ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KANTI


__ADS_3

"Buk... Saya pernah lihat Ibu ketika Darto dilahirkan. Itu Ibu, Kan? yang pakai baju serba hitam sama seperti yang sekarang Ibu gunakan?" ucap Darto setelah cukup lama memperhatikan wanita yang tengah menyuapi air sore itu.


Mendengar pertanyaan dari Darto, wanita itu langsung menatap mata Darto dengan ekspresi heran. Dia benar-benar terkejut atas apa baru saja ia dengarkan, hingga tanpa sadar dirinya langsung melamun mengingat semua kejadian yang dirinya alami ketika Darto terlahir.


"Kamu ingat? Bahkan meski itu kenangan di hari pertama dirimu melihat dunia?" Ucap wanita tersebut setelah sadar dari lamunan. Dia bahkan sampai menjatuhkan sendok di tangannya, kemudian memegang pelan pundak Darto yang masih terbaring.


"Iya, aku ingat semua, dan Si Mbah pernah bilang jika kamu itu teman ibuku, kenapa kamu menolongku?" Jawab Darto sedikit ragu, mengingat sudah berapa kali ia dikhianati oleh mahluk sebelah.


"Panggil saja aku Si Mbok. Aku benar-benar sudah menganggap anak Kedasih seperti anakku sendiri. Nanti akan Si Mbok ceritakan semuanya, lebih baik sekarang kamu memberikan kabar kepada keluargamu. Mereka pasti sangat cemas karena kamu sudah terbaring selama seminggu," ucap Wanita itu sendu, sembari terus mengelus rambut kepala Darto.


"Baik M.. Mbok. Tapi bagaimana caraku memberi kabar kepada Si Mbah? dan ini sebenarnya di mana?" jawab Darto sedikit kagok, karena harus memanggil perempuan itu dengan julukan Si Mbok.


"Astaga... Kamu bisa keliling dunia kami, tapi kamu tidak bisa mengunjungi keluargamu? Sini biar Si Mbok ajarkan," ucap wanita tersebut kemudian duduk diam sembari memegang tangan Darto di atas dipan.


"Pejamkan saja matamu, mari kita masuk ke perbatasan," ucap wanita sembari memejamkan matanya.


Mendengar perintah perempuan yang di panggil Si Mbok itu, Darto langsung menurutinya tanpa ragu-ragu. Kemudian tidak berselang lama Darto dan perempuan itu masuk menuju ruang gelap, mereka sempat berhenti untuk sekedar bicara di dalam sana.


"Bayangkan rumahmu, Si Mbah ataupun siapapun yang ada di sana. Lalu buatlah keinginan untuk menemui mereka, Nang," sambung wanita itu sembari menatap Darto yang tampak kebingungan.

__ADS_1


Mendengar itu, Darto langsung memejamkan matanya, kemudian membayangkan rumah tinggal kakung, juga wajah semua temannya. Seketika cahaya putih muncul di depan Darto, ada gambaran Kakung dan Mbah Turahmin yang tengah duduk berdua di tengahnya. Setelah melihat itu, wanita di samping Darto langsung menarik Darto masuk menuju cahaya tersebut.


"Darto? Kanti? Alhamdulillah.. kamu baik-baik saja kan, Le?" Si Mbah menangis melihat kedatangan kami berdua di depannya. Dia merasa lega karena masih bisa melihat cucunya, setelah begitu lama menunggu kabar yang tidak kunjung tiba.


"Dia bersama saya, Ki, kalian tenang saja untuk sekarang. Memang kemarin Darto sempat terluka, tapi sekarang semuanya sudah berlalu. Saya minta persetujuan kalian untuk membimbing Darto, Ki. Karena masih ada sedikit hal yang harus saya lakukan untuk anakku ini," ucap Perempuan yang ternyata memiliki nama Kanti, dan tampak sudah begitu mengenal Si Mbah Turahmin dengan baik.


"Jika itu kamu, aku bisa tenang menitipkan cucuku. Tolong rawat dia selayaknya kamu merawat ibunya dulu," jawab Si Mbah sendu, sembari mengusap air mata yang sudah mulai berhenti mengucur dari matanya


"Darto minta maaf, Mbah, Kung. Darto belum bisa mengalahkan Gending," ucap Darto tertunduk. Dia merasa bersalah kepada dua lelaki tua di depannya, karena kepercayaan yang sudah mereka beri harus tandas karena keterbatasan yang Darto miliki.


