
Malam itu perbincangan masih berlanjut, rentetan demi rentetan pertanyaan terus keluar dari semua orang. Mereka merasa tercengang dengan cerita yang baru saja mereka dengarkan.
"Sebenarnya, kenapa Banaspati mengikat kalian?" Tanya Darto dengan wajah sangat penasaran.
"Entah ini benar atau tidak, tapi cerita ini merupakan cerita yang diturunkan dari sesepuh-sesepuh pendahulu saya. Mereka berkata jika dulu sesepuh kami adalah salah satu sahabat Kanjeng Darma, dia selalu menemani kemanapun Kanjeng pergi. Hubungan mereka berdua bahkan sudah melebihi saudara, Dar. Satu ketika sesepuh kami dan Kanjeng Darma bertemu dengan mahluk yang begitu kuat di tengah perjalanan mereka. Mereka berdua bertarung dengan begitu sengit melawan satu mahluk saja, dan mahluk itu adalah Banas pati, Dar," ucap Abah Ramli terhenti, dia menatap reaksi di wajah Darto sebelum kembali bercerita "Mereka hampir berhasil, Dar. Sebelum kelabang, ular, kalajengking, laba-laba dan banyak lagi binatang berbisa datang membantunya. Di sana sesepuh kami hampir mati, Kanjeng Darma menyelamatkan sesepuh kami dari serangan banas pati, namun dia tidak mengira bahwa serangan Banas pati sebenarnya tidak bermaksud membunuh, melainkan meninggalkan satu kutukan di tubuh sesepuh kami. Dari energi yang banas pati lontarkan, rantai ini terbentuk, Dar. Dia hanya meninggalkan energi miliknya untuk melacak keberadaan kanjeng dan juga sesepuh Kami."
Mendengar ucapan Abah Ramli, Darto benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Banaspati memiliki antek yang begitu banyak. Dalam rasa tidak percaya Darto mencoba bertanya, dia berkata "Apa semua jelmaan binatang itu sudah mati?"
"Tidak, Dar. Dulu mereka hanya mampu mengalahkan laba-laba dan kalajengking, sedangkan ular dan kelabang sudah berhasil kamu singkirkan. Mungkin besok tidak banyak lagi yang harus kamu khawatirkan. Di desa kami ada satu peninggalan yang mungkin bisa membantumu nantinya, pokoknya kamu harus pergi ke desa kami dan putuskan belenggu di leher kami," jawab Abah Ramli, kemudian menoleh ke arah Darto dengan tatapan nanar.
"Memang benda apa itu?" Jawab Darto dengan wajah sangat penasaran.
"Jubah milik Kanjeng ada di rumahku, itu bisa memberikan sedikit bantuan. Yang pasti jika kamu mengenakan jubah itu, semua mahluk dari alam sebelah yang pernah dekat dengan Kanjeng Darma, akan langsung mengenalimu tanpa harus berkenalan terlebih dahulu," sambung Abah Ramli.
Darto seketika bergidik. Seluruh bulu roma di tubuhnya berdiri, setelah mendengar ucapan Abah Ramli dengan seksama. Dia merasa tugas yang harus dirinya pikul begitu berat, namun dirinya juga merasa bangga bisa melanjutkan apa yang sesepuhnya belum selesaikan. Namun sebelum Darto mengambil kesimpulan, dia kembali bertanya pada Abah Ramli untuk sekedar memastikan "Jadi, apa semua anak buah banaspati sudah musnah? Apa aku sudah bisa menemui dirinya setelah membunuh kelabang itu?"
"Belum, Dar. Semua binatang memang takut kepada api, masih ada dua lagi yang perlu kamu waspadai," jawab Abah Ramli singkat.
__ADS_1
"Apa lagi?" Tanya Darto kembali.
"Coba tebak, binatang apa yang begitu kuat namun takut dengan api?" Tanya Abah Ramli kepada semua orang di depannya. Dan hanya mendapat gelengan kepala dari semua pendengarnya.
"Macan, Dar. Dia sangat kuat. Bahkan kelabang saja takut jika bertemu dengannya. Hanya saja dia tidak begitu tunduk dengan semua antek banas pati, dia hanya takut dengan banaspati, dan hanya banaspati yang bisa mengaturnya," jawab Abah Ramli dengan tatapan serius. Kemudian melanjutkan ceritanya "Tapi, Dar. Kamu lebih baik menemui dia dulu, seharusnya kamu bisa bertemu dengan dirinya jika mau pergi ke kerajaan banaspati. Dia bisa menjadi teman berharga jika dia bisa kamu rayu."
