
Malam itu berlalu begitu saja. Setelah mendengar cerita yang Darto jabarkan, semuanya meninggalkan Darto kembali. Mereka menuju kamarnya masing-masing karena waktu yang terpampang sudah hampir larut malam.
Sama seperti yang lain, Darto kino tengah merebahkan tubuhnya di atas dipan. Dia sangat kelelahan, hingga hanya butuh beberapa menit saja, matanya langsung terpejam ketika tangannya terus menggulir tasbih peninggalan Darsa.
"Hei, kamu keturunanku?" ucap suara dari balik kegelapan.
Mendengar suara itu, Darto memutar badannya dan memalingkan wajahnya ke segala arah penjuru. Tanpa Darto sadari dia sudah masuk ke ruang hitam yang selalu dia datangi ketika mendapat petunjuk.
"Saya di sini," ucapnya singkat sembari menepuk tubuh Darto.
Ketika Darto menoleh dia sedikit mengernyitkan dahi di wajahnya, dia benar-benar heran kenapa di pertemukan kembali dengan dirinya.
"Jin Qorin?" tanya Darto sembari mengangkat satu alis miliknya.
"Kamu sudah bertemu dengan Qorin? dan kamu bisa dapat tasbih ini?" tanya sosok itu seraya menunjukkan bibir yang tersenyum di wajahnya.
"Namamu siapa, Nak?" tanya sosok itu kembali sebelum Darto sempat menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Nama saya Darto, apa anda benar-benar Mbah Darsa? leluhur saya?" tanya Darto kembali sembari memperhatikan wajah orang tua di depannya. Orang tua itu memiliki wajah yang sama persis dengan wajah si Qorin yang dia temui semasa ujian.
"Bukan, Dar. Saya cuma perwujudan dari energi yang tersimpan di dalam tasbih peninggalannya. Dulu, Darsa terus menyimpan energi miliknya kedalam setiap manik tasbih yang tengah kamu pegang, Dar. Dan ketika dia hampir meninggal, dia berharap sang pencipta memberikan petunjuk untuk penerusnya, agar mereka bisa menggunakan energi yang dia simpan semasa hidupnya. Dari keinginan itu lah aku tercipta, Dar," ucap sosok itu, kemudian meraih pundak Darto yang tengah menyimak penjelasannya.
Darto langsung mengangguk sebagai isyarat bahwa dia memahami maksud sosok itu, kemudian dia menatap sosok yang tengah memegangi pundak miliknya.
"Terimalah, ini memang di siapkan untuk dirimu, semuanya sudah ditakdirkan menjadi milikmu," ucap sosok itu sembari menyentuh dahi Darto dengan telunjuk tangannya.
__ADS_1
Perlahan cahaya putih keluar dari telunjuk sosok itu, kemudian rasa panas menjalar dari kepala hingga kaki Darto saat itu. Sesekali Darto berteriak kesakitan, bahkan rasa membakar di dalam tubuhnya benar-benar hampir berhasil merobohkan tubuhnya. Untungnya dia berhasil melewati proses itu.
"Akhirnya, tugasku selesai, saya mendoakan keberhasilan untukmu wahai Darto sang cucu Darsa," ucap sosok itu kemudian berangsur menghilang. tubuhnya kian lama kian menipis, menjadi transparan dan hilang menyatu dengan kegelapan.
Darto hanya bungkam, dia terus melihat cahaya yang menyelimuti sekujur tubuhnya di ruang gelap itu. Tanpa dia sadari di samping raga miliknya yang tengah tertidur, sudah berdiri Kakung dan juga Si Mbah turahmin yang berlari menuju kamarnya. Mereka berdua kaget dan panik setelah merasakan energi besar yang menyelimuti rumah Kakung, namun akhirnya mereka merasa lega ketika melihat sumber energi tersebut berasal dari tubuh cucu mereka yang tengah menyala dengan terangnya, saat raganya terlelap di atas dipan.
"Dar... Bangun, sudah saatnya sahur," ucap Kakung sembari sedikit menggoyang tubuh Darto.
Mendengar panggilan Kakung, Darto langsung keluar dari ruang gelap, dan kemudian membuka kedua mata miliknya. Darto sempat kaget setelah melihat Kakung dan Si Mbah yang sudah duduk di atas dipan miliknya, bahkan sembari mengerjap mata dia terus bergumam tentang dua lelaki di depannya.
