ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
AKHIR DARI LASTRI


__ADS_3

Masih di hari yang sama. cerita yang Si Mbah Turahmin utarakan membuat satu pukulan besar di dalam dada Darto. Ketika Darto meninggalkan kamar Kakeknya, semua teman Darto sedikit memasang wajah iba melihat kedua mata Darto memerah dan begitu lebam.


"Kamu kenapa Gus?" tanya Bidin pelan sembari mengusap pundak Darto yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Enggak apa-apa Din," jawab Darto sendu, dengan bibir mengambang, Darto mencoba menutupi rasa sedih yang dia rasa.


"Yasudah Gus, nanti kalau ada yang di butuhkan, aku pasti bantu kamu Gus," timpal Surip, dia paham dan sangat mengerti jika Darto belum siap menceritakan masalah yang Darto hadapi.


"Kalian memang hartaku," ucap Darto dengan senyum yang begitu tulus, meski bulir air kembali menetes dari kelopak matanya.


Melihat ekspresi di wajah darto, semua sahabatnya memilih bungkam setelahnya, memberikan waktu kepada Darto untuk menenangkan pikirannya.


"Dar!" teriak Mbah Turahmin kembali terdengar dari dalam kamar.


"Njih Mbah," jawab Darto sembari bergegas meninggalkan temannya, dan segera masuk kedalam kamar Mbah Turahmin kembali.


"Ada apa, Mbah?" tanya Darto setelah menutup pintu kamar Mbah Turahmin.


"Kamu balik lagi ke pesantren kan sehabis Anto nikah?" Tanya Mbah Turahmin singkat.


"Njih, Mbah, Darto masih ada setahun puasa sama belajar. Memang ada apa Mbah?''


"Begini, Dar, Mbah sudah rundingan sama Kakung, sepertinya Mbah bakalan ikut ke sana. Karena ada yang perlu Mbah ajarkan ke kamu, Dan untuk jaga-jaga sebelum kembali kita bertiga harus usir Lastri dulu. Kamu sudah siap kan, Dar?" Tanya Si Mbah di barengi anggukan Kepala Kakung yang sedari tadi duduk di samping Darto.


"Asal ada Si Mbah dan Kakung, jangankan Lastri, Darto pasti siap meski itu harus memusnahkan Nyai Gending sekalipun," tatapan Darto tajam menusuk mata Mbah turahmin. Tergambar jelas keteguhan hatinya sudah tidak goyah lagi.


"Baiklah kalau begitu, Dar. Nanti malah sehabis isya kamu ikut kami," Timpal Kakung yang sedari tadi diam.


"Njih Kung, Darto pamit dulu kalau begitu," ucap singkat Darto kemudian bergegas kembali menuju teman-temannya.

__ADS_1


Wajah sedih Darto berangsur hilang, kini dia sudah bisa bercanda kembali dengan teman-temannya. Dan tak terasa waktu terbuang begitu saja.


Kumandang Adzan Isya terdengar lantang dari ruang tamu rumah Darto, bergegas kelima remaja itu beriringan menuju langgar bersama. Tidak butuh waktu lama, mereka kini sudah selesai menunaikan ibadahnya.


Bidin, Surip dan Harti bergegas meninggalkan Langgar dan kembali menuju rumah Darto, sedangkan Darto meminta izin kepada Anto untuk pergi dan memesan agar pintu rumah Anto tidak di kunci, karena Darto masih akan menginap di rumahnya malam ini.


Setelah mendapat anggukan dari Anto, Darto beranjak duduk di halaman Langgar, menunggu kedua kakeknya yang tengah berdoa. Kepulan asap terus Darto hembuskan dari bibirnya malam ini, tidak terasa sudah habis dua batang rokok yang dia hisap sembari menunggu.


"Mari, Dar," ajak Mbah Turahmin sembari menutup pintu Langgar.


Mendengar ajakan Simbahnya, Darto bergegas bangun dari lamunan dan mengikuti langkah kaki yang Simbah dan Kakung pimpin.


"Kita mau kemana, Mbah? Kung?" jawab Darto penasaran. Karena jalan yang di tuju bukanlah menuju pemakaman, melainkan jalan menuju hutan di utara kampung.


"Sudah ikut saja, nanti kamu juga tau sendiri," jawab Simbah singkat.


"Kamu siap-siap, Dar. Aku sama Kakung bakal panggil Lastri kesini," Ucap Simbah kembali.


