ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
IJIN HARTI


__ADS_3

Setelah selesai membagikan gulai kambing, Darto dan Jaka langsung kembali ke rumah. Ketika memasuki rumah, Darto dikagetkan dengan kehadiran Surip, Siti, Bidin juga Gayatri yang sudah berada di rumahnya. Mereka tengah duduk manis memutari Harti yang tengah menggendong Dava.


Tampak Gayatri yang tengah mengandung bayi, perutnya sudah mulai membuncit. Sedangkan Siti, dia masih sama, perutnya masih langsing seperti ketika melakukan pernikahan.


"Berapa bulan, Sur?" tanya Darto sembari menunjuk perut Gayatri.


"Enam, Dar. Sebentar lagi saya nyusul," jawab Surip sembari mengelus kepala Gayatri, sedangkan Gayatri hanya bisa mengulum senyum memampangkan wajah bahagianya.


"Kamu belum pengen, Din?" tanya Darto kembali, kali ini dia bertanya pada Bidin.


"Belum, Dar. Sengaja saya sembur diluar tiap hari, he he he he," jawab Bidin dibarengi jotosan Siti di lengannya.


"Halah, nunggu apa? Keburu tua nanti," timpal Surip.


"Nunggu mantap aja, Sur. Nanti kalau sudah siap juga langsung cetak, he he he," jawabnya singkat kemudian bertanya pada Darto, "Anto belum kesini, Dar?"


"Anto sudah saya kirim surat pas Harti lahiran, paling dia sampai sini seminggu lagi," jawab Darto. "Pas Anto sampai di sini, kalian ke sini lagi, mau?" sambungnya lagi.


"Mau apa, Dar?" tanya Bidin.


"Bisa aja si, paling deket begini," ucap Bidin.


"Aku pengen foto sama kalian semua, nanti aku pesan tukang potret, dan nanti gambarnya aku suruh cuci sepuluh lembar kalau perlu, biar kita semua punya satu lembar," Jawab Darto.


Mendengar ucapan Darto, semua orang langsung setuju, mereka langsung mengangguk dan tidak bertanya apapun lagi.

__ADS_1


Setelah pembahasan itu, mereka semua hanya melanjutkan perbincangan tentang masa muda mereka. Mereka bahkan menceritakan tentang sosok kepala yang pernah mereka jumpai, sehingga istri mereka merasa takut setelah mendengarnya.


Hari itu Darto sangat merasa senang, dia merasa memiliki keluarga dan teman yang sangat berharga. Namun dibalik kebahagiaan itu, dia juga merasakan rasa was-was, mengingat musuhnya sewaktu-waktu bisa mencelakai mereka.


Meski begitu, Darto sudah tidak punya hak lagi untuk menahan Surip dan Bidin untuk tinggal di pesantren. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka berdua, dan juga meminta agar dijauhkan dari segala macam prahara.


Matahari tidak mau bertengger lagi, malam sudah kembali menyapa, hari ramai di rumah Kakung akhirnya berganti menjadi malam yang sunyi. Di tengah malah yang sepi, Darto dan Harti yang tengah tidur di samping anak mereka, membuka perbincangan tentang rencana yang Darto sudah susun sejak lama.


"Dek ... Mas mau pergi lagi, kemarin pas Dava lahir sudah ada yang mau mencelakai dia," ucap Darto dengan wajah sedikit bersalah.


"Kapan, Mas?" tanya Harti sembari mengusap pipi Darto, dia mencoba mengusir rasa bersalah Darto dengan cara menyuguhkan senyuman yang mengambang di wajahnya.


"Setelah Anto ke sini, Dek. Aku mau mengunjungi sosok yang mungkin tahu tempat tinggal dan kelemahan banaspati," jawab Darto sembari membalas tatapan sendu istrinya.


"Maaf, Dek. Mas takut jika Mas terlalu lama. Mas takut Adek tidak sabar menunggu kepulangan, Mas. Mas sangat takut tidak bisa melihat Adek dan Dava lagi," ungkap Darto sembari meraih kepala Harti, dia mendekap serta terus menciumi pucuk kepala Harti. Tidak bisa dipungkiri Darto benar-benar terisak malam ini.


