ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
KEJUTAN WARGA


__ADS_3

Malam itu Gayatri memandikan mayat Gending sendirian. Dia menangis karena bisa bertemu dengan Ibu kandungnya hanya sekali dalam hidupnya, itupun ketika memandikan raganya saja. Air mata Gayatri tercampur dengan setiap ayunan air yang ia guyurkan ketika membasuh tubuh Gending. Dia terisak dengan begitu pilu ketika mensucikan tubuh penuh borok dan nanah di depannya.


Setelah proses pensucian selesai, Gayatri di bantu Ki Karta selaku suaminya membalut tubuh Gending dengan kain kafan yang sudah dia bawa dari rumahnya. Semua orang hanya bisa menyaksikan mereka melakukan itu hingga selesai, hingga akhirnya jasad Gending akhirnya berhasil dikebumikan setelah dishalati bersama.


Semua orang pergi meninggalkan makam Gending yang hanya memiliki dua buah batu sebagai penanda. Mereka berjalan beriringan menuju rumah Ki Karta, dengan baju kumuh di badan mereka. Perjalanan berlalu begitu saja, kini mereka sudah sampai di rumah Ki Karta. Ujang serta Asep langsung berpamitan kepada semua orang. Mereka bergegas pergi untuk segera menuju rumahnya masing-masing setelah Ki Karta berkata jika ular yang mengganggu tidak akan pernah kembali lagi. Ujang dan Asep benar-benar gembira, mereka berlari menuju rumah mereka karena sudah tidak sabar lagi untuk segera memberikan kabar gembira kepada keluarga mereka yang sedang mengungsi.


Setelah punggung Ujang dan Asep sudah tidak terlihat lagi, Darto, Si Mbah serta Ki Karta bergantian menggunakan pancuran di dalam kamar mandi rumah Ki Karta. Mereka membasuh diri kemudian berkumpul di ruang tamu setelah usai mengenakan pakaian bersih milik mereka.


"Kalian tidak langsung pulang, kan?" Tanya Ki Karta kepada dua pria di depannya. Dia merasa pertemuannya terlalu singkat jika Darto dan Si Mbah Turahmin langsung pergi meninggalkan rumahnya.


"Iya, Ki. Mungkin besok kami berangkat," jawab Darto singkat kemudian meraih teh panas yang baru saja Gayatri sodorkan di atas meja.


"Kalian mau ikut? Sekalian jadi saksi pernikahan cucu saya," Sambung Si Mbah sembari ikut meraih teh hangat yang disuguhkan oleh Gayatri.


Mendengar pertanyaan itu, Ki Karta dan Gayatri saling bertukar tatapan. Mereka saling mencari jawaban satu sama lain hingga akhirnya Ki Karta mengangguk dan berkata "Boleh, asal nanti ada yang antar kami pulang lagi."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Darto dan Si Mbah sangat senang. Mereka berfikir jika pernikahan Darto yang akan dilakukan sebentar lagi begitu istimewa, karena banyak teman lama yang ikut hadir untuk menyaksikannya.


Malam itu berlalu begitu saja, pagi menyapa begitu cepat. Tidak ada kabar lagi tentang ular yang menggigit warga malam itu, bahkan semua orang yang selalu berjaga malam untuk mencari ular pun tidak bisa menemukan satupun buruan mereka. Kampung ijuk benar-benar sudah normal kembali berkat campur tangan dari Si Mbah dan Darto malam itu.


Semua warga tau tentang kedatangan Darto dan Si Mbah memang untuk membantu urusan ular itu. Dulu Ki Karta sering bercerita kepada mereka jika akan ada orang yang datang mengakhiri penderitaan mereka. Hingga akhirnya mereka langsung berasumsi jika Darto dan Si Mbah adalah orang yang sudah Ki Karta tunggu. Setelah menyaksikan ular itu sirna, hanya dalam dua hari setelah kedatangan mereka.


Niat Darto dan Si Mbah untuk langsung pulang hari itu benar-benar gagal. Semua warga kampung ijuk bahkan berbondong menuju rumah Ki Karta secara bergantian. Semuanya mengucap kata terimakasih untuk apa yang Darto sudah lakukan. Tidak sedikit ada yang memberi upeti, namun Darto langsung menolaknya mentah-mentah. Semua warga yang ingin memberikan tanda terimakasih kepada Darto cukup kecewa. Mereka tidak menyangka jika apa yang mereka suguhkan akan ditolak begitu saja, hingga akhirnya mereka memiliki sebuah akal untuk memikirkan sebuah rencana.


