
Kala itu di dalam kegelapan yang begitu pekat, telapak tangan Jaka merasa menyentuh sesuatu yang keras dan berbentuk lebar dan bergelombang.
"Apa yang kamu sentuh, Jak?" tanya Darto.
"Sepertinya tembok, Kang," jawab Jaka polos sembari meraba benda di sampingnya itu.
"Ikuti tembok itu Jak," pinta Darto.
Mereka semua masih memejamkan mata, dengan tangan yang juga masih terus bergandengan.
Semua lelaki itu terus mengikuti langkah Jaka, yang tengah berjalan sembari mengikuti tembok yang dirinya raba.
"Mentok, Kang ... Sepertinya ini sudut ruangan," ucap Jaka masih dengan memejamkan mata.
"Ikuti terus saja, Jak," sahut Darto.
Jaka langsung menuruti, kala itu rombongan tersebut berjalan setelah belok ke kiri dan baru beberapa langkah saja mereka berjalan, Jaka kembali mengucapkan, "Temboknya hilang, Kang ... Tidak ada apa-apa di depan saya."
"Coba geser ke samping dua langkah lagi, Jak. Apa temboknya masih ada?" pinta Darto.
Jaka langsung bergeser dua langkah dan kembali menjulurkan tangannya kembali, "Ada, Kang!"
"Nah sekarang kembali ke tempat dimana tembok itu hilang, Jak," sambung Darto kembali.
Semua orang benar-benar tidak mengerti apa yang Darto pikirkan, namun mereka terus mengikuti arahan yang Darto berikan.
"Sudah Kang ... saya sudah di depan tempat yang temboknya hilang," ucap Jaka setelah sedikit bergeser.
"Sekarang maju ke tempat yang tidak ada temboknya itu, Jak," Darto kembali membuka suara.
Jaka langsung melangkah maju, sembari menarik lengan orang disampingnya.
Mereka semua benar-benar mengikuti langkah Jaka kala itu, dan setelah semua orang melangkah maju setidaknya lima langkah, Darto meminta semuanya untuk berhenti.
Darto langsung membuka mata miliknya, kemudian tersenyum sembari melepas genggaman tangannya, seraya berkata, "Buka mata kalian ... Kita sudah sampai di tempat tujuan,"
Semua orang langsung membuka mata mereka. Cahaya yang mereka saksikan benar-benar berhasil membuat mata mereka langsung merasa silau, karena sudah terlalu la tidak melihat cahaya sama sekali.
__ADS_1
"Dimana ini, Dar?" tanya Sastro, dibarengi anggukan kepala semua lelaki di sampingnya.
"Lihat ke belakang, Sas," jawab Darto.
Bukan hanya Sastro. Wajana, Komang, dan Jaka juga langsung menoleh ke arah dimana semua orang berasal.
Tampak di sana terpampang sebuah lubang menganga tanpa daun pintu. Lubang yang terlihat sangat gelap, dan tidak ada cahaya sama sekali di balik lubang tersebut.
"Kalian sadar? Mungkin tadi kita hanya berputar-butar di tempat sempit, sampai berjam-jam lamanya," ucap Darto sedikit terkekeh.
Melihat Darto yang tertawa kecil, semua teman miliknya langsung ikut terkekeh. Bahkan Komang sampai terbahak, ketika mengetahui kebenaran yang tengah menimpa mereka.
"Trik sederhana, tapi benar-benar membuat kita kebingungan, ha ha ha ha!" Komang membuka suara.
"Sudah ... setidaknya sekarang kita sudah menemukan cara untuk keluar dari tempat gelap itu. Seperti dugaanku juga jika tempat ini tidak ada penghuninya. Kita lebih baik mengamati setiap sudut tempat ini dulu, siapa tahu ada yang akan bisa membuat kita lebih unggul dalam pertarungan nantinya," Darto kembali membuka suara.
Semua orang langsung berpencar kala itu. Di dalam bangunan tulang yang tampak cukup besar dari luar. Kondisi ruangan di dalamnya benar-benar berbeda dari apa yang terlihat di luarnya.
Tempat tersebut memiliki banyak sekali pintu yang berbaris di sepanjang mata, menandakan sebanyak apa jumlah ruangan yang terletak di dalam bangunan tersebut.
"Dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga," ucapan Darto berhenti, tepat ketika langkahnya juga berhenti.
"Sepertinya lawan terakhir akan duduk disitu," ucap Darto sembari menunjuk sebuah kursi. Kursi yang terlihat memiliki sandaran cukup tinggi, dan sepenuhnya terbuat dari tulang belulang.
"Ini singgasana miliknya, Dar," sambung Wajana sembari mencoba menyentuh kursi besar di depan matanya.
