ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
WARISAN


__ADS_3

"Ciittt.!!!" suara roda mobil yang tergesek dengan bebatuan licin penuh lumut di bawahnya, suara decit roda mobil seketika menggema, memecah kesunyian hutan kala itu.


Kakung menginjak rem dalam-dalam setelah Surip yang duduk di kursi belakang melompat ke kursi depan melalui celah diantara kedua kursi. Kakung benar-benar terkejut karena ulah muridnya itu, dan spontan menghentikan laju mobilnya.


Melihat tingkah Surip, setelah berhasil menghentikan laju mobil, Kakung seketika memalingkan pandangannya ke arah jok belakang. Tampak Bidin yang sudah pingsan, tergeletak , terbujur dengan kepala di atas paha Lastri yang tengah di sampingnya. Sedang Darto kini tengah duduk bersila sembari berdoa memainkan tasbihnya di atas jok belakang mobilnya, duduk tepat di samping Lastri bahkan tubuh mereka saling berhimpitan.


Tak lama setelah itu, Surip yang kini sudah di samping kakung dan juga Harti menyusul Surip menuju ketidak sandarannya, tiga teman darto benar-benar pingsan di dalam mobil karena melihat sosok Lastri di dalam mobil itu, sosok yang duduk mematung dengan kain kafan basah berlumur darah di samping Darto.


Wajah Lastri benar-benar terbalik. Dahinya berada dibawah matanya, sedangkan mulutnya berada di bawah dagunya. Kepalanya menggantung hingga terbalik dan bergelayut lentur, ditambah darah segar terus mengucur dari leher yang tinggal separuh didalam kafan itu. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Darto, bahkan hampir bersentuhan.


Lastri seakan sengaja mendekatkan mulut terbaliknya itu terus mendekat ke arah wajah Darto. Melihat itu Kakung hanya bisa membantu dengan ikut bersila di atas jok depan sembari terus berdoa. Kini mulut Lastri yang sedari tersenyum mulai mengucap sesuatu di depan telinga Darto, suaranya pelan dan juga bergetar. Dia membisikkan sesuatu kepada pemuda itu.


"Kamu akan mati di sini, Darto!" bisik Lastri sangat pelan, bahkan Kakung tidak mendengarnya dari depan.


Mendengar ucapan Lastri, Darto tidak menggubris sama sekali. Raganya memang tengah berada di mobil itu, namun jiwanya sudah jauh masuk kedalam ruang gelap yang kini bisa dia masuki sesuka hatinya.


"Mbah, tolong bantu Darto," ucap Darto kepada Simbah Wajana si pemilik cincin merah yang baru dia temui didalam ruang gelap itu.


"Baik Le, sekarang kamu cepat kembali temanmu membutuhkan bantuan kamu," ucapnya kemudian beranjak pergi menjauh dadi Darto.


Kesadaran Darto berangsur kembali, ketika benar-benar tersadar, cincin di tangan Darto menyala hingga terlihat mobil di penuhi silau cahaya merah malam itu.


"Aku tidak takut lagi sama kamu, Lastri!" ucap Darto dengan tatapan tajam menatap Wajah busuk Lastri yang tengah bergelayut tepat di depan wajahnya.


"Aaaaaa!" teriak Lastri sangat kencang, dia mencoba menjauhkan tubuhnya. Ketika Darto mendekatkan tangannya ke tubuh Lastri.

__ADS_1


"Pergi!" sergah Darto, sembari mendorong keris berwarna hitam, hingga tertancap separuh kedalam perut sosok itu.


"Tunggu pembalasanku! akan aku ambil semua keluarga dan temanmu yang tersisa!" ucap Lastri dengan darah yang kini ikut mengucur dari mulutnya.


Serangan Darto berhasil melukai sosok itu, sehingga dia berteriak dan segera menghilang begitu saja seperti kepulan asap. Keris di tangan Darto juga hilang bersamaan dengan cahaya cincin di tangannya, kini yang tersisa hanyalah genangan darah berbau anyir dan busuk yang tertinggal di tempat Lastri duduk sebelumnya.


"Kamu dapat keris itu darimana, Dar?" tanya Kakung, singkat, sembari membantu Darto mengelap sisa darah yang di tinggalkan Lastri di Jok belakang.


"Dari si Mbah Wajana, Kung," jawab Darto singkat, kemudian melanjutkan menyeka tempat duduk dengan kain basah di tangannya.


"Alhamdulillah ya, Dar. Kamu punya banyak pribadi baik di sekitarmu," ucap Kakung dengan wajah lega.


