
Darto dan Jaka meninggalkan rumah yang semula digunakan untuk berbincang. Mereka berjalanan beriringan, memasuki kerumunan jiwa yang tengah melakukan aktifitas mereka.
Kumpulan jiwa itu melakukan apapun yang dulu biasa mereka lakukan semasa hidupnya. Bahkan Aryana dan Brahma mau membuatkan mereka rumah, hanya untuk menutupi rasa iba kepada setiap jiwa yang baru saja datang.
Kali ini tidak ada yang menatap Darto dan Jaka dengan tatapan yang membingungkan lagi, beberapa dari mereka bahkan tampak melemparkan senyuman ketika berpapasan dengan Darto dan Jaka.
Jiwa yang terkumpul benar-benar lengkap, dari yang berusia balita, belia, paruh baya hingga tua semuanya ada di tempat ini.
Melihat hal tersebut, Darto benar-benar geram. Dia merasa nasib dari setiap jiwa benar-benar malang, karena harus terus memikul satu penghinaan untuk dijadikan simpanan bahan makanan, bahkan setelah mereka semua mati.
Darto melebarkan langkah kakinya, dia semakin dan semakin tidak sabar untuk segera melepaskan kumpulan jiwa tersebut.
Setelah sampai pada tempat dimana dirinya dan enam temannya masuk, Darto sedikit menarik nafas panjang kemudian berkata, "Kamu bisa kan... Jak? Mungkin kita harus berlumur ceceran daging dari mayat di luar sana."
"Tidak apa-apa, Kang... mungkin aku masih merasa risih nantinya, tapi ini bukan kali pertama kita melihat hal seperti itu," jawab Jaka dengan tatapan penuh amarah.
Jaka benar-benar merasakan satu emosi yang berkobar, ketika mengingat kembali tentang sosok Satria.
Rasa mual dan jijik benar-benar tidak dia rasakan lagi, karena hatinya sudah sepenuhnya dikuasai oleh amarah.
Melihat tatapan Jaka yang begitu membara, Darto langsung merangkul pundak Jaka, kemudian menarik satu pemuda itu ke dalam gerbang yang terbuat dari akar, sembari berkata, "Istighfar... Jak. Jangan sampai emosi membuat pertarungan kita jadi rumit."
Jaka langsung menoleh pada Darto setelah mendengar kata tersebut. Dia juga melihat ekspresi geram pada wajah Darto, meski suara Darto ketika mengingatkan terdengar begitu halus.
Jaka hanya bisa mengangguk sembari menghela nafas, kemudian mengucap kata yang Darto pinta sembari berjalan beriringan.
Setelah keluar dari gerbang, pemandangan yang terlihat benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Dari sekian banyak kamar yang sudah mereka jelajahi, ini adalah kali pertama Darto dan Jaka melihat langit malam di dalam kamar yang sedang mereka masuki. Setiap kamar selalu saja terlihat bagaikan siang hari, namun tidak di dalam kamar ini.
Langit gelap dengan gemerlap bintang benar-benar membentang di atas kepala mereka, dengan kegelapan mutlak yang menguasai seluruh tempat di depan mata Darto dan Jaka.
Untungnya, apa yang Maung lakukan pada mereka masih berefek untuk saat ini. Darto dan Jaka masih bisa melihat dalam kegelapan, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Setelah puas mengamati kondisi sekitar, Darto dan Jaka melangkah menuju tumpukan mayat di depan sana.
__ADS_1
Tepat saat tiba pada tumpukan mayat, Darto menarik nafas sebanyak yang dia bisa, kemudian mendongak dan berteriak dengan suara lantangnya, "SATRIA! KELUAR KAU PENGECUT!"
Setelah Darto berteriak, tanah tempat mereka berpijak langsung berguncang dengan hebat. Dan tidak lama kemudian dari balik tumpukan mayat mulai keluar sebuah kepala yang menyembul keluar.
Ratusan suara desis juga langsung terdengar ketika Darto dan Jaka melihat salah satu kepala dengan ukuran besar, suaranya bahkan terdengar seperti sebuah kumpulan gema karena saking banyaknya.
"Ular, Kang!" teriak Jaka sembari beringsut mundur.
"Lari ke atas akar, Jak. Itu ular tanah... Sekali kena gigit, kita mungkin bisa bertemu sama leluhur kita," jawab Darto sembari melompat mundur.
Kali ini musuh yang Darto dan Jaka hadapi memiliki bentuk berupa ular tanah, kepala segitiga, dengan tubuh dipenuhi batik berwarna coklat keabuan.
Bagi para petani mungkin sudah tidak asing dengan kehadiran ular tersebut. Bagi sebagian orang ular itu hanya merupakan pengusir tikus di sawah, karena mereka tidak akan menyerang jika tidak diganggu.
Tapi bagaimana jika ular yang banyak dikenal oleh petani itu memiliki ukuran tubuh yang begitu besar? Bahkan jika empat orang saling berjabat tangan kemudian memeluk ular tersebut tangan mereka masih tidaklah cukup.
Itulah yang sedang Darto dan Jaka saksikan kali ini, seekor ular yang sangat besar, memimpin ribuan ular lain yang juga keluar dari bawah tumpukan mayat.
Kali ini ular paling besar tidak langsung menyerang. Dia keluar dengan cara merambat berputar di atas mayat, kemudian mendekat ke arah Darto dan Jaka setelah ekor miliknya juga sudah sampai di atas permukaan.
Dia terus mendekat sembari sesekali menjulurkan lidah, dengan wajah santai dan juga tidak memasang kewaspadaan sama sekali.
