
Malam itu Darto dan Jaka beriringan menyibak gang kecil yang begitu sepi, mereka terus melangkah tanpa berpapasan dengan satu orang pun hingga mereka sampai di depan rumah yang mirip dengan ciri-ciri yang Pak Riski jabarkan.
"Jak ... aku punya rencana, nanti kamu jangan buka mulut di dalam sana, biar aku saja yang bicara sama dukun itu," usul Darto sembari menghentikan langkahnya. Saat ini dia dan Jaka sudah berada tepat di depan teras rumah Ki Jumar, yang memiliki dua patung macan di depan pintu rumahnya.
"Memang kenapa, Kang?" tanya Jaka heran. Dia merasa aneh dengan permintaan Darto.
"Pokoknya kamu diam saja di dalam. Nanti kalau aku suruh kamu keluarin energi, keluarkan saja sebanyak yang kamu bisa. Pokoknya ingat ... sebanyak yang bisa kamu bisa, ya?" sambung Darto.
Mendengar itu, Jaka langsung mencoba mengeluarkan sedikit energi di tangannya. Dia mencoba mengingat setiap proses yang sudah diajarkan oleh Darto di hari lalu sepulang dari rumah sakit. Dulu hanya dengan sekali contoh dari Darto, Jaka langsung bisa mengontrol energi merah dari dalam tubuhnya dengan sesuka hati.
"Jangan keluarkan sekarang ... nanti saja di dalam, setelah aku kasih aba-aba," pinta Darto sembari menepis tangan Jaka secara pelan. Dia mencoba menghentikan energi jaka, karena Darto takut jika Ki Jumar bisa merasakan dari dalam rumahnya.
Mendengar permintaan Darto, Jaka langsung menghilangkan energi di tangannya kemudian mengangguk pelan kepada Darto, setelah itu mereka melanjutkan langkah kakinya menuju pintu rumah Ki Jumar, setelah melewati dua patung macan di depannya.
"Assalamualaikum?!" teriak Darto sembari mengetuk pintu kayu penuh ukiran di rumah Ki Jumar.
"Kang ... suasananya serem sekali," ucap Jaka sembari menyapu pandangannya, dia menelisik seluruh bagian rumah Ki Jumar sembari bergidik ngeri.
"Sssttt jangan bicara kamu!" bisik Darto dengan nada ketus. Darto menuding jari telunjuknya tepat di depan bibirnya.
__ADS_1
Mendengar itu, Jaka kembali merapatkan bibir sembari terus menyisir setiap benda maupun patung yang berada di sekitarnya. Sedari Jaka dan Darto melewati patung macan, mereka merasakan hawa udara benar-benar berubah drastis, dari yang semula hangat, tiba-tiba menjadi begitu dingin saat kaki mereka sampai di depan pintu rumah Ki Jumar.
"Assalamualaikum! Ki Jumar?!" teriak Darto untuk kedua kalinya. Kali ini, dia berteriak dan mengetuk pintu lebih keras.
"Wa'alaykumussalam ... ada perlu apa, Nak?" Jawab seorang berjanggut panjang sembari membuka lebar pintu rumahnya.
"Benar ini rumah Ki Jumar?" sahut Darto sembari menatap wajah Ki Jumar dengan seksama. Dari awal Darto melihat wajah lelaki itu, Darto langsung tahu jika orang tua di depannya memiliki energi yang sama dengan milik Jaka.
"Iya ... kalau mau bertamu besok saja, ya? Sudah jam sebelas malam ini," ucap Ki Jumar kemudian bergegas masuk dan menutup pintu rumahnya kembali.
"Tunggu?!" sergah Darto sembari menahan gagang pintu, dia mencoba menghentikan pintu yang tengah Ki Jumar dorong, sebelum pintu tersebut tertutup sempurna.
Meski Darto mendapat semburan dari lawan bicaranya, dia tetap tersenyum simpul setelah Ki Jumar menyuruh mereka masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Darto langsung menarik Jaka yang masih dalam mode hening, dan segera masuk ke dalam rumah tersebut.
Setelah melangkah masuk, udara di dalam rumah Ki Jumar melonjak semakin dingin. Kedinginan yang tak wajar, yang mampu membuat setiap bulu kuduk milik Darto dan Jaka seketika berdiri. Jaka bahkan sampai menggigil ngeri sembari terus mengusap tengkuk lehernya, dia merasa banyak sekali pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya, dari segala sudut ruang tamu rumah Ki Jumar.
