
Setelah meninggalkan rumah Ki Jumar, Jaka dan Darto langsung kembali ke rumah Pak Riski. Melihat warung kelontong sudah tutup, Darto langsung mengajak Jaka untuk masuk ke dalam rumah Pak Riski meski tanpa permisi.
Mereka berdua langsung terlelap saat itu juga, hingga tidak terasa adzan subuh yang begitu lantang berhasil membangunkan mereka berdua. Semua orang yang menginap langsung pergi melakukan Jamaah subuh di masjid dekat warung Kelontong, hanya Sri dan Bu Yati saja yang singgah karena dirinya mengurus bayi yang sedang dirinya bawa, sedangkan Bu Yati kali ini mendapat jatah berjaga.
Setelah selesai shalat, Darto, Jaka, Anto beserta Sri melakukan sarapan di dalam warung kelontong, sebelum akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya. Tidak ada satu hal pun yang terjadi di dalam perjalanan, hutan yang pernah menjadi momok sudah berhasil mereka lewati tanpa masalah.
Ketika sampai di kampung kemoceng, Darto dan Jaka langsung membawakan semua barang mereka beserta barang Sri menuju rumah Anto. Mereka mampir untuk sekedar bertamu, dan langsung menuju rumah Darto yang sudah lama tidak disinggahi.
Sore itu Jaka langsung tertidur di dalam kamar rumah Darto, sedangkan Darto hanya merebahkan tubuhnya di depan teras sembari memandang sawah dengan sepoi angin yang terus menyapa kulitnya. Darto berniat untuk bermalam di rumahnya hari ini, sebelum besok mereka melanjutkan perjalanannya kembali.
Setelah adzan maghrib terdengar, Darto dan Jaka langsung pergi menuju Langgar untuk menunaikan shalat, dan mereka langsung kembali setelah usai menunaikan shalat isya.
Darto sedikit menorehkan senyum ketika melihat Jaka ketakutan, jaka merasa takut pada sosok hitam penghuni pohon pisang di dekat rumahnya. Darto yang melihat itu, benar-benar langsung bernostalgia dengan masa kecilnya yang tengah ketakutan di samping Mbah Turahmin.
"Dia teman saya, Jak. Nggak usah takut," tukas Darto sembari menepuk pundak Jaka. Dia mencoba melepas tubuh Jaka yang tengah mematung di tengah sawah karena ketakutan.
Setelah Darto menepuk pundak Jaka, Jaka langsung bisa lepas dari tubuh mematung miliknya, dia kemudian mengikuti langkah Darto dengan tubuh yang masih bergetar hebat. Dalam rasa takutnya dia berkata, "Kang, kenapa dia seperti marah kepadaku, dia tidak seperti peliharaan Ki Jumar."
__ADS_1
"Mungkin karena dia belum kenal sama kamu, Jak, dan yang ada di rumah Ki Jumar mengira kamu pemimpin mereka," sahut Darto sembari terus melangkah menuju rumahnya.
"Kenapa bisa energi mahluk itu ada di dalam tubuhku ya, Kang?" tanya jaka kembali, dia memasang wajah tertunduk karena dia merasa energi di dalam tubuhnya merupakan satu hal yang sangat dibenci oleh semua keluarganya.
"Besok mungkin kita akan dapat jawaban, Jak. Nanti kamu langsung tidur saja, besok habis subuh kita berangkat," jawab Darto kemudian merangkul pundak Jaka.
"Memang kita mau kemana lagi, Kang?" kembali Jaka bertanya sembari mengernyitkan dahi.
"Percuma kalau saya jelaskan, Jak. Besok saja kamu lihat langsung," sahut Darto sembari menarik Jaka, kemudian melangkah cepat, agar lekas sampai di rumahnya.
Sesampainya di rumah, Jaka yang belum lama bangun dari tidur sorenya, sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Setelah cukup lama dia berusaha untuk tidur, akhirnya Jaka menyerah dan menyusul Darto yang tengah merokok di ruang tamu malam itu.
"Boleh, Jak. Itu ada teh di dalam tas, tadi aku ambil di rumah Anto," jawab Darto singkat sembari menunjuk tas yang tergeletak di samping Jaka.
