ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MUNCUL JUGA


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang ada di dalam?" tanya Darto setelah selesai membagi energi miliknya. Dia bertanya pada empat kawan yang sudah kembali pada kondisi prima.


"Lintah bukan pemilik danau ini, Dar," Sahut Sastro dengan wajah serius.


"Benar ... Mereka cuma memakan sisa korban, Dar," sambung Wajana.


"Kita harus pancing dulu pemilik danau agar keluar dari dalam air, Dar," timpal Komang.


"Benar, di dalam air benar-benar banyak sekali lintah dan ular jadi-jadian," Maung ikut menimpali.


"Jadi? Apa yang menunggu danau ini?" tanya Jaka kebingungan.


"Buaya," jawab Sastro, Wajana, Komang dan Maung secara serentak.


"Sebentar, aku sepertinya punya ide. Tapi aku harus memastikannya terlebih dahulu," ucap Darto sembari berdiri, "Jak... Ayo ikut ke tepi," sambung Darto kembali.


Setelah itu Darto langsung melangkah mendekat ke air, dan Jaka mengikuti di sampingnya.


Sesaat Darto kembali memasukkan telapak tangan miliknya kedalam air, dan lekas menarik setelah terasa ada lintah yang melekat pada tangannya tersebut.


"Coba kamu pegang ini dan kasih energi milik kamu, Jak," ucap Darto sembari menyodorkan lintah berukuran kepalan tangan orang dewasa ke arah Jaka.


Jaka menurut, dia langsung meraih lintah di tangan Darto, kemudian memberikan energi miliknya pada lintah tersebut.


"Sudah saya duga, Jak" Darto tersenyum sembari menatap lintah di tangan Jaka.


Lintah yang Jaka pegang benar-benar menyusut, tubuhnya semakin lama semakin mengecil, kemudian terbakar setelah menerima energi milik jaka.


"Kamu satu-satunya orang yang bisa menyingkirkan binatang ini, Jak," sambung Darto sembari sedikit terkekeh.


"Tapi bagaimana caranya, Kang?" Jaka sedikit kebingungan.


"Ikuti saja apa yang aku ucapkan, Jak. Sekarang buat saja bola api padat sebanyak mungkin, dan tunggu aba-aba dariku untuk serangan selanjutnya," sahut Darto sembari kembali memasukkan telapak tangannya ke dalam air.


Melihat Darto sudah memasukkan telapak tangannya ke dalam air, Jaka langsung menciptakan bola api padat di atas telapak tangannya. Jaka terus menciptakan bola yang lain ketika satu bola sudah berhasil ia ciptakan, dia tidak membuang satu detik pun untuk beristirahat.

__ADS_1


Darto sangat fokus kala itu, dia hanya diam sembari terus mengamati tangan miliknya sebelum akhirnya dia memejamkan kedua mata miliknya.


Tepat setelah Darto memejamkan mata, tumpukan mayat yang mengambang di berbagai tempat mulai berangsur menepi. Mereka terlihat seperti terseret arus meski tengah berada di dalam air yang tenang, menuju satu titik dimana Darto sedang mencelupkan telapak tangan miliknya.


Sungguh ratusan mayat itu seperti tengah berenang, mereka bergerak dengan sangat cepat, hingga tanpa terasa mereka sudah berkumpul di satu titik dimana Darto tengah berada.


"Jak! Sekarang!" Teriak Darto sembari menoleh ke arah Jaka.


Jaka langsung paham, dia tahu jika Darto memberi isyarat agar dirinya melempar puluhan bola api yang sudah dia ciptakan, menuju tumpukan mayat yang tengah bergumul di depan wajah Darto.


Jaka langsung melempar bola apinya menuju tumpukan mayat mengambang, dan sedetik setelahnya terjadilah satu ledakan yang sangat dahsyat.


Dentuman besar terdengar begitu hebat hingga berhasil membuat tanah bergetar, air danau bahkan sampai melambung, dan membuat percikan air bagaikan hujan yang berlangsung beberapa detik saja.


Jaka hanya melempar bola apinya ke atas mayat, namun ketika satu mayat terbakar, energi yang Darto sebarkan kedalam air benar-benar bereaksi dengan energi Jaka.


Dua energi tersebut berbenturan, hingga berhasil memusnahkan ratusan-ribuan lintah yang tengah mendekat untuk memakan energi yang sedang Darto sebarkan di dalam air.


Hanya dalam satu serangan gabungan, mereka berhasil mengusir satu penghalang yang menyusahkan, semua mayat yang mengambang juga langsung meleleh setelah induk lintah menghilang.


"Berhasil, Kang!" teriak Jaka kegirangan.


