
Karena dia hanya melihat pemuda pemudi itu mandi, Ki Karta terlebih dahulu menyadari jika ada satu sosok yang tengah memperhatikan semua orang di depannya. Dia langsung melompat ke tengah rumpun semak, dan tak lama setelah itu keluar dari sana dengan menenteng leher satu mahluk kecil di tangannya.
"Mau apa kamu?" Tanya Ki Karta sembari terus mengangkat mahluk kecil tersebut.
Mahluk itu terus meronta, dia mencoba melepas cengkraman Ki Karta yang melilit tengkuk lehernya, meski usahanya selalu gagal karena cengkraman Ki Karta begitu kuat. Sosok itu berangsur pucat, dia merasa takut jika dia akan dikasari oleh Ki Karta, hingga akhirnya dia membuka suara "Saya mau menyapa Raden Darto."
Mendengar nama Darto terucap. Ki Karta langsung mengendurkan cengkeramannya, dia berjongkok dan menaruh sosok itu di atas tanah sembari berkata "Kamu kenal Darto?"
Sosok itu masih diam, dia terus mengelus tengkuk leher miliknya yang terasa kesemutan. Setelah cukup lama, dia baru membuka suara "Dia pernah menolong saya."
"Dar..! Darto..! Sini sebentar, Dar!" Teriak Ki Karta sembari melambai pada Darto yang masih asik bermain air di dalam sungai.
"Iya, Ki..!" Jawab Darto sembari mendekat ke arah Ki Karta.
Setelah Darto sampai, Ki Karta mengajak Darto untuk sedikit masuk ke dalam semak. Dia takut jika pertanyaan yang akan dia utarakan, bisa menimbulkan kegaduhan jika terdengar oleh teman-teman Darto di sana.
"Kamu kenal ini?" Ucap Ki Karta sembari mendorong tubuh mahluk kecil yang semula bersembunyi di balik punggung Ki Karta yang sedang berjongkok.
"Kamu..." Ucapan Darto terhenti, dia terus mengernyitkan dahi, mencoba mengingat siapa sosok yang tengah berdiri di depannya itu.
"Warung kelontong, Den!" Jawab makhluk kecil itu.
__ADS_1
"Aha..! Apa yang kamu lakukan di sini?" Ucap Darto dengan wajah lega, karena pikiran mengganjal miliknya berhasil disingkirkan.
"Rumah saya dekat sini, Den. Saya dengar ada suara orang, jadi saya mau lihat siapa yang lagi main di sini. Tapi orang ini mencekik saya, Den," ucap Mahluk itu sembari menunjuk wajah Ki Karta.
"Lagian kamu pakai ngumpet segala! Udah kaya mau nyolong aja!" Sungut Ki Karta.
"Ha ha ha sudah.. sudah.. Dia tidak jahat, Ki," ucap Darto, kemudian berbicara pada sosok di depannya "Yasudah sana kamu pulang. Istriku dan satu temanku juga bisa lihat kamu, takutnya mereka nanti terkejut."
Mendengar ucapan itu, sosok kecil tidak langsung pergi, dia mendekatkan bibir mungilnya ke telinga Darto, kemudian berbisik sembari menutup telinga Darto dan mulutnya dengan tangan mungilnya "Teman Aden punya aura yang mirip seperti juragan saya, Den."
Mata Darto terbelalak, dia merasa kaget dengan apa yang baru sosok itu ucapkan.
"Juragan siapa?!" Jawab Darto dengan nada cukup tinggi, suaranya bahkan bisa di dengar oleh Ki Karta.
"Maksud kamu yang mana? Yang punya aura seperti dukun, yang dulu menahan kamu?" Sambung Darto dengan nada pelan, dia merasa kasihan melihat mahluk di depannya ketakutan.
"Laki-laki yang paling kecil itu, Den. Auranya merah, sama persis seperti milik Ki Jumar" ucap Sosok sembari menunjuk Jaka.
Darto benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka jika Jaka memiliki aura yang sama dengan seseorang yang menggunakan ilmu hitam. Dalam bingungnya Darto kembali bertanya pada sosok kecil itu "Dimana rumah Ki Jumar?"
