ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
BENGIS


__ADS_3

Darto bergegas masuk kembali ke dalam rumah Nek ijah. Dia langsung menuju kamar Gayatri, kemudian berbisik kepada Si Mbah dan Juga Ki Karta. Dia menjelaskan tentang keadaan rumah ini, dia menceritakan semua yang sudah dirinya dengar sesaat tadi dari Yanto. Bahkan Darto berkata jika pemilik rumah saat ini tengah menunggu tamunya tertidur, dan dia saat ini tengah menggunakan mantera yang entah mengapa terus mencoba masuk ke dalam tubuh ke empat tamunya.


Ketika Darto mencoba menerima energi kiriman pemilik rumah, dia seketika merasa ngantuk. Setelah sadar bahwa itu adalah sirep, Darto langsung menangkalnya agar dirinya dan dua lelaki tua di depannya tidak bisa dikalahkan oleh rasa kantuk. Darto meminta untuk semua lelaki pura-pura tidur, bahkan meminta semuanya untuk menciptakan suara ngorok, agar aksinya lebih lancar. Ki Karta dan Mbah Turahmin langsung setuju, mereka kembali meninggalkan kamar Gayatri dan menuju ruang tamu.


Sesaat kemudian mereka langsung berbaring, dan pura-pura memejamkan mata. Darto yang memiliki rencana sedikit membesarkan suara miliknya, sengaja agar ucapannya bisa di dengar pemilik rumah dari dalam kamarnya. Saat itu Darto berkata "Sudah, Ki, Mbah, Nanti juga Gayatri bangun, dia sudah tidak apa-apa. Lebih baik kita tidur untuk sekarang, besok perjalanan kita panjang."


Setelah Darto berteriak mengucap kalimat itu, mereka saling mengangguk dan tak lama kemudian mereka saling berlomba, menciptakan suara ngorok palsu agar pemilik rumah mengira mereka sudah pulas tertidur. Benar saja, apa yang Darto rencanakan berjalan mulus. Pemilik rumah langsung membuka pintu kamarnya kembali, dia keluar membawa sebuah cobek tanah liat yang berisi bermacam bunga ditambah kemenyan yang terbakar di tengahnya. Dia berjalan melewati mereka bertiga, menuju halaman depan rumah miliknya.


Darto mengintip dari sela matanya, dia masih menunggu kedatangan makhluk kuat yang diceritakan Yanto agar bisa sekaligus meringkusnya. Darto tersenyum melihat Nek Ijah yang tidak sadar dengan akting ketiga lelaki di ruang tamu, dia bahkan menahan tawa sembari bergumam dalam hati 'Sekali tepuk dua jidat sebentar lagi meledak.'


"Yanto... Yanto... Cih.. pergi kemana mahluk buntung satu itu!" teriak pelan Nek Ijah di depan halaman, dia mencari Yanto yang biasanya dipanggil sekali saja langsung nongol, tapi kali ini dia tidak menampakkan dirinya.


Karena tidak mendapat jawaban dari Yanto, dia kemudian melanjutkan ritualnya. Mulutnya terus komat-kamit membaca rentetan sebuah mantra yang menggunakan bahasa jawa kuno. Tidak lama kemudian Datang satu sosok tinggi, lebih tinggi dari rumah nek ijah, hingga Darto hanya bisa melihat sebatas perut bagian bawah dari dalam ruang tamu rumah tersebut, melalui lubang pintu yang terbuka lebar di depannya.


Darto yang tau kedatangan mahluk tinggi itu langsung menepuk Si Mbah dan Ki Karta secara bergantian. Tidak di sangka Si Mbah terkejut dengan tepukan Darto, dia benar-benar terlelap di dalam rencana pura-pura tidurnya.


"Haduh.. Si Mbah diajak pura-pura tidur malah jadi pura-pura bangun," ucap Darto sungut-sungut sembari menahan tawa.

__ADS_1


"Keh keh keh maaf, Dar. Namanya aja ketiduran, pasti enggak sadar. Iya, kan?" jawab Si Mbah terkekeh pelan dan segera mengerjap matanya.


Setelah semua bangun, Darto meminta dua kakeknya mengikat mahluk besar di halaman rumah itu, dia ingin mengurus nek Ijah terlebih dahulu dan tanpa ragu-ragu dua orang tua itu langsung berlari. Mereka mengeluarkan tali seperti yang pernah digunakan untuk menahan ular yang Darto lawan beberapa hari lalu.