"Mas ... pegang ucapan Harti. Harti tidak akan sudi disentuh lelaki lain, meskipun Mas tidak pernah pulang. Harti akan selalu menjadi orang pertama, yang memberikan senyuman ketika Mas kembali," ucap Harti sembari mendorong Darto agar sedikit mengendurkan dekapannya. Harti sengaja melakukan itu agar bisa memegang wajah Darto, untuk sekedar mengecup bibir suaminya setelahnya.


Setelah mendengar ucapan Harti, Darto berangsur memegang pipi istrinya kembali, sejenak dia mengecup kening Harti kemudian berkata, "Terimakasih, Mas sangat beruntung punya pendamping sehebat kamu."


Harti langsung mengusap air yang masih membasahi pipinya, kemudian menatap Darto dengan senyuman yang begitu lebar, "Aku juga, Mas. Mungkin aku wanita paling beruntung, karena bisa mendapatkan lelaki seperti Mas Darto."


Darto sungguh merasa bahagia setelah mendengar ucapan Harti, sayangnya di tengah perbincangan mesra mereka, Dava menangis dan seketika memecahkan semua kegundahan dan juga kemesraan mereka.


****

__ADS_1


Lima hari berlalu, perkiraan Darto tentang kedatangan Anto sedikit meleset. Anto dan Sri sampai di pesantren lebih cepat dua hari. Mereka langsung berangkat ketika surat yang dikirim Darto sampai di rumah mereka.


Melihat kedatangan Anto, Darto langsung bertamu ke rumah Surip dan Bidin, kemudian mengajak mereka untuk segera ke pesantren. Ketika tengah menuju pesantren, Darto berkunjung ke salah satu studio foto yang terletak tidak jauh dari pesantren. Tidak lama setelah itu, Darto kembali bersama dengan pemilik studio tersebut.


Rumah Kakung kembali ramai, suara dua bayi milik Darto dan Anto mirip sekali dengan Sirine ambulan, mereka terus menerus menangis, karena merasa ketakutan setelah melihat keramaian. Namun meski begitu semua orang tampak sangat senang ketika tukang photo sudah mempersiapkan semua peralatannya.


Siang itu, Kakung, Mbah Turahmin, dan Abah Ramli duduk di atas tiga kursi yang diletakkan berbaris. Mereka duduk bersebelahan dengan semua cucu yang berdiri di belakangnya.


Anto, Sri dan anaknya. Darto, Harti dan juga Dava. Jaka dan Magisna, Surip dan Gayatri juga Bidin dan Siti. Mereka semua berdiri di belakang ketiga lelaki tua itu. Mereka berdiri berpasang-pasangan, dengan posisi yang berhimpit-himpitan.


Ketika formasi sudah siap, semua orang langsung memampangkan barisan gigi mereka, setelah fotographer sudah menghitung sampai tiga. Hanya dalam tiga jepretan, orang yang mengambil foto langsung mengacungkan jempol di tangannya.


Melihat itu, semua langsung bubar menuju ke dalam rumahnya kakung, setelah prosesi foto itu selesai dilakukan di depan masjid.


"Nanti langsung saya cuci, Mas. Besok kalau nggak lusa sudah bisa diambil," ucap tukang foto kepada Darto.


"Ukuran besar semua ya, Pak. Sepuluh lembar. Pokoknya yang bisa digantung di dinding kaya yang tadi digantung di studio Bapak," sahut Darto.


"Siap, Mas. Besok kalau tidak lusa saya antar ke sini," jawab tukang foto kemudian berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam rumah Kakung.


Hari itu kembali tertekan ramai, sebelum akhirnya Surip, Bidin dan istri mereka pamit pulang karena sudah malam. Setelah itu, semua orang yang tinggal di rumah Kakung juga ikut menuju kamar mereka.


Darto benar-benar senang, dia terus membayangkan sebuah foto besar yang akan terpampang di ruang tamu rumah Kakung. Darto merasa tidak sabar untuk segera melihatnya, meskipun foto itu masih dua hari lagi baru bisa dilihat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2