
"Sekarang aku bisa melihatmu manusia! Serahkan tubuhmu, aku berjanji akan memberikan apapun yang kamu inginkan," ucap Iblis sembari menatap Darto yang masih berlindung di dalam kubah hijau miliknya.
"Ha ha ha ha! Lawak kau iblis! kamu saja pengen jadi manusia, tapi sampai sekarang belum bisa. Bagaimana cara kamu mewujudkan semua keinginanku?" Darto terbahak sembari memegangi perut.
Melihat Darto yang terbahak dengan wajah yang sangat menghina, Iblis tersebut kembali melancarkan serangan tepat ke arah Darto.
Dia hanya mengibaskan satu lengan miliknya, kemudian cipratan darah segar menyebar dari telapak tangannya.
Benda apapun yang terkena darah tersebut seketika meleleh, dengan sebuah sap yang mengepul di tengah prosesnya.
Hal itu juga berlaku untuk perisai energi milik Darto, perisai kokoh yang sebelumnya tak tertembus mulai berlubang, di setiap tempat yang terkena noda darah.
"Kalau kau tidak mau, aku cukup memaksamu saja," ucap sang iblis kembali, kali ini dia mengayun lengan yang satunya, kemudian satu bongkahan batu yang sangat besar tiba-tiba hadir di atas kepala Darto.
"Aku pernah menghadapi serangan ini... Dulu kamu menyerang kami dengan bongkahan batu yang jatuh dari langit, tapi aku yang dulu belum sekuat sekarang, bahkan bisa mengatasinya," Darto terkekeh, sembari berpindah ke atas batu yang tengah melesat ke bawah.
Darto menatap musuhnya dari atas pijakannya, kemudian menciptakan satu panah chandrabha, dengan warna yang sepenuhnya berbeda.
Sebuah busur panah yang berwarna hitam legam, dengan anak panah yang tidak kalah gelapnya sedang Darto tarik dari tempatnya berdiri.
Tanpa pikir panjang Darto melepas anak panahnya, dan anak panah tersebut melesat menuju tempat dimana musuhnya berdiri.
Sesaat sebelum anak panah hitam menyentuh sang iblis, Darto memindahkan bola energi berwarna putih di depan musuhnya.
Anak panah yang melesat ke arah sang iblis dengan sangat cepat, benar-benar berbenturan dengan energi yang baru saja Darto pindahkan.
Satu ledakan dahsyat kembali terjadi kala itu, dua energi milik Darto dan milik Ki Guntur benar-benar berlawanan, sehingga setelah mereka berbentrokan, ledakannya lebih dahsyat dari gabungan serangan yang pernah dirinya dan Jaka lakukan dulu kala.
Ruang merah yang tengah mengurung dua petarung seketika sirna, ketika dua energi tersebut meledak di depan wajah sang iblis.
Tidak hanya itu saja, Sang iblis juga menerima dampak yang cukup besar dari benturan energi tersebut. Dia kehilangan satu lengan dan satu kakinya, namun dia bisa menumbuhkan lengan dan kaki baru dalam hitungan detik saja.
__ADS_1
"Kau kira dengan serangan itu kamu bisa mengalahkan diriku, manusia?!" Iblis terkekeh, sembari mengangkat lengan yang baru saja sembuh dan kembali memiliki bentuk utuhnya, "Setiap kali kamu membunuhku, hanya satu jiwa yang hilang dari dalam diriku, ha ha ha!" sambungnya terbahak.
"Jadi? Aku hanya perlu membunuhmu sebanyak jiwa yang pernah kamu makan, kan?" Darto melompat dari atas batu kemudian berpindah ke depan musuhnya.
Mereka kembali mengadu energi yang sudah berbentuk pedang di tangan masing-masing. Dentuman demi dentuman benar-benar terdengar di berbagai tempat, entah itu di dalam kamar nomor satu, maupun di tempat pertarungan dimana prajurit yang pernah Sastro dan Wajana bawa, sedang melawan musuh hitam yang tiada henti terus muncul di dalam kampung tulang.
Semua yang berada di dalam alas getih mampu merasakan tekanan yang dipancarkan oleh sang iblis dan Darto. Mereka semua merasa sangat sesak, dan akan membutuhkan banyak usaha meski hanya untuk berjalan saja.
Darto benar-benar tidak lelah terus mengayun pedang miliknya, musuhnya juga sudah lebih dari seratus kali mengalami kematian, namun dia selalu sembuh dalam waktu yang bersamaan.
Iblis yang cukup kesal mulai mengintip setiap kenangan yang Darto miliki, dia ingin melihat sesuatu yang Darto takuti. Namun sampai berkali-kali dia mencoba mencari tahu, Iblis tersebut tidak menemukan jawaban yang dirinya inginkan.
"Hei manusia! Apa kau yakin tidak takut dengan apapun?" tanya Iblis sembari terus menahan serangan yang Darto berikan.