Dia menatap rendah pada Darto dan Jaka, yang sedang berdiri di atas akar besar yang mencuat dari dalam tanah.
"Kau Satria?" Darto tidak menjawab, dia malah melempar pertanyaan kembali kepada ular tersebut.
Satria sedikit geram setelah melihat keangkuhan Darto, dia merasa kesal karena pertanyaan darinya tidak dijawab.
Dia langsung mematuk dengan begitu cepat ke arah Darto dan Jaka, gerakan kepala ular besar itu sangat cepat. Bahkan jika Darto dan Jaka berkedip sekali saja, mungkin mereka langsung berpindah ke dalam perut musuhnya.
Untungnya Darto dan Jaka bukan lagi dua bocah ingusan, pertarungan demi pertarungan yang sudah mereka lewati sudah cukup memberikan pengalaman, hingga mereka berdua bisa menghindari serangan dadakan ular tersebut dengan begitu mudahnya.
Tepat sebelum rahang ular tersebut memakan kedua pria tersebut, Darto dan Jaka sudah menggunakan teknik perpindahan, kemudian muncul di atas ranting pohon raksasa itu.
"Hei Satria! Kasihan sekali nasibmu! Seharusnya kamu mati saja sebagai manusia, tapi sepertinya kamu malah berbangga setelah jadi bawahan iblis, ditambah kau sepertinya senang setelah menjadi mahluk hina seperti sekarang," teriak Darto mencoba memprovokasi.
__ADS_1
Satria benar-benar naik pitam setelah mendengar ejekan tersebut, dia memanjat pohon besar dengan merambat memutar, dan terus mendekat ke arah lawannya sembari berkata, "Banyak bicara kau manusia! Sepertinya hari ini hari kesialan kalian, karena sebentar lagi kalian akan jadi pupuk di kandang milikku!"
Mengingat ukuran wujud Satria, hanya dengan merambat satu putaran saja dia sudah berhasil mencapai tempat yang dirinya tuju. Dia kembali mematuk Darto yang paling dekat, namun Darto kembali menghindari serangan tersebut dengan berpindah ke atas tanah.
Melihat salah satu musuhnya pergi ke atas tanah, Satria langsung berdesis dengan suara keras. Ribuan ular berukuran sedang seketika mendekat ke arah Darto, setelah Satria mendesis dari atas pohon tersebut.
Seluruh anak buah Satria bahkan sampai saling mendorong ketika merambat menuju ke arah Darto, sedangkan Satria kembali melancarkan serangan pada Jaka yang masih mengamati daei atas pohon yang satunya.
Satria benar-benar melompat setelah membuat tubuhnya berbentuk huruf 's', dia menyebrang dari satu pohon ke pohon lainnya sembari membuka rahangnya lebar-lebar.
Untung saja Jaka juga bisa melihat serangan tersebut. Dia bisa menghindar, dengan berpindah ke pohon yang lainnya.
Saat itu Satria benar-benar kebingungan. Dia tidak mengira jika dua manusia yang dia lawan begitu gesit, ditambah mereka berdua bisa terus menghindar di dalam kegelapan.
Satria yang percaya diri sebelumnya mulai memasang wajah waspada. Dia merasa ada sesuatu yang aneh pada dua lawannya, padahal itu semua karena kekuatan Maung yang masih bekerja pada mata Darto dan Jaka.
Ketika Satria masih kebingungan, perhatiannya seketika langsung teralihkan ketika suara pekik dari anak buahnya terdengar begitu nyaring di bawah tubuhnya.
Dia menoleh ke arah dimana Darto berdiri, kemudian matanya langsung membulat ketika melihat apa yang sedang Darto lakukan.
Menghadapi ribuan anak buah yang sedang menyerang, Darto hanya menghentakkan salah satu kaki ke tanah. Satu ledakan energi benar-benar berdentum setelah telapak kaki Darto menyentuh tanah, dan ratusan prajurit yang paling dekat dengan Darto langsung meledak hanya dalam satu serangan.
Satria benar-benar terkejut melihat hal tersebut, dia tidak mengira jika lawannya sekuat itu, namun ada satu hal lagi yang semakin membuat dirinya kebingungan.
Setelah melihat Darto, dia kembali menoleh ke arah Jaka. Dia langsung merasa jika otaknya buntu, setelah menyaksikan bentuk energi yang sedang menyelimuti tubuh Jaka.
Dengan ekspresi yang sangat susah dijelaskan, Satria yang kebingungan langsung bertanya, "Siapa kamu! Kenapa energi kita sama?!"
Jaka sama sekali tidak menjawab pertanyaan Satria, dia justru menghilang dari tempatnya berdiri, kemudian muncul tepat di atas tubuh musuhnya.
Jaka menjadikan tubuh Satria sebagai pijakan sembari berkata, "Aku bersyukur kita bisa bertemu. Selama aku hidup, aku tidak pernah mempermasalahkan hal kecil. Bahkan jika itu menyakitiku, aku akan lupa dalam beberapa hari saja. Tapi, aku benar-benar mengenal rasa benci setelah berjumpa denganmu."
Saat ini Jaka benar-benar dipenuhi rasa benci yang membuat dadanya serasa penuh dan sesak. Matanya sangat merah, dengan tubuh yang dibanjiri energi panas seakan sedang membakar tubuhnya.
Hari ini, pertarungan antara leluhur dan penerusnya akan segera berlangsung. Mereka mungkin memiliki darah yang sama, namun kisah hidup dan perilaku mereka bagaikan dua sisi koin yang saling bertolak belakang.
__ADS_1
apa yang akan terjadi setelahnya?
Bersambung....