
"Sastro... Wajana... Komang... Kalian siap?" tanya Maung sembari menoleh ke arah tiga sahabatnya.
Setelah mendapat tiga anggukan kepala, Maung langsung duduk bersila di depan Darto, kemudian menjadi bola hitam dan sedetik setelahnya seluruh ruangan menjadi tempat yang sangat gelap.
Maung benar-benar bisa menirukan gerakan Ki Guntur. Dia menciptakan dunia hitam yang sangat luas, hanya dengan sekali coba saja.
"Lakukan sekarang, biar aku awasi kalian," suara Maung menggema dari berbagai arah.
Mendengar suara tersebut, seperti yang sudah diajarkan oleh Amerta sebelumnya, mereka pun mulai melakukan apa yang diminta oleh beliau.
Darto duduk paling depan, dengan Jaka yang memegangi punggungnya, sembari duduk bersila tepat di belakangnya.
Sedangkan Sastro, Wajana dan Komang duduk di belakang Jaka, sembari menempelkan satu telapak tangan mereka pada punggung Jaka.
Setelah semua telapak tangan mereka saling bersentuhan, Jaka memulai melakukan gerakan yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Jaka menyalurkan segenap energi yang ada di dalam tubuhnya, dan membiarkan semua energi miliknya mengalir ke dalam tubuh temannya.
Hal itu benar-benar sama persis seperti apa yang sudah dijabarkan oleh lima leluhurnya, tubuh Jaka bukan hanya bisa mengisap saja, melainkan bisa digunakan menjadi wadah energi yang sudah dirinya serap.
Jaka bebas menguras maupun menyalurkan energi sesuka hatinya, hanya saja akan cukup berbahaya jika tiba-tiba energi miliknya habis begitu saja.
Itulah mengapa Sastro, Wajana dan Komang bersiaga di belakang Jaka. Mereka menunggu aba-aba dari Maung, agar bisa memberikan energi mereka ketika Jaka hampir kehabisan energi di dalam tubuhnya.
Maung satu-satunya mahluk yang bisa mengukur energi mereka semua, karena lima temannya tengah berada di dalam dunia miliknya, sehingga tidak akan ada satupun hal yang luput dari pengawasannya.
Tubuh Jaka semakin melemah setiap detiknya, dia benar-benar tidak membatasi energi yang dirinya beri, karena dia merasa akan lebih berguna jika semua energi miliknya dan juga semua energi leluhur yang sudah dirinya serap, bisa masuk ke dalam tubuh Darto.
Darto tampak begitu gusar. Sesekali dia meringis, mengerang, bahkan berteriak ketika diberondong energi besar yang didorong paksa untuk masuk ke dalam tubuhnya.
Tubuh Darto benar-benar bersinar terang, dia tampak bisa meledak sewaktu-waktu, jika tidak bisa menahan luapan energi yang Jaka berikan.
"Sekarang!" Teriak Maung.
__ADS_1
Tepat ketika Maung berteriak, tubuh Jaka mulai terhuyung, dia hampir saja pingsan namun dengan Sigap Sastro, Wajana dan Komang menahan tubuh Jaka. Mereka bergegas menyalurkan energi, dan membiarkan Jaka menyerap energi yang tersisa.
Maung kembali mengawasi setiap energi milik ketiga temannya. Ketika energi milik Sastro, Wajana dan Komang hampir terkuras habis, Maung melahap Jaka. Dia memindah tubuh Jaka ke depan Darto dan menyelamatkan tiga teman yang hampir mati karena kehabisan energi.
Menyadari tubuhnya sudah berpindah dan sudah kembali memiliki tenaga, Jaka kembali menyentuh tubuh Darto dan mengulangi proses penyaluran.
Tidak berselang lama, Jaka kembali dipindah oleh maung. Tubuhnya sudah lunglai, bahkan kesadarannya hampir meninggalkan dirinya.
Maung benar-benar tepat waktu, dia tidak terlambat sedetikpun dan selalu beraksi di saat yang sangat-sangat tepat.
Setelah empat temannya terkulai lemas, Maung membagikan sisa lima buah ajaib ke dalam mulut mereka secara bergantian.
Sastro, Wajana, Komang maupun Jaka langsung bugar kembali, energi mereka meluap-luap hingga mereka bisa melakukan proses tersebut untuk kedua kalinya.
Energi yang masuk ke dalam tubuh Darto benar-benar sangat besar, jumlahnya tidak bisa disamakan dengan energi yang sebelumnya.
Tubuh Darto benar-benar seringan bulu, dengan kekuatan yang meluap-luap di setiap bagian tubuhnya.
Sungguh Darto yang kemarin terhitung kuat, kini benar-benar berubah menjadi Darto yang jauh lebih kuat.
Maung benar-benar tidak bisa mempertahankan dunia gelap miliknya lebih lama lagi, karena tekanan energi yang Darto pancarkan, berhasil membuat Maung kewalahan meski hanya untuk berjalan.
Setelah Darto membuka mata miliknya, dia langsung menoleh ke belakang, dan merasa sangat marah pada dirinya.
