ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
SEBELAS


__ADS_3

Mahluk hitam legam, mirip seperti buto ireng tengah berdiri tepat di depan Darto. Dia terhenyak melihat sudah ada lawan yang sedang berdiri di sampingnya bahkan sebelum dia mendengar langkah kakinya.


"Manusia? Bagaimana caranya kamu masuk ke sini?" tanya Mahluk tersebut.


"Kamu tidak perlu tahu, sekarang tolong, matilah dengan cepat," jawab Darto tanpa basa-basi.


Darto menerjang musuh di depannya menggunakan pedang, dia menebas kepala musuh itu hanya dengan satu ayunan, setelah kakinya menapak seusai berpindah.


Gerakan Darto benar tidak terlihat mata musuhnya, tiba-tiba saja Darto sudah di sampingnya, dan berhasil memisah sebuah kepala dari badan milik musuhnya.


Mahluk yang tengah Darto lawan benar-benar kebingungan, dia bahkan tidak sadar kepala miliknya sudah terpisah, dan dia mati tanpa perlawanan.


Berpindah ke tempat Jaka dan empat temannya, puluhan--ratusan mahluk yang tengah mereka lawan meleleh menjadi lumpur. Pasukan yang semula datang tanpa habis-habisnya kini sudah menyatu dengan lumpur di dalam kubangan.


"Mereka sudah selesai," ucap Jaka singkat sembari mengangkat sudut bibirnya.


"Cepat sekali, HA HA HA HA!" Wajana terbahak.


"Sepertinya tidak butuh waktu lama untuk kita sampai di pintu sepuluh, perkataan Brahmana memang banyak benarnya," timpal Komang dibarengi suara tawa Sastro.


Kembali ke arah Darto. Dia langsung melompat ke atas punggung Maung, kemudian mereka berdua langsung melesat menuju pintu masuk.


Hanya butuh beberapa menit saja, Maung dan Darto pun sampai, dan langsung menemui empat temannya yang sudah menunggu.


"Musuhnya tidak sesulit itu, Jak. Bagaimana kalau kita bagi dua regu saja untuk masing-masing kamar," Darto memberi usul setelah berhasil menemui empat teman lainnya.


"Aku nurut, Kang. Tapi aku ikut Kang Darto," pinta Jaka egois.


"Kamu kuat, Jak. Kita tidak boleh bersama, nanti jadi berat sebelah," Darto menolak mentah-mentah, mengingat kekuatan Jaka bisa menjadi ujung tombak untuk regu yang terpisah dengannya.


Setelah mengucap kata tersebut mereka pun akhirnya setuju. Darto, Maung dan Wajana masuk ke kamar 14, sedangkan Jaka, Komang dan Sastro masuk ke kamar 15.


Darto selalu mengambil satu kamar dibawah Jaka, mengingat Brahmana mengucapkan jika semakin rendah nomor kamar, semakin kuat juga penghuninya.


Dua regu itu langsung masuk ke dalam kamar yang sudah di bahas, Jaka dan dua lainnya masuk tanpa pikir panjang ke dalam nomor 15, begitu juga Darto dan dua lainnya yang langsung masuk ke dalam kamar 14 tanpa basa-basi.

__ADS_1


Dua regu itu langsung membabat habis kedua pemilik kamar dalam hitungan menit. Mereka bahkan keluar tidak sampai satu jam dari ketika mereka masuk ke dalam.


Sungguh informasi yang diberikan oleh Brahmana sangat akurat, dua regu itu tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk mengurus setiap pemilik kamar.


Meski Darto, Maung dan Wajana selesai terlebih dahulu, Mereka tidak langsung masuk ke nomor 12, melainkan menunggu Jaka dan dua lainnya selesai membersihkan bagian mereka.


Ketika Jaka, Komang dan Sastro datang, Darto langsung memberi isyarat agar Jaka masuk ke kamar nomor 13.


Jaka dan dua temannya langsung masuk tanpa bertanya, mereka membuka pintu dengan wajah tanpa keraguan, dan melesat ke tempat yang sudah dijelaskan Brahmana.


Darto dan dua lainnya juga langsung masuk ke dalam kamar nomor 12 setelah jaka masuk ke dalam kamar 13. Mereka juga langsung melesat menuju sarang pemilik kamar, seperti yang Jaka dan dua lainnya sedang lakukan.


Saat ini Jaka keluar terlebih dahulu dari kamar 13, mereka menunggu Darto cukup lama, sebelum akhirnya Darto membuka pintu dengan wajah penuh keringat.


"Bagaimana, Kang? Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Jaka sedikit khawatir.


