
Setelah mendengar jawaban cucunya, dengan sedikit ragu Si Mbah mulai bercerita.
"Begini, Dar?! mungkin akan sedikit sudah untuk di percaya. Tapi apapun yang saya katakan itu semua yang aku tau dan aku alami sendiri," ucap Si Mbah Turahmin mencoba meyakinkan Darto di depannya.
Mendengar ucapan itu, Darto hanya mengangguk dengan pandangan lurus dan tatapan yakin yang terpancar dari matanya.
"Simbah enggak tau, Dar. Kebenaran dari usia wanita tua yang menyuruh dedemit ini," ketusnya sembari menunjuk wajah mahluk halus yang sudah tidak berdaya di depannya.
"Tapi dia juga yang membantu Ibuku melahirkan diriku. Dan sama denganmu, Ibu alias Nenek Buyutmu langsung meninggal seusai melahirkanku," Sambungnya kembali, wajahnya menunduk, pandangannya terbanting ke arah tanah.
"Mbah tau dari mana?" Tanya Darto masih dengan wajah tidak percaya.
"Mbah tau langsung dari orangnya, Dar. Dia sendiri yang cerita setelah memetik jiwa Ibumu," pandangannya terangkat kembali, tampak mata yang sudah di penuhi genangan di wajahnya.
"Maksud Si Mbah?" Darto semakin tersentak mendengar itu.
"Bukan cuma Buyut, Dar. Istriku, Ibumu juga jadi korban ilmu yang dia anut, Dar,"
Seperri terbentur sebuah benda keras, kata-kata Mbah Turahmin menghujam jantung Darto saat itu juga. Kakung juga menunduk kali ini, dia teringat dengan putri semata wayangnya yang juga menjadi korban kebiadaban wanita itu.
"Tapi bagaimana caranya dia membunuh? Dan Kenapa Mbah tidak mencegah?" Darto memampangkan wajah yang sudah tersulut emosi.
"Bagaimana Caranya, Dar? Simbah tidak tau wajahnya ketika Simbah dilahirkan. Ditambah pas Istri Simbah melahirkan ayahmu, Simbah sedang di ladang. Dan pas sampai rumah Ayahmu sudah berada di pelukan Istriku yang sudah meninggal. Simbah tidak melihat siapa yang membantu kelahiran Bapakmu," ucap Simbah, kembali tangannya mengepal dan pandangannya tertunduk.
Melihat ekspresi Mbah Turahmin, Kakung mengulurkan tangannya kemudian mengelus pelan punggung Mbah Turahmin.
__ADS_1
Setelah sempat menoleh ke arah Kakung, Si Mbah Turahmin kembali melanjutkan ceritanya.
"Dar, Dia orang yang sudah hidup ratusan tahun. Dia punya ilmu awet muda, tapi sebagai gantinya dia mengambil usia korbannya, dan kita adalah targetnya," ucap Simbah kembali menunduk.
"Maksud Simbah dia yang bunuh Ibu, Nenek, Jan juga Buyut kan? tapi bagaimana caranya?" Darto masih tidak percaya.
"Kamu tau Dar? perjanjian itu bisa di ucap secara lisan, kamu juga pasti tau jika meminta pertolongan dukun beranak tidaklah gratis. Dia memainkan kata yang keluar dari bibirnya sebelum membantu melahirkan korbannya," Simbah kembali mendongak.
"Memainkan Kata bagaimana Min?!" Kakung membuka suara, wajah Kakung juga tampak terkejut dengan kalimat yang baru dia dengarkan.
"Sebelum membantu persalinan, dia sudah bertanya terlebih dahulu, Mat, dia bilang kalau ada biaya yang harus di bayar. Aku sadar pas anakmu yang jadi korban, soalnya aku dengar percakapan mereka. Maaf, Mat, aku belum cerita, aku takut kamu menyalahkan diriku atas kematian putrimu,"
Mendengar jawaban itu, Kakung langsung meneteskan air yang mengucur dari kantung matanya. Begitu juga Mbah Turahmin, dia sudah tidak bisa lagi membendung rasa sedihnya.
"Kita ndak tau apa-apa, Mat, karena aku kira dia minta imbalan uang, tapi ternyata imbalan yang dia maksud bukanlah materi. Dia selalu memberi pilihan kepada korban ketika usai membantu persalinan," ucapan Simbah terhenti. Sesekali dia mengusap air mata yang sudah membasahi sebagian pipi.
"Dia bertanya begini. Pilihlah! siapa yang akan di jadikan imbalan. Aku tidak akan menolak meskipun kamu yang menjadi bayaran, tapi aku benar-benar menginginkan usia putra yang baru saja kau lahirkan. Aku mendengar itu dari depan pintu, Dar. Dan pas pintu aku buka, Ibumu sudah meninggal, dan dadamu sudah terluka," Mata Si Mbah membulat nafasnya memburu.