"Dia keluar, Dar!" Teriak Maung dari kejauhan.


"Mundur, Jak!" teriak Darto sembari melompat menjauh dari air.


Jaka langsung berpindah, dia benar-benar terkejut setelah Darto berteriak, hingga tanpa sadar dirinya sampai menggunakan teknik lempit untuk menjauh dari air.


Setelah Darto dan Jaka menjauh, ratusan pasang mata menyembul dari dalam air. Mereka mengamati keadaan sekitar, setelah mendengar satu ledakan yang Darto dan Jaka ciptakan.


Salah satu dari mereka melihat enam pria yang sedang berdiri di samping danau, dia langsung kembali masuk ke dalam air, kemudian sedetik selanjutnya dia melompat lurus ke arah Jaka.


Buaya dengan ukuran diluar nalar benar-benar melesat di atas udara. Dia melompat dengan kecepatan gila, sembari membuka rahang miliknya dengan begitu lebar.


Sungguh jika Jaka terkena barisan gigi besar yang berbaris di dalam rahang itu, mungkin dia bisa langsung terbelah menjadi dua, atau dia bahkan bisa dimakan dalam sekali telan.

__ADS_1


Untungnya Darto sudah siap, dia benar-benar memberi serangan tepat sebelum buaya meraih Jaka. Jika telat sedetik saja, bisa dipastikan jika satu temannya gugur saat itu juga.


Darto berhasil melakukan teknik yang diajarkan oleh Brahmana. Dia membuat buaya raksasa yang sedang melayang meledak tanpa sentuhan.


"Terimakasih, Kang," ucap Jaka lesu, dia benar-benar kaget, wajahnya dipenuhi keringat, setelah melihat rahang buaya menganga tepat di depan wajahnya.


"Jangan merasa lega dulu, Jak. Mereka masih sangat banyak," timpal Maung sembari mendekat, dia memasang posisi sigap bersama tiga teman yang lainnya yang kini mengitari Darto dan Jaka.


Enam pria itu kini benar-benar siap, mereka mulai menciptakan energi, untuk menghadapi semua mahluk yang masih memperhatikan mereka dari dalam air.


Tepat setelah satu buaya yang tadi mati, semua bola mata yang tengah mengambang tersebut langsung melirik ke arah yang sama. Mereka semua memperhatikan keenam pria, yang tengah berdiri tidak jauh dari danau yang mereka tinggali.


Satu persatu buaya itu mendekat, mereka langsung melompat jika jangkauan serangan mereka sudah memadai, ada juga yang berjalan dan keluar dari danau menggunakan keempat kakinya.


Sungguh ukuran mereka begitu besar, kepalanya saja sudah lebih besar dari tubuh enam pria yang sedang dikepung, ditambah lagi jumlah mereka lebih dari ratusan.


Darto, Jaka, Sastro, Wajana, Komang, maupun Maung terus memberi serangan pada lawan yang datang. Mereka tidak beristirahat dan terus membasmi satu persatu buaya yang datang dengan satu serangan mematikan.


Tidak ada waktu untuk berbaring maupun untuk mengeluh, mereka berenam terus melancarkan serangan hingga pakaian mereka sempurna dibasahi oleh keringat.


Setelah lebih dari dua jam lamanya pertarungan itu terjadi, jumlah buaya yang datang mulai berkurang.


Mereka tidak mengeroyok secara membabi-buta lagi, setelah menyaksikan ratusan kawanan yang berhasil dimusnahkan oleh keenam lawannya.


Mereka mulai merasa takut dengan enam pria yang masih terus bertarung, hingga mereka tidak berani keluar dari dalam air lagi.


Namun di tengah ketakutan kerumunan buaya, air danau kembali beriak. Gelombang yang cukup besar hingga serupa dengan ombak secara tiba-tiba tercipta, setelah satu pasang bola mata seukuran kepala manusia menyembul dari dalam air.


Darto, Jaka, Maung, Komang, Sastro dan Wajana benar-benar terkejut melihat ukuran bola mata yang mereka saksikan. Jika bola matanya saja sudah sebesar itu, akan sebesar apa tubuh miliknya.


Sayangnya, tidak ada waktu untuk tertegun. Setelah sepasang mata raksasa berwarna merah darah itu muncul, kawanan buaya yang sempat merasa ragu untuk menyerang kembali menjadi ganas.


Mereka kembali memberikan serangan secara terus menerus, menuju tempat di mana enam pria yang masih terus memberi serangan, meski mereka benar-benar terlihat sangat kelelahan.


Sedangkan sepasang bola mata raksasa terlihat terus menepi, dia meluncur lurus tepat ke arah enam lawannya, dengan niat membunuh yang terasa begitu kentara.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2