
"Sastro! Wajana!" teriak Darto dengan wajah geram. Dia memanggil dua mahluk yang terkurung, di dalam benda yang sempat hilang dari tangannya itu.
Melihat Darto yang berteriak, semua orang selain Mbah Turahmin langsung tertegun melihat aksi Darto. Mereka kebingungan karena Darto tampak begitu murka. Terutama Ki Karta, dia benar-benar merasa sedikit bersalah karena sudah menunjukkan dua benda yang dititipkan padanya.
"Sebenarnya ada apa, Dar?" tanya Ki Karta masih dengan wajah kebingungan.
Darto hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Ki Karta. Matanya masih fokus terus menatap kalung dan cincin di depannya, dengan tangan yang terus mengepal menunggu kedatangan dua mahluk sangat dia benci saat ini.
Melihat Darto tidak menjawab, Asep, Gayatri serta Ujang begitu bingung hingga bungkam dibuatnya. Sedangkan Si Mbah saat ini tengah berusaha menahan Ki Karta, agar tidak bertanya dulu pada cucunya. Si Mbah memegang pundak Ki Karta, dilanjut menggelengkan kepala ketika Ki Karta menatapnya.
Ki Karta langsung paham akan maksud dari isyarat yang Mbah Turahmin berikan, dia langsung diam dan menunggu dengan sabar untuk sesuatu yang akan Darto lakukan selanjutnya.
Setelah itu semua orang selain Si Mbah tampak terkejut melihat kalung dan cincin di hadapan mereka mulai bersinar. Bahkan Asep, Ujang serta Gayatri langsung beranjak mundur dari duduknya karena takut. Tapi lain dengan Ki Karta, dari semula dia sudah tau, jika dua benda itu memiliki penghuni di dalamnya, jadi Ki Karta tampak tenang menunggu penghuni benda itu keluar, dan menemui pemanggilnya.
"Buk! Buk!" Suara benturan tiba-tiba menggema di dalam ruang tersebut.
Asep, Ujang serta Gayatri kebingungan dengan asal suara, mereka terus menyapu pandangan mereka ke segala arah penjuru namun tidak bisa menemukan apapun di dalam ruangan tersebut. Sedangkan Ki Karta seketika matanya membulat, dia tidak bisa percaya akan apa yang dia lihat di depannya.
Saat itu ketika Sastro dan Wajana muncul, Darto langsung menjentikkan energi dari jari tengah kedua tangannya, dalam sekejap energi itu langsung melesat, mendarat tepat mengenai dada dua penghuni perhiasan yang saat ini tengah terluka.
__ADS_1
Ki Karta langsung maju untuk membantu Sastro yang meringkuk menahan rasa sakit sembari memegang dada. Saat ini Sastro dan Wajana menggeliat kesakitan, bahkan darah segar sampai mengalir dari sudut bibir mereka berdua, akibat dampak dari serangan simpel yang Darto lakukan. Mereka tidak melawan maupun mencoba membalas apa yang Darto lakukan, bahkan mereka malah bersujud di depan Darto setelah rasa sakit mereka mulai mereda.
"Kalian akan mati di sini! Aku kirim kalian bersama Gending untuk menemui sang pencipta!" Ketus Darto sungut-sungut, dia merubah energi di tangannya menjadi sebuah pedang panjang dan langsung dia arahkan ke leher Sastro yang paling dekat dengannya.
"Silahkan, bunuh saja aku, Dar. Biarkan aku menebus kesalahan yang sudah aku lakukan sama kamu," ucap Sastro sembari mengangkat wajahnya. Dia menatap lurus ke arah mata Darto tanpa rasa takut, meskipun pedang Darto sudah mulai merobek kulit lehernya.
"Brengsek kalian! Sebenarnya apa mau kalian!" teriak Darto kembali, kemudian menarik pedang di tangannya menjauh dari leher Sastro.
