
"Perkenalkan, Mas, Ki, Nama saya Gending, maaf jika saya terlambat memperkenalkan" ucap gadis cilik itu dengan wajah polosnya, dia terus tersenyum dengan mata berbinar di wajahnya sembari terus melihat kemulusan kulit di tangannya.
Mendengar gadis itu mengucap namanya, Darto yang bersemayam dalam tubuh Darsa sontak melompat. Dia mendekat ke arah Gending, kemudian meraih leher Gending begitu saja.
"Wanita biadab!" Teriak Darto sembari mencengkeram leher Gending.
Melihat Darsa yang tengah mencekik Gending, Sastro dan Wajana langsung melompat ke arah Darsa. Dengan susah payah kedua lelaki itu terus mencoba melerai, hingga akhirnya bisa melepas leher Gending dari cengkeraman Darsa.
"Uhuk! uhuk! uhuk! kena Uhuk! kenapa kamu uhuk! melakukan ini, Mas? uhuk!" ucap Gending terbatuk, dengan tangan yang terus memegangi lehernya.
Darto bungkam, matanya membulat, dan terus menatap tajam wajah Gending. Dengan garis urat yabg sudah menonjol di pelipisnya, Darto terlihat begitu mengancam, seakan bisa membunuh Gending kapanpun dia mau.
"Kenapa kamu begitu, Kang?" ucap Wajana sembari mengunci tangan Darsa. Dia menekuk tangan Darsa di belakang dan memeganginya dengan erat bersama Sastro.
"Sabar, Dar!" teriak Sastro sembari terus memegangi tangan Darsa. Dia dan Wajana benar-benar kewalahan, meski tubuh yang mereka pegang hanyalah tubuh bocah berusia sembilan tahun.
Mendengar pertanyaan kedua lelaki itu, Darto tetap tidak menjawab. Matanya masih terus fokus menatap Gending, dengan raut geram yang terpampang di wajahnya. Namun meski Darsa terlihat begitu sangar, bulir air tetap merambat kemudian menetes dari matanya yang terus membulat. Darto benar-benar dirundung rasa benci, sedih atas kehilangan keluarganya, dan juga merasa kasihan dengan nasib si gadis polos di depannya.
Setelah cukup lama Sastro dan Wajana memegangi Darsa yang terus menangis dengan wajah seramnya. Akhirnya mereka berdua bisa sedikit mengendurkan kewaspadaan, tatkala Darto yang singgah di dalam tubuh Darsa tidak lagi meronta, dan terlihat sudah mulai bisa diajak bicara.
"Sudah baikan, Dar?" selidik Sastro sedikit ragu, sembari melepas tangan Darsa perlahan.
"Sudah! jangan pegang saya!" ketus Darto di dalam tubuh Darsa, sembari menampik tangan Sastro yang hendak mengelus pundak miliknya.
__ADS_1
Melihat kemarahan Darsa, baik Gending, Sastro maupun Wajana benar-benar ketakutan. Sastro dan Wajana benar-benar merasa bersalah, karena sudah mencoba menutupi perjanjian yang Gending dan Ular itu lakukan. Ditambah mereka juga menyembunyikan kebenaran yang mereka ketahui, tentang sosok ular yang mendiami tubuh gadis di depan mereka.
"Kalian semua sudah bersekongkol, Lebih baik aku tidak mengenal kalian lagi," ucap Darto sembari berdiri, kemudian berjalan meninggalkan Sastro, Wajana dan Gending di pinggir kali.
Tidak ada yang berani menyusul Darsa, mereka bertiga tertegun dengan terbongkarnya rahasia yang mereka pikir akan tertutup sempurna. Mereka hanya bisa melihat punggung Darsa yang kian menjauh, menuju arah cahaya matahari yang mulai muncul dari ufuk timur.
"Kenapa tidak kamu bunuh? jika kamu bunuh gadis itu, mungkin kedua orangtuamu masih hidup saat kamu kembali,"
Suara lelaki tua tiba-tiba menyapa gendang telinga Darto, Padahal wujudnya sama sekali belum tertangkap oleh mata Darto.
"Lalu? kenapa tidak kamu saja yang melakukannya? bukannya kamu itu orang yang selalu disanjung dan disebut sakti? lalu kenapa tidak kamu saja yang bunuh dia sekarang?" ucap Darto sungut-sungut, dia merasa sedang dibodohi dalam ujian ini.