"Benar, Jan. Setidaknya kita sudah tahu persis tempat yang akan kita kunjungi. Sekarang kita lebih baik kembali, aku sepertinya menemukan cara untuk kembali ke kehidupan kita," ucap Darto dengan tatapan yang sukar dijelaskan. Tampak sedikit raut bingung di wajahnya, namun ekspresi gembira lebih tergambar di wajah yang sama.
Sebelum mereka kembali, satu persatu daun pintu yang berjumlah dua puluh tiga dibuka oleh lima pria tersebut. Semua ruangan benar-benar berbeda, ada yang kosong, berisi kolam sebesar danau, bahkan ada pula yang menunjukkan hutan belantara setelah pintu di buka.
Setelah mengamati secara seksama, mereka kembali memejamkan mata di dalam ruang gelap, berjalan sembari meraba, kemudian keluar dari lubang yang menganga di tengah temboknya.
Lima pria itu berhasil kembali dalam hitungan menit, semuanya tidak lagi menyusahkan, karena setiap kejanggalan benar-benar sudah bisa diatasi.
"Sekarang kita mau kemana, Kang?" Tanya Jaka.
"Kita keluar dulu dari bangunan ini," jawab Darto.
__ADS_1
Mendengar itu, lima pria langsung berjalan menuju pintu utama bangunan kerangka. Mereka berjalan dengan santai, sebelum akhirnya langkah kaki mereka berhenti secara tiba-tiba.
Mereka semua melihat sebuah asap hitam yang tengah mendekat dari kejauhan, tepat ketika kaki mereka menginjak tanah di depan bangunan kerangka.
Sastro, Wajana, dan juga Komang langsung memasang posisi siaga. Mereka berdiri di depan Darto dan Jaka, sekedar berjaga jika kepulan asap itu merupakan musuh yang sama, seperti yang pernah mereka temui sebelumnya.
Darto dan Jaka yang tidak bisa menggunakan kekuatannya benar-benar merasa sedikit cemas. Mereka berdua tahu jika kehadiran mereka merupakan satu beban untuk ke tiga temannya, karena mereka tidak bisa bertarung seperti sediakala.
Sastro, Wajana dan Komang benar-benar langsung mengeluarkan energi di tangan mereka. Semuanya memasang posisi bertahan, sembari mempersiapkan serangan untuk benda hitam yang tengah datang.
Asap hitam tersebut melaju dengan kecepatan yang gila, dia terus mendekat setiap kedipan mata, hingga dia berhenti tepat di depan mata lima pria tersebut.
"Ah! Bikin takut saja kamu!" Ketus Komang.
"Hampir saja saya pukul!" Gerutu Sastro.
"Hah!" Teriak Wajana melepas geram.
"Maung!" teriak Jaka dan Darto secara serentak.
"Apa kabar kalian para sahabatku?" tanya Maung sembari sedikit terkekeh. Dia tersenyum setelah melihat wajah panik dari lima mahluk yang dirinya akui kekuatannya.
"Alhamdulillah ... akhirnya kita bertemu juga. Darimana saja kamu selama ini?" ucap Darto sedikit penasaran.
"Aku menghabiskan waktu dengan seseorang yang sudah sangat lama aku rindukan, Dar. Tadi aku ke pesantren, dan Kakung kamu bilang kalian sedang membuat taruhan besar, makanya aku langsung ke sini. Aku punya jawaban dari semua kebingungan kalian, sekarang sudah waktunya kita kembali," sahut Maung.
"Kamu tahu cara kita kembali?" tanya Komang dibarengi wajah tercengang dari Jaka, Sastro dan Wajana.
"Jangan sekarang, Maung. Aku mau ajak kamu mengunjungi satu tempat terlebih dahulu," Darto memotong, "Aku juga sudah tahu bagaimana cara kita kembali. Tapi sebelum kembali, lebih baik kita menemui semua orang yang kita rindukan terlebih dahulu," sambung Darto.
Mendengar itu semua orang kecuali Maung langsung bingung, mereka tidak tahu maksud dari Darto, namun mereka hanya bisa menurut.
"Komang ... tolong antar Jaka bertemu dengan keluarganya. Sastro dan Wajana terserah kalian mau kemana, tapi besok kita harus kembali berkumpul di pesantren lagi," ucap Jaka.
Komang langsung mengangguk, Jaka juga langsung menyanggupi, sedangkan Wajana dan Sastro langsung hilang setelah berpamitan.
Setelah Jaka dan Komang pergi, Darto kembali berkata pada Maung, "Maung, tolong bawa aku ke kampung kemoceng,"
__ADS_1
Saat itu Maung langsung paham dengan maksud Darto, dia hanya mengangguk kemudian membiarkan Darto naik ke punggung miliknya. Mereka melesat dengan begitu cepat, menuju kampung tempat kelahiran Darto.
Bersambung ....