"Musuh di dalam kamar 12 sepertinya sudah tahu strategi kita, Jak. Mereka tidak melawan di awal, tapi malah berkumpul di sarang pemimpin," Darto menghela nafas, "Jadi mau tidak mau kita harus meratakan mereka semua."


"Kita masih mau pisah?" tanya Maung singkat.


Mendengar perkataan tersebut, lima teman Darto langsung mengangguk, kemudian berjalan menuju pintu kamar nomor 11.


Setelah Darto membuka pintu kamar tersebut, enam lelaki itu langsung masuk tanpa rasa ragu di dalam hati mereka.


Enam lelaki itu terus berlari menuju pusat padang ilalang, dengan cara berlari lurus secepat yang bisa dilakukan oleh kaki mereka.


Mereka benar-benar saling berlari secara beriring-iringan. Jika dilihat dari atas kepala, mereka bagai sebuah batu yang menggelinding, membelah satu ladang yang dipenuhi rimbun pohon ilalang.


Setiap tempat yang dilalui enam lelaki itu langsung meninggalkan jejak, jejak sebuah garis lurus yang dapat dilihat dari atas, karena ilalang yang mereka injak langsung rubuh terinjak enam pasang kaki lelaki tersebut.


Tidak lama setelah mereka melesat, akhirnya enam lelaki itu sampai pada tempat tujuan mereka.


Sebuah padang rumput yang sudah menguning terhampar begitu luas di depan mata.


Jika dilihat dari atas, tempat itu tampak seperti sebuah lapangan kuning yang begitu luas, yang dilindungi sebuah pagar yang melingkar. Pagar yang terbuat dari pohon ilalang, yang tumbuh memutari lapangan tersebut secara sempurna.

__ADS_1


Sungguh itu adalah sebuah tempat yang sama persis, dengan apa yang sudah Brahmana sebutkan.


Dari kejauhan tampak jelas sebuah batu hitam dengan ukuran diluar nalar, berdiri dengan gagah tepat di tengah padang rumput yang layu.


Melihat tempat tujuannya sudah menanti, empat lelaki kembali berlari setelah saling memandang.


Darto diatas punggung Maung, dan Jaka diatas punggung Komang langsung melesat tanpa ragu-ragu.


Mereka berempat meninggalkan Sastro dan Wajana yang tengah duduk bersila, tepat di samping pagar ilalang. Sastro dan Wajana tidak menerjang maju, melainkan fokus bersemedi sembari menyebarkan energi mereka di udara.


"Jak! Bakar akar itu!" ucap Darto ketika hampir sampai pada batu besar.


"Siap, Kang!" sahut Jaka sembari menciptakan bola api di atas telapak tangannya.


Jaka menciptakan bola api yang cukup besar kala itu, kemudian melemparkannya ke arah batu.


Akar rimbun yang melilit batu raksasa benar-benar langsung terbakar setelah menyentuh energi jaka, bahkan kobaran api merambat begitu cepat setelah sebagian kecilnya terbakar.


"Bagus! Sekarang tidak ada yang bisa mengganggu pertarungan. Kalian tunggu saja di depan, Jak. Bantu Sastro dan Wajana jika mereka kerepotan." ucap Darto setelah melihat akar yang melilit batu besar sudah terbakar.


Jaka dan Komang langsung mengangguk, kemudian menghentikan langkah larinya. Jaka dan Komang berjaga tepat di depan batu, ketika Darto dan Maung melesat masuk ke dalam celah di bawah batu.


Celah di bawah batu tersebut memiliki ukuran yang sangat lebar, ukuran yang bahkan akan cukup, jika dimasuki oleh enam pria secara sekaligus.


Setelah Darto masuk ke dalam celah, tampak sekali langit-langit yang semula begitu cerah mulai menjadi keruh.


Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul dan melambung dari dalam pagar ilalang yang mengelilingi tanah tersebut.


Bersamaan dengan hal tersebut, suara bising yang memekakkan telinga juga hadir, empat lelaki yang sedang berjaga benar-benar merasakan sedikit pusing setelah mendengar kegaduhan tersebut


Tepat setelah Darto dan Maung masuk menuju celah, sebuah koloni yang terdiri dari ribuan--jutaan belalang benar-benar memenuhi langit di atas kepala Jaka, Komang, Sastro dan Maung.


mereka bergerombol hingga seakan memenuhi setiap sudut langit, dan menghalangi cahaya hampir secara sempurna.


Tempat yang semula sangat terang, kini benar-benar terlihat begitu gelap setelah koloni itu datang. Jumlahnya bukan main-main, dengan jumlah tersebut mereka pasti bisa membinasakan sebuah kota hanya dalam hitungan detik saja.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2