Setelah mengucap kata itu, Simbah dan Kakung beranjak duduk berhadapan dengan posisi sila. Mereka berdua memejamkan mata sembari terus berdoa, di tangan kakung menggantung tasbih yang terus ia gulirkan, sedangkan Mbah Turahmin hanya menadahkan kedua tangannya.


Melihat kedua kakeknya seperti itu, Darto seketika ikut duduk bersila menghadap ke arah mereka. Seperti halnya Kakung, Darto kini juga berdoa sembari memainkan Tasbih yang selalu dia bawa di saku bajunya.


Suasana seketika menjadi hening, hanya bisikan lirih dari bibir ketiga manusia yang tengah berdoa itu yang terdengar, saking heningnya bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar sama sekali.


"bug... bug... bug...," suara benda jatuh lirih terdengar dari kegelapan yang begitu pekat. Suaranya terus terulang, disertai angin dingin yang berangsur datang dan terus bertambah cepat.


Ketiga lelaki itu masih bungkam, posisinya tidak bergeming sama sekali, meskipun angin sudah berhembus sangat kencang. Dedaunan kering yang berserak di sekitar mereka mulai beterbangan, sedangkan suara benda jatuh yang semula terdengar lirih kini sudah sangat jelas tertangkap telinga.


Perlahan Mbah Turahmin membuka kedua matanya, dilanjut menepuk pundak Kakung dan Darto bergantian. Tampak sosok Lastri yang terus melompat menciptakan suara benda jatuh ketika menempel tanah. Kepalanya masih menggantung, bergelayut terbalik seperti hendak jatuh dari tempatnya.

__ADS_1


Darto sesekali mengerjap matanya, memastikan posisi Sosok itu yang terus berpindah di dalam kegelapan, hingga Kakung membakar sebatang kayu di sampingnya, barulah sosok itu terlihat jelas tengah berdiri mematung di depan ketiga lelaki itu.


"Bug.." suara benda jatuh terdengar kembali tepat di samping tubuh Darto. Lastri sudah pindah, di tempat semula Lastri berdiri kini hanya menyisakan genangan darah yang membasahi daun kering di bawahnya. Di manapun Lastri berdiri, disitu dia meninggalkan jejak genangan darah busuk di bawahnya.


Darto yang sudah siap, tidak terkejut sama sekali dengan Lastri yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Justru Darto malah tersenyum dan meraih tubuh basah milik lastri itu dengan kedua tangannya.


"Kali ini akan aku musnahkan Dirimu!" seringai Darto sembari terus memegang tubuh berlumur darah milik Lastri.


Lastri terus meronta, dengan tangan dan kaki terikat kafan, dia hanya bisa terus bergelayut berusaha lepas dari genggaman Darto. Namun usahanya sia-sia, ketika Simbah dan Kakung bergabung memegangi wujud Lastri.


Melihat kakeknya bergabung, Darto bergegas memejamkan matanya. Cincin di jarinya kembali menyala, disusul sebilah keris hitam yang datang entah dari mana.


Setelah keris itu Darto genggam, Darto melantunkan ayat suci dengan lantang, dan menusuk jantung Lastri sembari mengucap arti dari doa yang dia lantunkan.


"Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku'." (Q.S. Al-Mu'minun: 97-98)


"Aaaaaaaa!!!" pekik Lastri begitu lantang, menggema memecah kesunyian hutan yang terpampang.


Dari tempat Darto menusuk keris, perlahan kepulan asap berangsur datang, semakin menebal dan berangsur menjadi pekat. Dari kepulan itu tiba-tiba muncul percikan api, yang kemudian berkobar dan menjalar, membakar sekujur tubuh Lastri.


"Aaaaaaaa!!!" kembali pekik Lastri memecah keheningan tatkala tubuhnya yang terus menggeliat mulai habis terbakar.


"Alhamdulillah....," ucap Darto lega, setelah melihat tubuh Lastri sudah menjadi setumpuk debu di depannya. Bergegas dia duduk kembali, mengusap keringat di pelipisnya, dan kemudian pingsan di depan kedua Kakeknya.


Perjuangan bertahun-tahun yang Darto lakukan membuahkan hasil yang begitu memuaskan, sosok yang selalu menghantui dan meneror dirinya juga temannya sudah berhasil di kalahkan. Kisah Lastri kini sudah berakhir.



Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2