ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
LIMA


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, rencana Darto untuk segera memasuki semua kamar yang tersisa benar-benar harus tertahan setelah dia mengerahkan segenap kemampuannya.


Darto tidak menyangka jika dia akan mengerahkan energi begitu banyak, hanya untuk satu serangan yang baru saja dirinya pelajari. Energi di dalam tubuhnya memang tidak habis, tapi tubuhnya benar-benar terkejut karena belum pernah mengeluarkan energi sebanyak itu sebelumnya.


Jadi Darto dan lima temannya harus kembali beristirahat, di dalam kamar nomor enam untuk memulihkan setiap energi maupun tenaga yang sudah terkuras begitu banyak di dalam tubuh Darto dan Jaka.


Mereka semua beristirahat satu malam penuh di bawah pohon, sebelum akhirnya matahari kembali menyingsing di ufuk timur di dalam kamar.


Kamar nomor enam benar-benar terlihat mirip dengan hutan yang ada di dunia manusia. Di sana juga ada matahari, bulan dan bintang yang menjadi petunjuk waktu maupun arah, tidak seperti kamar-kamar yang lainnya.


Setelah melihat kilau kuning matahari pagi, Darto dan Jaka yang sudah sepenuhnya bugar kembali berdiri. Mereka sempat melakukan shalat subuh dan shalat fajar, sebelum akhirnya melesat menuju pintu tempat mereka masuk sebelumnya.


Tidak butuh waktu lama, Darto dan lima temannya sampai pada tempat tujuan mereka. Mereka semua langsung berbondong keluar satu persatu, sebelum akhirnya Darto kembali memegang gagang pintu kamar nomor lima.


Darto tidak lagi bertanya kesiapan semua temannya, dia langsung memutar gagang pintu tersebut, kemudian membuka lebar-lebar daun pintu di depan wajahnya.


Enam lelaki itu masuk secara bersamaan, setalah kaki enam pria itu masuk ke dalam kamar nomor lima, pintu yang semula berada tepat di belakang mereka tiba-tiba menutup dengan suara yang sangat kencang, dan pintu tersebut lenyap dari pandangan keenam pria tersebut.


Tidak hanya itu saja, ketika mereka tengah memperhatikan ke arah pintu yang tiba-tiba menghilang, enam pria itu benar-benar terpisah satu sama lain dalam sekejap mata.


Mereka hanya memalingkan wajah tanpa bergerak, namun mereka benar-benar tidak bisa lagi untuk saling melihat satu sama lain, setelah menoleh untuk beberapa detik saja.


Enam pria itu melakukan hal yang sama setelah menyadari kejanggalan tersebut, mereka saling memanggil di dalam ruang yang sepenuhnya polos berwarna merah.


Di dalam kamar nomor lima tidak sama seperti kamar-kamar yang sudah mereka masuki sebelumnya. Di tempat itu benar-benar tidak ada apa-apa, yang terlihat hanya sebuah ruang tanpa batas, yang setiap sisinya berwarna merah padam.


Tidak ada satupun benda yang mereka lihat, ataupun satu suara yang mereka dengar selain suara milik mereka sendiri.


Setelah cukup lama saling berteriak memanggil nama temannya. Darto dan lima temannya yang kini merasa hal itu sia-sia, langsung melangkah menuju arah acak untuk mencari sebuah kepastian.


Mereka semua berjalan maju dengan penuh tanda tanya di dalam kepala, sebelum akhirnya terlihat bentuk manusia yang mendekat ke arah mereka.


Semua orang benar-benar senang melihat satu wujud manusia yang masih tampak jauh di depan sana. Mereka sampai berlari, ketika melihat siluet orang di kejauhan juga berlari mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Semakin detik jarak mereka semakin mendekat. Ketika tatapan mereka bertemu, tidak ada satupun dari keenam pria tersebut yang tidak merasa terkejut dengan apa yang sedang mereka lihat di depan wajah mereka.


Orang yang mereka coba kejar ternyata bukanlah seorang teman seperti yang mereka harapkan, melainkan sosok yang memiliki wujud sama persis dengan diri mereka sendiri.


Darto bertemu dengan wujud Darto yang lain, begitu juga lima temannya. Mereka seperti tengah melihat pantulan cermin, yang menggambarkan tubuh mereka secara sempurna.


Darto mencoba mendekat ke arah bayangan dirinya, dia mendekat kemudian mencoba menyentuh tubuh palsu miliknya itu.


Darto palsu benar-benar tidak melawan, dia juga memasang wajah kebingungan, setelah melihat wujud dari Darto yang asli tengah berdiri di depannya.


