
Setelah menapakkan kaki pada tanah becek yang bersimbah darah, Darto, Jaka, Komang, Sastro dan Wajana langsung melesat menuju tempat terakhir yang mereka kunjungi dalam kehidupan sebelumnya.
Mereka melesat sembari menjauhi sungai, hanya untuk berjaga dari musuh yang mungkin tengah bersemayam di dalam aliran sungai darah yang mengalir disepanjang goa hingga tempat tujuan mereka.
Mereka melaju bagaikan detik jam itu sendiri, hanya beristirahat ketika Darto dan Jaka menghirup nafas, kemudian kembali berlari sekencang yang mereka bisa.
Setelah cukup lama berlari lima pria itu akhirnya sampai pada bangunan tinggi berbentuk segitiga yang merupakan asal dimana sungai Darah berawal.
Mereka sedikit menaiki bangunan tersebut, untuk melihat keadaan kampung tengkorak yang sudah mereka datangi sebelumnya.
Dari kejauhan tampak sekali jika tempat nan masih cukup jauh dari tempat mereka berdiri masih sangat sepi. Tidak satu pun mahluk yang terlihat, tampak benar-benar tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
"Bagaimana ini, Dar? Sepertinya di tempat ini sama saja," tanya Komang.
"Kita langsung ke bangunan besar itu saja, untuk jaga-jaga kita jalan pelan setelah sampai di kampung tulang itu," jawab Darto.
Mendengar ucapan Darto, semua lelaki itu langsung kembali berlari, dan berhenti sejenak setelah sampai tepat di depan gardu yang terbuat dari kerangka.
"Sastro ... Wajana ... kalian jangan terlalu jauh, tidak ada yang tahu mahluk apa yang akan kita temui setelah masuk ke kampung ini," ucap Darto dengan wajah begitu serius.
Sastro dan Wajana langsung mendekat pada Komang yang tengah ditunggangi oleh Jaka dan Darto. Mereka jalan saling berhimpitan, dengan pandangan yang terus menyapu ke segala penjuru arah.
Sudah cukup jauh mereka masuk ke dalam kampung kerangka, namun semuanya tampak sama, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali di tempat tersebut.
"Ayo kita percepat langkah kita, aku benar-benar yakin sekarang jika tempat ini aman," ucap Darto memecah ketegangan.
Mendengar permintaan Darto, semua lelaki itu langsung kembali berjalan dengan kecepatan tinggi, mereka melesat melewati kampung, menuju bangunan yang paling besar yang terbuat dari tumpukan kerangka.
Setelah sampai pada gerbang yang terbuat dari tulang rusuk berukuran raksasa, mereka kembali berjalan pelan dan merasa ragu untuk membuka pintu yang berdiri kokoh di depan lima pasang mata para lelaki itu.
Ditengah perasaan bimbang, Darto turun dari pundak Komang sembari berkata "jangan takut, meski tempat ini kosong, setidaknya kita mendapat satu langkah yang menguntungkan kita."
Semua orang kebingungan dengan perkataan Darto, namun tidak untuk Komang, dia satu-satunya yang paham betul dengan maksud Darto setelah mengingat perjalanan yang sudah dirinya lewati bersama.
__ADS_1
Setelah mengucap kata tersebut, Darto langsung mendorong pintu yang terbuat dari tulang belulang dibantu oleh keempat temannya.
Suara pintu yang berderit benar-benar terdengar familiar, karena mereka merasa baru mendengar suara derit itu delapan hari yang lalu.
Ketika pintu terbuka secara sempurna semua mata kembali dihadapkan dengan kegelapan yang serasa tidak memiliki ujung.
Mereka sempat ragu untuk melangkah, namun mereka harus terus maju agar bisa menemukan jawaban yang selalu mereka cari.
"Sebentar ..." Ucap Darto sembari mengacak kantong sarung yang dia bawa.
Darto tampak mengeluarkan lampu senter yang dirinya bawa dari kampung kemoceng, dan langsung menyalakan benda di tangannya itu.
"Hah ... memang benar perkiraanku, benda ini tidak akan mampu menembus cahaya hitam ini," ucap Darto sembari sedikit menghela nafas.
Tanpa menunggu lama Darto memasukkan kembali senter di tangannya, kemudian mereka saling bertatap dan melangkah maju secara terpaksa.
