
"Bagaimana ini, Kang? apa kita akan berpencar?" Jaka bertanya sembari menatap tujuh mulut goa secara bergantian.
"Jangan! kalau kita berpencar, mungkin mereka bisa mengalahkan kita dengan jumlah," jawab Darto.
"Lalu bagaimana cara kita ke sarang pemilik kamar, Dar? sedangkan Brahmana saja tidak tahu, tentang jalan yang harus kita pilih," Maung membuka suara.
"Kalian tolong jaga tubuhku, aku punya rencana," Darto menjawab dengan tatapan serius.
Mendengar pertanyaan itu, Jaka, Sastro, Wajana, Komang dan Maung langsung mengangguk secara serentak. Mereka menyanggupi apapun yang Darto minta sebelum akhirnya mengitari Darto yang mulai duduk di atas tanah.
Darto memasang posisi duduk bersila, dia memejamkan mata, kemudian melakukan apa yang pernah Brahmana lakukan di dalam kamarnya.
Sesaat setelah Darto melakukan semedi, energi milik Darto mulai memendar dari tubuhnya.
Layaknya sebuah kabut, udara berwarna putih terus menguap dari tubuh Darto, energi miliknya menyebar melalui udara, hingga memenuhi segala sisi kamar tersebut.
Tidak ada yang luput dari pengedaran energi Darto, baik tujuh mulut goa di depan mereka, maupun tempat di dalamnya.
Setelah energi Darto menyebar secara merata, Darto membuka mata miliknya kemudian meminta sesuatu kepada temannya, "Tolong keluar dulu dari kamar ini, mungkin ini juga bisa menyakiti kalian jika kalian masih ada di dalam kamar ini."
"Aku di sini saja, Kang," jaka menolak.
Mendengar Jaka menolak, empat teman yang lain juga ikut menyuarakan penolakan mereka. Lima teman Darto memilih untuk diam, dan tidak meninggalkan tempat yang tengah mereka pijak.
"Kalian yakin?" tanya Darto memastikan.
Lima teman Darto serentak mengangguk, sedangkan Darto sedikit terkekeh kemudian kembali duduk dan memejamkan kedua mata miliknya.
Darto benar-benar tidak bergeming, dia hanya duduk diam sembari terus berdzikir menggunakan mulutnya.
Sesaat tidak terjadi apa-apa, namun setelah cukup lama Darto duduk, akhirnya suatu hal terjadi di dalam kamar tersebut
Darto kembali menyebarkan energi miliknya, namun kali ini energinya langsung menyebar dengan kecepatan yang gila, hanya dalam waktu satu kali tarikan nafas saja
__ADS_1
Jaka, Maung, Komang, Sastro dan Wajana mulai merasa jika tubuh mereka menjadi berat, seakan-akan ada batu besar yang tengah mereka pikul di pundaknya. Nafas mereka tercekik, dan kaki merek menjadi lemas secara tiba-tiba.
Lima teman Darto kembali melakukan apa yang pernah mereka lakukan ketika masuk ke dalam kamar Brahmana, mereka langsung duduk bersila, kemudian memendarkan energi untuk melapisi tubuh mereka.
Setelah lima teman Darto berhasil membalut tubuh mereka dengan energi secara sempurna, akhirnya mereka bisa berdiri dengan bebas setelahnya.
"Ini kekuatan Darto? Sungguh tekanan miliknya lebih hebat dari milik Brahmana," Maung terheran setelah merasakan tekanan dari energi milik temannya.
"Kalian hanya belum tahu saja ... Dia memikul begitu banyak beban dalam hidupnya, dia bahkan ditakdirkan untuk menuntaskan penderitaan yang sudah dirasakan bahkan oleh leluhurnya. Tapi imbalannya Darto benar-benar mendapatkan apa yang sudah mereka kumpulkan di kehidupan lalu," jawab Sastro dengan senyum lebar.
Sastro benar-benar mengingat saat masih bersama Darsa, dia bahkan bergidik hanya dengan energi yang Darsa miliki, belum lagi Darma sang ayah Darsa, bahkan Sastro tidak bisa menemukan cara untuk menyentuhnya.
Begitu juga Wajana, dia juga menyaksikan apa yang Sastro saksikan, jadi Wajana dan Sastro benar-benar tidak keheranan setelah melihat energi milik Darto, karena energi yang ada di dalam tubuh mungilnya, merupakan semua kumpulan energi, dari pendahulunya.
