
"Jak! Kamu mimpi lagi?" Teriak Darto dengan wajah tercengang.
Untuk beberapa saat, Jaka mengerjap matanya, kemudian menoleh pada wajah Darto dan langsung mendekap Darto yang tengah memegangi pundaknya.
"Kang ... saya lihat semua pertarungan leluhur saya. Saya takut, Kang. Apa lagi pas tubuh saya bercahaya di ruangan gelap," ucap Jaka dengan tubuh bergetar. Dia merasa ruangan gelap maupun sinar pada tubuhnya benar-benar merupakan hal yang sangat mengerikan baginya.
Mendengar itu, Darto hanya mengangguk kemudian meraih termos yang dibawa Kakung, kemudian dia mengisi air hangat pada satu gelas seng yang juga disediakan Kakung. Darto memberikan gelas itu pada Jaka, kemudian bertanya "Apa orang yang kamu temui berbicara dengan kamu?"
"Tidak, Kang. Jaka hanya lihat teman dekat sesepuh mati. Dia mati saat menciptakan pelindung kampung Jaka," jawab Jaka kemudian menyesap sedikit demi sedikit air yang baru saja Darto suguhkan.
"Nanti saya ajari bagaimana kamu masuk dan keluar dari ruangan itu. Kamu tidak perlu takut, aku juga pernah merasakan kebingungan, ketika pertama kali masuk ke dalam ruang hitam itu," sambung Darto kemudian menyandarkan tubuhnya lada tembok.
Sekilas Darto memandangi wajah Anto yang tengah tidur menganga, temannya itu tidur bagaikan orang mati di sampingnya, bahkan dia tidak mendengar kegaduhan ketika Darto berteriak. Darto benar-benar terkekeh melihat betapa pulasnya Anto, dia menertawakan kumis yang melengkung di atas bibir terbukanya itu.
Setelah sedikit tenang, Jaka menceritakan semua yang dia saksikan. Sedangkan Darto hanya bisa diam, dan mendengarkan secara seksama. Darto benar-benar terkejut ketika tahu jika Kanjeng Romo atau Kanjeng Darma meninggal di desa Jaka. Bahkan Darto langsung mengangguk paham setelah mengerti darimana beras yang selalu Darsa terima ketika melakukan ujian dulu.
Setelah Jaka selesai bercerita. Darto membuka suara, dia juga bercerita tentang perjalanan Darsa sang anak Darma. Jaka benar-benar terkesima dengan semua cerita yang Darto ucapkan, dia bahkan langsung membuang ketakutan di dalam hatinya, setelah dia tahu jika Darto masih memiliki hubungan darah dengan Kanjeng Darma.
__ADS_1
"Berarti ... Kang Darto masih keturunan Kanjeng Darma, 'kan?" Tanya Jaka memastikan, dengan wajah antusias dan mata yang berbinar.
"Iya ... saya mendapat banyak barang peninggalan beliau, bahkan barang yang diberikan untuk anaknya juga sekarang berada di tanganku," jawab Darto sembari memiringkan kepala, dia merasa heran karena melihat Jaka yang begitu senang, setelah dia mendengar bahwa Darto masih merupakan keturunan Kanjeng Darma.
"Kang ... ijinkan Jaka membantu Kang Darto. Jaka punya hutang yang sangat banyak sama leluhur Kakang. Tolong ... Kang. Ajari Jaka supaya Jaka bisa membantu saat melawan musuh yang kuat," ucap Jaka sembari bersujud di depan Darto.
Darto langsung mengangkat tubuh Jaka, dia merasa emosi setelah melihat tingkah Jaka. Darto benar-benar memunculkan urat di keningnya, ketika melihat Jaka dengan tulusnya bersujud padanya. Dalam amarah yang berkobar Darto berkata, "Jangan pernah bersujud lagi! Sekali lagi kamu melakukan itu, lebih baik kita tidak saling mengenal!"
"Maaf, Kang. Saya tidak tahu bagaimana cara untuk berterimakasih," jawab Jaka polos, dia merasa takut setelah melihat ekspresi marah dari seseorang yang dirinya kagumi.
