
Melihat Sastro dan Wajana yang masih fokus dalam semedinya, Maung berubah menjadi kabut hitam, dia menyelimuti tubuh kedua temannya berserta puluhan anjing yang paling dekat dengan posisinya.
Sastro dan Wajana benar-benar aman jika dibawa ke dalam dunia milik Maung, mereka bisa fokus untuk memulihkan diri, dan tidak menjadi penghambat bagi tiga teman yang lainnya.
Melihat Sastro dan Wajana sudah dibawa pergi oleh Maung. Darto, Jaka dan Komang saling berpencar di dalam ruang tersebut, mereka menuju tiga titik yang berbeda, untuk meringkus musuh yang tengah melingkari mereka secara sempurna.
Tiga lelaki itu melompat ke tengah kerumunan musuh, sembari melancarkan serangan besar-besaran.
Dentuman demi dentuman benar-benar terus terdengar di dalam kamar tersebut. Setiap lawan yang berada di sekitar jaka langsung terbakar, dan semua yang menginjak energi milik Komang langsung tertebas.
Sedangkan Darto tampak terus berlari sembari mengayunkan sebuah pedang energi, menuju tempat dimana musuh yang paling berperan penting di dalam kamar tengah berdiri.
Tidak butuh waktu lama untuk Darto sampai di tempat tujuannya, hanya dalam beberapa serangan saja dia berhasil menghabisi tumpukan lawannya, dan berakhir tepat di depan wajah pemilik kamar tersebut.
Setelah sampai di depan wajah musuhnya, Darto menciptakan puluhan pedang yang mengambang di atas kepalanya, dia menatap bengis wajah musuhnya, kemudian berkata, "Tahan ini kalau bisa!"
Setelah Darto mengucap kata tersebut, dia melepas puluhan pedang berwarna putih di atas kepalanya, menuju ke arah wajah musuhnya.
Puluhan dentuman terdengar dalam satu waktu yang bersamaan, serangannya benar-benar mengenai wajah lawannya secara telak, hingga membuat puluhan anjing yang sedang berada di sekitar tempat tersebut langsung terpental menjadi debu.
"Grrrrr... Kurang ajar!" teriak sosok anjing sembari mengerang. Dia tampak terus meringis, ketika mendapatkan luka yang cukup parah pada wajahnya.
Anjing itu mulai memasang posisi waspada setelah menerima serangan Darto, dia hanya terus menerus mengerang sembari memamerkan barisan taring, sembari mengitari tubuh Darto dengan langkah pelan.
Darto sebenarnya cukup terkejut, dia tidak mengira bahwa puluhan pedang energi yang dirinya lancarkan hanya bisa membuat musuhnya terluka, belum lagi hanya butuh sedikit waktu untuk sosok anjing itu menyembuhkan luka pada wajahnya.
Lawan yang sedang Darto hadapi benar-benar merepotkan. Tidak hanya kuat, dia bahkan bisa beregenerasi dengan sangat cepat.
Melihat Darto yang tidak melakukan serangan, Anjing besar itu melompat, dia menghilang di udara kemudian membuka rahangnya ketika muncul di belakang tubuh Darto.
Dia bermaksud ingin melahap kepala lawannya, ketika melakukan satu serangan kejutan yang mungkin bisa mengejutkan Darto.
Namun ketika melihat sosok anjing yang begitu besar hilang dari pandangannya, Darto bergegas berpindah menggunakan teknik lempit. Dia berpindah ke tempat yang acak, sehingga bisa menghindari serangan fatal yang sedang musuhnya lancarkan.
"Kamu cepat juga, Manusia!" Anjing besar terkekeh, kemudian berlari ke arah Darto.
Dia berlari tanpa melihat situasi sama sekali, puluhan prajurit miliknya bahkan terus diterjang olehnya, hingga tak terhitung berapa banyak anak buah yang tumbang dari pengejaran yang sedang dirinya lakukan.
