
Darto dan Jaka seketika langsung membulatkan mata. Mereka terkesan dengan Wajana, karena dia benar-benar bisa menyembunyikan energi yang sudah tersebar di seluruh lantai, dan berhasil mengelabuhi musuhnya meski lawannya merupakan salah satu pemilik kamar.
Sedangkan sang Ratu yang tengah meleleh melakukan satu-satunya hal yang bisa dirinya lakukan. Dia berteriak keras, hingga membuat telinga enam pria yang sedang di dalam ruangan tersebut mendenging.
Tepat setelah sang Ratu menjerit, suara kepakan sayap seketika mulai terdengar. Ratusan--ribuan rayap bersayap keluar dari lubang yang memenuhi seluruh sisi dinding.
Jumlah musuh yang semula harusnya hanya tersisa satu, kini kembali menjadi pertarungan diantara enam melawan ribuan.
Melihat hal tersebut Darto bukannya berdiri, dia malah berteriak mengucap kalimat, "Wajana! Sastro! sini! kalian sudah cukup!"
Sastro dan Wajana benar-benar bingung, mereka tidak mengerti akan maksud Darto, namun mereka tidak bisa menolak permintaan temannya.
"Kenapa kamu panggil saya, Dar?" tanya Sastro setelah muncul di samping Darto secara tiba-tiba.
"Musuh kita masih banyak, Dar!" sergah Wajana setelah merasa keputusan Darto tidak bisa diterima.
"Percaya saja sama mereka berdua, aku belum melihat kemajuan Komang dan Maung selain kecepatannya," Darto menjawab tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Mendengar hal tersebut, Sastro dan Wajana hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Mereka tidak bisa menolak, dan hanya mempunyai pilihan untuk duduk di samping Darto dan Jaka.
"Komang ... kamu bisa lawan mahluk ini sendiri?" tanya Maung sembari menatap Komang. Dia tengah menyerang sang Raja dengan serangan sederhana, sembari memperhatikan musuh yang mulai memenuhi seluruh udara di atas kepala mereka.
"Kalau kamu bisa menahan mereka, itu urusan gampang," jawab Komang sembari terkekeh.
"Bukan cuma menahan, Mang. Akan aku tunjukkan seefisien apa kekuatanku jika digunakan seperti yang Kanti usulkan," Maung juga ikut tersenyum.
Mendengar jawaban yang begitu yakin, Komang dan Maung langsung bertukar posisi. Komang melawan Raja, sedangkan Maung berlari tepat ke belakang Komang.
Satu kedipan setelahnya Komang dan Raja benar-benar hilang dari pandangan Darto, Jaka, Sastro dan Wajana. Sedangkan Maung terlihat berpindah ke atas udara sembari berteriak ke arah empat teman yang sedang menonton, "Sastro! Lindungi mereka semua!"
Sastro langsung paham, dia langsung membuat kubah berwarna hijau yang menelungkup dirinya dan juga tiga temannya, ditambah dia melapisi tubuh Komang dengan energi miliknya secara sempurna.
Komang benar-benar terkejut ketika melihat tubuh miliknya tengah dibalut energi berwarna hijau pekat. Dia menoleh ke arah Sastro, kemudian melihat Sastro tengah mengacungkan jempol menuju ke arahnya.
Komang langsung terkekeh, dia merasa terkesan dengan kemajuan yang dialami temannya. Padahal dirinya sedang bergerak dengan kecepatan yang sangat gila, namun Sastro benar-benar bisa mengikuti setiap gerakan yang dirinya lakukan sembari mengarahkan pelindung tepat ke arahnya.
__ADS_1
Melihat semua temannya sudah dilapisi oleh energi milik Sastro, Maung langsung lenyap dari tempat semula dirinya berada.
Hanya dalam sepersekian detik saja Maung yang semula tengah melompat ke tengah kerumunan rayap bersayap, berubah menjadi sebuah kepulan asap.
Maung benar-benar menguap dan merubah tubuhnya menjadi asap hitam seukuran bola sepak yang melayang tepat di pusat kerumunan musuhnya.
Setelah Maung menjadi asap hitam berbentuk lingkaran, suara ledakan langsung terdengar setelahnya.
Hanya dalam satu detik saja asap hitam tersebut menyebar memenuhi ruangan setelah meledak, Maung benar-benar meledakkan diri dan melapisi seluruh ruangan dengan energi miliknya.
Ruangan itu benar-benar langsung menjadi lebih hitam dan pekat dibandingkan semula, bahkan lima teman Maung saja tidak bisa melihat apa-apa lagi meski mereka sudah bisa melihat di dalam gelap.
Di dalam kegelapan tersebut, suara pekik jeritan demi jeritan mulai membanjiri telinga. Ratusan musuh yang tengah melayang di atas udara mulai berteriak kesakitan, tanpa satupun yang bisa melihat apa yang sedang terjadi.
Setelah beberapa detik berlalu, Maung kembali mengumpulkan energi miliknya. Kepulan asap merambat dan mengalir menuju satu titik, hingga kembali menjadi bola asap berbentuk bola yang melayang.