"Dari situ bisa aku simpulkan, Dar. wanita itu mengancam ingin membunuhmu di depan Ibumu, dengan cara menaruh kukunya di dadamu, dan Ibumu yang ketakutan pasti memilih agar anaknya tetap hidup. Ini Dar, kamu belum pernah lihat, kan?" ucap si Mbah, kemudian membuka kancing baju lorek yang ia kenakan. Dia mencoba memperlihatkan luka di dadanya yang sama persis dengan luka yang bersarang di dada Darto.
"Kita sama-sama di ancam akan di bunuh di depan Ibu kita, Dar. Dia menjadikan jiwa manusia sebagai imbalan atas bantuan persalinan,"
Mendengar ucapan Mbah turahmin, Darto hanya bisa menunduk. Dia menangis sembari terus mengepalkan kedua tangan, hatinya perih bagai tertusuk ribuan jarum. Hingga setiap dia menghirup nafas, rasa sesak selalu mengiringi udara yang masuk kedalam dadanya.
"Jawab Aku! Dimana wanita biadab itu!" teriak Darto kepada sosok nenek di depannya, sembari menghunus keris yang tiba-tiba sudah muncul di barengi cahaya merah yang keluar dari cincin di tangannya.
__ADS_1
"Ampun! Akan saya beri tahu semuanya," Sosok itu menangis, membungkuk bahkan sampai bersujud setelah melihat keris yang Darto tempelkan di lehernya.
"Cepat katakan!" kembali Darto berteriak. Wajah Darto sangat merah, semerah mata yang tengah menangis di wajahnya itu.
"I-iya, ta tapi..," jawab mahluk itu terbata, matanya menyapu sekeliling kamar Mbah Turahmin, memastikan tidak ada mahluk lain di dalamnya.
"Sudah, katakan saja. Disini tidak ada yang bisa mendengar ucapan kita," Timpal Mbah Turahmin mencoba meyakinkan.
"Nyai Gending tinggal di kedung kahar, Ki," jawab sosok itu bergetar, Bibir dan sekujur tubuhnya gemetar, matanya terus menyapu seluruh ruangan, dia benar-benar ketakutan.
"Dimana itu?" Kakung membuka suara kembali.
"Di kaki gunung kecubung, Ki. Tapi, Ki, tolong jangan kasih tahu jika saya yang memberi tahu kalian. Saya masih ingin hidup, Ki," ucapnya kembali, masih dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Nanti kamu ikut saja sama saya, jika kamu mau mengakui tuhan yang sama, akan aku jamin keselamatanmu di rumah saya," Kakung menatap mahluk itu dengan tatapan tajam.
"Sa saya siap, Ki. Asal tidak dijadikan tambahan usia wanita itu, aku mau melakukan apapun, Ki,"
Mendengar jawaban dari mahluk itu. Tangan Kakung meraih tangan Darto yang masih menempelkan keris di tubuh mahluk itu, dan meminta Darto untuk menjauhkan benda itu.
"Sudah, Dar. Dia hanya disuruh, dia hanya takut jika menolak, lebih baik kita juga selamatkan dia dari ancaman nenek peot yang namanya tidak sesuai dengan wajahnya itu," ucap Kakung mencoba menenangkan Darto.
"Njih Kung, maaf Darto masih terlalu mudah tersulut emosi," Darto menunduk kemudian memasukkan keris hitam itu kembali kedalam cincin merahnya.
"Nak, bukan maksud saya merendahkan, sebagai ucapan terimakasih untuk tidak membunuhku, aku hanya ingin mengingatkan. Kamu masih terlalu lemah, di samping Nyai Gending sangat kuat, muridnya banyak sekali. Pocong merah dan buto ireng pemilik rawa selalu mengikuti kalian itu atas perintahnya. Kalian keluarga yang paling dia sukai, ada Darah keturunan orang hebat mengalir di dalam nadi kalian. Baginya jiwa keturunan kalian sangatlah berharga, dan tidak bisa di jelaskan secara materi,"
__ADS_1
Setelah mengucap kalimat panjang itu. Tanpa menunggu jawaban Darto, sosok Nenek tua itu berubah menjadi sebuah batu akik berwarna hitam, dan bergegas Kakung mengantongi batu tersebut kedalam saku bajunya. Tampak rasa sedih belum kunjung mereda di wajah mereka bertiga. Namun Di dalam hati mereka benar-benar bersyukur bisa mendapat sebuah titik terang dari masalah panjang yang mereka alami. Dan dari hari itu, Darto sudah memutuskan sebuah tujuan yang pasti, untuk membinasakan musuh yang sudah merenggut nyawa keluarganya.
Bersambung,-