ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
ANAK DAN ADIK


__ADS_3

Setelah Utami tidur, Ki Gandar sempat membuka pintu kamar untuk sekedar kembali menawarkan makanan. Tapi ketika dia melihat wanita berwajah lebam itu tengah tertidur pulas, dia mengurungkan niatnya dan kembali menaruh piring di tangannya itu di ruang belakang .


Sore itu Utami benar-benar tidur hingga pagi, rasa lelahnya memang sangat luar biasa karena sudah berjalan berhari-hari di tengah hutan dengan perut yang sudah membesar dan juga tanpa asupan makan.


Setelah pagi menyapa, Utami terperanjat dan merasa bingung ketika terbangun di tempat yang asing. Untuk sesaat dia berfikir, kemudian menghembuskan nafas panjang setelah mengingat lokasi dirinya saat ini.


Dia berjalan keluar kamar untuk menemui Ki Gandar, dan ketika pintu kamar terbuka Ki Gandar sudah menyiapkan beragam makanan di atas meja untuk dirinya.


Sedangkan Ki Gandar tengah pergi untuk melihat-lihat perkembangan desa, yang sudah dirinya dirikan dengan hasil jerih payahnya.


Ki Gandar sebenarnya bukanlah Raja. Dia hanya seseorang yang memiliki seluruh tanah di desa tersebut. Dari tanah miliknya dia menghidupi seluruh warga hanya dengan syarat mereka mau bekerja.


Berawal dari satu pria, beranjak menjadi puluhan pasang keluarga datang ke desa tersebut setelah mereka tidak memiliki tujuan hidup.


Mereka bergantung hidup pada tanah milik Ki Gandar, dengan cara bertani menggunakan lahan dan bibit yang sudah disediakan oleh Ki Gandar.


Semua orang hanya perlu menanam, merawat dan memanen. Kemudian hasil panen dibagi menjadi dua, separuh untuk Ki Gandar, separuhnya lagi untuk orang yang mengurusnya.


Semua warga benar-benar mencintai Ki Gandar, begitu juga sebaliknya. Mereka menganggap setiap tarikan nafas yang mereka punya adalah milik Ki Gandar. Hingga semua warga menganggap Ki Gandar selayaknya raja, meski Ki Gandar sempat menolaknya. Dia sama sekali tidak ingin dianggap sebagai orang seperti itu, namun warga tetap menganggap dirinya sebagai raja, hanya dengan keputusan sepihak saja.

__ADS_1


Berita terciptanya Raja baru pun menyebar bagaikan wabah, berawal dari ketika salah satu penduduk yang membawa hasil panen ke desa lain untuk ditukar dengan benda, orang yang berasal dari desa Ki Gandar bercerita tentang kebaikan pemimpin mereka. Dan dari situlah kabar tentang adanya satu pemimpin kumpulan rakyat jelata menyebar begitu cepat hingga sampai ke telinga Satria.


Satria memang sangat geram saat pertama kali mendengarnya, tapi dia berfikir jika kerajaan milik Gandar akan runtuh hanya dalam hitungan bulan saja. Namun asumsinya benar-benar meleset, desa milik Ki Gandar malah justru semakin berkembang setelah cerita tentang dirinya menyebar luas dari mulut ke mulut.


Banyak sekali pengangguran yang datang setiap harinya, mereka menaruh peruntungan pada seseorang yang memang pantas dianggap sebagai pemimpin.


Saat Satria menemui Gandar untuk bermaksud merobohkan kerajaan milik lawannya. Dia benar-benar dihalau oleh sesuatu yang diluar perkiraannya, sepasang sosok bertubuh besar yang membawa gada seakan terus melindungi Gandar, hingga Raja Satria yang saat itu ingin menyerangnya pun langsung mengurungkan niatnya.


"Dimana sosok itu? Kenapa mereka tidak menolong warga ketika Satria membakar mereka?" Tanya Jaka setelah melihat bentuk sosok yang melindungi Ki Gandar.


"Kalian ingat waktu meminum air di kubangan?" Tanya Eyang singkat dan langsung mendapat anggukan kepala Darto dan Jaka.


"Sosok yang melakukan perjanjian dengan raja pertama Sendang Langit sudah terlebih dahulu mengurus pelindung yang pernah saya berikan, dia setara dengan banaspati, bahkan mungkin lebih kuat, karena saat kalian melakukan sayembara dia mendapat ratusan jiwa sebagai sumber kekuatannya," sambung Eyang Semar sembari menghela nafas panjang.


