
Melihat musuh utamanya kian mendekat, Darto langsung menciptakan pedang energi yang berjumlah begitu banyak di atas udara. Dia memadatkan pedang demi pedang yang tengah melayang tersebut, kemudian melepaskan semuanya secara serentak ke arah danau.
Puluhan buaya seketika langsung mengambang dengan perut menghadap ke atas, kemudian menguap dan meleleh setelah terkena serangan yang Darto kerahkan.
Jaka juga melakukan hal yang sama, dia membakar seluruh tempat selain tanah yang tengah mereka pijak. Dia membentengi dirinya berserta lima temannya menggunakan pagar api, dan hal itu benar-benar membuat buaya yang semula datang secara terus-menerus menjadi terhenti.
Untuk melindungi dari mengamuknya energi milik Jaka, Sastro membalut setiap tubuh dari enam pria dengan energi miliknya. Darto dan lima temannya benar-benar tidak merasakan sedikitpun rasa panas, meski mereka tengah berdiri di tengah kobaran api.
Komang hanya bisa menonton kala itu, mengingat dirinya hanya bisa memberi serangan jarak dekat, dan teknik andalannya hanya bisa digunakan jika musuh miliknya berada di atas tanah.
Melihat musuhnya terhenti, Wajana langsung duduk bersila. Dia memusatkan energi miliknya untuk menyelimuti setiap tempat yang tidak bisa dijamah oleh api milik Jaka.
Maung juga sama, dia dan Komang hanya bisa mendampingi Darto yang masih terus menciptakan pedang terbang dan terus melemparnya ke arah danau.
Perlahan ratusan pasang mata yang terus mengamati mulai tidak terlihat lagi, yang ada hanya sepasang mata merah yang begitu besar masih terus menunggu di daerah tepi.
Darto dan lima temannya benar-benar bagai berdiri di tengah tembok berlapis, hingga serangan musuhnya sama sekali tidak bisa melukai mereka.
Namun sayangnya pertahanan itu tidak berlangsung selamanya. Buaya yang paling besar hanya perlu mengibaskan ekor besar miliknya di dalam air, dan cipratan besar langsung tercipta kala itu juga.
Cipratan air yang begitu banyak langsung mengguyur kobaran api yang Jaka ciptakan dan tidak lama kemudian puluhan buaya kembali muncul dari dalam danau.
Mereka merangkak mendekati enam pria tersebut, namun langkah kaki mereka kembali terhenti bahkan sebelum sampai di tempat tujuan mereka.
"Ini tidak akan bertahan lama, Dar," ucap Wajana sembari melihat energi yang sudah dia sebarkan.
Langkah buaya terhenti bukan karena tanpa alasan. Mereka memang mati setelah menginjak energi milik Wajana, dikarenakan energi yang Wajana miliki benar-benar mengandung racun yang mematikan.
"Tidak apa-apa. Sekarang saya sudah siap. Sepertinya sudah lebih dari separuh lawan yang berhasil saya tandai," jawab Darto sembari mengangguk.
Melihat anggukan kepala Darto, semua temannya langsung menyebar kala itu. Kempat pria menahan serangan demi serangan pada empat titik yang berbeda, untuk memberi jalan pada Darto dan Jaka yang sudah hilang dari tempat semula.
__ADS_1
Ratusan musuh benar-benar tidak menyadari apa yang sedang Darto dan Jaka rencanakan, mereka terus menyerang empat pria yang lainnya, tanpa mengetahui jika Darto dan Jaka sudah berpindah di atas udara.
Darto dan Jaka menggunakan tehnik lempit dan berpindah ke atas buaya paling besar, sebelum akhirnya mereka menggabungkan dua serangan secara bersamaan.
Sebelumnya Darto melempar puluhan pedang bukanlah tanpa tujuan, dia sengaja melempar begitu banyak pedang meskipun musuhnya tidak terkena.
Darto menganggap musuh yang mati setelah terkena pedang adalah bonus, karena rencana sesungguhnya yang dia siapkan bukanlah hal tersebut.
Pedang demi pedang energi yang tidak mengenai musuh di dalam danau seketika meleleh. Kumpulan energi padat milik Darto melebur di dalam air, dan Jaka merupakan alah satu kunci yang bisa membuat serangan besar setelahnya.
Di atas udara Darto menciptakan panah chandrabha, kemudian dia meminta Jaka untuk memegang setiap ujung dari anak panah yang baru saja selesai dia ciptakan.
Kali ini bukan hanya sekedar anak panah biasa yang akan Darto lepaskan, dia melepas anak panah yang sudah terbakar di setiap ujungnya.
