
Waktu tanpa ampun terus bergulir, suasana senang ketika reuni itu terjadi, membuat waktu seakan lebih cepat berlalu. Kakung masih belum cukup mencurahkan rindu di dadanya hari itu, jadi dia memutuskan untuk menginap di kediaman Yati dan Riski untuk semalam, sebelum mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Sekarang langit sudah menggelap, satu hari berlalu begitu saja, rasa lelah yang mereka rasakan juga sudah berangsur menghilang. Sehingga membuat suasana kediaman penjual kelontong sungguh ramai malam itu, mereka bercanda dan membicarakan banyak hal seharian penuh.
"Dar, Kamu bisa kan urus yang di depan?" ucap Kakung menatap tajam mata Darto di depannya.
"Bisa, Kung," jawab Darto sembari mengangguk.
Setelah mengangguk, Darto bergegas pergi meninggalkan tempat dia duduk bersama semua orang. Darto terlihat buru-buru ketika meninggalkan rumah, dia melesat pergi ke warung kelontong di depan rumahnya.
"Kamu buka jam berapa Ris, tiap hari?" tanya Kakung penasaran.
"Dulu biasa saya jualan mulai jam 3 pagi Pak Kyai, tapi sudah beberapa malam perasaanku sama Istriku terasa tidak enak. Kami tidak bisa tidur nyenyak tiap malam, jadi hampir tiap hari dari jam satu pagi kita sudah siap-siap buka, dan ndak taunya semalam ketemu cucu Pak Kyai," jawab Pak Riski mencoba menjelaskan apa yang dia alami.
"Dagangan kamu gimana Ris?" tanya kakung kembali.
"Alhamdulillah meski sudah tidak seramai dulu, masih cukup buat beli bahan yang di pakai besoknya," jawab Pak Riski sedikit murung.
"Sudah, mulai besok pasti dagangan kamu bakal kebanjiran pembeli lagi," ucap Kakung singkat tanpa menjelaskan apa maksud dari perkataannya.
Mendengar ucapan Kakung, Pak Riski hanya bisa menerka. Dia di paksa mengira-ngira arti dari perkataan Kakung, dan dia pun sedikit demi sedikit menggapai gambaran tentang hal yang terjadi dengan dirinya.
"Biar Cucu saya yang urus Ris, kamu tenang saja," ucap kakung mengagetkan lamunan Pak Riski di sampingnya.
"Njih Pak Kyai," ucap Pak Riski singkat.
Setelah mengucap kata tersebut mereka kembali melanjutkan obrolan ringannya. Tanpa mereka sadari Bu Yati sudah selesai mengemas barang dagangannya, dan sebagian besar sudah dia bawa menuju rumahnya. Pak riski bergegas sedikit berlari untuk membantu membawa barang di tangan Istrinya, membuat Kakung sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Yat, Darto dimana?" tanya Kakung singkat.
"Sehabis gali tanah di warung, dia ijin pergi sebentar Pak Kyai," jawab Bu Yati kemudian menaruh barang di ruang sebelahnya.
"Dia bilang apa lagi, Yat?" tanya Kakung menyusul Bu Yati ke ruang sebelah.
"Dia bulang mau buang sesuatu. Memang apa si yang Darto ambil di depan warung?" tanya Bu Yati kembali, dia sedikit heran dengan gerak gerik yang Darto lakukan di depan warungnya.
"Dia lagi ambil kiriman orang. Ada yang syirik sama usaha kalian," timpal Mbah Min yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Kakung.
Kedua Suami Istri itu langsung membulatkan matanya, wajah tak percaya terpampang di muka mereka.
"Jadi bener ya Ki, saya sempat curiga sama penjual baru di seberang, dia buka siang tapi pembelinya lebih ramai dari jualan kami. Ditambah banyak gangguan yang kami alami. Sering malam-malam ada yang nangis, kadang ada juga yang ketok sambil manggil dari depan pintu, anehnya pas aku buka enggak ada siapa-siapa. Ditambah banyak yang protes makanan kami kaya makanan kemarin, ada juga yang bilang sudah basi, padahal makanan yang dia makan baru saya masak, Ki," ucap Bu Yati bersungut-sungut, nadanya ketus, tampak sekali dia mulau ditelan emosi.
