ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KAMPUNG JAKA


__ADS_3

Malam sudah menyapa, setelah sibuk melakukan kegiatan masing-masing, semua orang yang singgah di rumah Kakung mulai terlelap di kamar mereka. Sedangkan Darto dan Harti masih terjaga, dan terus melontarkan percakapan di atas dipan mereka.


"Dek ... maaf ya, Dek. Mas langsung mau pergi lagi, padahal baru semalam Mas pulang ke sini," ucap Darto sembari menatap Harti.


Mendengar ucapan Darto, Harti langsung memiringkan badan miliknya, kemudian menatap sendu wajah suaminya sembari berkata, "Tidak apa-apa, Mas. Harti tahu, jika Mas sebenarnya ingin terus di rumah,"


Mendengar itu, sudut bibir Darto langsung mengambang, telapak tangannya langsung mendarat di atas pipi Harti, dilanjut mengusap pipi mulus tersebut dengan jempol miliknya sembari berkata, "Terimakasih, Dek. Mas sangat bersyukur punya istri yang penyabar seperti kamu."


Mata Harti seketika berkaca, dia melihat lelaki yang sangat rindukan dengan penuh cinta, namun dia juga harus melepasnya pergi lagi setelah penantian yang cukup lama.


"Asal Mas Darto pulang dengan selamat, Harti sudah sangat bersyukur," sambung Harti sembari meneteskan air mata.


Darto yang melihat Harti menumpahkan bulir bening dari sudut matanya, dia langsung mendekap kepala Harti, dan membenamkan dada miliknya untuk menenggelamkan wajah istrinya. Saat itu, Darto benar-benar memahami jika Harti tengah berbohong, untuk sekedar membuat Darto tidak cemas ketika meninggalkannya.


"Dek ... Mas akan pergi untuk beberapa hari saja. Setelah kembali sama penduduk kampung Jaka, Mas janji akan singgah sampai jagoan kita lahir," ucap Darto mencoba menenangkan Harti. Saat ini Harti benar-benar menangis di dalam pelukannya.


"Janjinya ya, Mas?" Jawab Harti sembari mengangkat kepalanya yang semula tertunduk di dada Darto.


"Iya, Dek. Semoga selama itu, kita tidak menjumpai masalah apapun," harap Darto sembari memandang istrinya yang tengah menatap dirinya dengan mata berbinar.


"Makasih, Mas," Harti langsung memeluk Darto dengan begitu erat mereka terus melakukan itu, hingga tanpa terasa mereka berdua tertidur dengan mata basah di wajah mereka, hingga pagi menyapa.


Mata hari sudah mulai meninggi. Setelah cukup persiapan, Darto, Jaka dan juga Abah Ramli berangkat menuju kampung halaman Jaka. Mereka langsung berangkat setelah berpamitan dengan semua orang. Kala itu tiga lelaki tersebut melangkahkan kaki beriringan, menuju arah timur secara bersamaan.

__ADS_1


"Berapa Jam, Bah? Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di sana?" tanya Darto ketika tengah mengikuti langkah Abah Ramli.


"Tujuh sampai delapan jam, Dar," jawab Abah Ramli sembari terus melangkah, dia tidak menatap ke arah Darto.


"Berarti paling tidak saya menginap di sana semalam ya, Bah?" Sambung Darto.


"Iya, Dar. Nanti akan saya berikan semua peninggalan Kanjeng Darma ke kamu, karena itu memang hak kamu sebagai penerusnya," kali ini Abah Ramli menatap Darto dan menghentikan langkah kakinya.


"Kita bahas pas sudah sampai saja, Bah. Ayok kita lanjut lagi, takut terlalu malam nanti di jalan," sahut Darto sembari mengangguk ke arah Jaka.


Mendengar itu, Abah Ramli melanjutkan langkah kakinya kembali. Mereka bertiga benar-benar terus berjalan bagaikan kuda. Tidak ada rasa lelah sama sekali pada kaki mereka, meski sudah lima jam lamanya mereka berjalan.


"Kita shalat ashar dulu, Yuk. Di depan sudah semak semua," pinta Abah Ramli. Dia berhenti di depan rerimbunan semak yang sudah tampak di depan wajahnya.