"Aku istirahat dulu, Komang ... urus sendiri bagian kamu, ha ha ha ha!" Maung terbahak, dia kembali menjadi wujud macan hitam dan berlari ke arah Darto dan tiga teman lainnya.
Maung benar-benar hebat. Hanya dalam satu serangan saja, dia berhasil menyingkirkan ribuan musuh yang semula memenuhi setiap sisi udara, membuat mereka lenyap secara sempurna, tanpa meninggalkan jejak yang tersisa.
"Kemana mereka semua, Maung?" tanya Jaka keheranan setelah Maung sampai di tempat dimana mereka tengah menonton.
"Kamu memakan semua?" Darto terheran.
"Iya, Dar, kalau bukan karena Kanti, aku tidak akan pernah tahu jika energi milikku bisa menelan segalanya," Maung memasang wajah sumringah.
"Hebat! sekarang tinggal tersisa satu petarung dan satu lawan. Kita lihat kemajuan Komang," jawab Darto kemudian kembali menatap Maung dan Raja yang sedang berhadapan.
Komang sangat terkejut ketika melihat Maung berhasil menyingkirkan ribuan musuh hanya dengan satu serangan. Dia merasa sangat tertantang, dan ingin menunjukkan kebolehan yang dirinya punya pada lima teman yang sedang menonton.
Komang tersenyum lebar kala itu, dia mudur beberapa langkah menjauhi lawannya, kemudian merubah wujudnya menjadi manusia.
"Komang mulai serius, Dar," ucap Maung setelah melihat komang berubah wujud menjadi manusia.
Darto hanya mengangguk sembari menatap Komang yang sudah sepenuhnya menjadi manusia. Komang dan Raja berhadapan, mereka saling menatap sejenak sebelum akhirnya saling memberi serangan.
__ADS_1
Ketika sang Raja menghilang dan memberi serangan tiba-tiba, Komang sama sekali tidak menghindar. Dia justru menghentakkan salah satu kaki ke tanah, kemudian ledakan energi berwarna kuning keemasan menyebar di atas tanah.
Bukan hanya seluruh tanah di ruangan tersebut menjadi berwarna jingga terang, tubuh Komang pun ikut memancarkan cahaya yang sama di setiap sisinya.
Raja yang tersentak seketika menghentikan serangan kejutannya, dan beringsut mundur untuk memastikan keadaan.
Raja yang waspada melakukan apapun yang dia bisa untuk mengatasi segala situasi buruk, namun Komang sama sekali tidak memberikan celah untuk lawannya.
Selama Raja masih menginjak energi Komang, selama itu juga Komang bisa meraih dirinya. Komang bisa berpindah kemanapun yang dia inginkan, bahkan jika dia mau dia bisa membuat dirinya menjadi banyak, selama itu masih di atas energi miliknya.
Raja benar-benar sangat kewalahan, karena Komang terus bercanda dengan cara terus-menerus muncul di depan wajahnya, sembari berkata, "Mau lari kemana?"
Komang terus terbahak melihat Raja yang ketakutan, dia bahkan membuat tujuh duplikat yang berbentuk sama, dan terus memutari Raja sembari melempar ejekan.
Raja yang terpojok memberikan serangan mematikan, dia menghilang dan timbul di udara untuk menimpali Komang yang diam di bawahnya.
Serangan raja benar-benar berhasil, dia menindih Komang dengan tubuh beratnya, namun tubuh Komang hanya menguap dan menyebar bagaikan asap.
"Itu bukan tubuh asliku, ha ha ha ha!" Komang kembali terbahak melihat wajah musuh yang mengira berhasil membunuhnya. Dia benar-benar terus mempermainkan raja, hingga hatinya cukup puas setelahnya.
Setelah cukup bosan mempermainkan sang Raja, Komang menyelam dalam lautan energi yang tersebar di atas tanah tersebut. Dia timbul tepat di depan musuhnya, kemudian memberi satu tonjokan pada wajah musuhnya.
Suara dentuman menggelegar kala itu, sang Raja yang menerima serangan telak dan tidak bisa menahan dampaknya.
Wajahnya sang Raja masih utuh setelah menerima serangan, namun semua bagian tubuh selain kepala miliknya meledak setelah menerima satu tinju yang Komang lancarkan.
Perlahan kepala sang Raja menguap menjadi kepulan asap, sedangkan Komang kembali menyedot energi yang semula dia sebarkan.
Seluruh energi yang menyelimuti tanah mulai merambat, menuju satu arah dimana Komang sedang berjalan dengan santainya.
Komang berjalan dengan senyum di wajahnya, kemudian berkata pada lima teman yang sedang memasang ekspresi tertegun pada wajahnya, "Ayo kita lanjut ... masih ada sembilan kamar yang harus kita urus."
Darto langsung tersenyum, dia berdiri dari duduknya, kemudian menoleh pada lima kawan hebatnya secara bergantian.
Darto tidak berkata sepatah kata pun, dia hanya mengangguk kemudian memulai langkah kakinya.
__ADS_1
Melihat Darto sudah pemimpin jalan, satu persatu dari lima temannya mulai berdiri, mereka mengikuti langkah Darto menuju tempat tujuan, dimana seharusnya mereka kembali.
Bersambung ....