
Malam itu Darto ditarik oleh bapak Anto menuju ke dalam rumah. Setelah cukup lama berdiskusi akhirnya kedua orang tua Anto setuju jika Anto dan Sri dibawa pergi hingga proses persalinan cucu mereka selesai, dengan syarat Darto harus mengantar mereka kembali setelah urusan persalinan selesai dan Sri sudah sehat kembali.
Darto sangat lega dengan keputusan mereka. Dia merasa setidaknya jika di sana masih banyak orang yang bisa melindungi kedua temannya. Ditambah lagi Darto juga ingin melakukan akad nikah di depan Anto beserta Istrinya.
Pagi ini Darto dan Anto terlihat sibuk memindah barang bawaan mereka dari rumah menuju mobil, Mereka bahkan sampai tiga kali bolak-balik dari rumah karena barang bawaan Sri begitu banyak. Setelah semua barang berhasil mereka berdua pindahkan, barulah Anto berpamitan kepada kedua orang tuanya. Darto sempat meminta doa restu dari orang tua Anto sebelum pergi, mereka dengan tulus mendoakan pernikahan Darto yang akan segera dilakukan, serta memohon maaf karena tidak bisa hadir maupun memberi sebuah bingkisan.
Setelah semua urusan di rumah Anto selesai, Anto dan Darto langsung pergi untuk berpamitan kepada orang tua Sri terlebih dahulu, hingga akhirnya mereka bertiga melaju meninggalkan kampung kemoceng menggunakan mobil milik Kakung yang sudah mangkrak berbulan-bulan di depan langgar. Sempat Darto berhenti di kota tempat dirinya berhenti dulu bersama Simbah. Meskipun sama saja hanya mendapat beberapa liter bensin eceran, dia merasa lega karena bensin di dalam dua jerigen cadangan yang ia bawa masih penuh. Jadi untuk perjalanan kali ini tidak akan ada lagi alasan kehabisan bensin di tengah hutan.
Setelah mengisi bensin langsung ke dalam tangki, Darto kembali melesat memacu mobil itu meninggalkan perkotaan. Satu jam, dua jam, lima jam berlalu begitu saja tanpa masalah. Seperti biasa Darto selalu berhenti ketika jarum di jam tangannya sudah menunjukkan waktu shalat, hanya saja kali ini sesuatu tampak berbeda bagi Anto dan Istrinya.
"Kamu sudah nggak puasa, Dar?" Tanya Anto yang menyimpan pertanyaan itu sedari tadi di perjalanan.
"Alhamdulillah sudah selesai, Tok. Kemarin hari terakhir saya puasa," Sambung Darto tanpa menoleh ke arah Anto. Dia masih fokus menyetir sembari memegang rokok di tangan kanannya.
"Memang kamu puasa berapa lama, Dar?" timpal Sri yang tampak bosan katena sedari tadi diam sepanjang perjalanan.
"Tujuh tahun, Sri," ucap Darto sembari terus menatap jalanan berbatu di depannya.
__ADS_1
Anto dan Sri cukup terkejut mendengar apa yang sudah Darto utarakan. Mereka bahkan tidak bisa membuka lagi percakapan, hingga akhirnya perjalanan kembali tertekan sunyi.
Langit sudah mulai menghitam, waktu sudah sepenuhnya malam. Hutan lebat yang membentang sepanjang perjalanan sudah berhasil dilewati, dan kini Darto beserta dua temannya tengah duduk di warung kelontong milik Pak Riski, sekedar untuk meluruskan punggung serta mengisi perut mereka yang sudah kosong sedari siang. Mereka memutuskan untuk beristirahat hingga bakda isya, hingga akhirnya mereka melesat kembali, dan sampai di pesantren tepat pukul 11 malam.
"Assalamu'alaikum!" ucap Darto sedikit berteriak sembari membuka pintu rumah Kakung, dan tidak mendapat jawaban dari siapapun.
Melihat itu Darto langsung mempersilahkan Anto dan Sri untuk masuk. Dia tidak menunggu Si Mbah maupun Kakung untuk menyambutnya terlebih dahulu, karena Darto tahu jika sudah lewat jam 10 malam, kedua Kakeknya pasti sudah tidur dengan pulas di kamar mereka.