"Saya tahu kalau Kang Darto itu kuat, itulah sebabnya aku selalu percaya dengan keputusannya," Jaka tersenyum lebar.
Maung dan Komang hanya bisa menelan ludah yang tercekat, karena ini kali pertama mereka melihat energi Darto yang tengah menggila di seluruh ruangan.
Suara bisik yang semula bising saling memanggil, kini suara tersebut berubah menjadi suara pekik kesakitan yang terdengar begitu lantang.
Ribuan, bahkan jutaan musuh yang semula memanggil dari dalam kegelapan, kini tengah terpaku di tempat mereka berdiri. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk bernafas saja mereka membutuhkan ribuan usaha.
Setelah cukup lama, suara teriakkan yang semula berhasil membuat telinga enam pria berdengung, perlahan mulai surut. Satu persatu suara menghilang, hingga akhirnya suasana menjadi begitu sunyi.
Tidak ada bisikan-bisikan lagi, ataupun suara teriakkan lagi. Suasana benar-benar berubah Drastis, menjadi begitu hening layak ya tengah berdiri di dalam ruangan kedap suara.
"Alhamdulillah ... ternyata tidak sesulit yang saya duga," ucap Darto setelah membuka mata.
Lima temannya masih gemetar dalam bungkam setelah melihat aksi Darto, mereka bahkan masih melapisi tubuh dengan energi milik masing-masing, karena mereka tidak tahu apakan energi milik Darto masih ada di udara maupun tidak.
"Kalian takut? HA HA HA HA! aku kan sudah bilang, kalian harusnya tunggu di luar," Darto terbahak.
"Sudah aman ini, Kang?" Jaka bertanya, dia tidak menggubris candaan Darto.
__ADS_1
"Kalian bisa lepas energi kalian, aku tahu jalan mana yang harus kita pilih," sahut Darto dengan wajah tenang.
Lima teman Darto langsung melepas energi yang tengah membalut tubuh mereka, kemudian menarik nafas panjang dan langsung menghembuskan dari mulut mereka dalam sekali buang. Mereka semua melakukan hal tersebut, untuk melemaskan setiap tubuh yang terasa menegang, setelah terkena dampak dari energi yang Darto sebarkan.
"Maung ... kita butuh bantuan kamu," Darto kembali membuka suara.
"Apa, Dar?" jawab Maung singkat.
"Tidak semua musuh mati, tapi setidaknya aku tahu kemana kita harus pergi. Sekarang aku membutuhkan kekuatan untuk melihat dalam kegelapan," sahut Darto.
"Itu sih sepele, Dar," Jawab Maung sembari mendekat pada Darto.
Maung langsung mengusap mata Darto ketika sampai di depannya, kemudian mengusap mata empat kawan yang lainnya, setelah selesai mengusap kedua kelopak mata Darto.
Enam pria itu kini bisa melihat menembus kegelapan, seperti apa yang dulu pernah mereka rasakan.
Setelah bisa melihat dengan Jelas, Darto memilih salah satu goa untuk dilewati. Lima teman Darto sama sekali tidak bertanya, mereka sangat yakin jika tujuan yang Darto pilih merupakan satu pilihan yang tepat.
Enam pria itu masuk ke dalam goa yang cukup panjang, kaki mereka melangkah di atas tanah yang dipenuhi debu, yang terbuat dari ratusan tubuh musuh yang sudah sepenuhnya terbakar.
"Sekarang kita kemana lagi, Kang?" tanya Jaka setelah keluar dari dalam goa.
Saat ini, tepat setelah keluar dari dalam goa, mereka menyaksikan hal yang familiar kembali.
Bukan tempat tujuan yang mereka lihat, melainkan mulut goa yang bahkan memiliki jumlah lebih dari sepulu.
"Kita benar-benar di dalam labirin, Dar," ucap Wajana.
"Bukan ... ini sarang," Darto menoleh pada Wajana, "Semakin dalam kita masuk, semakin banyak juga jalan yang akan kita temui," sambungnya lagi.
Saat mendengar perkataan Darto, lima teman Darto benar-benar bergidik. Mereka merasa sedikit ragu,karena mereka takut jika tidak bisa keluar dari tempat yang tengah mereka telusuri.
"Kalian jangan khawatir ... aku sudah memastikan bentuk sarang ini ketika menyebarkan energi. Pokoknya kita jangan sampai terpisah, akan sangat merepotkan untuk mencari satu orang yang terpencar," Darto berkata dengan wajah datar, "Sekarang ayo kita lanjut jalan lagi."
__ADS_1
Bersambung ....