Seluruh warga yang tersisa langsung berkumpul di balai desa, mereka mengatur rencana untuk melakukan selamatan di hari itu juga. Semuanya tampak antusias, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing untuk meraih apapun yang mereka punya. Tidak butuh waktu lama, semua perlengkapan bahkan panggung sudah berdiri dalam sekejap mata.


"Sebenarnya mau apa kalian?" Tanya Ki Karta.


"Nanti juga Aki tau sendiri. Kita pamit dulu ya, Ki. Assalamualaikum!" Jawab Ujang kemudian buru-buru berlari. Disusul Asep yang juga ikut berlari dengan senyum merekah di bibirnya. Ki Karta hanya bisa menggeleng kepala sembari terkekeh pelan setelah melihat tingkah dua pemuda itu.


Sudah cukup lama setelah Asep dan Ujang pergi dari rumah Ki Karta. Hari ini Darto memaksa untuk tetap pulang setelah selesai menunaikan shalat ashar, namun niatnya harus digagalkan karena roda mobil milik Kakung benar-benar kempes semuanya. Darto sedikit curiga, karena tidak mungkin semua roda bocor secara bersamaan. Dan benar saja sebenarnya roda mobil itu tidaklah bocor, warga berusaha menahan Darto agar tidak meninggalkan kampung ijuk, hingga semua upaya terus mereka lakukan agar bisa menahan kepergiannya.

__ADS_1


Kecurigaan Darto bertambah jelas ketika semua warga mengaku tidak memiliki pompa angin, padahal beberapa warga memiliki kendaraan bermotor di rumah mereka. Hari itu Darto benar-benar bingung hingga malam akhirnya menyapa. Hampir separuh warga berbondong menuju rumah Ki Karta setelah shalat isya. Mereka memaksa Darto dan Simbah untuk pergi ke balai desa untuk menyaksikan sebuah pertunjukan dan juga untuk memimpin doa.


Karena tidak bisa menolak, Darto dan Si Mbah mengikuti arahan warga. Mereka berjalan menuju tempat yang sama, tempat dimana acara syukuran atau selamatan akan dilakukan. Dan tak terasa balai desa sudah berada di depan mereka. Kumpulan lampu obor yang yang sengaja di buat mengelilingi balai desa benar-benar membuat suasana di sana terang-benderang. Panggung yang cukup megah berdiri di tengahnya, dengan sebuah tumpeng besar yang sudah tersaji di depannya.


Darto dan Si Mbah benar-benar terkejut. Mereka tidak percaya bahwa acara semegah ini bisa dipersiapkan hanya dalam setengah hari. Meski begitu mereka langsung mengikuti setiap rentetan acara, dan sebelum menuju acara penutup, Si Mbah sempat memimpin doa untuk kemakmuran dusun Ijuk serta dusun-dusun di sekitarnya. Tidak hanya warga ijuk yang hadir, beberapa warga kampung tetangganya pun ikut meramaikan. Pagi tadi sebagian warga pergi memberikan kabar gembira, dan menyuruh mereka untuk hadir di acaranya.


Malam itu semua orang menyaksikan sebuah acara penutup yang begitu megah. Sekumpulan pemuda pemudi yang gagah dan cantik memamerkan bakat mereka dengan begitu hebatnya. Mereka memainkan peran masing-masing dengan begitu sempurna di atas panggung, dengan Asep dan Ujang yang menjadi pemeran utama.


Saat ini, semua remaja itu tengah menampilkan sebuah sandiwara yang akan terus dikenang hingga masa depan. Adegan yang menceritakan tentang kegagahan seorang pemuda, yang berhasil mengalahkan sosok pengusik jahat menggunakan panah bercahaya.


Di tempat inilah, nama panah Chandrabha tercipta. Karena nama itu dijadikan sebuah judul pertunjukan, yang selalu dilakukan untuk penutup acara selamatan. Yang selalu dilangsungkan tepat setiap tanggal satu suro ditetapkan.


Bersambung,-


...jangan lupa like nya 😁...

__ADS_1


__ADS_2