
Hanya berselang beberapa menit saja dari tempat mereka berangkat, akhirnya Darto, Jaka Komang dan Maung sampai pada tempat tujuan mereka.
Darto mengamati setiap bangunan yang berdiri di sekelilingnya, namun keadaan tidak terlalu berbeda dengan saat dimana dirinya pergi meninggalkan pesantren.
"Terimakasih Maung ... Komang ... sekarang kalian bisa pulang juga, aku akan panggil nama kalian kalau waktu berangkat sudah tiba," ucap Darto sembari menatap dua sahabatnya secara bergantian.
Maung dan Komang langsung mengangguk, kemudian berlari ke arah yang berbeda, dan menghilang setelah melompat cukup tinggi.
Darto kembali melihat kondisi sekeliling, setelah cukup lama mengamati, akhirnya Darto berjalan meninggalkan halaman belakang pesantren. Dia melangkah dengan hati was-was, takut jika waktu sudah berlalu begitu lama.
Begitu juga Jaka, tampak sekali raut khawatir pada wajahnya. Jaka benar-benar terus menundukkan wajahnya, sembari melangkah dengan langkah kaki yang terasa berat.
Dua lelaki itu sangat menghawatirkan keadaan orang yang mereka cintai, terutama darah daging mereka.
Setelah sampai di depan pintu rumah, Darto dan Jaka hanya berdiri diam sembari saling beradu pandang satu sama lain.
Mereka bahkan sampai susah payah berusaha menelan ludah yang tercekat, ketika Darto mengetuk pintu rumah itu sembari mengucap salam.
"Assalamu'alaikum!" teriak Darto sembari mengetuk pintu rumah miliknya sebanyak tiga kali.
"Assalamu'alaikum ... " sambung Jaka karena salam Darto tidak mendapatkan jawaban.
"Wa'alaykumussalam ..." Jawab suara perempuan dari dalam rumah.
Hati Darto seketika berdegup begitu cepat ketika mendengar suara tersebut. Kedua kakinya serasa langsung lemas, dan perasaan aneh merambat dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat tubuhnya terasa begitu ringan seringan kapas.
Kedua mata Darto benar-benar sudah berbinar ketika gagang pintu yang ada di depan matanya tengah diputar, dia tahu jika suara yang menjawab salam dari dalam adalah suara wanita yang sangat dirinya rindukan.
Setelah Harti membuka pintu rumahnya, Darto hanya bungkam. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa seperti yang ada pada bayangannya. Padahal semula dia berfikir hendak langsung memeluk mencium dan melampiaskan semua kerinduan di bawah pintu tersebut.
Namun, karena sudah begitu lama tidak saling bertatap, dua sejoli itu hanya bisa tertegun ketika saling menatap satu sama lain.
"Kang ... Mbak ... kalian kenapa?" tanya Jaka sembari menggoyang tubuh Darto.
Darto tersentak, dia lepas dari perasaan anehnya, kemudian berlari dan mendekap Harti yang juga tengah tertegun melihat suaminya.
"Aku pulang, Dek," ucap Darto sembari melingkarkan kedua lengan miliknya pada kepala Harti.
"Selamat datang, Mas," jawab Harti sesenggukan, dia menangis dalam pelukan Darto, dengan wajah yang terbenam sempurna pada dada bindang suaminya.
"Maaf, Mbak ... Magisna dimana?" Jaka merasa iri dengan kemesraan Darto dan Harti, dia sebenarnya malu untuk bertanya, tapi dia tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
"Di dalam, Jak," jawab Harti.
Jaka langsung berlari begitu cepat, dia juga merasakan hal yang sama seperti Darto, dan Jaka juga ingin melakukan apa yang baru saja dirinya lihat.
Jaka masuk ke dalam rumah tanpa permisi, kemudian pergi menuju ruangan yang semula pernah dirinya dan istrinya tempati.
Jaka membuka pintu kamar Magisna kala itu, namun dia tidak mendapati orang yang dirinya cari di dalam. Jaka bergegas berjalan ke belakang, dan akhirnya bisa melihat wajah yang dirinya rindukan.
Magisna tengah memasak, bersama putrinya yang tidak lain adalah Ratna. Magisna dan Ratna sangat terkejut melihat Jaka. Karena meski sudah pergi untuk waktu yang cukup lama, tapi wajah dan perawakannya masih saja sama.
"Dek ... Aku pulang," ucap Jaka sendu, sembari mendekap dua wanita yang sangat dirinya cintai itu.
Rasa haru kembali hadir di dalam rumah tersebut. Mereka semua menumpahkan kekesalan yang menumpuk di sela menunggu, dalam bentuk bulir yang mengalir melewati pipi mereka.
Setelah cukup puas untuk berpelukan, akhirnya Darto dan Jaka langsung membersihkan diri. Mereka mandi dan memakai baju ganti, sebelum akhirnya duduk di ruang tamu rumah tersebut.
"Dava di mana?" Tanya Darto setelah duduk.
"Dia lagi ngajar, Mas ... paling sebentar lagi pulang," jawab Harti.
Benar saja, bahkan belum sampai lima menit Harti berkata hal tersebut, Dava sudah membuka pintu sembari mengucap salam.
