ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SAYEMBARA


__ADS_3

Setelah berkumpul, sepuluh pria kekar itu melangkah secara beriringan meninggalkan desa mereka. Istri mereka terus melambaikan tangan, sembari menatap punggung kekar suaminya. Mereka menatap dengan penuh haru, karena mereka semua tahu. Jika hari ini mungkin adalah kali terakhir mereka bisa melihat tubuh suaminya.


Darto dan Jaka benar-benar dibawa menuju masa yang sangat berbeda. Masa di mana perang masih berkecamuk, hanya untuk memperebutkan wilayah maupun harta. Namun meski begitu, Darto tidak pernah ragu untuk menjalani itu, meski hal itu tidak berlaku pada Jaka.


Jaka masih terus memampangkan ekspresi bingung di wajahnya, dia terus bertanya dalam hati dan berfikir keras tentang kejadian yang menimpanya. Namun meski begitu dia merasa tidak akan menemukan satupun jawaban, jika dia mencoba bertanya pada sembilan pemuda di depannya. Jadi, Jaka hanya bungkam dan mengikuti semua ingatan milik tubuh utamanya.


Hari demi hari sudah dilewati, sepuluh pria itu sudah sampai di depan gapura yang terbuat dari tumpukan batu ukir. Mereka semua langsung mengambangkan sudut bibirnya, ketika sampai di tempat tersebut.


Tanpa menunggu lama, mereka langsung masuk bersama-sama, kemudian menuju tempat pertemuan, yang tidak lain adalah lapangan yang cukup luas di depan istana.


Tampak banyak sekali pemuda kekar yang berdiri di sana, mereka menunggu momen yang sama, yaitu pertarungan hidup dan mati untuk sebuah tahta.


Sesampainya mereka di tempat lapang. Orang bermahkota emas yang bercampur berlian keluar dari pintu bangunan yang sangat megah. Dia melangkah dengan begitu gagah bersama dua gadis cantik yang menghimpit tubuhnya. Tidak lama kemudian, setelah dia sampai di depan kerumunan, dia mengangkat sebelah tangannya.


Seketika suara riuh dari kumpulan ratusan pria langsung musnah begitu saja, suasana menjadi tertekan hening, ketika mereka menyaksikan seorang pria gagah mengangkat sebelah lengannya. Mereka serentak berjongkok, dengan satu lutut menyentuh tanah, dengan kepala tertunduk di hadapan pria tersebut. Hanya ada dua lelaki saja yang berdiri, yaitu Jaka dan Darto.


Untuk sesaat Darto dan Jaka tidak tahu jika semua orang akan menunduk di depan sang raja, namun ketika semua orang serentak berjongkok, mereka berdua langsung mengikuti gerakan itu meskipun terlambat.


Di tengah suasana hening, pria itu menurunkan tangannya, kemudian menatap ratusan pria di depannya kemudian berteriak dengan suara yang sangat lantang, "ANGKAT SENJATA KALIAN! MARI KITA PERSEMBAHKAN SEBUAH TARIAN!"

__ADS_1


Mendengar teriakkan orang tersebut, satu pria langsung berdiri, dia menghunus pedang dari sarungnya kemudian mengangkat pedang tersebut tinggi-tinggi. Dengan tatapan tajam yang mengarah pada sang Raja dia mengucap kan sebuah kalimat yang berbunyi, "Hidup sebagai musuh! Berteman setelah mati!"


Tidak lama kemudian satu persatu pria mengikuti gerakan itu, mereka mengangkat senjata mereka ke atas kemudian berteriak dengan sangat keras secara serentak dan berulang-ulang, "HIDUP SEBAGAI MUSUH! BERTEMAN SETELAH MATI!"


Suara dari teriakkan semua pria benar-benar menggema, terdengar seperti gemuruh yang mampu menggetarkan jiwa. Belum lagi ketika mereka mulai menghentakkan kaki sembari berteriak, siapapun orang yang berada di dekat kerajaan pasti akan bergidik setelah mendengar ungkapan semangat mereka.