"Tidak apa-apa, Dar. Jika kamu baik-baik saja, kita bisa mencoba lagi lain kali," sahut Kakung yang sedari tadi diam. Dia masih sukar untuk percaya, setelah menyaksikan cucunya yang datang hanya dalam bentuk jiwa.


Kedua kakek Darto benar-benar merasa lega setelah mengetahui cucunya baik-baik saja. Setelah Darto dan Kanti pergi, Si Mbah menjelaskan banyak hal kepada Kakung. Dia menceritakan tentang sosok yang dipanggil Kanti olehnya, dan mendapat respon yang baik juga Dari lawan bicaranya. Tak lama kemudian dua lelaki tua tersebut langsung menyampaikan kabar tentang cucunya, kepada teman serta calon istrinya. Akhirnya kegundahan yang mereka rasakan berhasil terurai begitu saja, menyisakan sebuah harapan untuk segera bertemu kembali, meski belum jelas kapan waktunya tiba.


Sedangkan di sisi lain Darto sudah berhasil sampai kembali ke kamar yang tengah ia kenakan. Dia masih sedikit bingung, namun hatinya sudah merasa jauh lebih lega dibanding sebelumnya. Sebelum Mbok kanti memulai perbincangan, dia sempat pergi keluar kamar dan kembali dengan buah-buahan yang dirinya bawa di atas piring. Dia merasa Darto harus cukup makan sebelum dirinya menjelaskan semua situasi yang tengah Darto alami.


"Nang, Kamu harus makan dulu, setelah itu akan aku ajarkan cara meringankan lukamu," ucap Kanti sembari menyodorkan buah-buahan du samping Darto, kemudian membantu Darto untuk duduk bersandar pada tembok, dan membiarkan Darto memakan buah yang ia suguhkan.


"Terimakasih, Mbok," ucap Darto singkat sembari meringis, merasa perutnya masih begitu nyeri. Namun meski begitu dia langsung membabat makanan yang Kanti sodorkan tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Nang. Perutmu kosong, jadi pasti sedikit perih saat menelan," ucap Kanti sedikit terkekeh, melihat Darto yang begitu lahap memakan buah yang ia berikan.


Darto hanya tertawa ketika wanita itu mengingatkan dirinya, rasa lapar yang ia rasakan sudah diluar batas biasa. Bagaimana tidak? Sudah satu minggu dia tidak memakan apapun dalam pingsannya, "He he he, maaf, Mbok. Darto benar-benar lapar."


mendengar ucapan Darto, Kanti kembali terkekeh. Dia terus tersenyum sembari fokus melihat wajah Darto tanpa berkedip, dan sesekali menggeleng melihat tingkah anak dari sahabatnya dulu.


"Jika Asih masih hidup, Mungkin dia akan terus memamerkan ketampanan anaknya," ucap Kanti pelan sembari melamun setelah cukup lama memperhatikan Darto.


"Apa Mbok? maaf saya tidak dengar," Jawab Darto sembari menatap Kanti dengan wajah penasaran.


"Tidan apa-apa, Nang. Habiskan dulu makanannya nanti ada yang mau Si Mbok ajarkan ke kamu," sambung Kanti sedikit malu, karena tanpa sadar ia mengatakan sesuatu yang seharusnya ia ucapkan dalam hatinya saja.


Mendengar ucapan Si Mbok Kanti, Darto hanya mengernyitkan dahi sembari memiringkan kepalanya. Namun tidak lama setelah itu dia langsung melanjutkan makanan, hingga semua buah di atas piring tandas menyisakan kulitnya saja.


Setelah melihat buah di atas piring habis, Kanti langsung mengajak Darto memulihkan luka di perutnya dengan mengucap kata "Mari kita mulai, Nang."


Bersambung,-


Ts/n : "Nang" itu kutipan dari "anak lanang"

__ADS_1


Sebuah panggilan yang biasa orang tua sebutkan ketika memanggil anak laki-laki di beberapa daerah, di jawa.


__ADS_2