Melihat keganasan musuhnya, Darto terus menerus berpindah ke tempat yang berbeda. Dia mencoba mengurangi jumlah lawan, menggunakan serangan pemimpin yang sedang begitu terobsesi untuk menangkapnya.
__ADS_1
Anjing paling besar benar-benar terus menyeruduk, dia tidak perduli dengan kawan maupun lawan, yang dia tahu hanyalah untuk segera mendapat Darto yang sudah dirinya tandai sebagai sasarannya.
Setelah cukup lama, Darto terkekeh sembari menciptakan pedang pada tangannya. Dia menghilang bagaikan hembusan angin, kemudian mengayunkan pedangnya ketika muncul di samping tubuh anjing raksasa.
Pedang Darto benar-benar berhasil mengiris daging lawannya, dia menorehkan segaris luka yang cukup dalam, pada paha bagian belakang musuhnya.
Anjing besar itu langsung berputar ketika mendapat serangan dari Darto, dia kembali membuka mulutnya, kemudian mengarahkan rahang besarnya untuk menggigit Darto.
Namun anjing itu kembali harus menelan rasa kecewa, ketika giginya hampir menyentuh tubuh Darto, dia langsung kehilangan sasarannya dalam sekejap mata saja.
Darto kembali berpindah ke sisi yang berbeda, dia menebas satu paha belakang yang lainnya, menggunakan pedang yang masih dirinya genggam sedari tadi.
Serangan Darto benar-benar masuk, dia kembali berhasil memberikan luka untuk kedua kalinya, hingga lawannya sedikit merintih karena hal tersebut.
Anjing yang tengah terluka pada dua kakinya langsung merasa terancam, dia mencoba melompat menjauh dari Darto untuk mengulur waktu, tapi Darto terus mengejar dan tidak memberikan waktu sama sekali kepada lawannya.
Kondisi benar-benar berbeda, yang semula Darto dikejar, kini Darto yang terus berpindah menuju tempat yang dituju oleh musuhnya.
Di sisi lain Jaka dan Komang hampir berhasil meringkus semua musuh yang sedang mereka hadapi.
Tumpukan debu benar-benar menumpuk sangat tinggi di sekitar tubuh mereka, hal tersebut bisa dijadikan sebuah penanda, tentang seberapa banyak kawanan anjing yang sudah berhasil mereka singkirkan.
Udara di sekitar jaka benar-benar sangat panas, menjadikan setiap mahluk yang datang langsung menjadi debu tanpa perlawanan.
Jaka sungguh melampiaskan kemarahannya kala itu, dia sampai terlihat tidak mempunyai kesadaran, namun tubuhnya masih terus bertarung dan terus melancarkan serangan pada musuhnya.
Begitu juga Komang, dia tampak tidak sedikitpun menghemat energi. Area yang menjadi tempat perburuannya benar-benar sangat luas, Komang menjadikan lantai dalam radius puluhan meter dari tubuhnya berdiri, menjadi tanah yang sepenuhnya berwarna kuning keemasan.
Jika ada mahluk yang menginjak tanah kuning tersebut, disaat yang sama mereka mendapat serangan dari Komang yang muncul dari dalam tanah.
Namun meski Jaka dan Komang tidak terlihat kesusahan, sebenarnya mereka berdua hampir mencapai batasnya.
Energi yang mereka buang memang setimpal dengan jumlah musuh yang sudah berhasil mereka singkirkan, mengingat musuh yang tengah mengepung mereka berdua, memiliki ketahanan yang lebih hebat jika dibandingkan dengan semua lawan yang pernah mereka hadapi.
Jadi mau tidak mau Jaka dan Komang harus melancarkan dua kali lipat tenaganya, meski hanya untuk meringkus satu musuh saja.
Melihat dua temannya sudah hampir mencapai batas, Darto kembali melakukan satu gerakan yang pernah dia tunjukkan ketika melawan Satria.
Darto mengumpulkan energi sebanyak yang dia bisa sembari terus menyerang, dan juga terus mendekat ke arah anjing yang sedang mengulur waktu dengan terus berlari.