Ki Karta dan Si Mbah berlari begitu cepat, kemudian mengitari mahluk besar yang belum sadar dengan sergapan. Si Mbah mengitari mahluk tersebut searah dengan jarum jam, sedangkan Ki Karta memutari itu dengan arah berlawanan. Dua lelaki tua itu berlari sembari memegang satu ujung tali bercahaya hingga akhirnya sosok besar itu berhasil mereka ikat dengan begitu sempurna.


Nek ijah yang terlihat ingin mencegah dua lelaki itu berhasil ditahan oleh Darto. Bahkan tampak jelas Nek Ijah berniat menikam Si Mbah dengan sebuah keris di tangannya. Namun hanya dalam satu kedipan mata Darto sudah berhasil menahan aksinya dengan cara memegang lengannya.


"Siapa kalian! Lancang kalian manusia!" teriak sosok besar sembari meronta, wajahnya begitu jelek, matanya bulat sempurna, dengan taring yang mencuat ke atas dan bawah dari bibirnya.


"Hei kenapa suaramu sangat besar? Aku kira kamu perempuan, ha ha ha ha!" ejek Darto setelah melihat rambut panjang milik sosok tersebut. Rambutnya tumbuh sampai menyentuh tanah.


Melihat itu, Darto benar-benar diam, tidak bergerak dari posisinya. Namun ketika ludah sosok itu hampir sampai di tubuhnya, Darto berpindah tempat ke belakang Nek Ijah, hingga akhirnya ludah sosok itu tepat mengenai wajah milik Nek Ijah dengan telak.


Nenek Ijah langsung menjerit, dia menggeliat di atas tanah sembari memegangi wajahnya. Kulitnya perlahan mengelupas, darah mulai mengalir memenuhi kedua telapak tangan yang tengah dia gunakan untuk menutup wajahnya tersebut.


"Wow.. Kamu memang sangat pintar dalam urusan meludah, sampai-sampai kamu meludahi sekutumu sendiri," ucap Darto sembari memasang wajah kagum.

__ADS_1


Mendengar ucapan Darto sosok itu langsung geram, dia berteriak memaki Darto dan hendak meludahi Darto kembali. Namun ketika hendak meludah, tanpa sosok itu sadari, Darto sudah tepat berada di depan wajahnya. Darto tengah melompat begitu tinggi dengan tangan mengepal dan penuh cahaya.


"Makan ini!... Bug!" teriak Darto, dilanjut melayangkan satu pukulan yang mendarat tepat di mulut sosok tersebut. Seketika rahang sosok itu hancur, taringnya patah, dan cairan berwarna hijau seketika mengucur dari mulutnya. Sosok itu langsung limbung dan jatuh ke atas tanah.


"Hey? Kenapa diam?" ucap Darto sembari memegang lengan sosok tersebut.


Sosok tersebut tidak menjawab, dia hanya merengek kesakitan, karena rahangnya benar-benar sudah tidak berbentuk lagi.


"Sakit?" ucap Darto sembari mencengkeram lengan sosok itu. Cengkeramannya begitu kuat, hingga tangan mahluk besar itu langsung putus, meninggalkan sebuah lengan yang tergeletak di atas tanah.


"AMPUN!" pekik sosok tinggi tersebut. Dia menggeliat menahan rasa sakit yang Darto berikan.


"Bagaimana rasanya? Bukannya kamu melakukan hal ini pada semua tumbal yang sudah kau makan?" ucap Darto sembari mencengkeram tangan satunya. Dan saat itu juga dua lengan miliknya terpisah dari tubuh mahluk tersebut.


"AMPUN.. AKU MOHON.. AMPUN!" teriak mahluk itu kembali.


Darto tidak menggubris, dia terus melanjutkan aksi bengisnya. Dia terus mengoceh sembari berjalan pelan, hingga akhirnya kedua kaki mahluk tersebut pun berhasil Darto patahkan hanya dengan cengkeramannya saja. Mahluk itu benar-benar menangis, dia memohon untuk dilepaskan. Sedangkan Nek Ijah sudah terkapar, dirinya pingsan setelah menahan rasa sakit yang begitu hebat. Darto yang melihat itu langsung memenggal kepala sosok tinggi tersebut, dan membawa Nek Ijah masuk kembali ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Bersambung,-


__ADS_2