"Air panasnya ada, kang?" Tanya Jaka kembali.
"Ada ... tadi sore aku sudah masak, tapi kalau kurang panas masak lagi saja, kayu bakarnya masih banyak di belakang," jawab Darto sembari berdiri, dia mencoba mengecek sisa air panas yang dirinya masak tadi.
__ADS_1
Jaka yang melihat Darto pergi ke arah dapur, dia langsung mengikuti langkahnya. Setelah sampai di dapur, termos yang tadi sore Darto isi penuh ternyata tidak tertutup rapat. Jadi mau tidak mau mereka harus memasak air lagi, jika ingin meminum air panas.
Jaka dan Darto langsung menyalakan api di dalam tungku. Setelah api sudah berkobar mereka meletakkan satu cerek alumunium yang sudah hitam hampir seluruh bagiannya. Dan setelah itu, sembari menunggu airnya panas, Darto dan Jaka hanya duduk di samping kobaran sembari menghangatkan badan mereka.
Jaka yang melihat api berkobar di depan matanya, seketika mengingat pertarungan yang pernah dirinya lihat di dalam mimpi. Malam itu Jaka kembali bercerita secara rinci, seperti apa bentuk sosok api yang dirinya lihat di dalam mimpi. Sedangkan Darto masih tetap menyimak, meski dia sudah pernah mendengarkan cerita Jaka.
"Jak, kamu tidak perlu berfikiran yang tidak-tidak. Aku tahu, kamu pasti berfikir energi milikmu itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi, Jak ... sebuah pisau bisa menjadi alat untuk membunuh maupun alat untuk memasak, itu semua tergantung pada siapa yang memegangnya. Asal kamu pakai energi itu untuk kebaikan, maka tidak ada bedanya energi milikmu dan milikku," ucap Darto setelah Jaka berhenti bercerita. Darto merasa malam ini Jaka tengah menyesali sesuatu yang dia miliki.
Mendengar penuturan Darto, Jaka hanya bisa mengangguk. Di dalam hatinya mulai tumbuh rasa bangga, dari sesuatu yang tadinya tidak dia inginkan sama sekali. Jaka benar-benar merasa bersyukur karena bisa bertemu dengan Darto, saat itu dia merasa bahwa Darto merupakan sosok yang lebih dari kata pantas, untuk di jadikan panutan.
Setelah air masak, mereka langsung menyeduh dua gelas teh pahit dan membawanya ke ruang tamu. Malam itu Darto menceritakan tentang nasib keluarganya yang begitu miris. Jaka yang tengah mendengar dengan seksama langsung merasa marah dengan perlakuan Gending, namun di akhir cerita Jaka justru merasa kasihan dengan wanita yang hidup ratusan tahun lamanya itu.
Tidak hanya itu, Jaka terus mendengar sebuah rentetan cerita perjalanan Darto, dia merasa semua yang dialami Darto merupakan kisah yang luar biasa, meski cerita itu pasti hanya akan dianggap sebagai satu khayalan, di mata orang lain. Setelah mendengar cerita panjang Darto Jaka pamit untuk pergi menuju kamarnya sembari berkata, "Aku akan berusaha, Kang. Sekarang aku sepenuhnya percaya dengan kenyataan dari penduduk sebelah, dan aku juga sangat percaya sama Kang Darto."
Darto langsung menorehkan senyuman di bibirnya, dia merasa ucapan Jaka benar-benar melegakan, meskipun sebenarnya Darto juga ketakutan. Darto berfikir jika Jaka merupakan sebuah Bom waktu, dia merasa jika Jaka bisa menjadi teman yang berharga, maupun lawan yang akan menyusahkan.
Tapi setelah Darto mendengar jika Jaka percaya padanya, kekhawatirannya seketika sirna dalam sekejap mata. Darto mulai memiliki rasa percaya pada pemuda itu, hingga dia tanpa sadar mengucap janji. Janji untuk diri sendiri, bahwa dia akan membantu Jaka dengan semua yang dirinya miliki.
__ADS_1
Bersambung ....