Anto dan Sri langsung Darto arahkan menuju kamar yang semula tidak pernah dipakai. Di rumah kakung ada lima kamar, namun yang terpakai hanyalah satu kamar saja sebelum Darto tinggal di situ. Kini rumah Kakung benar-benar terasa lebih ramai setelah kedatangan Si Mbah dan kedua temannya, hingga hanya menyisakan satu kamar saja yang belum berisi.
Setelah usai menunaikan shalat subuh, Darto dan kedua temannya langsung mendapat sambutan hangat dari Kakung dan Si Mbah Turahmin, Bidin, Surip serta Harti. Saat ini mereka semua tengah duduk di dalam ruang tamu milik Kakung, ditemani secangkir kopi untuk semua lelaki, juga dua cangkir teh untuk Sri dan Harti. Suasana terpampang ramai, hingga akhirnya sebuah pertanyaan dari Kakung membuat semua orang di dalam ruang tersebut bungkam. Mereka memasang telinga dengan seksama, agar bisa mendengarkan cerita yang akan mereka dengarkan.
"Bagaimana, Dar? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa kamu bisa sampai di tempat Kanti? Lalu Gending bagaimana?" ucap Kakung memuntahkan segala rasa penasaran tang sudah dia pendam berbulan-bulan lamanya.
Mendengar itu, Darto langsung menceritakan semua proses pertarungan yang ia lakukan. Darto bahkan menjelaskan secara rinci, tanpa terlewat sedikitpun. Kakung tampak geram ketika Darto menceritakan tentang Sastro dan Wajana yang bersujud di depan Gending, Si Mbah Turahmin bahkan menghela nafas panjang ketika mendengar hal itu sembari berkata, "Sudah saya bilang kan, Dar? Kita tidak boleh percaya dengan mahluk begituan!"
Darto hanya menjawab pernyataan Si Mbah dengan sebuah anggukan, kemudian kembali bercerita tentang waktu empat bulan yang ia habiskan bersama Kanti juga Abirama di dalam hutan mati. Semua orang mendengarkan dengan wajah heran yang terpampang, dan wajah mereka berubah menjadi wajah gelisah kembali setelah Darto mengucap "Saya hanya punya waktu 10 hari. Itu waktu yang Sastro dan Wajana jelaskan. Mereka berkata jika hari itu Gending dan ular yang merasuki tubuhnya akan terpisah, aku harus sampai di kaki gunung kecubung pada hari itu."
__ADS_1
Mendengar itu semua langsung bungkam, mereka khawatir jika akan terjadi hal yang tidak diinginkan lagi kepada Darto. Namun mereka sama sekali tidak bisa menghentikan takdir yang harus Darto emban di dalam hidupnya.
"Mbah, Kung, kalian tidak usah khawatir. Jika gending tidak lebih kuat dari kemarin, aku pasti bisa mengurus semuanya," ucap Darto menatap kedua kakeknya secara bergantian dengan tatapan yakin yang terpancar dari matanya.
"Kamu tau nggak jalan ke kaki gunung kecubung?" tanya Kakung singkat.
"Tidak, Kung," jawab Darto sedikit tersenyum. Dia sedikit merasa malu karena berusaha meyakinkan kedua kakeknya, tapi sebenarnya dia tidak tahu harus pergi ke arah mana.
"Biar Si Mbah yang antar kamu, Si Mbah juga mau bantu. Lagian tempatnya tidak terlalu jauh dari sini, paling satu hari sampai, Dar," timpal Mah Turahmin, seketika mendapat anggukan kepala Darto dan Kakung.
"Dek, Sebenarnya saya ingin menikah dengan kamu secepatnya, tapi sekali lagi saya minta maaf ya, Dek. Tunggu saya sebentar lagi," ucap Darto sendu kepada Harti. Dia merasa bersalah karena harus terus memberi harapan kepada perempuan di depannya.
"Tidak apa-apa, Mas. Harti akan tunggu Mas sampai kapanpun," Jawab Harti dengan pipi merona. Ucapan daei gadis lugu itu seketika mencairkan suasana tegang di ruang tersebut menjadi lebih hangat dibanding semula.
Bersambung,-
HARI SENIN NIH! JANGAN LUPA VOTE NYA 😁
__ADS_1