__ADS_1
Darto terus berpindah sembari menggunakan kedua tangannya. Satu tangan menebas menggunakan pedang, dan satunya lagi terus memadatkan energi yang mengambang di atas telapak tangannya.
Setelah energi yang tercipta sudah cukup padat, Darto melompat sembari melempar pedang ke arah lawannya. Dia mengangkat energi yang sudah dia kumpulkan untuk waktu yang cukup lama, kemudian meremas energi tersebut sekuat tenaganya.
Nging...
Telinga Jaka dan Komang benar-benar mendenging secara sentak, tidak ada suara lagi yang terdengar di dalam ruangan tersebut, yang ada hanya hamparan tempat yang sepenuhnya berwarna putih, dengan Darto yang sedang berdiri tertatih tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dan juga satu mahluk lain yang sedang tersungkur di depan kakinya.
"Kamu masih bisa bertahan? Uhuk!" Tanya Darto sembari terbatuk.
Wajah Darto benar-benar sangat pucat, dia tampak sudah sangat lemas, hingga membuatnya melakukan usaha yang sangat besar, bahkan meski hanya untuk berdiri.
"Kuh.. kuh.. bagaimana... Bisa... Sekuat ini... ," jawab Anjing besar dengan nada tersendat. Darah terus mengucur dari sudut bibir dan juga banyak tempat di bagian ruubuhnya, sehingga darahnya hampir memenuhi tanah yang sedang dirinya gunakan sebagai pijakan.
Mendengar pertanyaan tersebut, Darto melangkah dengan langkah gontai, dia mendekat meski terhuyung, menuju tempat dimana musuhnya sedang sekarat.
Setelah sampai di depan tubuh musuhnya, seluruh ruangan yang sebelumnya berubah menjadi putih, mulai memudar dan kembali menjadi ruang gelap.
Di dalam ruang gelap sudah tidak terlihat satupun prajurit dari anjing yang sedang tersungkur, yang ada hanya Jaka dan Wajana yang tengah duduk lunglai sembari menyaksikan Darto memegangi kepala lawannya.
Darto benar-benar lemas kala itu, namun dia berusaha menjaga kesadarannya, untuk memberi satu serangan akhir kepada lawannya.
Namun tepat ketika Darto belum bisa menciptakan energi pada tangannya, satu tangan lain tiba-tiba muncul di sebelah telapak tangan Darto.
Darto mengira itu adalah tangan milik Maung, dia mengira Maung akan membantunya, tapi justru saat Darto menoleh ke arah pemilik tangan, dia melihat satu wajah yang baru saja dirinya lihat untuk pertama kalinya.
Darto, Jaka dan Komang benar-benar terkejut setelah merasakan satu kehadiran yang baru, mereka bahkan tidak bisa merasakan energi dari orang tersebut sebelumnya, tapi kini tiba-tiba orang itu muncul entah dari mana.
Lelaki itu masih terus menempelkan telapak tangannya di kepala anjing besar. Dia tidak memperdulikan Darto dan juga dua yang lainnya, yang dia lakukan hanya menatap sendu ke arah binatang tersebut, sembari mengelus pelan kepalanya.
"Maaf aku terlambat," ucap Lelaki itu masih sembari mengelus kepala anjing besar.
Setelah mengucap kata tersebut, lelaki itu langsung mengalirkan energi berwana hitam pekat menuju tubuh anjing di depannya.
Tidak lama setelah energinya menyelimuti tubuh sang anjing, dia menepuk kepala anjing tersebut dengan cukup keras.
Satu ledakan terjadi saat itu juga, tubuh anjing yang berhasil menahan serangan pamungkas Darto, benar-benar hancur dalam satu kali serangan saja. Sedangkan Darto, dia juga ikut terpental setelah menerima ledakan di depan wajahnya.
Tubuh lelah Darto benar-benar terpelanting begitu jauh, hingga membuatnya mendapatkan sebuah luka, yang menganga di berbagi tempat pada tubuh miliknya.
__ADS_1
Bersambung....