ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
MURKA


__ADS_3

Setelah semua warga terkumpul, separuh prajurit yang sedari tadi tidak tampak, mulai datang satu persatu. Mereka membawa bilik Bambu, serta atap rumah yang terbuat dari rumbia kering di atas kepala mereka.


Mereka sampai membongkar puluhan rumah penduduk, hanya untuk mendapatkan dua benda tersebut. Sesaat mereka menaruh secara acak bilik bambu yang sudah hancur mengelilingi warga desa yang terikat di tengahnya. Setelah cukup banyak, mereka akhirnya melempar tumpukan demi tumpukan rumbia menuju arah ratusan warga.


Warga semakin heran dengan apa yang akan terjadi pada mereka, namun sesaat setelah persiapan sesai, satu orang prajurit datang membawa segenggam rumput kering di tangannya.


Prajurit itu berlari cukup tergesa, sebelum akhirnya melempar segenggam rumput berasap itu dari tangannya. Dia melemparkan rumput itu ke atas tumpukan bilik bambu, dan kemudian api mulai merambat dengan begitu cepatnya.


Semua warga langsung membulatkan mata mereka. Mereka langsung berteriak dan meronta, namun anggota badan mereka benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Tangan dan kaki semua orang benar-benar terikat, mereka hanya bisa menggeliat mencoba keluar dari sana.


Namun saat salah satu pria muda hampir mendekati bilik bambu, salah satu prajurit langsung memenggal kepalanya tanpa aba-aba.


Semua warga kembali berteriak histeris, mereka hanya mempunya dua pilihan yang bisa mereka pilih. Mati terbakar, atau mati dipenggal.


Sesaat setelah api mulai merambat ke arah tumpukan rumbia, pria berblangkon itu kembali datang dengan tubuh tergesa. Tatapan matanya sangat berbeda dengan saat melawan Darto dan Jaka. Bahkan Darto dan Jaka tahu jika orang itu sudah sepenuhnya berbeda.


Orang berblangkon itu menangis sejadi-jadinya, dia bersujud di depan Raja dengan maksud untuk menghentikan aksinya. Namun Raja hanya meringis dan melihat pria itu dengan tatapan merendahkan.


Suara saut dari ratusan jerit begitu menggema kala itu, mereka mulai berteriak histeris ketika kulit mereka mulai melepuh, kemudian menjadi tenang ketika jiwa mereka sudah sepenuhnya meninggalkan raga gosong yang masih terus berkobar di atas tanah.


Darto dan Jaka terus mencoba untuk menyelamatkan warga, namun Ayandra dan Brahma terus memegangi mereka setelah mendapat perintah Raja. Sebenarnya mereka juga ingin ikut melompat untuk menolong, meski pun hanya bisa menyelamatkan satu nyawa. Namun mereka tidak memiliki nyali yang cukup besar, sebesar nyali yang dimiliki Darto dan Jaka.


Untuk memberikan sedikit pertolongan, Ayandra menyuruh Jaka untuk menyerangnya, Brahma juga meminta Darto untuk menyerang dirinya. Mereka berdua berpura-pura tidak bisa menahan Darto dan Jaka, agar bisa melepas pegangan tangan mereka.


Darto dan Jaka langsung mengangguk dengan air mata yang sudah membanjiri wajah mereka. Sesaat mereka langsung mengeluarkan aura dari tubuh mereka, dan kemudian membuat Ayandra dan Brahma terhempas cukup jauh dari tempat semula.


Raja yang melihat Darto dan Jaka mengamuk langsung menyuruh semua prajurit untuk menahan dua kandidat raja tersebut. Namun tidak ada satupun yang mampu menahan amukan Darto dan Jaka.

__ADS_1


Raja yang geram langsung melompat dari atas kudanya, kemudian menghunus pedang yang terus dirinya bawa di pinggangnya. Dia mencoba menebas ke arah Darto yang paling dekat dengannya, namun hanya dengan tatapan mata Darto sang Raja langsung terpental sebelum senjata miliknya menyentuh kepala Darto.


Darto benar-benar memiliki tatapan yang tidak bisa di jelaskan, dia terlihat marah, buas, dan juga haus darah meski air matanya terus mengalir dari sudut mata miliknya.


Raja benar-benar tidak perduli, dia semakin tersulut emosi hingga menyuruh semua prajuritnya untuk membunuh Darto dan Jaka saat itu juga. Namun diantara mereka sama sekali tidak ada yang berani maju meski hanya selangkah saja. Semua prajurit sudah merasa takut, hanya dengan melihat tatapan dua pria di depannya.


Raja yang sangat geram langsung membuat sebuah pedang bercahaya. Pedang di tangannya berwarna merah padam, sama persis seperti warna darah.


Dia menghunus pedang terebut ke arah Jaka, namun sebelum pedangnya menyentuh Jaka, Darto berhasil menembak lengan Raja menggunakan panahnya.