"Astagfirullah ...." Ucap Darto pelan sembari mengelus dada, dia mencoba menenangkan diri untuk sesaat, kemudian kembali menatap Jaka dan langsung meraih kepala Jaka sembari berkata, "Aku mungkin tidak akan marah jika kau pukul, Jak. Tapi aku tidak suka jika ada sesama ciptaan tuhan yang bersujud kepadaku. Apa lagi yang menolong keluargamu itu leluhurku, kenapa kamu sujud sama aku?"
"Jangan pernah bersujud kepada apapun, Jak. Selain sama yang di atas," sambung Darto sembari membalas senyuman Jaka.
Setelah itu, Jaka hanya mengangguk. Dia merasa kekaguman di dalam hatinya lebih dan lebih bertambah lagi, setelah mendengar alasan Darto marah. Malam itu, mereka melanjutkan tidur kembali, dan tidak ada apapun yang terjadi lagi.
🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Dua minggu berlalu. Hari ini Darto dan Jaka akhirnya memulai perjalanan mereka, Jaka merasa senang karena dirinya akan melihat kampung halaman milik Darto. Dia bahkan berkata ingin membangun rumah di sana, supaya dia bisa terus melihat Darto setelah pertarungan terakhirnya.
Setelah semua barang keperluan terkumpul, Jaka dan Darto pulang menuju kampung kemoceng bersama Sri dan Anto. Mereka pulang bersama buah hati yang akan mereka tunjukkan kepada kakek dan nenek mereka, yang sedang menunggu kedatangan mereka.
Perjalanan terpampang aman sejauh ini, menit demi menit, hinga berjam-jam lamanya sudah berhasil mereka lewati. Ketika hari sudah menggelap, Darto hanya berhenti untuk menunaikan shalat maghrib disambung isya di sembarang masjid yang dirinya temui di tengah perjalanan. Kemudian dia kembali memacu laju mobilnya, karena Darto benar-benar ingin menginap di warung kelontong milik Pak Riski.
Setelah dua jam lamanya, akhirnya Darto sampai di depan warung kelontong Pak Riski. Dia langsung menyapa Bu Yati yang tengah menunggu warung tersebut, dilanjut memperkenalkan semua orang yang ikut bersamanya. Setelah saling berkenalan, Darto meminta izin untuk menginap lagi di rumah tersebut. Untungnya, Pak Riski dan Bu Yati selalu membuka pintu rumah mereka secara lebar, jika ingin digunakan untuk keluarga Darto maupun semua temannya.
Setelah Anto dan Sri masuk ke kamar mereka. Darto dan Jaka yang tidur di ruang depan bersama-sama keluar menemui Pak Riski yang kini tengah bergantian berjaga dengan istrinya. Setelah sampai di depan Pak Riski, Darto memesan dua gelas teh hangat sembari bertanya, "Pak Riski tau yang namanya Ki Jumar?"
Mendengar pertanyaan Darto, Pak Riski mengernyitkan dahi miliknya. Dia merasa aneh dengan pertanyaan Darto, hingga dia kembali bertanya, "Memang ada perlu apa sama dia, Dar?" Ucapnya heran kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Darto seraya berbisik, "Dia kiyai gadungan, Dar. Saya tahu jika dia dukun. Selama saya ngaji di pesantren, saya tidak pernah menemui ajaran untuk menyembelih ayam hitam, jika kita mau memohon kesembuhan."
"Nah ... maka dari itu, Pak. Saya cuma ada sedikit perlu sama dia," jawab Darto juga berbisik.
"Rumahnya di belakang masjid, Dar. Kamu masih ingat jalan ke masjid, 'kan?" Ucap Pak riski masih berbisik. Untuk sesaat dia mengedarkan pandangannya kemudian kembali menyambung kalimatnya setelah melihat Darto mengangguk, "Rumahnya yang ada patung macan di depan pintunya, patungnya dua, kamu pasti langsung nemu rumah itu, soalnya rumahnya megah sendiri."
"Oke, Pak. Kalau begitu saya ke sana sekarang," jawab Darto ikut berbisik. Darto menahan tawa karena melihat Pak Riski yang terus berbisik. Padahal warungnya hanya berisi dua orang pembeli, itupun pembelinya duduk di tempat ujung paling jauh dengan tempatnya berbincang.
__ADS_1
Setelah Darto berpamitan, malam itu juga dia pergi bersama Jaka. Mereka melangkah beriringan menuju masjid, dengan sebuah harapan untuk menemukan setitik petunjuk, tentang energi yang bersemayam dalam tubuh Jaka.
Bersambung ....