"Kita saling pegang tangan saja mulai dari sini, jika ada yang aneh, tarik sekencang mungkin tangan yang kalian pegang," usul Komang sembari menghentikan langkah semua orang.
Darto, Jaka, Sastro dan Wajana langsung mengangguk, mereka langsung meraih telapak tangan orang yang berdiri di sampingnya, kemudian melangkah dengan tangan berjabat secara serentak.
Selangkah, dua langkah bahkan sudah berjam-jam mereka berjalan dengan tangan bergandengan, namun kegelapan itu serasa tidak memili ujung. Mereka tidak bisa melihat cahaya yang semula tampak dari arah pintu mereka masuk, maupun cahaya yang mereka harapkan untuk segera dilihat dari arah depan mereka.
Tangan yang saling menggenggam sudah mulai berkeringat, hati mereka pun mulai merasa putus asa di tempat tersebut, mereka benar-benar merasa buntu, dan juga merasa sangat ingin kembali ke tempat dimana semula mereka masuk.
Dengan langkah yang sudah sangat lemas karena kelelahan, mereka terus melangkah tanpa istirahat di dalam kegelapan tersebut.
Mereka semua yakin, jika tempat itu memiliki ujung, entah itu masih jauh, atau mungkin sudah dekat.
"Kita istirahat dulu, tapi jangan lepas tangan kalian," ucap Darto.
Semua orang langsung menghentikan langkah. Mereka semua duduk untuk sekedar melemaskan otot kaki yang serasa sudah hampir putus karena terus melangkah.
Mereka benar-benar beristirahat sembari terus menggenggam telapak tangan orang di sampingnya. Mereka takut jika akan terpisah, di tempat yang bahkan untuk melihat tangan sendiripun tidak bisa.
__ADS_1
"Kang ... kita benar-benar dipermainkan," ucap Jaka sembari terkekeh.
"Kamu ketawa, Jak?" tanya Darto dengan senyum tidak percaya.
"Bagaimana tidak lucu, Kang? Kita hanya tidak bisa menggunakan mata kita, namun dia benar-benar bisa membuat kita semua kebingungan sampai berhari-hari," jawab Jaka kali ini dengan wajah serius, namun wajahnya sama sekali tidak bisa dilihat oleh orang disampingnya.
"Jaka! Kamu pintar sekali, Jak!" terik Darto.
"Kamu ngagetin aja, Dar!" Gerutu Sastro.
"Mau copot jantung saya, Dar!" ketus Wajana.
Mereka berdua kaget setengah mati ketika orang yang tangannya tengah mereka gandeng tiba-tiba berteriak di dalam kegelapan.
"Ha ha ha ha, kenapa aku sama sekali tidak berfikir jika ini hanya trik sederhana!" Teriak Darto lantang, dengan wajah gembira yang seharusnya terpampang jika mereka tidak sedang berada pada tempat gelap.
"Maksudnya, Kang?" tanya Jaka polos.
"Coba sekarang kita berdiri," pinta Darto.
Mendengar permintaan itu, mereka langsung berdiri hampir serentak kala itu. Semuanya menunggu ucapan yang akan Darto lontarkan dalam diam.
"Sudah berdiri semua?" tanya Darto kembali.
"Sudah," jawab serentak semua teman Darto.
"Sekarang tutup mata kalian, untuk orang yang paling ujung dan memiliki satu tangan menganggur, raba setiap tempat yang ada di samping kalian. Mulai sekarang kita akan berjalan ke arah kanan, jika kalian bisa menyentuh sesuatu, katakan langsung, dan jangan buka mata kalian," pinta Darto kembali.
"Aku paling ujung, Kang. Tangan kananku nganggur!" ucap Jaka.
"Sekarang kita tutup mata kita, untuk Jaka terus rentangkan tangan, laporkan apapun yang kamu sentuh," ucap Darto.
"Baik, Kang" jawab Jaka.
__ADS_1
Mereka kini berjalan sembari menutup mata tanpa bertanya. Semua orang benar-benar menurut dengan apa yang Darto minta, hingga tiba-tiba jaka berteriak dengan begitu lantang mengucap kata, "Kang! Aku menyentuh sesuatu!"
Bersambung ....