
Setelah semua musuhnya rata dengan tanah, Darto dan ke-lima temannya bergegas meninggalkan kamar nomor empat.
Mereka mengikuti Maung dan Sastro yang tahu kemana arah gubuk, kemudian menuju pintu yang berdiri tidak jauh dari gubuk tersebut.
Setelah keluar dari kamar nomor empat, Darto langsung membuka pintu kamar di depan wajahnya. Dia menghirup nafas begitu panjang, sebelum memutar gagang pintu yang tengah dirinya pegang.
Tepat setelah pintu terbuka lebar, udara dingin langsung menyapa kulit milik Darto dan Jaka. Angin yang berhembus benar-benar terasa begitu segar, meskipun mereka masih berdiri di depan pintunya saja.
Di dalam kamar nomor tiga tampak barisan dari ratusan pohon pinus, yang membentang sejauh mata memandang.
"Ayo... Kita harus cepat," ucap Darto sembari menoleh ke belakang.
Mendengar ajakan Darto, kelima temannya langsung melangkah hampir bersamaan. Satu persatu masuk secara bergantian, menuju tempat yang mirip sekali dengan pegunungan.
"Sepertinya kita tidak perlu repot-repot untuk nyari sarang musuh," ucap Darto sembari mendongak, dia menatap sebuah benda yang menggantung, tepat di atas kepala enam pria tersebut.
"Hah... kita bertemu dengan musuh merepotkan lagi, Dar," keluh Komang setelah memastikan benda yang tengah Darto amati.
Mendengar rengekan Maung, Darto tidak langsung menjawab, dia hanya berdecak kesal sembari berkata, "pelan-pelan saja... Kita mungkin benar-benar mati kalau mereka semua menyerang bersamaan."
Mendengar ucapan tersebut, semua teman Darto langsung setuju, kali ini mereka tidak langsung menyerang, melainkan menyusun rencana, agar mereka bisa menghadapi musuhnya.
Musuh yang Darto dan lima temannya hadapi kali ini benar-benar merepotkan, karena jika melihat jumlah dari sarangnya saja, sudah bisa dipastikan musuh yang akan mereka hadapi akan sangatlah banyak.
Di dalam kamar nomor tiga berisi ratusan bahkan ribuan pohon pinus dengan ukuran yang begitu besar, dengan kumpulan sarang tawon yang menggantung di setiap ranting dari pohon tersebut.
Melihat jumlah sarangnya saja sudah mampu membuat semangat enam pria itu layu, belum lagi jika mengingat di dalam satu sarang saja sudah pasti berisi ratusan musuh yang akan mereka hadapi nantinya.
Setelah cukup lama berdiskusi, enam pria itu akhirnya memutuskan untuk mengamati keadaan sekitar terlebih dahulu. Mereka terus berjalan berkeliling tanpa tujuan, sembari mencari satu sarang yang mungkin menjadi tempat persinggahan pemilik kamar tersebut.
Setelah cukup lama berkeliling dalam senyap, bisa dipastikan, dalam satu pohon pinus paling sedikit memiliki tiga sarang raksasa yang menggantung pada rantingnya, dan sembilan sarang untuk jumlah yang paling banyaknya.
"Ada dua kemungkinan... Kalau bukan sarang yang di atas kita, pasti sarang dekat pintu masuk tadi," ucap Darto sembari duduk, dia cukup merasa lelah setelah menapaki medan pegunungan yang memiliki banyak sekali tanjakan.
"Mau dicoba yang ini dulu, Kang?" sahut Jaka sembari ikut duduk di samping Darto.
__ADS_1
"Kamu bisa, kan?" tanya Darto kepada Jaka.
"Bisa, Kang, kalau cuma seperti itu mungkin tidak susah," jawab Jaka dengan wajah penuh keyakinan.
Setelah mendengar jawaban Jaka, Darto langsung mengangguk. Dia membiarkan Jaka melakukan sebuah aksi, seperti apa yang sudah mereka bahas sebelum berkeliling di dalam kamar tersebut.
Melihat Darto sudah mengangguk, Jaka menciptakan energi berbentuk lingkaran. Ukuran dari energi yang Jaka buat tidak begitu besar, hanya seukuran kepalan tangan saja.
Setelah energi miliknya cukup padat, Jaka menoleh kepada Sastro untuk memberikan isyarat dimulainya serangan.
Sastro pun langsung mengangguk kala itu, dia menoleh ke arah sarang yang paling besar di atas kepala mereka, kemudian mulai menciptakan energi untuk membungkus sarang tersebut secara merata.
Sebelum energi milik Sastro membungkus rapat seluruh sarang, Jaka dengan cepat memindah energi di tangannya menuju satu-satunya lubang pintu yang terdapat pada sarang tersebut.
Dia melempar energi yang sedang berkobar, menuju sarang hanya dalam hitungan detik saja.
Setelah energi milik Jaka masuk, Sastro langsung menutup jalan masuk sarang tersebut. Dia menutup rapat lubang yang berukuran cukup besar, menggunakan energinya yang dia padatkan.