"Nak ... kamu mau apa? Saya tahu kamu bukan orang biasa, anak-anak saya ketakutan lihat kamu. Padahal tadi kamu masih di depan halaman sana," tanya Ki Jumar masih dengan wajah masam, ternyata dia tidak suka dengan kedatangan Darto dan Jaka bukan karena waktu, melainkan semua peliharaannya begitu ketakutan setelah tadi Jaka mencoba mengeluarkan energi merah pada lengannya.
Darto sedikit merasa lega karena Ki Jumar mengira semua peliharaannya takut pada dirinya, dan bukan takut kepada Jaka di sampingnya. Darto yang merasa rencananya akan berjalan sesuai dengan keinginannya, sedikit tersenyum kemudian mulai melakukan muslihat pada orang tua di depannya itu.
__ADS_1
Sesaat Darto diam tanpa kata, dan tidak lama setelahnya, wajah sopan milik Darto berganti menjadi ekspresi bengis. Saat itu Darto berencana untuk membuat Ki Jumar emosi dengan mengucap, "Aku datang ke sini dengan cara sopan. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, akan mendapat sambutan yang begitu buruk dari hamba rendahan semacam kamu."
Ki jumar benar-benar naik pitam. Wajahnya langsung memerah, urat di pelipisnya langsung menonjol dan matanya terbelalak--mendelik ke arah Darto. Dia meraih kerah baju Darto sembari berkata, "Mau mati kamu?!"
Mendengar kalimat itu, Darto menepis cengkeraman Ki Jumar dengan tangan yang sudah dialiri energi. Ki Jumar terpental ... bukan hanya tangannya, melainkan seluruh tubuhnya langsung terpelanting mundur hanya dengan kibasan tangan Darto.
Jaka yang melihat itu sedikit merasa kasihan dengan Ki Jumar, dia berniat membantu Ki Jumar berdiri, namun belum sampai Jaka berdiri dari posisi duduknya, Darto sudah menghentikan niatnya dengan memegang pundak Jaka.
Saat memegang pundak Jaka, Darto berbisik pada Jaka untuk segera mengeluarkan energi sebanyak mungkin. Setelah itu, Darto kembali berbicara dengan Ki Jumar sembari menunjuk Jaka, "Kamu tidak bisa mengenali anak ini?"
Ki Jumar benar-benar murka, dia bangun dari posisi terjungkal dan siap menerkam Darto saat itu juga, namun ketika telunjuk Darto mengarah pada Jaka, matanya seketika membulat setelah melihat Jaka mulai memendarkan cahaya merah yang begitu panas dari dalam tubuhnya.
"Sugeng Rawuh Paduka," (selamat datang paduka) ucap Ki Jumar dengan mempertemukan kedua telapak tangannya, dan menaruh kedua telapak itu di depan wajahnya. Dia duduk jongkok bertopang satu lutut di atas tanah, sembari menunduk menghormat pada Jaka di depannya.
Jaka benar-benar terkesiap melihat tingkah Ki Jumar yang berubah drastis setelah melihat energi miliknya. Dalam rasa bingung, Jaka hanya bisa menatap heran pada Darto, dengan pandangan tajam menuntut penjelasan dari orang di depannya.
Sedangkan Darto seketika langsung tersenyum, dia merasa puas setelah melihat Ki Jumar yang tunduk dengan Jaka. Dia merasa usahanya tidak sia-sia, dan juga dia merasa lega karena tidak harus ada pertumpahan darah antar sesama manusia. Malam itu, Darto bisa meraih kesimpulan tentang energi Jaka. Meskipun belum seutuhnya, setidaknya Darto sudah tau garis besarnya.
Setelah cukup lama Ki Jumar terdiam dalam posisi hormat, Darto kembali menyuruh Jaka untuk menghilangkan energi di badannya. Darto sungguh merasa muak dengan semua mahluk peliharaan Ki Jumar yang sedang bersujud tepat di belakang tubuhnya, mereka bersujud menghadap ke arah yang sama, yaitu arah dimana Jaka tengah duduk, dan mencoba memudarkan energi merah yang tengah menyala-nyala.
__ADS_1
Bersambung ....