ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MALAM PANJANG


__ADS_3

Suara deru mesin dan suara binatang malam jelas terdengar malam itu. Sesekali Kakung menginjak rem dalam-dalam tatkala lubang besar menganga menghadang di depan roda mereka.


"Pak Kyai. Saya mau muntah!" tukas Surip. Wajahnya benar-benar sangat pucat. Sudah kedua kali dia memuntahkan isi perutnya setelah masuk ke dalam hutan


"Yasudah Sur, sana keluar," jawab Kakung setelah mobil berhasil dia hentikan.


Tampak Harti dan Bidin yang memperhatikan Surip yang tengah menjauh dari lokasi mobil, sedangkan Darto masih saja memejamkan mata sedari memasuki hutan tersebut. Rasa kantuknya sudah tidak bisa di tahan lagi, karena dia begadang malam kemarin.


"Psst! psst! " Panggilan mendesis terdengar, dari arah hutan gelap di depan Surip. Penasaran dengan itu, Surip mencoba mencari sumber suara tersebut. Berbekal lampu senter ditangannya, dia menyapu sekeliling. Mengarahkan sorot lampu ke segala penjuru namun tidak mendapati apa-apa selain pohon rindang di depan matanya. Setelah cukup lama tidak mendengar maupun melihat apapun lagi. Surip yang baru selesai muntah itu


bergegas mematikan senter dan menuju mobil kembali.


"Pssst!" kembali suara desis tersebut terdengar dari arah belakang Surip.


Bulu kuduk Surip spontan berdiri, tengkuk lehernya seketika terasa dingin, seperti ada


yang meniupnya dari arah belakang. Surip benar-benar ketakutan kali ini.


Pikirannya tidak memperbolehkan dia menoleh, tapi rasa penasaran yang menumpuk


di dadanya tak bisa di kompromi lagi.


Dengan penuh rasa ragu, dia palingkan sedikit demi sedikit pandangannya kembali. Senter di tangannya pun kembali dia nyalakan, perlahan lampu dan pandangan Surip sampai ke arah sumber suara tersebut.


"Gus Darto?!" ucap Surip kebingungan, melihat Darto sudah berdiri tepat di belakangnya.


Darto sama sekali tidak menanggapi ucapan Surip, pandangannya kosong, menatap lurus ke arah mobil. Juga tubuhnya juga tak bergeming sama sekali dari posisinya berdiri. Melihat Darto seperti itu, Surip mencoba menyentuh pundak temannya itu. Tapi bukannya respon baik yang di dapat, Darto masih saja diam membisu dengan kepala yang berangsur miring dan terus memiring.

__ADS_1


"Allahuakbar!" teriak Surip. Dia berteriak sembari berlari dari tempat dia memuntahkan isi perutnya. Jaraknya benar-benar dekat, namun Surip merasa tidak pernah sampai ke mobil tujuannya itu.


Kaki Surip serasa tertahan di satu tempat, keringat mengucur deras dari pelipisnya, ketika kembali menoleh dan melihat kepala Darto yang sudah menggantung. Bergelayut seakan tanpa tulang, dan juga darah yang terus mengucur dari lehernya.


"Pak Kyai Tolong!" Teriak Surip yang terkunci di samping mobil. Suaranya sangat keras, namun orang di dalam mobil sama saja tidak merespon teriakannya itu.


"Darto! Harti! Bidin! tolong Aku!" kembali Surip berteriak setelah berhasil bergerak. Dan kini tengah menggedor-gedor jendela mobil yang terkunci dari dalam.


Namun sayang bukannya di buka. seluruh penumpang di dalam mobil hanya diam. Tatapan mata mereka juga kosong, dan mereka tak bergeming maupun menoleh sedikitpun. Surip benar-benar kebingungan, dan rasa takutnya kembali terpacu. Ketika dia melihat cairan yang keluar dari sela pintu, mengucur deras membasahi kakinya yang tepat berada di bawahnya.


"Pak Kyai! Tolong saya Pak Kyai!" Surip kembali berteriak bahkan dia menangis saking takutnya.


Tidak mendapat respon dari dalam mobil, Surip mengintip kaca gelap di mobilnya itu. dia mengarahkan senter hingga menempel kaca jendela. Betapa terkejutnya Surip ketika melihat kepala temannya dan juga kepala Pak kyai menggantung dan berdarah sama halnya dengan Darto di belakangnya. Darah mereka sangat banyak, mengalir dari leher mereka. Hingga Surip kini tau, cairan apa mengalir dari sela pintu mobil itu.