Semua temannya terlihat sangat lemas, dengan tubuh yang terbujur lunglai di atas tanah. Mereka tampak sangat kelelahan, setelah energinya terhisap habis untuk kedua kalinya.
Untungnya kejadian yang terjadi kepada mereka, berbeda dengan yang dialami para leluhurnya. Sastro Wajana maupun Komang tidak langsung menghilang ketika kehabisan energi. Mereka hanya pingsan, sama seperti ketika melawan ulat sutra.
Sedangkan Jaka, dia masih bisa mempertahankan kesadaran dengan tubuh lelahnya, dia menatap Darto dengan penuh senyuman, sembari mengucapkan kata, "Kami percayakan semuanya, Kang. Semoga Kang Darto tidak mendapatkan sedikitpun kesulitan di depan."
Darto yang masih tertegun dengan seluruh energi miliknya, mulai berdiri, kemudian mengacak rambut kasar Jaka sembari berkata, "Kalian istirahat saja di sini... biar aku urus sisanya."
"Maaf, Kang... Jaka tidak bisa bantu pertarungan itu. Kalau apa yang Eyang Amerta bilang benar, mungkin Jaka malah jadi penghalang lagi kalau ikut ke sana," ucap Jaka dengan wajah pucat dan ekspresi murung.
__ADS_1
Sebelumnya Eyang Amerta bercerita jika tubuh milik Jaka sangat langka. Tubuh yang bisa menampung sebanyak apapun energi, merupakan tubuh yang sangat diinginkan oleh para mahluk kuat di alam sebelah.
Amerta berkata akan sangat berbahaya, jika tubuh Jaka bisa direbut oleh musuhnya. Lawan yang kuat, bisa menjadi lebih kuat jika dia menguras setiap energi milik anak buahnya.
Jadi, ketika Jaka menguras energi milik Amerta, Jaka sudah membulatkan tekad untuk memberikan seluruh energi miliknya kepada Darto. Dia sangat ingin memberikan bantuan, meski tidak ikut melangkah menuju pertempuran.
"Kata siapa kalian tidak membantu? Kalian semua ada si dalam tubuh ini, dan aku lebih percaya diri untuk sekarang," Darto tersenyum sembari berdiri.
"Ayo... Maung," Darto memanggil sembari mendongak, dia menghirup nafas sedalam yang dirinya bisa, kemudian menatap wajah Maung yang kini sudah menjadi seekor harimau yang lebih besar dari sebelumnya, "Kamu tambah besar?" sambung Darto bertanya.
"Bukan hanya mengajariku beberapa teknik, Dar... Ki Guntur mewariskan separuh energinya untukku. Aku dan dia itu dua mahluk dari satu jenis yang sama," jawab Maung terkekeh pelan.
"Untunglah... Aku benar-benar butuh teman yang kuat setelah ini semua selesai," Darto memaparkan barisan giginya.
Maung ikut tersenyum kala itu, kemudian membiarkan Darto duduk diatas punggungnya, kemudian berlari meninggalkan empat teman yang sedang tertidur di dalam rumah Ki Guntur.
Hanya butuh beberapa detik saja Maung sampai di depan pintu kamar, kemudian menurunkan Darto sembari berkata, "Semoga berhasil, Dar... Aku tunggu kamu di sini."
Setelah Maung mengucap kata tersebut, dunia hitam kembali tercipta, itu sama persis dengan ketika Darto dan semua temannya masuk ke dalam kamar nomor dua, yaitu saat dimana mereka melawan ratusan anjing yang bertugas sebagai penjaga.
Kini Maung satu-satunya mahluk yang harus menjaga kamar tersebut, untuk menghalangi manusia yang mungkin masuk dari dinding tipis yang memisahkan dua dunia.
Darto benar-benar sendirian kali ini, dia meninggalkan kamar nomor dua dengan langkah yang cukup berat, mengingat harapan dari semua teman dan leluhurnya ada pada pundak miliknya.
Setelah keluar dari kamar nomor dua, hanya dengan berbekal satu buah ajaib yang tersisa, Darto menatap tajam ke arah singgasana yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada.
Dia melangkah pelan dengan bibir terus mengucap rentetan dzikir, sebelum akhirnya Darto memasuki ruangan yang sudah menjadi tujuannya dari lama.
Sebuah dinding energi memisahkan ruangan iblis dan 21 kamar anak buahnya, sehingga ketika Darto melewati dinding tersebut, tubuhnya terasa bagaikan melewati sebuah tembok yang terbuat dari air, membuatnya serasa tenggelam meski hanya untuk sesaat saja.
Dan setelah dinding itu sudah berhasil dilewati, sepasang mata benar-benar menatap Darto dengan angkuhnya. Dia memamerkan barisan gigi dengan ekspresi yang mengintimidasi, sembari bertepuk tangan setelah melihat Darto hadir di depan wajahnya.
Hari ini, dua pasang mata tersebut akhirnya saling bertemu. Mereka saling menatap dengan ekspresi wajah yang sukar dijelaskan, dan juga perasaan yang sangat menggebu-gebu di dalam hati mereka berdua.
__ADS_1
Akankah pertarungan berjalan seperti yang direncanakan, atau mungkin justru menjadi satu tragedi yang mencengangkan.
Bersambung....