Semua orang kembali tercengang setelah mendengar usulan dari Abah Ramli. Mereka berfikir bagaimana cara yang Harus Darto lakukan untuk mengajak Sosok macan agar menjadi bala bantuan.
"Dia hanya takut dengan banaspati, tapi dia tidak hormat sama sekali. Musuh dari musuhmu adalah temanmu, kamu pasti sering sekali mendengar ucapan itu, kan? Janjikan saja sebuah kemenangan, dia pasti akan berpikir keras untuk menolak tawaran kamu," sambung Abah Ramli.
Semua orang mengangguk, mereka merasa apa yang Abah Ramli katakan sangatlah masuk akal. Mereka semua serentak mengangguk untuk mengungkapkan rasa setuju, hingga Abah Ramli berhasil mengangkat sudut bibirnya setelah melihat semua dukungan yang Darto punya.
"Jadi, sama saja dong? Aku tetap harus menghadapi macan itu dulu," ucap Darto sedikit kecewa.
"Iya, Dar. Tapi lebih baik kamu tidak membunuhnya, dia bisa menjadi bantuan yang sangat berarti. Yang perlu kamu waspadai selanjutnya adalah binatang yang begitu setia dengan Banaspati, Dar. Kamu tau binatang apa yang sangat mencintai api?" Tanya Abah Ramli kali ini dia sengaja membuat Darto sedikit kebingungan. Dan setelah Darto menggeleng kepala, dia kembali berbicara "Ngengat, Dar. Ngengat begitu mencintai api, mereka tau sayap mereka bisa terbakar, tapi mereka tetap memilih mati asal bisa menyentuh api. Mereka bisa memilih cara untuk mati, dan yang perlu kamu waspadai bukan hanya kesetiaannya. Banyak sekali manusia yang sudah mati sebelum sempat melihat wujud ngengat tersebut. Racun dari bubuk di sayapnya begitu mematikan."
Mendengar itu, semua orang langsung membulatkan mata mereka. Selama ini mereka berfikir bahwa ngengat adalah binatang bodoh, karena mereka selalu mendekati benda yang terus membunuh sebagian besar kaum mereka, namun malam ini pa dagan mereka terhadap ngengat berbanding terbalik. Mereka baru tahu jika ngengat merupakan binatang yang mau mati demi menyentuh sesuatu yang mereka cintai.
__ADS_1
Sedangkan Darto hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian mengeluarkannya sekaligus secara kasar. Dia mencoba untuk tetap tenang di depan semua keluarganya, meski sebenarnya hatinya juga merasa ragu dengan kemampuannya saat ini. Tapi Darto tetap memilih untuk menghadapi apapun yang akan dirinya hadapi, meskipun itu adalah sesuatu yang akan membunuhnya.
"Kakek masih mau di sini dulu, kan? Besok biar saya ajak Jaka, biar dia bisa lihat dunia luar sebelum terbebas sepenuhnya. Tali yang mengikat Jaka sudah saya putus, sekarang dia bisa pergi kemana saja sesuka hatinya, kan?" tanya Darto mencoba mengalihkan perhatian, dia tidak ingin semua keluarganya merasa khawatir dengannya.
"Baik, Dar. Jika berkenan kamu mampir di kampung kesemek dulu, di sana ada Kakek Jaka, ini alamatnya," jawab Abah Ramli sembari menyodorkan secarik kertas, dia tahu jika Darto ingin mengalihkan perbincangan, jadi dia langsung menjawab tanpa berfikir.
"Apa tujuannya searah dengan kampung Ijuk?" Sambung Darto.
"Searah, Dar. Itu masih dekat dari sini, saya tau tempatnya," sahut Ki Karta setelah melihat tulisan di dalam selembar kertas yang tengah Darto perhatikan.
"Baiklah, besok pagi kita berangkat. Jadi sekarang lebih baik kira beristirahat," ucap Darto singkat, kemudian berpamitan untuk pulang ke rumah orang tua Harti yang terletak tepat di sebelah rumah Kakung.
Tidak Lama setelah Darto berpamitan, semua orang masuk menuju kamar masing-masing. Mereka susah sekali terlelap setelah mendengar apa yang Abah Ramli ucapkan. Terutama kedua Kakek dan istri Darto. Mereka merasa takut dengan apa yang akan Darto hadapi, namun mereka sama sekali tidak bisa menghalangi Darto. Jadi mau tidak mau mereka harus mendukung semua keputusan Darto meskipun terpaksa, dan hanya doa saja yang bisa terus mereka suguhkan.
Bersambung,-
...alam sebelah sudah ada audionya lho 😁 ...
__ADS_1
...bisa cek langsung di profilnya othor 😁...