"Ha ha ha! kamu tau siapa aku?" ucap Lelaki tua itu sembari menampakkan wajahnya yang menyerupai Mbah Turahmin.
"Kalau begitu, kamu benar-benar lulus wahai cucuku," ucap Lelaki tua itu sembari memasang wajah Darsa yang sudah menua.
"Maaf, kamu bukan Eyangku," ketus Darto singkat, tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
"Ha ha ha ha! terserah, Nak?! aku memang bukanlah Kakekmu, tapi semua cerita yang kau lihat itu adalah ingatan nyata yang aku miliki, semuanya benar-benar terjadi. Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri saat aku masih hidup di tubuh Leluhurmu" ucap Kakek tua sembari menatap wajah Darto yang kini sudah memiliki tubuh aslinya.
"Lalu? apa maksudmu memperlihatkan itu semua?" jawab Darto masih dengan nada ketus. Dia benar-benar tidak senang dengan semua ujian yang dia jalani.
"Kakekmu berpesan, jika ada keturunanku yang layak dan bisa sampai di sini, maka berikanlah benda ini jika dia tidak membunuh Gending. Biarkan dia menjadi sakti dengan benda ini," ucap lelaki tua itu sembari menyodorkan sebuah tasbih kayu yang sempat Darto lihat ketika menjadi Darsa. Tasbih buatan tangan yang di berikan langsung oleh Kanjeng Romo alias Ayah Darsa.
__ADS_1
"Tidak! aku sudah tidak akan percaya lagi dengan sebuah benda!" ucap Darto sembari menepis tangan orang tua di depannya.
"Ha ha ha ha! sekarang kamu benar-benar lulus, Nak. Tadi saya menambahkan sedikit pesan yang Kakekmu tinggalkan. Sebenarnya dia berkata jika benda ini sangat berharga, jadi sudah sepantasnya keturunannya untuk meneruskan hak kepemilikannya. Tapi dia mempercayaiku untuk memilih siapa yang pantas menerimanya," ucap lelaki tua, sembari terus terkekeh melihat Darto yang tidak bergeming sama sekali, bahkan setelah diberi iming-iming kesaktian olehnya.
"Kenapa tidak kau berikan kepada Kakekku? atau orang tua kakekku dan seterusnya?" tanya Darto terus memuntahkan isi hatinya yang mengganjal.
"Mereka langsung mau meraih benda ini ketika aku bulang akan menjadi sakti, mereka lupa dengan siapa yang menjadi dalang dalam kehidupan, sehingga mereka percaya bahwa hanya dengan bantuan benda, mereka bisa menjadi tokoh utama. Itu kesalahan para pendahulumu, Dar. Kamu benar-benar layak menerima ini," kembali Kakek tua itu menyodorkan Tasbih milik Eyang Darsa.
Kali ini Darto hanya diam, tidak bertanya lagi dan juga tidak meraih tasbih di tangan lelaki itu. Darto benar-benar bimbang dengan pilihan yang akan dia buat. Hingga cukup lama waktu berlalu, akhirnya Kakek tua itulah yang menaruhnya di tangan Darto, sebelum Darto menyanggupi untuk menerimanya.
"Waktu kita tidak banyak, Kasihan kakekmu yang nunggu di dunia manusia. Tapi sebelum kembali, mungkin akan lebih baik jika kamu melihat apa yang Darsa alami dulu, siapa tau ada pesan yang bisa kamu peroleh dari peristiwa yang di alami Kakekmu," ucap lelaki tua itu, Kemudian menyentil Dahi Darto di depannya.
"Nginggg!!"
Telinga Darto kembali mendenging, penglihatannya mendadak menghilang, semua yang tampak hanya kilau cahaya putih yang begitu terang hingga membutakan retina.
Perlahan, penglihatan Darto berangsur membaik, dengung di telinganya juga sudah tidak terdengar begitu pekik, kini Darto yang masih terus mengerjap-ngerjap matanya mulai bisa melihat sesuatu di depannya.
"Perkenalkan, Mas, Ki, Nama saya Gending, maaf jika saya terlambat memperkenalkan"
Darto sedikit terkejut, ketika mengetahui dirinya kini sudah kembali pada momen dimana Gending memperkenalkan namanya, hanya saja kali ini Darto tidak lagi menempati tubuh Darsa.
Seperti saat melihat petunjuk yang Dining berikan dulu, Kali ini Darto menjadi penonton dari sudut pandang orang ketiga, yang tengah menyaksikan kilas balik dari Leluhurnya.
__ADS_1
Bersambung,-