Asep, Ujang serta Gayatri benar-benar kebingungan dengan Darto yang berbicara sendiri di depan mereka. Melihat itu Ki Karta menyuruh mereka masuk ke ruang sebelahnya, agar Darto bisa berbicara dengan Sastro dan Wajana dengan lebih tenang. Gadis dan dua pemuda itupun langsung menuruti apa yang Ki Karta perintahkan. Mereka langsung masuk ke dalam ruang tengah tanpa sedikitpun bertanya, meski mereka benar-benar ingin tau tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini.
"Kita benar-benar menginginkan kematian Gending, Dar," ucap Wajana sembari terus meringis menahan rasa sakit dari dadanya yang berlubang.
"Lalu? Apa maksud kalian bersujud di depan dia?" ucap Darto masih dengan wajah masam.
"Jadi kalian memang budak Gending, Kan!" teriak Darto sembari berdiri kemudian menghunus pedangnya di leher Wajana.
"Maaf, Dar. Jika kamu membiarkan kami hidup sampai satu suro, kamu akan tau semuanya. Kita punya sumpah yang harus kita jaga, aku tidak mau mati konyol gara-gara mengingkari sumpah itu. Lebih baik kamu bunuh saja sekarang, itu lebih baik dari pada mati di tangan ular biadab itu," ucap Wajana tanpa bergeming, tatapannya sama sekali tidak memancarkan rasa takut meski pedang di tangan Darto terhunus di lehernya.
Darto kembali dirundung rasa bingung. Dia benar-benar merasa bimbang dengan tatapan dari Sastro dan Wajana yang seakan siap mati kapanpun, meski dirinya sudah mengarahkan pedang di leher mereka berdua secara bergantian.
__ADS_1
"Ingat! Satu suro! Aku akan memberi kematian seperti yang kalian inginkan!" ucap Darto sembari melepas pedang cahaya di tangannya.
Sastro dan Wajana langsung memasang wajah lega, mereka sangat bersyukur karena masih di beri kesempatan meski kesalahan yang mereka lakukan bisa dibilang tidak ringan. Malam itu mereka langsung pamit pergi setelah meminta maaf berkali-kali pada Darto, hingga Akhirnya Darto bisa mengusir emosi yang menggebu di dadanya setelah dua mahluk itu sudah tidak terlihat lagi.
"Sebenarnya siapa teman Aki? Dari mana dia dapat kalung dan cincin ini?" tanya Darto sembari kembali duduk di depan Ki Karta.
"Dia perempuan yang bernama Gending, Dar," ucap Ki Karta sedikit bimbang, dia tahu kedatangan Darto kemari adalah untuk memusnahkan Gending, namun dirinya tidak mau berbohong kepada seseorang yang mungkin bisa membuat keinginannya tercapai.
"Apa!" teriak Darto kembali mengepalkan tangan. Dia benar-benar terkejut dengan nama yang terucap dari bibir Ki Karta.
"Iya, Dar. Bisa dibilang dia teman hidupku, karena dia adalah Ibu Gayatri," sambung Ki Karta kini berangsur menunduk.
Darto benar-benar dirundung rasa bingung kala itu. Di satu sisi dirinya tidak percaya namun di sisi lain dia tidak bisa membantah apapun ucapan Ki Karta karena dia tidak tahu persis apa yang sudah Ki Karta alami di dalam hidupnya.
"Bukannya Gending tidak boleh menikah?" tanya Darto masih dengan wajah kebingungan.
"Benar, Nak. Aku punya sebuah kisah panjang dengan dirinya, bahkan dari saat aku masih muda. Jika kamu mau mendengar, aku bisa ceritakan semuanya. Agar kesalahpahaman diantara kita bisa cepat terurai," ucap Ki Karta sembari menatap wajah Mbah Turahmin.
Saat itu Si Mbah Turahmin juga terkejut, dengan apa yang baru saja dia dengar dari teman masa pondoknya. Sama dengan Darto, dia tidak bisa percaya sepenuhnya dengan ucapan Ki Karta. Meski sebenarnya Ki Karta merupakan salah saru teman yang sangat Si Mbah percaya sedari dulu.
__ADS_1
Malam itu, dua tamu yang datang dari jauh akan menemui sebuah fakta yang mengejutkan, dari apa yang Ki Karta ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mari kita tunggu bersama untuk kisah kelanjutannya.
Bersambung.