ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
HASIL SAYEMBARA


__ADS_3

"Kang Darto?!" Teriak Jaka setelah melihat panah di tangan lawannya. Dia merasa senjata yang di pegang oleh Darto benar-benar mirip dengan senjata yang sangat dirinya kagumi di kehidupan nyata.


"Jaka?!" sahut Darto sembari mengernyitkan dahi, dia merasa nada yang diucapkan lawan di depannya sangat mirip, dengan nada ketika Jaka memanggil nama miliknya di kehidupan aslinya.


Untuk sesaat, waktu terasa berhenti, mereka berdua kini sudah tahu siapa lawan mereka. Namun jika tiba-tiba menghentikan pertarungan, maka semua orang akan menaruh sejuta tanya.


Jadi dalam bimbang, Darto berkedip dan menatap bahu kirinya, dia memberi isyarat agar Jaka menusuk bahunya. Jaka langsung mengerti, dia mengarahkan tombak api miliknya ke bahu Darto, sedangkan Darto mengincar lengan Jaka.


Darto benar-benar tertusuk, tapi panah yang Darto lepas terlebih dahulu mengenai Jaka. Jadi mereka jatuh dari udara dengan kondisi sama-sama terluka. Jaka yang sudah berdarah di lengan atasnya langsung pura-pura tersungkur dan tidak bangkit dari posisinya.


Sedangkan Darto turun dengan kondisi masih memegang panah di tangannya. Dia masih mengincar kepala Jaka yang tengah tersungkur, hanya untuk mengelabui semua pasang mata yang tengah menonton mereka.


Semua orang masih mematung, mereka masih tertegun hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi ketika mereka menyaksikan panah putih panjang yang Darto bawa, mereka semakin tidak bisa membuka mulut, dengan keringat yang mulai mengalir di wajah mereka.


Keheningan benar-benar tertahan cukup lama, sebelum akhirnya Darto menghilangkan panah di tangannya, dan meraih Jaka yang tengah tersungkur memegangi luka.


Darto menjulurkan tangannya, dia membantu Jaka berdiri sembari berteriak, "Akan ada yang mati jika kita melanjutkannya!"


"Cukup! Kalian berdua ikut saya ke dalam!" sahut Raja sembari mengangkat tangannya. Kemudian dia berjalan masuk menuju istana.


Darto memapah Jaka yang masih pura-pura lemas, sembari melangkah Darto berbisik kepada Jaka, "Nanti apapun yang ditanyakan oleh Raja, biar aku yang menjawabnya, Jak. Sepertinya bukan ini ujian utama kita,"


Jaka langsung mengangguk, dia merangkul Darto dengan sangat erat, sembari berbisik dengan pelan, "Aku takut sekali, Kang. Baru pertama aku melihat kepala berjatuhan. Apa ini nyata, Kang?"

__ADS_1


Jaka mengucap kalimat itu dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya benar-benar gemetar, dengan wajah yang sangat pucat yang terpampang di kepalanya.


"Sabar, Jak. Aku juga sebenarnya merasakan rasa yang sama denganmu, tapi kita harus terus maju," sahut Darto masih dengan berbisik. Mereka terus melangkah menuju istana, dengan darah yang masih menetes menciptakan jejak di atas rerumputan.


Ketika sampai di dalam istana, Raja yang duduk di kursi singgasana, menatap arogan kepada dua lelaki di depannya. Dari tatapan matanya, tergambar jelas dia kini memasang tindakan siaga. Dia tampak sedikit bingung dengan kekuatan yang Darto dan Jaka miliki.


"Dari mana kalian mendapatkan ilmu itu?" tanya Raja dengan mata yang sangat tajam. Dia menatap Darto dan Jaka yang tengah berdiri di depannya, tanpa sedikitpun berkedip.


"Aku bertemu dengan lelaki berjanggut putih. Dia memberikan aku sebuah makanan yang bentuknya aneh. Aku yang saat itu sedang kelaparan langsung memakan buah tersebut tanpa pikir panjang. Dan malam harinya tubuhku sudah bercahaya putih seperti senjata tadi," jawab Darto sedikit mengarang. Darto benar-benar hebat ketika menciptakan alasan, dia berkilah tanpa sedikitpun getaran di matanya.


"Lalu? Kamu juga?" tanya Raja pada Jaka, dia mulai mengendurkan sikap curiga pada Darto dan Jaka.


"Kurang lebihnya seperti itu, Paduka. Tapi kalau saya dikasih minuman, bukan buah," jawab Jaka sembari meringis dan menunduk. Dia tidak ingin menampakkan wajah polosnya, karena Raja akan tahu jika dirinya tengah berbohong, jika Jaka mengucap sembari menatap lawan bicaranya.


