ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
CINCIN


__ADS_3

"Si... siapa Bapak?" tanyaku terbata kepada seseorang yang tengah duduk di atas kursi tinggi di depan ku.


"Bapak.? HAHAHAHA!" gelak tawa pria itu menggema memenuhi seluruh ruangan.


"Dari mana kau dapat kalung itu, Nak?" jari telunjuknya mengarah kepada kalung yang terus menyala di leherku.


Belum sempat ku jawab, batu di kalungku tiba-tiba mengeluarkan asap tipis, sedikit panas di kulit, dan dari kepulan itu keluar Kakek yang pernah kulihat di dalam mimpi itu.


"Tuk.. tuk.. tuk.." suara tongkat yang Kakek pegang menggema di tiap sudut ruangan. Tidak seperti semua orang yang ku lihat sebelumnya. Kakek itu hanya berjalan santai di depan pria bermahkota emas itu. Kakek tidak menunduk maupun bersujud layaknya yang lain.


"Sudah lama sekali, Ki" ucap lelaki gagah itu dengan nada sendu. Sembari turun dari singgasana secara tergesa menuju arah Kakek kemudian meraih tangan Kakek dan mencium punggung tangan miliknya.


"Apa semuanya baik-baik saja, Le?" jawab Kakek itu kemudian meletakan telapak tangan di atas kepala pria itu dan mengelus pelan rambut belakangnya.


"Semuanya masih sama Ki, kalau boleh tau itu siapa Ki?" tanya pria itu kembali sembari menuntun Kakek menuku kursi panjang yang terbuat dari kayu di samping ruangan.


"Kamu tidak tau? Coba kamu perhatikan lagi Le," jawab Kakek membuat laki-laki itu memandang wajahku dengan seksama.


"Apa mungkin Ki?" tanya lelaki itu hanya di jawab anggukan kepala kakek dengan senyum di bibirnya.


Mereka melanjutkan perbincangan yang tidak aku pahami sama sekali, dengan apa yang tengah mereka bahas. Namun yang pasti ada wajah bahagia dari mereka berdua, seperti tengah menyaksikan orang tua dan anak yang kembali bertemu setelah sekian lama terpisah.


"Sini Nak, maaf sudah tidak sopan," lelaki itu melambai kepadaku, dan langsung aku hampiri dan bergabung duduk di kursi panjang itu.


"Sebenarnya ini dimana Kek?" aku membuka suara setelah rasa tegang pergi.


"Kita aman disini Dar, biar Aki-aki itu istirahat sebentar di sana," jawab Kakek itu malah semakin membuatku berfikir keras.


"Sudah Dar, jangan di pikir. Kenalin ini penguasa hutan sini Dar, Namanya Adipati Wajana, dia murid Moyangmu Dar," ucap Kakek mengenalkan lelaki di sampingnya itu.


"Lantas saya harus panggil dia Siapa Kek? Gusti? atau Bapak?" mendengar pertanyaan polos dariku mereka berdua terbahak.

__ADS_1


"Panggil saja Simbah, biarpun begini, aku bahkan sudah berusia ratusan tahun nak,"


ucapnya sembari tersenyum simpul.


"Apa kamu lapar Nak? Dan siapa Namamu Nak?" Tanya Simbah Wajana sembari mengusap pelan kepalaku.


"Saya Darto Mbah, Maaf, saya puasa," Jawabku singkat. Menginat aku sudah berniat akan berpuasa selama 7 tahun seperti anjuran Kakung. Meskipun aku belum sahur, karena tersadar sudah siang.


"Yasudah kalau begitu Simbah juga makan nanti saja, bareng sama kamu," ucapnya kembali.


"Um.. boleh saya meminjam ruangan untuk shalat Mbah?" tanyaku sedikit takut, menerka apakah Simbah Wajana itu muslim atau bukan, takutnya jika dia kafir, dia pasti akan marah.


"Kamu mau sembahyang disini?" tanyanya heran.


",Njih Mbah"


"Ada syaratnya Dar," ucap simbah Wajana membuatku sedikit bingung.


"Syarate nopo Mbah?" (Syaratnya apa Mbah)


"Lantunkan suratnya keras-keras," ucapnya kembali tersenyum.


"Njih Mbah" jawabku kemudian di lanjut bergegas menemui seseorang yang tengah berdiri di dekat pintu. Menanyakan tempat berwudhu, dan kemudian di hantarlah diriku ke pancuran air yang jernih di belakang bangunan.