"Bapak ... Alhamdulillah, akhirnya Bapak pulang," ucap Dava sembari bersimpuh. Dia meraih tangan Darto kemudian menciumi punggung tangan Darto sembari duduk bersimpuh di depan kursi.
"Sudah, Nak. Sini duduk saja di samping Bapak," jawab Darto sembari menarik lengan Dava.
Dava langsung berdiri, dia duduk tepat di samping Darto kemudian bertanya pada lelaki di sampingnya itu, "Apa sudah selesai, Pak?"
Mendengar pertanyaan itu, Darto langsung menunduk, bahkan Jaka yang semula sedang bercanda dengan istri dan anaknya juga ikut menunduk.
"Belum ... Kami masih harus kembali," jawab Darto lesu.
Wajah Harti, Dava, Magisna dan Ratna seketika tertunduk. Nafas mereka berat, dengan raut yang memasang wajah suram dalam diam.
"Pak ... apa Dava bisa ikut?" ucap Dava memecah keheningan.
"Tidak!" tolak Darto mentah-mentah.
"Tapi .. " ucap Dava terhenti karena Darto berteriak mengucap kata "Tidak!" untuk yang kedua kalinya.
Dava benar-benar terkejut, itu kali pertama dia mendengar Darto berteriak. Dia bahkan gemetaran dan tidak berani membuka mulutnya lagi.
__ADS_1
"Dava Anakku ... tugasmu di sini, jaga semua yang kamu dan aku sayangi. Untuk urusan kerja kasar, serahkan saja pada Bapakmu ini," Darto menurunkan nada. Dia berbicara lembut, sembari mengacak rambut putera satu-satunya.
Dava langaung menangis ketika mendengar perkataan lembut Darto, dia bahkan kembali merasa seperti anak kecil lagi, meski umurnya sudah menginjak kepala dua.
"Berapa umurmu sekarang, Nak?" tanya Darto pelan.
"Du dua puluh, Pak," jawab Dava sesenggukan.
"Hah ... Hanya belasan hari di sana, di sini sudah lima tahun berlalu," keluh Darto sembari menghembuskan nafas berat.
Setelah itu Darto dan Jaka langsung meminta maaf kepada istri dan juga anak mereka. Ruang tersebut begitu haru untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Jaka mulai bercerita tentang perjalanan yang sudah dirinya dan Darto lewati.
Darto hanya tersenyum ketika Jaka sedikit melebihkan kehebatannya, namun sebagian besar yang Jaka ucapkan memanglah kebenaran yang terjadi.
Setelah selesai bercerita, akhirnya Darto yang sedari tadi hanya memasang telinga kini mulai membuka suara.
"Nak ... Kamu ada rasa untuk gadis cantik di seberang itu?" Ucap Darto sembari melirik Ratna.
Reaksi Ratna benar-benar diluar dugaan, pipinya langsung merona, bahkan dia langsung menunduk dalam rasa malunya. Sedangkan Dava hanya diam, sembari mencoba menahan senyuman yang mulai tertoreh pada wajahnya.
"Sepertinya Bapak benar" Darto terkekeh, "Jak ... Apa kamu bersedia menerima iktikad yang secara tiba-tiba saya ajukan ini?" Sambungnya lagi.
Jaka benar-benar celingukan setelah mendengar perkataan Darto. Dia sama sekali tidak tahu apa maksudnya, dan juga tidak tahu harus menjawab apa.
"Maksudnya, Kang?" jawab Jaka dengan wajah sangat serius.
Semua orang terbahak kala itu, bahkan Dava dan Ratna juga ikut tertawa, setelah melihat kepolosan Jaka.
"Kalau kamu mengizinkan, aku mau kita mengikat anak kita, Jak. Mereka sudah cukup dewasa, dan kita tidak boleh meninggalkan tugas seorang ayah. Kita tidak tahu kapan kita akan kembali lagi ke sini. Setidaknya ... selama kita masih hidup, jangan sampai anak kita mencari wali dalam hari bahagia mereka," Darto menjelaskan.
Pipi Jaka langsung meremang, dia merasa bodoh dengan kepolosannya, namun dia tidak bisa memungkiri rasa bahagia yang saat itu juga bersarang di dalam dadanya.
Dengan suara bangga kala itu Jaka berkata, "Suatu hal yang sangatlah melebihi keinginanku, Kang. Aku benar-benar bersyukur jika Kang Darto mau mengikat anak kita, tapi di sini bukan aku yang menjalaninya, Kang. Lebih baik langsung tanya saja sama anak gadisku yang satu ini. Pilihan anakku, sama saja dengan pilihanku, Kang."
Mendengar ucapan tersebut, semua orang benar-benar tercengang kala itu, mereka tidak menyangka jika Jaka juga bisa berkata seperti lelaki dewasa.
Setelah itu, Darto bertanya langsung pada Ratna. Ratna langaung mengangguk, sedangkan Dava hanya bisa memampangkan wajah bahagia dalam diamnya.
"Baiklah, kalau begitu besok kita lakukan adat dan syarat yang seharusnya dilakukan," ucap Darto menutup episode kali ini.
Bersambung ....
__ADS_1