Raja semakin murka, dia sampai berteriak hingga menciptakan suasana yang sangat mencekam. Angin bertiup dengan kencang, disertai kilat yang terus hadir sebelum gemuruh menyusulnya.


Hari itu petir terus menyambar, meskipun langit yang tampak begitu cerah. Raja terus mendekat kepada Darto dan Jaka dengan maksud membunuh yang sangat kentara.


Semua prajurit sudah tidak bisa lagi menggerakkan kaki mereka, semua orang benar-benar seperti tidak bisa merasakan kaki miliknya sendiri, karena saking terkejut dan juga takut dengan apa yang tengah mereka lihat.


Jaka langsung mengangguk, dia melompat kedalam kobaran api, dan langsung keluar membawa wanita beserta bayinya itu.


Kemudian Jaka kembali melompat kedalam kobaran api, tapi dia sudah tidak bisa menjumpai seseorang lagi yang masih berteriak. Pandangannya terhalang asap dan kobaran yang begitu hebat. Kemanapun matanya tertuju, yang terlihat hanya ada tubuh gosong yang sudah terbujur kaku di bawah kobaran api.


Jaka kembali keluar menuju seorang wanita yang sempat dirinya tolong tadi, namun matanya kembali terbelalak ketika wanita itu sudah tidak memiliki kepala di badannya.


Salah satu prajurit sudah membunuhnya, hingga saat itu juga Jaka langsung murka, kemudian menghunus tombak api di tangannya sembari berkata, "Yang pantas mati itu kalian! Bukan penduduk desa!"


Jaka terus mengibaskan tombak api di tangannya dengan perasaan sedih dan emosi yang bercampur rata, setiap kibasan senjatanya selalu ada kepala yang jatuh di depan kakinya. Jaka membunuh setiap prajurit yang ada di depannya ,tanpa pandang bulu dan juga perasaan iba.


Darto yang masih berhadapan dengan Raja tampak begitu murka, Raja bahkan sampai berkeringat ketika melihat Darto menciptakan pedang panjang bercahaya putih di tangannya. Nyali raja benar-benar berangsur menciut, setelah dia menahan serangan Darto satu kali saja.

__ADS_1


Setiap kali Darto mengayun pedangnya, suara petir langsung menggelegar di atas kepala mereka. Raja yang merasa akan kalah langsung mencoba mundur dan menjauh dari Darto yang terlihat sangat mengerikan di matanya.


Namun meski Raja mencoba kabur dengan kecepatan terbaik miliknya, Darto selalu saja sudah sampai di tempat tujuan perpindahan tekniknya lebih awal. Darto benar-benar dua kali lipat lebih cepat dari Raja, sehingga Raja hanya bisa terus menepis serangan Darto dengan usaha yang amat begitu banyak.


Setelah cukup lama, akhirnya Darto kembali menemui Jaka. Dia datang dengan menenteng kepala Raja, dan kemudian melemparkannya kedalam kobaran api.


Setelah itu Darto dan Jaka meminta maaf kepada pria berblangkon di depannya. Mereka bahkan sampai bersujud dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.


Darto dan Jaka benar-benar merasa bersalah, karena sempat berpihak kepada Raja yang tidak pantas lagi dianggap sebagai manusia.


Pria berblangkon itu menatap Darto dan Jaka dengan tatapan lesu, dia sudah tidak bisa mengeluarkan air matanya lagi, wajahnya sangat lemas dengan tatapan kosong yang terpampang di wajahnya.


Dalam ekspresi yang sudah tidak memiliki hasrat lagi, orang berblangkon itu melangkah menuju kobaran api. Dia terus maju dengan langkah gontai sembari berkata, "Rakyatku, mari kita balas setiap orang yang memiliki hubungan dengan Satria."


Lelaki itu terus mengutuk Raja Satria sebelum masuk kedalam kobaran api, kemudian tubuhnya benar-benar hilang bagai ditelan api secara utuh. Dia meninggal tanpa berteriak, seakan siap untuk mengorbankan diri dengan mulut terkunci.


Namun yang terjadi setelahnya bukanlah suatu yang dapat Darto dan Jaka bayangkan. kobaran api yang masih begitu besar memenuhi lapangan tiba-tiba bergerak ke arah yang sama, mereka berputar-putar seperti topan, sebelum akhirnya membentuk menjadi sebuah lingkaran.


Api itu melayang, semua jasad gosong di atas lapangan juga benar-benar lenyap. seakan api tersebut membawa pergi ratusan jasad yang tergeletak di sana. Yang tersisa hanya mayat prajurit Raja Satria, dan juga kepala Raja Satria yang sempat Darto lemparkan tadi.


Api itu tidak membawa serta jasad mereka, karena mereka bukan bagian dari penduduk kerajaan miliknya.


Hari ini, di siang hari yang semula sangat cerah. Gemuruh dan hujan tiba-tiba menyapa, ketika sosok yang dikenal sebagai banaspati tercipta dan menjadi salah satu penghuni alam sebelah.


Bersambung ....


...sampai gemeter aku nulisnya 🥺...

__ADS_1


__ADS_2