ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
DILUAR RENCANA


__ADS_3

Setelah pertarungan dengan dua pocong berdarah usai, Darto bergegas masuk ke dalam rumahnya kembali. Dia kembali membuka kain yang ia kenakan untuk membungkus batu tempat tinggal nenek, kemudian memanggilnya kembali.


"Nyi?! Keluarlah," ucap Darto setelah berhasil meraih batu tersebut.


Setelah Darto mengucap kata itu, sang nenek langsung keluar dari dalam batu, kemudian menunduk di hadapan Darto.


"Apa buto ireng berada di sekitar sini Nyi?" tanya Darto singkat langsung ke inti masalah.


"Tidak, Den, energi miliknya tidak terasa sama sekali," ucap Nenek dengan mata terpejam.


"Baiklah, terimakasih. Silahkan kalau mau pulang lagi," ucap Darto kemudian membiarkan nenek masuk kedalam batu kembali.


Setelah mendengar penjelasan perempuan tua itu, Darto langsung membaringkan tubuhnya di atas dipan. Malam itu Darto merasa aman, dia bisa terlelap hanya dalam hitungan menit, hingga akhirnya waktu sahur pun kembali menyapa.


Setelah menu sahur yang ia bawa dari rumah Anto sudah habis dibabat, Darto langsung menyeduh teh pahit yang juga dia bawa dari rumah Anto. Dia melamun memikirkan perkataan pocong merah semalam, hingga dua batang rokok habis dia hisap.


Setelah itu, meski belum mendengar kumandang adzan, Darto sudah beranjak meninggalkan rumahnya. Pagi ini Darto berangkat menunaikan shalat subuh lebih awal, dia ingin menemui seseorang dulu di langgar.


Cukup lama Darto menunggu di depan teras Langgar, memperhatikan satu persatu penduduk yang datang, hingga seseorang dari kejauhan berhasil membuat Darto melebarkan matanya, sembari berteriak.


"Kang!" teriak Darto kepada dua lelaki di depannya.


"Wah! Pulang kapan kamu Dar?" ucap Pono setelah sampai di depan Darto,"


"Iya, Ki Turah mana, Dar?" sambung Sukman.


Mendengar pertanyaan dari kedua penggali kubur di depannya, Darto hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan mereka dengan kata seadanya. Kemudian Darto meminta dua lelaki itu untuk tinggal di langgar seusai shalat ditunaikan.

__ADS_1


Setelah shalat selesai ditunaikan, ketiga lelaki itu masih duduk di dalam langgar, mereka berdua tengah berbincang tentang sebuah permintaan yang Darto utarakan.


"Kalian kenal tukang kubur di kampung-kampung sebelah tidak, Kang?" tanya Darto dengan tatapan serius.


"Memang kenapa, Dar? kita juga nganggur ini, kenapa harus cari dari kampung sebelah?" jawab Sukman sembari mengernyitkan dahi.


"Saya butuh banyak, Kang?! Setidaknya sepuluh sampai dua puluh orang," ucap Darto kemudian menatap Sukman.


"Memang mau ada pemindahan?" tanya Pono setelah menimbang ucapan Darto. Dia meraih kesimpulan sendiri dari apa yang Darto ucapkan.


"Bisa dibilang begitu Kang, tapi tempatnya cukup jauh. Kira-kira ada yang mau tidak ya kang?" tanya Darto sedikit bimbang, mengingat perjalanan menuju rawa lumpur membutuhkan waktu dua hari satu malam untuk sampai di sana.


"Memang dimana, Dar?" tanya Sukman kembali.


"Di rawa tengah hutan, Kang. Saya dapat mimpi banyak mayat yang dikubur di sana, mereka semua dikubur menghadap timur. Kasihan, Kang, mereka tidak bisa ketemu sama pencipta," jawab Darto tertunduk.


"Kalau kalian tidak mau juga tidak apa-apa, Kang. Nanti saya cari orang lain," ucap Darto kembali karena tidak kunjung mendapat jawaban dari dua lelaki di depannya.


"Sebenarnya si semuanya bisa selesai, Dar. Kalau ada bayaran yang tepat," sambung Pono mencoba bernegosiasi dengan Darto.