"Ha ha ha ha! Kalian memang satu kejutan besar untuk Sandang langit! Baiklah ... sekarang kalian boleh pergi ke ruangan itu, ada seorang yang bisa menggunakan kemampuan seperti kalian, tapi dia bukan petarung," sahut Raja sembari menunjuk ruang di sebelah kanannya.


Ketika mereka sampai, tampak Brahma yang sedang tertidur pulas. Luka sayatan pada paha miliknya juga sudah mengering, hal itu membuat Darto dan Jaka langsung percaya, jika ada pengguna kekuatan juga di dunia ini.


Untuk sesaat mereka menunggu dengan tenang, merea duduk di atas lantai sembari memegangi luka mereka. Setelah cukup lama, datang satu orang yang sangat tua, dia berjalan dengan kaki gemetar, dia melangkah pelan dengan sebuah tongkat kayu berbentuk abstrak, yang dia kenakan sebagai alat bantuan menopang.


"Kalian berbaring saja," ucap lelaki tua itu.


Mendengar ucapan lelaki tua itu, Darto dan Jaka langsung menurut, mereka berbaring di atas lantai batu kemudian orang tua itu meletakkan telapak tangan miliknya pada tubuh Darto.

__ADS_1


Ketika tangannya menyentuh luka di lengan Darto. Perlahan luka itu menutup, dan lama kelamaan menutup sempurna bahkan kulitnya pun langsung mengering.


Setelah selesai mengobati Darto, dia bergegas menyentuh lengan Jaka, namun yang terjadi malah sebaliknya. Baru beberapa detik dia menyentuh lengan Jaka, lelaki tua itu langsung menarik kembali tangannya sembari berkata, "Tubuhmu menyerap energi, anak muda. Saya tidak bisa mengobati luka kamu. Coba kamu sembuhkan luka di tanganmu menggunakan energi milikmu saja, biar aku tunjukkan caranya."


Sebenarnya Darto dan Jaka sudah tahu, tapi mereka pura-pura bodoh, kemudian mengikuti langkah yang orang tua itu katakan. Setelah mengajari Jaka, orang tua itu tersenyum begitu lebar. Dia berangsur menjauh dan meninggalkan ruang perawatan sembari berkata, "Kalian berdua memang istimewa, sepertinya tugasku sudah selesai."


"Maaf, Mbah. Tugas apa?" tanya Jaka sangat penasaran.


"Tugas untuk menjadi pengobat Raja. Dari pertandingan tadi pria di sebelahmu yang menang, jadi kamu yang akan menjadi tabib pribadinya, setidaknya aku bisa pergi dengan tenang, ketika melepas tugas berat yang sudah aku pikul sejak awal berdirinya kerajaan ini," jawab pria tua itu sembari menoleh, dia sempat menghentikan langkah gemetarnya, hanya untuk menjawab pertanyaan Jaka.


Setelah menjawab, dia pergi menjauh dan meninggalkan ruang itu tanpa bicara lagi, sedangkan Darto dan Jaka, mereka kembali membuka perbincangan.


"Jak, kamu baru pertama kali kan dibawa ke dalam dunia silam?" ucap Darto singkat. Dia mencoba memecah lamunan Jaka.


"Iya, Kang, sebenarnya ini semua apa?" sahut Jaka, kali ini dia menatap Darto dengan tatapan penuh tanya.


"Ini adalah dunia manusia, Jak. Hanya saja waktu dan tempatnya aku tidak tahu kepastiannya. Setiap keturunan lelaki Kanjeng Darma juga melakukan ujian seperti ini, agar bisa sepenuhnya mendapat kekuatan yang ditinggalkan pendahulu, dengan syarat harus lulus," Darto menjelaskan.


"Jadi ... ini ujian dari lelaki yang tinggal di gubuk itu?" Kembali Jaka bertanya.


"Mungkin iya, Jak. Lebih baik kita melihat kelanjutannya, pasti ada sesuatu yang inging orang itu tunjukkan," sahut Darto kembali.


Darto menceritakan setiap ujian yang dulu pernah ia lakukan, dan dia juga bercerita jika baju yang Jaka kenakan di dunia nyata merupakan hadiah ujian, dan waktu itu Jaka hanya bisa mendengarkan.

__ADS_1


Setelah percakapan panjang, Jaka dan Darto benar-benar berharap jika misteri tentang kerajaan ini akan cepat terkuak, karena tujuan awal mereka memasuki hutan tertua juga belum terlaksana. Mereka ingin cepat-cepat pergi dan juga tidak sudi, jika harus terjebak dan menetap di dunia kejam seperti ini


Bersambung ....


__ADS_2