Kata itu memang sebuah kalimat yang sangat cocok diungkapkan pada hari ini, dari semua pria yang hadir di lapangan, hanya akan ada satu orang yang berdiri. Siapapun itu yang berdiri paling terakhir, dia akan menjadi sosok pemimpin yang menempati singgasana Sendang Langit. Hari ini adalah hari di mana akan ditentukannya penerus tahta selanjutnya.


Ditengah kegaduhan itu, sang Raja kembali mengangkat sebelah lengannya. Semua orang serentak bungkam, dan kembali menyarungkan senjata mereka.


Setelah semua orang diam, sosok pria yang disebut raja itu langsung tersenyum, dia meraih ikat kepala berwarna putih di tangan salah satu dayang di sebelahnya. Kemudian dia mengangkat ikat kepala itu tinggi-tinggi, sembari berkata, "Siapapun yang memakai benda ini hingga akhir, dia yang akan menjadi penerus tahtaku!"


Semua orang yang dekat dengan pemuda itu, langsung menghunus senjata mereka, dan menyerang secara membabi buta untuk merebut benda tersebut.


Hanya beberapa detik saja, pria yang pertama meraih ikat kepala langsung kehilangan lengannya. Dia mendapat serangan yang begitu telak bahkan sebelum dirinya memegang senjata. Ikat itu jatuh ke atas tanah, beserta lengan utuh yang masih menggenggamnya.


Pria yang menebas lengan pemuda itu langsung menendang lengan yang tergeletak di atas tanah. Dia mencoba meraih ikat kepala yang tergeletak mengenakan kakinya. Hanya dengan sedikit saja usaha, dia berhasil melambungkan ikat beserta tangan itu setelah menerima tendangan kakinya.


Dia melompat begitu tinggi untuk meraih ikat tersebut, kemudian mengenakannya di kepala ketika tengah mengudara. Setelah ikat kepala terpasang di keningnya, dia berlari begitu gesit menyibak kerumunan pria bersenjata di bawah kakinya.

__ADS_1


Dia berlari dengan cara berpijak pada kepala pria di bawahnya, dengan gerakan yang sangat gesit dan tubuh yang tampak begitu ringan di udara. Dia terus berlari hingga ujung kerumunan, kemudian mendarat sembari memasang posisi siap untuk bertarung.


Semua pria yang maju kepadanya langsung menerima sabetan dari pedang panjangnya, dia begitu sigap meladeni semua pria yang maju ke arahnya secara bersamaan. Sungguh sebuah kemampuan yang melebihi gambaran maupun perkiraan dua pemuda yang dibawa secara paksa ke dunia ini.


Darto dan Jaka benar-benar tertegun, melihat semua pria maju dengan gagah berani, sebelum ajal menjemput mereka. Mereka berdua terus mengamati setiap gerakan dari si pemegang ikat kepala, dan sama sekali tidak melakukan gerakan yang berarti.


Ketika tengah tertegun, pandangan Darto dan Jaka seketika menatap arah yang sama. Dia melihat satu pria yang maju dengan cara tidak biasa yaitu menebas setiap pria yang ada di depannya.


Pria itu terus mengayunkan parang miliknya, ketika semua mata tengah tertuju pada si pemegang ikat kepala. Alhasil dia bisa mendekat kepada si pemegang ikat kepala, setelah memisah puluhan kepala dengan badannya dari arah belakang.


Untuk sejenak pria itu tersenyum kepada si pemegang ikat kepala, si pemegang ikat kepala pun membalas senyuman yang dilempar pria tersebut, sebelum akhirnya senjata mereka beradu di samping kerumunan.


Benar-benar bela diri yang sangat luar biasa, setiap benturan dari pedang dan parang di tangan mereka menciptakan sebuah dentuman. Setiap orang yang mendengarnya benar-benar langsung bergidik, dan menjauh dari pertarungan dua pria tersebut.


Semua orang langsung memasang jarak pada dua pria tersebut, hingga menciptakan sebuah pagar berbentuk lingkaran yang terbuat dari manusia.


Tidak terkecuali untuk Darto, Jaka, bahkan Raja pun terus terpaku menatap pada arah yang sama. Arah di mana dua orang pria, sedang mempertunjukkan kebolehan dan ketangkasannya.


Semua orang benar-benar terkesima, dengan sosok dua orang yang begitu tangguh, dan terlihat siap mengerahkan segalanya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2