Hanya dalam satu tarikan, Darto menarik lima anak panah sekaligus. Dia melepas tanpa berkedip, dan anak panah api miliknya menyebar menuju lima titik yang sudah Darto perkirakan.
BOOM!
Suara ledakan kembali mendenging, cipratan air di lima tempat yang berbeda benar-benar menyatu, hingga menciptakan satu gelombang ombak yang cukup tinggi.
Maung dan Komang langsung berubah menjadi harimau, mereka melompat setinggi yang mereka bisa, kemudian menangkap Darto dan Jaka yang tengah terpental ke arah tepi.
Tepat setelah Maung dan Komang memegangi Darto dan Jaka menggunakan rahang mereka. Sastro dan Wajana juga langsung berpindah ke pundak Maung dan Komang. Mereka kembali menjadi dua kelompok, kemudian berlari menuju ke arah yang sama.
Maung dan Komang benar-benar berlari sekuat tenaga, mereka menjauh dari danau, karena ombak yang tercipta dari dampak serangan Darto dan Jaka sangatlah tinggi bagaikan tsunami.
Setelah cukup lama berlari, mereka akhirnya bisa menghindari luapan air danau tersebut. Mereka berhasil sampai di tengah hutan dengan beberapa mahluk penghuni danau yang ikut terseret ke tempat mereka.
Melihat salah satu lawan kebingungan karena tidak memiliki tempat bersembunyi, Darto langsung turun dari punggung Maung dan berkata, "Lihat ini... sepertinya ada ikan yang lupa perairan."
Mendengar peribahasa yang Darto lontarkan, lima temannya seketika terbahak. Mereka merasa lucu dengan itu, hingga Maung berkata, "Yang benar lupa daratan, Dar... ha ha ha!"
__ADS_1
"Memang ada? ikan darat?" Jaka menimpali dengan ekspresi wajah miliknya yang selalu terlihat polos.
Mendengar pertanyaan itu, mereka kembali terbahak, begitu juga Darto dia benar-benar terbahak meski buaya dengan ukuran luar biasa sedang berhadapan dengan dirinya.
Buaya raksasa itu benar-benar geram, dia berlari secepat yang dia bisa, menuju tempat dimana Darto sedang berdiri.
Dia mengabaikan setiap bagian tubuh miliknya yang sudah terluka, yang dia tahu hanya terus berlari dan terus mendekat agar bisa menerkam lawan yang sedang menertawakannya.
Lima teman Darto bahkan tidak bergerak kala itu, mereka hanya mengamati Darto yang masih terus terbahak dan tidak melakukan apa-apa.
Pohon demi pohon benar-benar ambruk setelah tertabrak buaya yang sedang mengamuk tersebut. Dia terus maju dan terus mendekat pada Darto, namun suatu hal terjadi ketika ujung rahang miliknya hampir menyentuh lawannya.
"Sekarang kita kembali... Masih ada enam pintu lagi yang harus kita buka," ucap Darto setelah menjentikkan tangannya.
Tepat ketika Darto mengucap kata tersebut, perut buaya yang tengah berlari ke arahnya benar-benar meledak. Bagian tubuh atas dan ekor milik musuhnya langsung terpisah, hingga buaya raksasa itu langsung terbelah bahkan sebelum dirinya menyadari.
Mendengar ucapan Darto, lima temannya langsung berdiri, mereka siap untuk kembali, namun Darto justru malah ambruk dan tidur telentang sembari terkekeh pelan.
"Kamu tidak apa-apa, Kang?" tanya Jaka sembari mendekat pada Darto dengan wajah khawatir.
"Khawatirkan diri kalian saja dulu. Coba lihat wajah teman di samping kalian," sahut Darto masih sambil tidur telentang.
Lima teman Darto langsung saling memandang satu sama lain, mereka langsung terkekeh setelah saling bertatap, kemudian ikut ambruk di sekitar Darto.
Enam pria itu benar-benar sudah memiliki wajah yang kusam dan juga pucat, mereka terus menerus bertarung tanpa istirahat, sejak keluar dari lantai sepuluh yang menjadi tempat pelatihan mereka.
Dalam rasa lelah enam pria itu mulai memejamkan mata mereka, di tengah antah-berantah yang belum pernah mereka kunjungi.
Tidak ada rasa takut maupun sedikit saja rasa was-was di dalam hati mereka, yang ada hanya rasa lelah dan juga sedikit harapan agar bisa cepat menyelesaikan semuanya.
Hari ini... pemilik kamar nomor tujuh yang sangat merepotkan, akhirnya ikut berbaring di sekitar Darto dan lima temannya.
__ADS_1
Musuh yang tak bernyawa, menemani enam pria yang yang tengah terlelap begitu pulas seperti orang mati.
Bersambung....