"Mak! Bapak! tolong Surip!" surip mendongak, tubuhnya limbung, duduk bersandar pada pintu mobil yang penuh darah itu, dan menangis sejadi-jadinya.


Tengah menangis pilu, tepukan tangan terasa menyentuh pundaknya.


Surip bangun seketika. Matanya sembab, dia menangis dalam tidurnya.


"Kamu mimpi apa Sur? sampai nangis gitu, ha ha ha," ucap Bidin terbahak, melihat temannya menangis di sampingnya.


"Aku mimpi serem banget Din!" ucap Surip sembari menyeka air mata yang mas bersarang di wajahnya.


"Emang mimpi apa kamu Sur?! sampai ganggu orang tidur saja!" ketus Darto. dia terbangun di samping Surip karena jok belakang digunakan tiga santi putra, dan Surip duduk di tengah.


"Hi! aku enggak mau cerita sekarang! nanti aku cerita pas sudah sampai di desamu saja!" jawab Surip ketakutan. matanya menyapu sekeliling, namun tidak bisa melihat apa-apa di luar kaca jendela karena gelap.

__ADS_1


"Yasudah aku mau tidur lagi, jangan berisik lagi!" ucap darto kemudian menyandarkan kepalanya.


Baru saja terlelap. Darto kembali tersentak, tatkala Kakung tiba-tiba menginjak dalam pedal rem di bawah kakinya. Dibarengi teriakan lantang dari Harti yang duduk di sebelah Kakung, Darto mencoba memastikan apa yang tengah berdiri tepat di tengah didepan mobil mereka.


Tampak sosok yang sangat Darto kenal. Sosok lastri yang sudah lama tidak dia lihat, kini dia tengah berdiri tepat di depan mobil mereka, berdiri diam dengan kepala menggantung dan darah mengucur dari lehernya. Sosok pocong merah Lastri tersenyum lebar memamerkan barisan gigi hitam dari kepala miring itu, Surip yang teringat dengan mimpinya spontan menangis kembali, sedangkan Bidin hanya bisa terpaku dan terdiam seakan terkunci dalam duduknya.


"Hi hi hi" suara Lastri yang menyeramkan terdengar begitu keras membelah sunyinya malam. suaranya masih sama, suara ngorok seperti sapi yang tengah di sembelih.


Melihat itu, Kakung menoleh ke arah Darto di belakangnya, ketika tatapan mereka bertemu, Darto mengangguk pelan seakan mengerti maksud kakung dan kemudian kakung kembali memalingkan pandangan ke arah depan.


"Bismillahirrahmanirrahim," Kakung mengucap dengan lantang. Dilanjut menginjak dalam pedal gas di bawah kakinya.


"Bruak!" Pocong Lastri tertabrak hingga menciptakan suara dentuman yang cukup keras di cap depan.


Pocong itu menggelinding ke atas mobil, tubuhnya berguling, dan sempat berhenti tepat di depan wajah Kakung sebelum akhirnya terpental ke samping.


Kakung bergegas menyalakan wiper, karena bercak darah yang tertinggal dari kafan Lastri memenuhi sebagian kaca depannya.


Suasana sangat tegang kala itu, hanya Darto dan Kakung yang terus berdoa, sedangkan ketiga temannya membisu dengan wajah pucat, ketika melihat darah yang berangsur mengalir kebawah, disingkirkan wiper di kaca depan mobilnya.


Darto sedikit lega, ketika memastikan bibir ketiga teman Darto mulai bisa berbicara. mereka kini ikut melantunkan surat yang Kakung pinta. Sehingga menciptakan suara bising akan saut-sautan bacaan ayat suci didalam mobil tersebut.


Ketika cukup jauh mereka meninggalkan tempat penampakan, rasa lega dari kelima manusia di dala mobil itu mulai menyapa. Tak ada penampakan lagi yang mereka lihat dan bacaan doa pun di hentikan sesaat.


Sebelum akhirnya lengan Darto merasakan sesuatu yang basah menempel di lengan kanannya, hingga membuatnya spontan memalingkan pandangan ke arah kanan yang seharusnya di duduki Surip.


Bacaan ayat suci kembali Darto ucap dengan lantang. Setelah melihat Sosok yang duduk diantara dirinya dan Surip tengah tersenyum lebar menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Kini, Lastri menjadi penumpang ke enam di dalam mobil itu.


Bersambung,-


__ADS_2