Setelah energi Sastro menutup rapat lubang seukuran gorong-gorong di atas kepala mereka, Jaka langsung memecah energi yang masih berbentuk bulat di dalam sarang.
Tampak sarang raksasa yang sedang menggantung sampai bergetar, bahkan sesekali berayun, karena kawanan di dalamnya sedang terbakar dan meronta mencoba keluar melalui lubang yang tertutup rapat oleh energi Sastro.
Sedari awal enam pria itu berunding, mereka semua setuju untuk melancarkan serangan senyap. Mereka akan memilih sarang yang berukuran paling besar, agar penghuni sarang yang lainnya tidak ikut memberi serangan balasan, ketika mereka memusnahkan satu sarang yang berukuran lebih besar.
Sayangnya, suara dengung dari dalam sarang yang sedang Jaka dan Sastro serang benar-benar terdengar begitu keras. Kawanan lebah yang sedang diambang kematian saling menjerit, sehingga seluruh sarang yang berada di dekatnya ikut mendengar suara gaduh tersebut.
Semua penghuni sarang yang dekat di sekitar mereka langsung keluar dari dalam rumahnya. semakin detik semakin banyak sarang yang merespon kegaduhan tersebut, hingga tidak butuh waktu lama seluruh sarang di dalam lamar mulai terpancing untuk keluar.
Melihat satu persatu tawon raksasa keluar dari sarangnya, Maung bergegas berubah menjadi energi kembali, dia melahap kawanan yang sedang terbang mendekat ke arah mereka, secara terus menerus tanpa sedikitpun istirahat.
Namun serangan Maung tidak bisa menghentikan semua musuhnya, karena musuh yang masih jauh dari tempatnya berdiri, benar-benar tidak terkena dampak dari serangannya sama sekali.
Melihat Maung tidak bisa menghabisi semua musuhnya, Darto, Komang dan Wajana ikut memberikan serangan kepada semua kawanan yang mulai memenuhi langit di atas kepala mereka.
Langit yang semula cerah berubah drastis kala itu, di atas kepala enam pria itu benar-benar dipenuhi oleh ribuan tawon seukuran manusia.
__ADS_1
Mereka semua bergumul di udara kemudian mengarahkan sengatan menuju enam lawan yang tengah berdiri saling memunggungi dibawah mereka.
"Berpencar!" Teriak Darto kemudian menghilang.
Tepat setelah Darto berteriak, enam pria yang sedang berdiri pada satu tempat tiba-tiba menghilang. Mereka berpindah menuju enam tempat yang berbeda, untuk melakukan serangan besar-besaran.
Setelah enam pria itu berpencar, dentuman dan jeritan langsung menggema pada enam tempat yang berbeda.
Mereka semua mengamuk sesuka hatinya, karena musuh mereka benar-benar terlihat tidak berkurang meski terus menerus menerima serangan.
Melihat musuhnya terus datang tanpa henti, Darto berpindah mendekat ke arah Jaka. Dia muncul secara tiba-tiba, kemudian berkata, "Jak... tembakkan api milikmu ke dalam semua sarang di dekat kita, biar aku melindungi kamu."
Jaka langsung mengangguk, dia menciptakan puluhan bola api yang mengambang di atas kepalanya secara terus menerus, kemudian mengarahkan bola-bola tersebut menuju ke lubang sarang di sekitarnya.
Setiap kali energi Jaka berhasil masuk menuju lubang, sedetik setelahnya selalu terdengar satu jeritan dari dalamnya.
Darto meminta hal tersebut kepada Jaka bukanlah tanpa alasan, dia berharap jika setiap ratu yang tinggal di dalam sarang mati setelah menerima serangan Jaka.
Untungnya serangan Jaka cukup kuat, jadi dia bisa membunuh setiap ratu yang bersarang di dalamnya hanya dengan satu serangan saja.
Setelah dua jam lamanya, enam pria itu masih terus mencoba menghabisi setiap musuh mereka. Meski sejauh ini jumlahnya masih terlihat sama saja.
Setelah banyak sarang yang Darto dan Jaka hancurkan, Darto berpindah menuju ke tempat dimana teman yang lain sedang bertarung.
Darto meminta untuk berkumpul kembali, dan menyuruh Sastro membentuk satu kubah yang bisa melindungi semua orang.
Setelah Sastro berhasil menciptakan kubah, Darto kembali menyusun rencana karena musuh yang dirinya cari belum juga menampakkan wajahnya.
Meski sudah sangat banyak anak buah yang menjadi debu di atas tanah, pemilik kamar masih belum menampakkan dirinya sama sekali.
Dia masih terus mengamati pertarungan dari kejauhan, dengan maksud untuk menguras energi dari enam lawannya.
Lawan yang Darto dan temannya hadapi kali ini cukup pintar, dia tidak langsung terjun ke medan pertempuran, seperti lawan-lawan yang sudah berhasil enam pria itu singkirkan.
Bersambung....
__ADS_1