ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MEMASUKI HUTAN TERTUA


__ADS_3

"Maaf ... Darto, Jaka. Saya hanya bisa mengantar kalian sampai di sini. Aku tidak berani maju lagi," ucap Komang sembari menghentikan langkahnya. Saat ini dia tengah berdiri di tepi sungai, yang merupakan pembatas wilayah milik Semar dan wilayah bebas.


"Kita harus ke mana?" tanya Darto sembari turun dari punggung Komang.


"Kalian harus ke sebrang sungai ini dulu, Dar. Nanti setelah kalian nyebrang, tempat yang akan kalian lihat benar-benar berbeda, tempat itu bisa menjadi tempat yang menyeramkan, atau bisa juga menjadi tempat yang akan membuatmu mabuk dan tidak mau pulang karena terkesima," jawab Komang.


"Maksudnya? Bukannya itu cuma hutan biasa?" tanya Jaka.


"Benar, kita menyebutnya hutan tertua, setiap mahluk di sana bisa bergerak, mereka bisa sewaktu-waktu menyerang kamu, tanpa kamu sadari sebelumnya. Hati-hati dengan pohon berduri, rumput tajam ataupun hewan liar di sana, mereka semua bisa mencelakai kalian," sambung Komang sembari menatap Darto dan Jaka dengan wajah serius.


"Lalu? Ke arah mana kita harus berjalan?" tanya Darto lagi.


"Berteriak saja sekencang yang kalian bisa, panggil namanya ketika kalian sudah menyebrang. Jika dia mengijinkannya, maka jalan akan terbentuk dengan sendirinya. Kalian hanya perlu mengikuti jalan setapak itu. Maaf, Dar, cuma itu yang aku tahu, itu pun aku hanya mendengarnya, karena sejak duku aku tidak pernah masuk ke hutan milik Prabu Semar," ucap Komang sembari duduk, dia merubah tubuhnya menjadi manusia, kemudian bersandar pada pohon yang sangat besar.


"Baiklah, kalau begitu saya berangkat dulu," ucap Darto kemudian menatap Jaka.


"Semoga lancar, Dar. Saya tunggu kalian di sini," sahut Komang.


Setelah mendengar itu, Darto dan Jaka bergegas melompat dari batu ke batu untuk menyeberangi sungai yang cukup lebar. Mereka melompat dengan gesit, hingga hanya butuh beberapa detik saja mereka sudah sampai di sisi lain dari tepi sungai tempat Komang menunggu.

__ADS_1


Darto dan Jaka sempat menoleh ke belakang, dan saat mereka mencari Komang, dia sudah tidak ada. Bahkan pohon besar yang Komang gunakan untuk tempat bersandar pun seakan sirna, semua yang tampak di seberang sungai hanyalah ilalang tinggi, berbeda dari apa yang mereka lihat saat sebelum menyebrang.


Melihat itu, Darto dan Jaka saling memandang, mereka saling mengangguk karena mulai paham dengan ucapan Komang. Sungai yang mereka lewati tadi bukanlah sungai biasa, itu benar-benar penghalang yang diciptakan oleh sosok hebat, hingga bisa memberikan gambaran berbeda dengan apa yang sebenarnya ada di seberangnya.


Setelah cukup lama bergeming, akhirnya Darto melangkahkan kaki masuk menuju hutan. Jaka yang melihat Darto melangkah, langsung mengikuti langkahnya tanpa berpikir panjang. Mereka berdua akhirnya melangkah beriringan untuk masuk ke dalam hutan, yang bahkan lebih rimbun dibanding hutan mati.


Terik matahari benar-benar terhalang sempurna oleh dedaunan di atas kepala mereka. Meskipun hari masih siang, mereka serasa berjalan di tengah hutan di waktu fajar. Semua tampak hampir menggelap, dengan warna abu-abu pekat yang mendominasi. Tidak ada warna lain, semuanya seakan menjadi abu-abu dan hitam karena tidak mendapat pencahayaan.


"Kang saya teriak, ya?" ucap Jaka ingin mencoba usul Komang.


"Salam saja, Jak," pinta Darto.


Suara Jaka benar-benar menggelegar, gema pun langsung tercipta. Teriakan Jaka memantul berkali-kali, sampai terdengar seperti ada sepuluh Jaka yang berteriak di waktu yang bersamaan.