"Biasa kalian dibayar berapa untuk sekali mengubur jenazah?" selidik Darto.


"Seikhlasnya si, Dar. Kadang dua ribu, tiga ribu, kadang ada juga yang ngasih lima ribu," jawab Pono dibarengi anggukan Sukman.


"Apa segini cukup, Kang?" Darto merogoh saku baju, kemudian menyodorkan 45 lembar uang sepuluh ribu ribu di hadapan Pono dan Sukman.


Mata Pono dan Sukman seketika membulat, mereka belum pernah menyaksikan uang dalan jumlah tersebut semasa hidupnya. Untungnya Darto benar-benar sudah mempersiapkan segala keperluannya ketika menyusun rencana bersama kedua kakungnya. Hanya saja Darto tidak mengira akan ada tambahan skema, hingga ia harus menggunakan uang pemberian Kakung yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun di pesantren.

__ADS_1


Melihat Pono dan Sukman terdiam, Darto kembali mengeluarkan lima lembar uang dari kantongnya.


"Kalau segini cukup?" sambung Darto mengira uang empat ratus ribu yang tadi ia sodorkan tidaklah cukup.


Pono dan Sukman langsung saling bertatap mata, mereka meneguk saliva bersamaan, menyaksikan uang yang tergeletak di depan mata mereka.


"Segitu bisa buat bayar lima puluh orang, Dar!" Sahut Pono sembari menatap ke arah tumpukan uang di depan mereka.


"Kita butuh minimal 10 orang, berarti kalau kalian ikut dihitung, masih kurang 8 orang lagi. Nanti uang ini dibagi untuk 10 orang saja, saya hanya akan membatu," ucap Darto sembari menatap wajah Pono dan Sukman secara bergantian.


Mendengar ucapan Darto, Pono dan Sukman kembali saling bertukar tatapan, mereka saling mengangguk kemudian berkata setuju untuk membantu.


"Eh segini cukup buat beli 20 kain kafan?" ucap Darto kembali mengeluarkan 2 tumpuk uang sepuluh ribu dari kantongnya.


"Itu sih kebanyakan, Dar. Kalau beli di kota kita bisa beli lima puluh lembar," jawab Sukman masih dengan wajah heran dengan uang yang Darto terus keluarkan dari saku celananya.


"Baiklah biar aku saja yang beli kain kafan nanti pagi, kalian cari orang. Kalau bisa besok pagi kita berangkat. Dan kalian harus bawa bekal yang kira-kira cukup untuk perjalanan lima hari," sambung Darto kembali kemudian berpamitan dan pergi menuju rumahnya.


Uang untuk membeli kafan sudah Darto kantongi kembali, kali ini Darto pergi menuju kota menggunakan mobil Kakung yang tergeletak sedari dia sampai di kampung. Dan tak lama setelah itu, Darto sudah sampai di toko yang Pono dan Sukman jelaskan.


Benar saja, Darto bisa membeli dua puluh lembar kain kafan hanya dengan uang lima puluh ribu rupiah. Dengan bantuan pemilik toko, Darto membawanya masuk ke dalam Mobil yang ia kenakan, kemudian menginjak pedal gas ?kembali, menuju kampung kemoceng.


Setelah persiapan selesai, Darto bahkan masih membatu Pono dan Sukman mencari penggali kubur yang mau diajak berjalan jauh. Dan beruntungnya, hari itu mereka mendapatkan delapan orang tambahan seperti yang sudah direncanakan. Bahkan bisa dibilang beruntung karena mendapat satu tambahan penggali, karena Anto bersedia ikut dengan tujuan yang sama dengan Darto, yaitu sekedar memberikan bantuan saja.


Tidak terasa langit sudah menggelap, Darto benar-benar merasa lelah ketika mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Acara tidak terduga kali ini benar-benar membuat Darto sedikit merasa lega, dia terus tersenyum sembari menatap barisan genting dari atas dipannya. Malam ini Darto benar-benar tidak sabar untuk segera berangkat, dia ingin segera memusnahkan penguasa rawa, dan memutus rantai tumbal yang sudah mengikat erat, berpuluh-puluh tahun lamanya.


Bersambung,-

__ADS_1


__ADS_2