Hampir dua jam lamanya mereka berjalan. Dengan arahan yang Abah Ramli berikan, mereka terus melangkah masuk ke dalam kerumunan semak di depan mata mereka. Darto sungguh terkejut melihat kemantapan Abah Ramli ketika berjalan, dia bahkan memuji ketangkasan orang tua tersebut dalam menentukan arah.


Tidak lama setelah itu, Darto dan Jaka bisa melihat dua pohon yang begitu besar berdiri di depan mata mereka. Setelah pohon terlihat jelas, Abah Ramli dan dua pemuda di belakangnya berjalan dengan sedikit berlari karena hari sudah menggelap.


Hanya butuh setengah Jam, mereka akhirnya keluar dari semak belukar yang membentang begitu panjang di belakang mereka. Abah Ramli langsung mengucap rasa syukur karena bisa keluar dari area semak sebelum langit benar-benar gelap. Dia sempat berkata jika malam tiba, tidak ada pilihan lain, selain beristirahat di atas tanah becek di tengah semak tersebut. Karena dia hanya mengandalkan pancaran sinar mentari, untuk menuntun arah langkah mereka.


Setelah keluar dari semak ,mereka terus melanjutkan langkah kaki setelah melakukan shalat jamaah maghrib. Tidak perduli seberapa gelap jalan yang mereka lalui, mereka terus maju hingga kini sudah berhasil sampai di bawah pohon besar yang berdiri bersebelahan.


"Kita sampai, Dar. Ini gerbang kampung kami," ucap Abah Ramli sembari memegang batang pohon yang begitu tinggi.

__ADS_1


"Jadi ini kubah yang diciptakan Kanjeng Darma?" sahut Darto sembari mencoba menyentuh kubah cahaya yang masih begitu mengkilap meski sudah berusia ratusan tahun.


"Kamu bisa lihat kubahnya?" Tanya Abah Ramli heran.


"Ini saya mau pegang, Bah." Jawab Darto singkat kemudian menyentuh kubah itu.


Setelah kubah tersentuh oleh Darto, Jaka dan Abah Ramli seketika membulatkan mata mereka. Untuk pertama kali mereka bisa melihat dengan jelas, bentuk dari energi yang selama ini melindungi kampung halamannya. Energi itu membentuk setengah lingkaran, dengan ukuran yang jauh lebih besar dari bayangan mereka.


Ketika semuanya tengah terkesima melihat kubah tersebut, sesuatu hal aneh terjadi. Energi kubah perlahan masuk, meresap ke dalam setiap pori-pori tangan Darto. Jaka yang sadar akan itu, seketika langsung berteriak, "Kang! Pelindungnya bisa hilang!"


Mendengar teriakkan Jaka, Darto langsung menarik telapak tangannya dari kubah tersebut. Sayangnya, cahaya itu terus masuk ke dalam tubuh Darto meski tanpa disentuh sekalipun.


Menanggapi hal itu, Darto, Abah Ramli dan Jaka langsung berlari sekuat tenaga menuju kampung mereka. Energi kubah sudah benar-benar redup, sangat berbeda dengan saat mereka baru tiba. Mereka bertiga sangat khawatir dengan penduduk kampung jika energi pengikat leher mereka bisa dirasakan oleh musuh yang terus mencari keberadaan mereka.


Beruntung ... bersamaan dengan hilangnya kubah di atas kepala mereka, Jaka, Abah Ramli dan juga Darto sudah sampai di kampung halaman Jaka. Tiga lelaki itu langsung berpencar dan serentak meneriaki semua penduduk yang tengah berada di dalam rumahnya, "Keluar! Cepat! Berkumpul di rumah Jaka!"


Suasana desa langsung menjadi gaduh. Mereka berlarian tanpa mengetahui kebenaran dari perintah tersebut. Untungnya, dalam sekejap semua penduduk sudah sampai di rumah Jaka. Mereka langsung berkumpul di halaman rumah, dan langsung menuruti semua perintah tetuanya.


Satu persatu energi yang mengikat leher penduduk diputus dan diserap oleh tubuh Jaka. Mereka semua akhirnya bebas dari belenggu, meski sesuatu sudah terlebih dahulu menemukan keberadaan mereka.


Di balik kegelapan, sepasang mata yang bersinar tengah mengamati semua penduduk. Dia terus menatap nanar ke arah yang sama, dengan ekspresi beringas dan murka yang tersaji pada wajahnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2