"Dulu aku sangat takut kehilangan apapun yang berharga untukku, entah itu keluarga, teman, ataupun semua benda berhargaku," Darto menghentikan serangan kemudian menatap tajam ke arah sang iblis, "Sekarang aku sadar sepenuhnya... Aku bahkan tetap tidak akan takut untuk menghadapi dirimu, meskipun kamu merupakan wujud dari kematian," sambung Darto sembari membulatkan bola matanya.
Melihat tatapan yang Darto pancarkan, tubuh sang Iblis mulai bergidik, dia gemetar hanya karena mendengar ucapan dari manusia, yang selalu dirinya jadikan santapan.
"Kamu perlu tahu... Aku hanya perlu melakukan yang terbaik untuk semua yang sudah DIA rencanakan. Kalau memang aku mati di tengah jalan, berarti memang sampai segitu saja takdir yang harus aku tuntaskan," ucap Darto masih dengan mata membulat.
Darto memasang ekspresi yang begitu tenang, dan juga tidak menunjukkan satupun keraguan yang terpancar dari sorot matanya.
Saat Darto sudah cukup dekat dengan lawannya, dia kembali membuka suara yang berbunyi, "Aku tahu kamu bisa meniru wujud dari apa yang lawanmu takuti. Tapi bisakah kamu meniru bentuk dari satu-satunya Dzat, yang selama ini aku sembah?"
Mendengar pertanyaan tersebut, sang iblis menyerang Darto karena tidak memiliki jawaban, dia menciptakan sebuah tombak berwarna merah, kemudian menusuk Darto tepat dari depan wajahnya.
Darto mampu menghindari serangan tersebut dengan mudah, dia justru membalikkan serangan musuh, dengan cara sedikit menghindar sembari mengayun pedang di tangannya.
Sang iblis terus menerus memberondong serangan sembari menyembuhkan diri, karena dia terus mendapat serangan balasan yang selalu telak menusuk bagian inti di dalam tubuhnya.
Darto sungguh sangat berbeda, baik dari tatapan, maupun semua gerakan yang dirinya lakukan sudah sepenuhnya tidak memiliki cela.
__ADS_1
Darto benar-benar paham dengan harapan yang sesepuhnya berikan, mereka berharap pada Darto karena mereka bisa melihat keyakinan yang dipancarkan pada mata Darto.
Mereka juga mengira jika Jaka bisa menjadi kunci, agar semua temannya bisa membantu tanpa mengikuti pertarungan.
Bayangkan saja jika enam sahabat itu bertarung bersamaan melawan satu mahluk yang merupakan wujud dari keraguan.
Iblis tersebut bisa berubah menjadi enam ketakutan, yang mungkin akan memakan keyakinan dari enam lawannya.
Jadi saat ini adalah saat dimana takdir ikut berperan. Seseorang manusia yang memiliki ketabahan yang sangat besar kepada sang pencipta, menyelamatkan dirinya dari marabahaya yang mungkin bisa mengakhiri kisahnya.
Semua perjalanan yang pernah Darto lalui selalu memberikan gambaran yang cukup jelas. Ketika dia menghindari musibah yang mungkin mengincar keluarganya, dia harus kehilangan teman-teman yang dirinya cintai.
Bahkan ketika dia berhasil mencegah tragedi yang akan keluarganya alami, tetap saja saat ini mereka sudah berpulang dan menghadap kepada sosok mutlak yang menciptakan segalanya.
Sejauh ini, perjalanan panjang yang sudah dirinya tempuh, membuatnya lebih dan lebih baik lagi. Bukan tentang seberapa kuat dirinya berkembang, melainkan seberapa percaya dirinya dengan rencana yang sudah disiapkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dia tidak lagi memiliki keinginan yang besar, dan juga tidak memiliki ketakutan yang mengganggu pikirannya. Yang dia tahu, dia hanya harus menjalani apa yang sudah menjadi garis takdir, yang sudah tertulis bahkan sebelum dirinya dilahirkan.
Keyakinan tersebut yang mampu menyelamatkan Darto dari sosok paling berbahaya di dunia.
Sosok yang mampu mengubah kemantapan hati manusia, dengan iming-iming akan memenuhi setiap keinginan dari ketamakan hati manusia.
Namun semua itu belum cukup, iblis yang mengintip lebih dalam ke dalam hati miliknya mulai menemukan sebuah kelemahan.
Dia membelah diri dan berubah menjadi dua sosok yang sangat Darto rindukan, yang tidak lain merupakan istri dan satu penerusnya.
Iblis tersebut berubah menjadi Harti dan Dava, sembari berkata, "Jika tubuh ini terluka, maka tubuh asli di dunia sana juga akan ikut merasakannya."
Darto mulai memasang wajah sayu, dia membiarkan Dava dan Harti mendekat, kemudian menerima serangan telak pada tubuhnya.
Darto lebih memilih terluka, dia tidak ingin mengambil resiko melukai keluarga akibat pertarungannya, meski sebenarnya dia tahu, jika ucapan sang iblis sebenarnya hanyalah tipu muslihat.
__ADS_1
Hari ini, Darto benar-benar terluka, dia membiarkan dua bilah pedang energi menembus perutnya, hingga ujung bilahnya menyembul keluar dari punggungnya.
Bersambung....