"Dekat dengan warung kelontong, Den. Namanya dikenal banyak orang. Orang setempat memanggilnya dengan sebutan Kiyai Jumar," sambung sosok kecil.
__ADS_1
"Jauh, Ya. Baiklah, kamu sekarang pulang saja, temanku pasti merasa aneh jika aku terlalu lama di sini. Dan sebentar lagi aku juga ada rencana untuk pulang, pas lewat sana biar aku lihat sendiri seperti apa dukun berkedok kiyai itu," jawab Darto. Dia mendorong mahluk kecil itu dengan telapak tangannya.
"Baik, Den. Saya pergi dulu. Assalamualaikum.." Jawab sosok itu sembari tersenyum
"Kamu masuk islam?" Tanya Darto sembari menatap punggung kecil yang tengah menjauh.
Sosok itu hanya menoleh, kemudian menorehkan senyum kembali di bibirnya sembari mengangguk dengan wajah bahagia. Darto dan Ki Karta yang melihat itu, seketika langsung mengucap hamdalah secara serentak.
Setelah itu Darto bergegas memanggil semua teman dan juga istrinya. Dia mengajak mereka kembali ke rumah Ki Karta. Mereka berjalan pulang dengan pakaian yang basah, untungnya udara kampung ijuk benar-benar panas, jadi mereka tidak kedinginan sama sekali di dalam perjalanannya.
Setelah mendengar ucapan sosok itu, Darto mengubah tujuannya untuk menginap, sore itu juga dia mengajak Harti dan Jaka untuk bersiap. Dia tidak bisa memendam perasaan yang mengganjal tentang energi Jaka, dan untungnya Ki Karta memahami itu. Sore itu juga Ki Karta, Asep dan Ujang membantu Darto mengemasi barangnya dan membawakan ke mobil mereka. Tak terasa waktu berlalu begitu saja, persiapan Darto dan Harti ternyata tidak secepat perkiraan mereka.
Hari sudah petang, Adzan Maghrib sudah dikumandangkan oleh salah satu warga ijuk. Akhirnya Darto mengundurkan kembali niat kepergiannya, dia baru berangkat setelah usai melaksanakan shalat isya. Semua warga yang sudah mengetahui Darto akan pulang, mereka bergegas pulang setelah maghrib. Mereka kembali tepat sebelum adzan isya dengan membawa kelapa muda di tangan mereka. Ternyata Ujang dan Asep bercerita jika Darto, Harti dan Jaka sangat menyukai kelapa muda. Malam ini Darto pulang dengan puluhan kelapa muda yang memenuhi bagasi dan juga sebagian mobil bagian belakang.
Jaka terus tertawa melihat jumlah kelapa muda yang tergeletak di sampingnya. Dia merasa lucu karena dia bisa bersandar dengan tumpukan benda di sampingnya itu. Darto dan Harti yang mendengar gelak tawa Jaka, spontan mereka ikut terbahak dalam awal perjalanan pulang mereka.
Dua jam berlalu, sudah cukup jauh kampung ijuk tertinggal di belakang. Saat ini Harti tengah tertidur dengan kepala yang menyandar di kaca jendela, sedangkan Jaka masih terus mengamati pemandangan gelap yang tengah mereka lewati. Mobil yang Darto kendarai tengah melesat menyibak hutan rimbun dan sepi, malam ini dia berniat untuk menghabiskan hutan terlebih dahulu sebelum memarkir mobil dan tidur di dalamnya, namun rencananya kembali mendapat kendala.
Saat Darto fokus menatap jalanan berbatu di depannya, Jaka berteriak dengan begitu lantang hingga Harti ikut terperanjat dari tidurnya. Saat itu Darto seketika menginjak pedal rem dalam-dalam, namun ketika mobil terhenti Jaka melompat tepat ke ara Darto melalui cela kursi di tengahnya. Jaka benar-benar pucat, dia tampak ketakutan sembari terus menatap jendela belakang mobil tersebut.
"Nyebut, Jak!" Teriak Darto mencoba menenangkan Jaka.
__ADS_1
Jaka tersentak setelah mendengar Darto berteriak. Dia berangsur menghela nafas panjang, kemudian berkata "Kang... Ada yang ikut di atas mobil kita!"
Bersambung,-