"Iya Kung, Darto sangat bersyukur punya keluarga hebat yang bahkan meninggalkan warisan di alam sebelah," jawab Darto mendongak, wajahnya menatap langit gelap dari dalam jendela.


"Warisan apa Dar?" tanya Kakung sembari mengernyitkan dahi.


"Oh iya ya, Dar. Syukurlah kalau begitu," jawab Kakung kemudian melanjutkan membersihkan kursi itu, sesekali dia menyiram dek mobilnya dengan air yang dia punya di tempat minumnya.


Surip dan Bidin yang sudah sadar kini tengah kebingungan, mereka menyaksikan Darto dan Simbahnya tengah mengelap kursi yang tidak kotor sama sekali. Selain Darto, Kakung, dan Harti, tidak ada yang bisa melihat darah yang di tinggalkan sosok pocong merah tadi.


Setelah dirasa cukup bersih, Kakung masih membiarkan semua pintu mobilnya terbuka. Atas permintaan Kakung, mereka semua menunggu di luar mobil malam itu.


"Tadi apa itu, Gus?" ucap Surip, tangannya bergetar, wajahnya berangsur pucat, setelah mengingat kembali apa yang sudah dia lihat.


"Iya, Gus. kenapa dia ngejar kita terus," timpal Bidin dengan wajah yang sama pucatnya dengan wajah Surip.

__ADS_1


"Dia yang selalu ngikutin Aku. Maaf ya Sur.. Din, karena aku kalian jadi ikut-ikutan lihat hal itu," ucap Darto tertunduk, merasa bersalah atas kejadian yang menimpa temannya itu.


"Jadi kamu lihat itu setiap hari Gus?" tanya Bidin penasaran, dan rasa iba kini tampak di wajahnya, membayangkan perasaan Darto yang terus melihat hal mengerikan seperti itu.


"Enggak Din, Aku juga sudah lama enggak lihat dia, selama aku di pesantren dia enggak bisa masuk ke sana, dan sekarang kita dekat dengan wilayahnya, makanya dia seenaknya saja datang dan pergi. Tapi kalian tenang saja, dia pasti butuh waktu lama buat pulih," ucap Darto coba meyakinkan kedua temannya itu.


Sembari menunggu bau busuk terusir, keempat lelaki itu merokok bersama di samping mobilnya. Ditengah hutan belantara hanya dengan bantuan cahaya kuning dari senter milik Surip di tengahnya, mereka saling bertukar kata juga sesekali bercanda.


Ketika Harti tersadar, Kakung mengajak mereka semua masuk kembali kedalam mobilnya, dan perjalanan panjang pun kembali mereka lanjutkan.


Berbeda dengan tadi, suasana terpampang normal. Sepanjang perjalanan tidak ada lagi gangguan dari sosok-sosok pengganggu yang datang. Hingga tak terasa, cahaya lampu bohlam berwarna kuning yang berjajar mulai tampak dari kejauhan. Menandakan tempat tujuan mereka yaitu kota yang dekat dengan kampung Darto hampir di capai. Dan ketika sampai di sana, wajah lega kembali Kakung pampangkan. Karena melihat sudah ada warung kelontong yang tengah mempersiapkan barang dagangannya.


Rasa lapar dan kantuk benar-benar sudah menguasai, bergegaslah mobil itu di arahkan menuju warung tersebut.


"Permisi Bu, Kopi satu njih," Ucap kakung singkat sembari sembari mencomot pisang goreng panas di depannya.


"Njih pak, yang lain minum apa?" tanya ibu penjual sembari memperhatikan wajah keempat remaja di depannya.


Mendengar pertanyaan pemilik warung, keempat remaja itu meminta pesanan yang sama, yaitu teh manis gelas besar.


Setelah cukup lama singgah, betapa bahagianya Kakung saat itu. Pemilik warung bercerita bahwa setahun lalu sudah di bangun jalan yang cukup lebar dan bisa dilewati mobilnya, dan sekarang untuk menuju kampung kemoceng tidak harus berjalan lagi.


Setelah kenyang, dan rasa kantuknya hilang. Kakung memarkirkan mobilnya di depan sebuah mushola, mereka bergegas menunaikan shalat subuh berjamaah kemudian melanjutkan perjalanan kembali.


Kini tugu Dusun Kemoceng sudah tampak dari depan kaca depan mobil mereka, perjalanan panjang mereka akhirnya terbayar juga.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2