"Ada apa Mbah? Kung?" ucap Darto terheran, melihat wajah kedua Kakeknya memasang mimik khawatir.
"Lihat tubuhmu, Dar. Bisa kamu sembunyikan tidak? murid dari alam sebelah sudah gaduh di belakang pesantren gara-gara energi dari badan kamu meluap," ucap Kakung sembari terus memperhatikan energi yang terpancar dari tubuh cucunya.
"Iya Dar, kasihan mereka pada takut semua, sampai ada yang bangunin Si Mbah tadi buat pastiin sumber energi," timpal Kakung sedikit tersenyum, dia merasa bangga dengan cucunya. Bagaimana tidak? bahkan dirinya tidak bisa membuat murid yang belajar di pesantren bergeming dengan energi miliknya. Namun Darto bisa membuat seluruh mahluk alam sebelah yang tinggal di dalam, maupun yang hidup di sekitar pesantren kalang kabut ketika Darto tertidur. Sungguh energi yang sangat besar melebihi bayangan Mbah turahmin dan Kakung sudah berhasil Darto kuasai.
Tidak lama setelah itu, cahaya dari tubuh Darto berangsur meredup, dan kedua orang tua di sampingnya merasa lega, karena Darto cukup bisa mengendalikannya.
"Alhamdulillah, mari kita sahur bareng. Tanggung, sudah terlanjur bangun kalau tidak puasa, ditambah ini hari kamis," ucap Kakung sembari melangkah meninggalkan kamar Darto.
Menyanggupi ajakan Kakung, Darto dan Mbah Turahmin bergegas mengikuti langkahnya. Sesampainya di ruang makan, mereka memutuskan untuk membeli lauk di depan pesantren karena lauk yang tersedia hanya cukup untuk satu orang.
"Sekalian makan nasi goreng saja yuk Mat, Berapa bulan aku makan nasi polos sama ikan terus, sampai amis badanku," ajak Mbah Turahmin sembari menatap kakung.
"Ayok, biasa Pak Ndut buka sampai subuh, Min," jawab Kakung singkat kemudian mengangguk kepada Darto sebagai isyarat ajakan.
__ADS_1
Ketiga lelaki itupun berjalan menuju emperan pesantren, rasa lega bersarang ketika warung milik Pak Ndut masih terlihat terang dari kejauhan, dan benar saja warungnya memang masih buka, dan menunya juga masih lengkap.
"Biasa ya pak! tiga!" teriak Darto dari kejauhan, dia memesan menu biasa yang selalu dia makan di warung itu.
Mendengar teriakkan Darto, Pak Ndut langsung terbangun dari posisi duduk melamun, kemudian menyalakan kompor dan memasak tiga pesanan Darto. Ketika Pak Ndut tengah memasak, Darto dan kedua Kakeknya terus berbincang, mereka masih terkagum dengan energi yang terpancar dari tubuh Darto sebelumnya.
"Menurutmu gimana, Min?" ucap Kakung singkat sembari melirik Si Mbah di sampingnya.
"Apanya, Mat?" jawab Simbah sembari mengernyitkan dahi.
"Menurutmu Darto sudah siap belum buat ketemu sama Gending?" ucap Kakung sembari menoleh ke arah Darto.
"Itu sih terserah dia saja Mat. Kalau urusan siap atau tidaknya kita tidak bisa menyimpulkan," jawab Si Mbah kini ikut menatap ke arah Darto.
Mendengar dan melihat kedua Si Mbahnya, Darto hanya menunduk, dia sedikit berpikir untuk rencana kedepannya, dan kemudian mengangkat pandangannya tinggi-tinggi sembari menghela nafas panjang.
"Mau bagaimanapun, mau siap atau tidak siap, Darto harus siap, Mbah, karena itu mungkin takdir yang harus Darto jalani," ucap Darto sembari membalas tatapan kedua Si Mbah di depannya secara bergantian.
"Kalau begitu, Kakung ada rencana Dar, tapi kita harus kembali ke kampung kemoceng," ucap Kakung sembari menatap Darto dengan tatapan serius, kemudian mendapat anggukan dari Darto.
Melihat Darto mengangguk, simbah langsung menjelaskan rencananya, Si Mbah Turahmin juga setuju, dan mereka akan melakukan perjalanan menuju kampung kemoceng seminggu ke depan terhitung dari hari ini.
Bersambung,-
...jangan lupa dukungannya, ya!...
__ADS_1
...vote, komen dan like kalian sangat berharga bagi saya pribadi 😁...