Kali ini wajah Utami terlihat sudah sepenuhnya pulih. Lebam dan luka di wajahnya sudah sepenuhnya menghilang, hingga membuat dirinya tampak begitu menawan bagi siapapun yang menatapnya.


Tidak terkecuali Ki Gandar, dia sudah lama sendiri setelah Istri dan anaknya meninggal ketika melahirkan anak pertama mereka. Bertahun-tahun dia tidak mencari pengganti mendiang istrinya, karena Gandar sulit melupakan orang terkasihnya serta sukar untuk membuka hati untuk setiap orang yang pernah dirinya temui.


Tapi kali ini tergambar jelas perasaan yang menggebu dari tatapan Ki Gandar. Dia tampak begitu telaten merawat Utami yang hampir memasuki hari kelahiran anak di dalam perutnya. Ki Gandar tampak sudah menaruh hati untuk wanita yang sudah satu bulan tinggal seatap dengannya.

__ADS_1


Utami juga sebenarnya tahu tentang perasaan penolongnya, siapapun yang melihat cara Ki Gandar menatap Utami pasti langsung bisa menyimpulkan jika Ki Gandar sudah jatuh cinta. Namun utami selalu menepis asumsinya, meski dia tahu kebenarannya. Dia masih takut akan perlakuan kasar yang selalu dirinya dapatkan dari lelaki yang dulu menjadi orang terdekatnya.


Hari demi hari terus berlalu, kelahiran anak utami pun akhirnya tiba. Ki Gandar yang tampak begitu gelisah, dia tidak bisa tenang ketika menunggu dukun yang tengah memandu proses kelahiran.


Dia tampak sangat gusar, meski yang tengah dirinya tunggu merupakan perempuan yang belum menjadi apa-apanya. Sungguh sikap yang menggambarkan selayaknya perlakuan seorang suami, yang tengah menunggu istrinya bergelut dengan kematian.


Tidak lama setelah dukun beranak masuk, tangisan dari suara kecil memecah perasaan gelisah dari Ki Gandar. Pria itu langsung melesat masuk ke dalam kamar, setelah dukun beranak mempersilahkan.


Seorang lelaki cilik keluar dari rahim Utami, wajahnya sangat tampan, dengan kulit yang begitu putih seperti ibunya. Utami yang melihat kekhawatiran di wajah Ki Gandar mulai menaruh hati padanya, dia mulai bisa percaya dengan satu lelaki, yang tengah mengelus pucuk kepala putra di dekapannya itu.


Hari itu yang terlahir bukan hanya seorang anak dari bapak yang tidak diketahui, namun perasaan cinta yang lama hilang juga ikut hadir di dalam hati Utami. Dalam keadaan lemas setelah melahirkan, dia benar-benar berterimakasih pada Ki Gandar untuk segalanya.


Kemudian dia memohon untuk lebih lama tinggal, dan menjadi teman hidup dari seseorang yang sudah menolongnya. Ki Gandar langsung menangis, dia sangat bersyukur karena bisa mendapat balasan perasaan dari orang yang dicintainya, sekaligus mendapatkan bayi yang sudah sangat lama dia dambakan.


Meskipun bayi itu bukan darah dagingnya, Ki Gandar benar-benar menyayangi anak itu dengan sepenuh hati hingga empat tahun lamanya. Empat tahun tinggal bersama, akhirnya Utami mengandung anak kedua. Dia mengandung benih yang ditanam oleh Ki Gandar dari hasil cinta mereka berdua.


Ki Gandar sangat senang kala itu, dia terus menggendong tinggi anak pertama Utami sembari berkata, "Kamu sebentar lagi punya adik, kalau laki-laki pasti gagah seperti kamu, Nak."


Ki Gandar terlihat sangat mencintai anak pertama tersebut, bahkan sang anak pun merasa dirinya merupakan bocah paling beruntung, karena memiliki sosok ayah yang sangat penyayang dan juga sangat disayangi oleh semua orang di sekitarnya.

__ADS_1


Keluarga utuh itu benar-benar terlihat bagai sebuah lukisan yang penuh warna, dan dikemas dengan bingkai berbahan emas dan mutiara. Sebuah keluarga yang berkilau, yang terpajang di tengah dinding retak yang siap hancur sewaktu-waktu. Suatu keharmonisan yang indah, namun tidak berada pada tempat yang seharusnya.


Bersambung ....


__ADS_2