudah pintar, mereka jadi memiliki seseorang yang bisa menjaga mereka," jawab Darto sembari membuang arah pandangannya ke arah Dava.
Jaka kembali mengangguk, kemudian menoleh ke arah yang sama dengan arah tatapan Darto. Dua pemuda itu menaruh harapan yang besar pada pundak seorang bocah berusia 15 tahun, untuk keselamatan setiap harta yang mereka sebut sebuah keluarga.
Bersambung ....
__ADS_1