ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MASIH DI TEMPAT YANG SAMA


__ADS_3

Malam itu Darto tidur di atas dipan yang sama dengan Mbah Turahmin, dia bercerita panjang lebar tentang apa yang sudah dirinya alami. Dari mulai ketika dirinya pergi ke pesantren, mendapat teman, hingga lulus ujian Darsa.


Jelas sekali raut kagum pada binar mata Mbah Turahmin kala itu, dia bahkan sampai berkaca-kaca ketika mendengar dirinya sudah memiliki cicit bernama Dava.


Namun, setelah melihat ekspresi Si Mbah Turahmin yang sangat wajar tersebut, Darto justru semakin kebingungan dibuatnya.


Dia bahkan mulai gentar, dia sudah tidak tahu lagi mana yang nyata, dan mana yang hanya mimpi.


"Dar ... mungkin semua yang kamu ceritakan bisa benar. Itu semua bisa terjadi di masa depan. Tapi kenapa kamu tidak mempercayai apa yang sedang kamu alami detik ini?" sela Mbah Turahmin setelah Darto selesai bercerita.


"Lalu? Si Mbah mau bilang kalau semua yang sudah Darto alami hanya mimpi?" Jawab Darto sembari telentang, menatap genting yang berbaris di atas kepala mereka.


Mendengar itu, Si Mbah Turahmin hanya bungkam, dia diam seribu bahasa, dan sama sekali tidak memberikan jawaban.


Karena Darto tidak mendapatkan jawaban sama sekali, dia memiringkan badan miliknya dan menatap lurus ke arah Si Mbah Turahmin di sampingnya itu. Sejenak Darto menghela nafas panjang, kemudian dia berkata, "Darto benar-benar tidak ingin melalui itu semua lagi, Mbah. Terutama adegan-adegan dimana Darto harus terus berpura-pura kuat, saat satu persatu orang yang Darto cintai pergi."


Tidak terasa bulir bening mulai mengalir dari sudut mata Darto, dia benar-benar masih mengingat ketika Si Mbah Turahmin pergi untuk selamanya.


Meski kejadian itu sudah cukup lama, namun bagi Darto kejadian tersebut seperti baru saja terjadi kemarin. Rasa sakitnya masih sama, rasa belum rela juga masih singgah dengan rapi di dalam lubuk hati miliknya.


"Bagaimana caraku pergi, Dar?" Tanya Mbah Turahmin singkat, dia sadar dengan tatapan cucunya, dan langsung mengerti kemana arah pembicaraan Darto kala itu.


"Si Mbah benar-benar panjang umur. Dan meninggal di atas dipan yang sedang kita gunakan saat ini," jawab Darto sembari berusaha tersenyum.

__ADS_1


"Lalu? Bagaimana Kakung kamu pergi?" tanya Mbah Turahmin kembali.


Mendengar pertanyaan itu, Darto hanya bungkam, dia juga merasa penyesalan lama kembali terasa. Dia merasa tidak bisa menjadi cucu berbakti, karena tidak melihat saat terakhir yang Kakung miliki.


"Jadi seperti itu, lebih baik kita tidak usah bahas lagi, Dar. Sudah larut, mari kita tidur," sambung Mbah Turahmin kembali, dia sadar jika Darto sama sekali tidak bisa menjelaskan kematian salah satu keluarganya tersebut.


Mendengar ajakan Si Mbahnya, Darto pun langsung mengusap pipi basah miliknya, kemudian kembali menatap genting untuk sesaat, dan memejamkan kedua matanya yang masih sembab tersebut.


Tidak butuh waktu lama, Darto dan Mbah turahmin langsung tertidur pulas kala itu. Tidak ada kejadian janggal yang terjadi kala itu. Semuanya berjalan apa adanya, dan bahkan semuanya tampak begitu nyata.


Setelah bangun, hari itu berlalu begitu saja, sama seperti kehidupan Darto yang dulu. Benar-benar tidak ada hal ganjil, tidak ada petunjuk, dan tidak ada yang mencurigakan sama sekali.


Tidak terasa, sudah berhari-hari Darto terjebak di tempat tersebut, Semuanya benar-benar sama. Darto benar-benar hidup di tempat tersebut, dia merasa sakit, lapar, sedih, senang dan juga semua perasaan yang sewajarnya.


