ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
PERTOLONGAN


__ADS_3

Sore itu di tempat yang jauh dari pertarungan, Si Mbah Turahmin sudah merasa hatinya terus merasa tidak enak. Dirinya bahkan langsung merasa cemas, ketika teh pahit di dalam gelas seng di depannya tiba-tiba jatuh tersenggol secara tak sengaja.


"Mat! Mat! Kabar dari Darto belum ada ya?" ucap Si Mbah sembari menggedor pintu kamar Kakung.


Mendengar ucapan itu, Kakung langsung beranjak dari dipan dan membuka pintu kamarnya. Akhirnya mereka duduk di meja makan sembari terus menghisap rokok di tangan mereka.


"Firasatku tidak enak, Mat. Apa kita susul saja si Darto ke kampung," ucap Mbah Turahmin dengan wajah mendongak, sembari meniup kepulan asap ke atas kepalanya.


"Tapi mobilnya kan dibawa Darto, Min. Aku juga dari tadi di kamar merasa gelisah, tapi aku tidak tau kenapa hatiku jadi seperti itu," jawab Kakung kemudian tertunduk, dia sedikit merasa ucapan Si Mbah turahmin ada benarnya. Karena perasaan yang terus menggebu di dalam hatinya tidak jauh berbeda dengan kekhawatiran yang Mbah Turahmin rasakan.


"Iya ya, Mat, bagaimana kalau kita adakan selamatan saja nanti malam sehabis isya sama semua santri. Kita berdoa, agar Darto diberi keselamatan," Ucap Si Mbah seketika memandang wajah Kakung dengan tatapan serius.


"Baik, nanti saya umumkan di masjid setelah selesai shalat maghrib, biar mereka tetap tinggal di masjid sehabis shalat isya," jawab Kakung singkat kemudian kembali menghisap pokok di sela jarinya.


Setelah percakapan itu selesai, mereka hanya termenung dalam diam, memikirkan keselamatan cucunya yang sulit untuk di temui untuk saat ini. Setelah cukup lama, Kakung beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju masjid kemudian mengumandangkan adzan magrib sore itu.


Seperti dalam rencana, hampir semua jamaah yang menunaikan shalat magrib tetap berada di dalam masjid ketika shalat isya sudah diselesaikan. Mereka tinggal untuk sekedar mengirim doa secara berjamaah, untuk keselamatan cucu Kakung dan Mbah Turahmin yang belum juga mengirim kabar. Setelah semua usai Kakung dan Mbah Turahmin langsung kembali ke dalam rumah, mereka diam dan tidak banyak membuka suara malam itu.

__ADS_1


Di tempat lain malam itu Darto terbaring di atas dipan, dia tidak sadarkan diri dengan perut yang berlubang. Terlihat ada tumpukan dedaunan yang sudah ditumbuk menutupi sebagian besar luka yang menganga di perutnya. Untungnya Darto belum mati, saat ini darah yang sedari tadi terus mengucur sudah berhasil dihentikan. Hanya saja tubuh Darto masih sering menggigil dan berkeringat deras meski tengah pingsan, dia mengalami demam tinggi bahkan sesekali kejang. Tidak bisa dipungkiri saat ini Darto tengah berada di ambang kematian, hidupnya bisa berakhir kapanpun mengingat luka yang ia derita begitu parah.


"Kamu harus kuat, Le," ucap sendu seorang wanita, sembari mengusap pelan rambut Darto.


Di dalam kegelapan ruangan tersebut, tampak seorang wanita yang tengah merawat luka yang Darto miliki. Dengan sabar ia terus mengganti kain yang membalut perut Darto, mengganti dengan kain baru ketika kain lama sudah gopoh dengan Darah. Sesekali dia juga mengompres kening Darto, berharap panas dari tubuhnya sedikit mereda, Dia benar-benar melakukan semua itu atas keinginannya sendiri, setelah melibat Darto terbujur di atas tanah di belakang balai desa.


...****...


Satu minggu sudah berlalu, Surat yang di kirim oleh Darto akhirnya sampai juga ke tangan Kakung dan Simbah. Mereka berdua sempat begitu ceria ketika menerima surat tersebut dari tukang pos yang singgah, namun ekspresinya berubah seketika setelah membaca keseluruhan isinya. Hari ini mereka berharap akan ada surat susulan yang Darto kirimkan, mereka berdua menunggu dalam gelisah setelah mengetahui jika cucunya sudah bertemu dengan Gending.


"Yang sabar, Nduk," ucap Bu Sumi sembari mengelus putri semata wayangnya di depan semua orang.


"Iya, Nduk. Kita berdoa saja, semoga Darto sebentar lagi sampai kesini," sambung Kakung sembari menatap Harti dengan tatapan sendu.


Meski mereka saling menguatkan, sebenarnya mereka juga merasakan hal yang sama. Dengan penuh rasa cemas mereka menunggu kabar dari sosok lelaki yang sangat disayangi semua orang di dalam ruangan tersebut.


"Tidak ada kabar, itu merupakan kabar baik Mbah," timpal Surip sembari mencoba mengingat pepatah yang selalu ia dengar dari Kakung. Sebelumnya Surip sering mengeluh karena jarang sekali mendapat kabar dari keluarganya yang jauh, dan Kakung selalu mengucap kata tersebut untuk menguatkan dirinya.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Semua orang tampak lebih tenang dibuatnya, karena perkataan itu memang ada benarnya. Kadang sebuah kabar memang hadir hanya untuk menyampaikan kabar duka, dan mereka menganggap jika tidak ada kabar berarti Daro masihlah baik-baik saja.


...***...


Kembali di tempat Darto berbaring. Setelah pingsan selama seminggu akhirnya sore ini dia membuka matanya. Dia sesekali meringis menahan rasa perih yang begitu menyiksa dari perutnya. Sempat dia berusaha berdiri, namun tubuhnya begitu lemas dan juga rasa sakit langsung menghujam dari arah perutnya membuatnya tidak bisa melakukan hal tersebut. Jadi dengan berat hati Darto kembali merebahkan diri dan terus mengira-ngira dirinya tengah berada di mana.


Tidak lama setelah Darto membuka mata. Seorang perempuan masuk ke dalam kamarnya, dia membawa kain bersih dan juga satu wadah air hangat di tangannya. Wanita itu langsung terkejut melihat Darto yang tengah menatapnya, dia bahkan sampai menjatuhkan tempat air di tangannya, untuk segera mendekat ke arah Darto terbaring.


"Alhamdulillah! Kamu sudah bangun, Le!" ucap wanita tersebut sembari mengelus pelan kepala Darto.


"I-Ib Ibu siapa?" ucap Darto tersendat, dia bahkan tidak bisa berbicara keras karena tubuhnya memang begitu lemas.


"Sudah! Le! Ini diminum dulu!" sergah wanita itu setelah mendengar ucapan Darto, dia tidak menjawab pertanyaan dari Darto, justru dia malah meraih sendok kayu dan juga jelas yang selalu ia sediakan di samping dipan.


Wanita itu kini tengah menyuap sesendok demi sesendok air ke dalam mulut Darto yang masih terbaring, dengan sabar ia merawat Darto seperti anaknya sendiri. Dan ketika semakin lama Darto memandang wanita tersebut, semakin Darto bisa mengingat seseorang yang pernah dia temui dulu kala.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2