Setelah Jaka berteriak, seluruh pohon rindang di depan mata mereka tiba-tiba bergerak. Ratusan pohon, rimbunan semak bahkan rumput yang membentang di depan mata mereka, seketika bergerak secara serentak, layaknya terkena topan yang cukup dahsyat, meski Jaka dan Darto tidak merasakan sedikitpun hembusan angin di tubuh mereka.


Jaka yang merasa takut langsung memasang posisi sigap, sedangkan Darto masih terus mengedarkan pandangannya untuk menyapu keadaan sekeliling dalam bungkam. Untuk cukup lama, semua pepohonan dan tumbuhan terus melambai hingga sejurus kemudian dari arah depan mereka seperti ada yang maju mendekat. Tubuhnya tidak terlihat, namun Darto dan Jaka bisa tahu setelah melihat barisan rumput dan semak yang terus menerus ambruk mendekat dari kejauhan.


Ketika rumput ambruk sudah merambat sampai di depan Darto, apapun itu yang berjalan sepertinya berhenti. Bahkan tidak ada lagi gerakan dari pohon dan juga tumbuhan yang sedari tadi tampak bergelayut, yang tersaji hanya suara hening, dan jejak rumput ambruk yang masih membingungkan kedua pemuda itu.

__ADS_1


Melihat tidak ada pergerakan, Darto menatap Jaka untuk sesaat kemudian membuka suara, "Saya keturunan Darma, saya ingin bertemu dengan pemilik tempat ini, bersama keturunan Surya."


Setelah Darto mengucap kata itu, semua pohon dan tumbuhan kembali bergerak, jejak di atas rumput pun kembali mendekat dan sejurus kemudian seperti ada yang melilit kaki Darto sembari mengucap kalimat dengan nada berbisik, "Kalian belum pantas untuk bertemu dengan Romo kami."


Darto yang mendengar itu langsung memendarkan cahaya putih di sekujur tubuhnya, dia menghentakkan kaki ke tanah dalam posisi diam, dan seketika keheningan pecah, menjadi riuh pekik jeritan yang memenuhi penjuru hutan.


Suara jeritan itu berasal dari rumput yang Darto injak. Benar kata Komang, bahkan setiap tumbuhan bisa bergerak sesuka kemauan mereka. Darto sadar ketika rumput itu membungkuk bergantian, agar seperti tengah ambruk sehabis terinjak oleh mahluk yang tidak terlihat.


Mendengar jeritan dari rerumputan itu, seketika banyak sekali pasang mata yang langsung mengarah ke sumber suara. Ratusan pasang mata saat ini tengah memperhatikan Darto dan jaka. Entah dari balik semak, atas pohon, maupun dari dalam sungai tempat tadi Darto menyebrang.


Mereka semua menatap dengan tatapan mengancam ke arah yang sama, namun tidak ada pergerakan selanjutnya. Menyadari itu, Jaka spontan mengeluarkan tombak miliknya, Sedangkan Darto langsung memegang panah chandrabha. Mereka berdua memasang posisi waspada, untuk serangan yang mungkin akan mereka terima.


Suasana begitu mencekam, Jaka benar-benar terus mencoba menelan ludah meski terus tercekat, sedangkan Darto hanya bisa terus menatap satu arah yang selalu menyita perhatiannya. Arah di mana kegelapan benar-benar menguasai, di balik dua pohon yang berdiri sejajar di depan matanya.


Tempat itu benar-benar gelap, berbeda dengan semua tempat yang berwarna semu abu-abu. Darto merasakan firasat yang tidak enak bahkan ketika baru masuk ke dalam hutan itu. Darto merasa ada yang mengawasinya dari tempat gelap tersebut, dengan tatapan yang penuh intimidasi.


Karena ragu mau menyerang atau bertahan. Darto mencoba memberanikan diri menarik busur panahnya, dia menarik sekuat tenaga dan menahan posisi siap menembak, sembari mengarahkan ke tempat gelap tersebut.


Melihat Darto mengarahkan senjata padanya, sosok yang tengah duduk bosan di dalam kegelapan seketika menyeringai, dia malah justru tersenyum kegirangan, ketika merasakan hawa yang begitu pekat dari senjata yang tengah diarahkan oleh Darto ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2