Setelah berwudhu, aku diarahkan menuju saung yang sangat besar. Ukuranya sama luasnya dengan langgar di kampung. Setelah sampai di sana, seperti pinta Simbah Wajana, aku melantunkan surat Alfatihah disambung surat pendek dengan nada yang keras. Setelah selesai rakaat terakhir ku tunaikan. Betapa terkejutnya mataku ketika menoleh ke belakang. Simbah Wajana, Kakek yang singgah di batu hijau, dan puluhan orang berbaris rapi membentuk shaf di belakangku. Ternyata sedari tadi aku menjadi Imam, pantas Simbah meminta aku membaca surah keras-keras.


Setelah usai shalat kita jalankan, Aku kembali diajak berkeliling tempat ini, banyak sekali hal aneh yang ku lihat. Dari angsa berwarna biru, hingga kuda bertanduk layaknya kerbau. Melihat itu sungguh membuatku terus terkagum, hingga tidak terasa matahari sudah merendah hingga suasana mulai menggelap di buatnya.


Karena di sini tidak ada kumandang adzan, aku berinisiatif untuk melantunkannya di saung tadi. Setelah usai kumandang adzan dilantunkan, tampak puluhan orang berbondong menghampiri dan ikut menunaikan shalat maghrib bersama.


"Nak mari kita Makan," Ucap Simbah Wajana aku sanggupi dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Setelah itu aku diajak berjalan memasuki aula yang sangat panjang, di dalam sana sudah tersaji berbagai jenis makanan, dari ayam, sapi, kambing, dan buah-buahan yang sangat aneh. Tampak juga beberapa perempuan-perempuan muda yang sangat cekatan, membawa makanan di atas kepala mereka dari dalam dapur.


"Silahkan Nak, Habiskan jika memang mampu," ucap Wajana sedikit tertawa.


"Mana mungkin Mbah, ini sudah kaya mau selamatan Desa, banyak sekali makanannya," jawabku polos di sambut tawa kecil mereka berdua.


"Yasudah, Dar, sehabis makan kita pulang. Aki-Aki putih itu pasti sudah khawatir," ucap Kakek.


"Njih Kek," jawabku singkat kemudian menggilas semua daging yang sudah aku taruh di atas piring, yang terbuat dari anyaman bambu beralas daun pisang.


"Makasih banyak Le, udah nampung kita disini, bahkan ngasih makan enak dan..," Ucap kakek kepada Simbah Wajana.


"Ini rumah panjenengan juga, Ki, jangan sungkan," (Panjenengan\= Kamu) jawabnya cepat memotong ucapan terimakasih dari Kakek.


"Nak, dari penjelasan yang Ki Sastro jabarkan. Sepertinya yang mengusik kamu bukan mahluk sepele, Si Mbah tidak bisa bantu banyak, cuma Simbah harap kamu bisa terima ini," Ucap Simbah Wajana sembari menyodorkan sebuah cincin perak dengan batu merah di atasnya.


"Ki Sastro siapa ya Mbah?" tanyaku penasaran.


"Owalah, kamu enggak dikasih tau? hahaha dari dulu Ki Sastro memang begitu, dia orang di sampingmu Le, yang tinggal di kalung milikmu. sudah cepat ambil ini, nanti orang yang nunggu kamu khawatir di luar," jawab Simbah Wajana tertawa dan memaksa diriku untuk cepat meraih cincin di tangannya.


"Terimakasih Mbah, Darto minta maaf enggak bisa ngasih apa-apa ke Simbah" Jawabku sembari meraih cincin yang dia sodorkan itu.


"Kamu sudah jadi imam disini udah lebih dari cukup Nak, sudah lama sekali tidak ada manusia yang bisa sampai sini. Mendengar kamu melantunkan ayat suci, sudah seperti berkah bagi kami," Jawabnya kemudian mengusap pelan kepala bagian belakangku.


"Ya sudah Mbah, Darto sama Kakek Sastro pamit," ucapku kemudian beranjak meninggalkan ruangan itu.


"Pegang tanganku Le!" ucap kakek Sastro.


Setelah ku pegang tangan keriput miliknya. Cahaya putih menyilaukan itu datang tepat di depan mataku. Reflek tanganku menutup mata, dan setelah cukup lama, aku kembali membuka mata secara perlahan. Meski sayup, dapat kulihat puluhan genting berbaris rapi di atas kepalaku.


"Kakung?" ucapku memanggil lelaki tua yang tengah berdzikir di sampingku.

__ADS_1


"Alhamdulillah akhirnya kamu bangun juga Dar,"


Bersambung,-


__ADS_2