"Sudah, karena kalian sudah tau, saya harap kalian tidak langsung melabraknya. Karena mau bagaimanapun hal ghaib tidak bisa di buktikan lewat fisik, nanti kalian malah malu sendiri," ucap Kakung mencoba menenangkan.
"Itu alasan kami selalu buka subuh Pak Kyai, soalnya orang-orang pada mau datang kalau warung itu belum buka, Pak Kyai tau sendiri kan kalau siang tadi sepinya bagaimana," timpal Pak Riski dengan nada sedikit meninggi.
Mendengar ucapan Kakung Pak Riski dan Bu Yati hanya bisa mengangguk, mereka di paksa menurut meski darah di tubuh mereka seakan mendidih di buat emosi oleh kabar yang baru mereka dengarkan.
...***...
"Hei! kamu mau hidup atau mau saya musnahkan disini?!" ketus Darto, sembari mencekik tubuh sosok kurus yang memiliki telinga panjang.
"Ampun.." ucap sosok tersebut menangis sembari menempelkan kedua telapak tangan sebagai isyarat permohonan.
"Siapa yang kirim kamu? siapa juga yang timbun barang ini di depan warung?" ucap Darto kembali sembari menunjukkan buntelan kain hitam di tangannya.
__ADS_1
"Mereka orang yang sama Den, benda itu hanya petunjuk untuk saya. Dimana benda itu ditanam, disitu saya harus bekerja Den," ucap mahluk tersebut memanggil Darto dengan julukan Raden.
"Orang yang tanam ini bisa lihat kamu?" tanya Darto sedikit melotot.
"Tidak, Den. Orang yang menimbun benda itu hanya mengikuti petunjuk yang diberi Majikan Saya," jawabnya dengan menunduk tubuhnya bergetar.
"Sekarang tunjukkan rumah orang yang nimbun bungkusan ini, bisa kan?!" Darto sedikit mengancam, dengan mengeraskan cengkeraman tangan di leher mahluk tersebut.
"Baik, Den. itu Rumahnya," jawab mahluk itu sembari menunjuk warung kelontong yang letaknya hanya terpisah oleh jalan setapak dari warung kelontong Pak Riski.
"Saya bisa lepas kamu, Tapi ada syaratnya!" ketus Darto sembari menggoyang tangan yang tengah mencekik leher mahluk tersebut.
"Baik, Den. Akan saya turuti apapun itu," jawab mahluk itu masih dengan tangan memohon.
"Awas saja kalau kamu bohong! jika pas aku kesini kamu tidak melakukan apa yang aku suruh. Kamu akan aku siksa sampai kamu memohon untuk mati," ucap Darto sembari melepas cengkraman tangannya.
Setelah tangannya terlepas dari mahluk itu, Darto pun berjalan menuju warung kelontong yang kini sudah tutup di seberang rumah Pak Riski, dia menggali tanah di depannya, kemudian menimbun buntelan hitam di tangannya itu.
"Mulai sekarang kamu kerja disini, Lakukan apa pun yang sudah kamu lakukan di warung Pak Riski, awas saja kalau kamu tidak lakukan!" ucap Darto dengan nada tinggi sembari menunjuk wajah pendek berbadan kurus di depannya itu.
"Cuma itu saja, Den?" tanya mahluk itu kebingungan.
"Iya!'' Darto sedikit berteriak matanya melotot, sehingga membuat sosok di depannya bergidik ketakutan.
"Baik, Den. Akan saya lakukan," ucap mahluk itu kemudian menghilang bagai kepulan asap.
Setelah urusannya selesai, Darto pun berjalan menuju rumah Pak Riski. Dalam perjalanan dia terus tersenyum mengingat apa yang sudah dia lakukan, kemudian dengan sedikit tertawa dia bergumam lirih.
__ADS_1
"Sekali-sekali memang harusnya begini" ucap Darto pelan, menutup permasalahan yang dialami dua orang yang dekat dengan Si Mbah, juga menutup episode ini.
Bersambung,-