Bayangan itu seperti memiliki kesadaran, dan tidak terlihat juga jika bayangan tersebut memiliki niat buruk pada tubuh aslinya. Dia hanya tertegun diam, dengan ekspresi wajah yang sama dengan tubuh asli milik mereka.


Saat masih tertegun, semua tubuh palsu tiba-tiba membuka suara dan bertanya pada tubuh aslinya. Dalam waktu yang bersamaan, semua bayangan mengucapkan pertanyaan yang sama yaitu; "Kamu siapa?"


Darto dan kelima temannya benar-benar terkejut dengan pertanyaan tersebut, mereka semua tidak menjawab, melainkan menanyakan kalimat yang sama kepada setiap bayangan yang sedang berdiri di depan mereka.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari tubuh asli maupun bayangan, Darto akhirnya memancarkan energi miliknya dari tangan sembari bertanya, "Kamu juga bisa melakukan ini?"


Namun setelah melihat Darto tidak menyerangnya, bayangan itu kembali mendekat sembari melakukan apa yang sudah Darto lakukan sebelumnya.


Darto palsu juga bisa melakukan hal yang sama persis, dengan apa yang Darto lakukan. Energi miliknya memiliki sama, bahkan cara bayangan itu menggunakan energi miliknya juga tidak memiliki perbedaan sama sekali.


Bukan hanya Darto yang melakukan hal tersebut. Kelima temannya juga melakukan percobaan dengan mengeluarkan energi mereka, dan mereka juga terkejut setelah melihat bayangan mereka bisa menggunakan kekuatan yang sama.


Setelah cukup lama merasa bingung, Darto yang tahu jika semua ini tidak nyata, langsung mencoba memberikan satu serangan kepada bayangannya.


Dia menyerang tanpa niat membunuh, dan sebenarnya hanya ingin memastikan sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya.


Bayangan Darto benar-benar mengelak dengan begitu lincah. Dia bisa mengimbangi setiap gerakan Darto, bahkan dia bisa memberikan serangan balasan ketika Darto selesai menyerang.


Begitu juga dengan Jaka, Sastro, Wajana, Komang dan Maung. Mereka mulai menyerang bayangan mereka, namun tidak ada satupun dari mereka bisa menyentuh bayangan mereka.


Yang ada justru tubuh utamanya yang terkena serangan, karena setiap bayangan selalu selangkah lebih maju, baik dalam bertahan maupun menyerang.

__ADS_1


Meski begitu Darto dan lima temannya tidak berhenti di tengah jalan. Mereka terus melayangkan serangan demi serangan, dengan rasa penasaran yang masih menumpuk di dalam hati mereka.


Setelah cukup lama, akhirnya Darto bisa melayangkan satu serangan kepada bayangannya. Dia bisa mendaratkan satu tusukan yang menyentuh pipi lawannya, namun setelahnya sesuatu terjadi pada tubuhnya sendiri.


Tepat ketika Darto berhasil melukai lawannya, dia merasakan rasa sakit di tempat yang sama dengan tempat dimana sang bayangan mendapatkan luka.


Darto yang terkejut langsung menghentikan serangan, kemudian memegangi pipi miliknya sendiri. Darto tidak bisa percaya, karena pipinya benar-benar berdarah, setelah dia berhasil melukai pipi lawannya.


"Hei... bagaimana kalau begini?" ucap Darto sembari mengiris kulit telapak tangan miliknya menggunakan senjata miliknya sendiri.


Darah segar langsung menetes dari telapak tangan Darto, namun lawannya benar-benar tidak terluka.


Bahkan goresan pipi di wajahnya juga sudah hilang sepenuhnya, yang tersisa hanya goresan pipi di wajah Darto yang asli.


Melihat hal tersebut, Darto benar-benar tidak bisa berkata-kata . Sekali lagi dirinya dan lima temannya bagai ditemukan dengan jalan buntu, yang menghalangi setiap langkah menuju musuh utamanya.


Melihat musuhnya tidak melawan ketika mereka tidak melayangkan serangan, Darto dan lima temannya mulai menghentikan semua usaha mereka.


Enam pria itu kemudian duduk bersila, dan menatap bayangan mereka yang juga ikut duduk dengan tatapan penuh tanda tanya.


Tidak ada satupun dari mereka yang tahu, tentang kebenaran apa yang sedang mereka hadapi kali ini.


Yang bisa mereka lakukan hanyalah berfikir dan terus berfikir, dan juga berharap untuk lekas mendapatkan jawaban atas semua rasa penasarannya.


Sebenarnya tempat apa ini?


Siapa mereka?


Dan apa yang harus enam pria itu lakukan?


Sekali lagi, mari kita tunggu saja kelanjutannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2