
Setelah Jaka setuju untuk belajar bersama Darto, mereka bergegas kembali menuju pesantren. Kakung dan Si Mbah Turahmin yang menunggu mereka langsung bertanya tentang kejadian yang baru saja terjadi. Setelah Darto menjelaskan semuanya, akhirnya dua Kakek Darto langsung setuju, jika Darto membawa Jaka untuk bertemu dengan seseorang yang mungkin tahu tentang energi miliknya. Begitu juga Abah Ramli, dia berkata jika akan menunggu kepulangan mereka di pesantren.
Setelah semua setuju, Darto dan Jaka langsung bergegas pergi setelah berpamitan kepada semua orang. Mereka kembali meninggalkan pesantren meskipun baru saja sampai siang tadi, namun bedanya kali ini Harti tidak diajak. Darto merasa jika Harti lebih aman jika di rumah, karena Darto tidak tahu seberapa lama dirinya akan pergi bersama Jaka.
Ketika mobil Darto hendak berangkat meninggalkan pesantren, tiba-tiba Anto berlari dengan tergesa dari dalam rumah Kakung. Dia berteriak dengan wajah pucat sembari berkata "Dar! Sri sakit perutnya!"
Darto yang masih bisa mendengar suara Anto, sontak mengangkat kaki miliknya dari pedal gas, kemudian mematikan mesin mobil setelahnya. Dia keluar dari kendaraan tersebut kemudian menghampiri Anto sembari bertanya, "Apa sudah waktunya, Tok?"
"Iya, Dar! Cepet, Dar! Dia sudah ngeden-ngeden di dalam!" Sambung Anto dengan wajah panik.
Mendengar itu, Si Mbah, Kakung, Abah Ramli dan juga Harti yang tengah berdiri di depan pintu rumah, langsung berlari menuju kamar yang Anto kenakan. Mereka melihat kondisi Sri di dalam kamar kemudian menyuruh Anto untuk segera memasukkan Sri ke dalam mobil, agar Kakung bisa membawanya ke rumah sakit yang cukup dekat dengan pesantren.
Setelah Sri masuk ke dalam mobil, Kakung mengambil alih kemudi dan menancap pedal gas sedalam mungkin, dia begitu handal dalam mengendarai benda pipih yang terbuat dari besi itu. Tidak peduli jalanan batu maupun lubang, semuanya dihajar rata, tanpa pikir panjang maupun perhitungan. Kakung benar-benar menjadi pembalap jalanan sore itu, dia begitu lihai memainkan benda berbentuk bulat di tangannya itu.
"Mbah! Cepetan sedikit, Mbah! Ini jarik Sri basah, Mbah!" Teriak Anto sembari memperhatikan jarik yang Sri kenakan sebagai celana. Dia terus merangkul Sri sembari mengusap pelan rambut Sri yang mulai basah karena keringat.
"Sabar, Tok. Rumah sakit sudah Dekat," ucap Darto yang duduk di kursi depan.
__ADS_1
Saat ini Sri terus merintih, dia terus memegang perutnya dengan nafas tidak beraturan. Anto yang melihat itu sungguh khawatir, wajahnya sama pucatnya dengan wajah Sri. Karena mereka berdua belum pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya.
Setelah cukup lama ngebut di jalan, akhirnya Kakung sampai di rumah sakit tepat waktu. Beberapa petugas langsung membawa Sri masuk ke dalam sebuah ruangan, dan membiarkan tiga lelaki yang mengantarnya untuk menunggu di depan ruangan tersebut.
Anto benar-benar gundah kali itu, dia terus mondar-mandir tidak jelas. Jika ibarat dia setrika, lantainya benar-benar sudah jadi sangat rapi, karena tidak terhitung sudah berapa kali Anto berjalan bolak balik tanpa henti.
"Tok, lebih baik kita berdoa... kamu juga harus tenang," ucap Kakung sembari menghentikan Anto, dia kemudian menyuruh Anto untuk duduk di kursi panjang di depan ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian, seorang suster keluar dari dalam ruangan dan berkata "ditunggu ya Pak, Istri Bapak sudah tenang, mungkin nanti malam dia melahirkan."