Hati Darto benar-benar goyah kala itu, dia benar-benar menemui jalan buntu, dan sama sekali tidak bisa menemukan jalan kembali.


Bagi Darto kehidupan yang saat ini dia jalani tidak mungkin jika disebut sebuah ilusi. Waktu yang berjalan dengan kecepatan yang sama, namun setiap kejadian benar-benar berbeda dengan apa yang sudah dirinya alami dulu.


Dia bisa melihat segala mahluk yang seharusnya hidup di alam sebelah, namun dia benar-benar tidak bisa menggunakan kekuatan miliknya sama sekali.


Tidak ada panah chandrabha yang berkilau dan selalu menyibak kegelapan ketika anak panahnya dilepas, tidak ada buto Ireng, bahkan Dining dan Satya masih sehat dan terus bercanda setiap hari dengannya.


Darto mulai bisa menerima jika semua yang dirinya lalui hanya sekedar petunjuk, dan dia berharap agar bisa menumpas segala kemalangan yang akan terjadi kedepannya.

__ADS_1


Tepat di malam ke tuju dari saat Darto masuk di tempat ini. Darto memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung kemoceng. Dia berpamitan kepada semua teman dan Si Mbah Turahmin setelah shalat isya di langgar.


Dia berkata jika dia ingin pergi ke suatu tempat, dan dia ingin meninggalkan kampung untuk waktu yang lama.


Darto berniat ketika pagi datang, dia akan pergi menuju pesantren milik Kakung. Dia ingin melihat semua yang pernah dirinya lihat di mimpinya, hanya untuk memastikan satu hal yang mengganjal di hatinya.


Malam itu, Dining, Satya, Anto dan Mbah Turahmin benar-benar mendukung setiap keinginan Darto. Tidak ada yang melarang, bahkan mereka langsung menyetujui permintaan Darto tanpa bertanya kemana Darto akan pergi.


Benar-benar seperti orang yang Darto kenali, semua orang yang dirinya cinta memang selalu mendukung apapun yang dirinya mau. Namun ada yang sedikit mengganjal di hati Darto kala itu.


Bagi Darto, Mbah Turahmin benar-benar terlihat berbeda. Sikapnya malah justru terlihat sangat ganjil, setelah dia menceritakan semua yang pernah dirinya alami di hari pertama dia tidur bersama Si Mbahnya.


Mbah Turahmin benar-benar berubah. Dia tidak pernah melarang apapun kemauan Darto, dan dia juga sama sekali tidak pernah bertanya tujuan yang sebenarnya cucunya inginkan.


Darto benar-benar kehilangan sosok tua yang selalu jadi panutannya. Dia benar-benar merindukan sosok Si Mbah yang cerewet, yang selalu usil, dan juga selalu bisa menjadi penunjuk arah ketika dirinya tersesat. Dia tidak begitu senang dengan Si Mbah yang terlalu percaya pada dirinya.


Namun, Darto menganggap jika Si Mbah tidak pernah membantah apapun keinginan Darto, karena Si Mbah sudah terlanjur tahu jika dirinya sudah mengalami banyak hal, hingga bagi Si Mbah Turahmin, dia sudah terlihat dewasa, meski tubuhnya masih sangatlah kecil.


Malam itu, Darto benar-benar langsung memejamkan mata setelah shalat isya, dia bangun ketika fajar menyapa, kemudian bersiap ketika shalat subuh sudah selesai dilakukan.


Dia berangkat sendirian ketika matahari sudah mulai meninggi. Dengan kaki mungil tanpa alas kaki dia melangkah menjauh dari tempat ternyaman di dunia baginya.


Selangkah demi selangkah Darto meninggalkan Si Mbah Turahmin yang masih berdiri mematung di depan rumah miliknya, sembari menatap sendu punggung cucunya, yang tidak menoleh sekalipun ke arah belakang.

__ADS_1


Apakah langkah yang Darto ambil untuk memilih meninggalkan kampung kemoceng sudah benar? Ataukah semua itu merupakan sebuah kesalahan?


Bersambung ....


__ADS_2