"Kamu nggak jadi pergi, Dar? Maaf ya, Dar. Gara-gara aku kamu jadi membatalkan urusan kamu," ucap Anto menunduk, dia merasa bersalah karena sudah membuat urusan Darto menjadi tertunda.
"Kamu Anto bukan, si? Kok aneh, ya? Biasanya temenku nggak punya malu," jawab Darto sembari mengerjap mata di depan wajah Anto. Dia mencoba menghibur Anto supaya rasa bersalah di dada Anto berangsur pergi.
Mendengar itu, Anto langsung tersenyum dengan bulir bening yang mengalir dari kantung matanya. Dia langsung merangkul leher Darto sembari berkata, "Yang nggak berubah dari kamu cuma satu, Dar. Nyebelinnya!"
Kakung langsung ikut terbahak setelah mendengar percakapan mereka berdua. Dia mengingat masa muda yang dirinya habiskan dengan Mbah Turahmin. Sejurus kemudian seorang suster kembali keluar dari dalam kamar milik Sri, dia berkata jika Sri harus didampingi hingga proses persalinan tiba. Mendengar itu, Anto langsung melangkah masuk untuk melihat istrinya. Di sana tampak Sri yang sudah mengenakan baju berbeda, dengan baju yang dikenakan ketika datang kemari.
__ADS_1
Karena Dokter berkata jika kelahirannya masih membutuhkan waktu, Kakung berpamitan untuk pulang ke pesantren, dia berkata akan membawa Simbah Turahmin dan yang lainnya agar bisa bergantian berjaga. Setelah Kakung pergi, Darto juga bergegas pergi meninggalkan rumah sakit dengan berjalan. Dia mencari makanan yang bisa dibeli di area rumah sakit, perutnya benar-benar kosong, mengingat sedari pagi dia baru makan satu kali, ketika tengah melakukan perjalanan pulang dari kampung ijuk.
Tidak lama kemudian Darto kembali dengan membawa bungkusan nasi rames di dalam kantong plastik. Dia memberikan satu bungkus kepada Anto dan membiarkan Sri kelaparan melihat betapa lahapnya Anto dan Darto yang sedang makan dengan begitu sigap di depannya.
Setelah makanan habis, Darto baru mengeluarkan satu bungkus makanan yang sudah ia siapkan untuk Sri. Dia sengaja menyembunyikannya setelah mendapat persetujuan dari suaminya. Sungguh dua bocah usil yang masih tidak berubah, meski mereka sudah tidak muda lagi. Saat itu Darto menyerahkan bungkus makanan itu sembari berkata, "Kamu harus kenyang, biar kuat dorong keponakanku dari dalam perut."
"Memang bener apa yang dikatakan Mas Anto. Kamu memang orangnya nyebelin," jawab Sri sembari mencoba duduk, dan meraih nasi yang Darto sodorkan.
"Oh.. Jadi gitu, ya? Kalian sering ghibah di belakangku? Besok aku bakalan ceritain semua sama Harti, terutama tentang tahi lalat Anto yang tumbuh di pantat," jawab Darto sungut-sungut.
Mendengar itu Sri spontan terbahak, sedangkan wajah Anto seketika memerah, dia terkesiap dengan ucapan memalukan yang keluar dari bibir Darto. Saat itu Anto langsung menyikapi ucapan Darto dengan wajah merah dan mata yang melotot memberikan ancaman pada Darto.
Melihat itu Darto malah justru terbahak. Dia merasa puas karena berhasil membuat Anto geram di dalam malunya. Bahkan Darto masih terus tertawa meski Anto sudah merangkul sembari mengancam akan menjejalkan bungkus beserta sisa makanan ke dalam mulutnya.
Sore itu, Darto dan Anto begitu bahagia, mereka terus mencoba memberi semangat kepada perempuan yang sedang terbaring di depan mereka. Meski sebenarnya mereka berdua juga sudah merasa tidak sabar, untuk segera menyaksikan kedatangan tuyul mini, yang keluar dari dalam perut kembung milik Sri.
Bersambung,-
__ADS_1