
Tidak lama setelah Darto dan Jaka menunggu, Kanti datang membuka gubuk miliknya bersama dengan Abirama di belakangnya.
"Assalamualaikum ... Bagaimana kabarnya guru," ucap Darto sembari mengulur tangannya, dia bermaksud menjabat tangan Abirama.
"Wa'alaykumussalam, Dar. Alhamdulillah saya sehat, ini yang kamu ceritakan?" sahut Abirama sembari meraih tangan Darto, kemudian bertanya kepada Kanti di sebelahnya.
"Iya," jawab Kanti singkat sembari menganggukkan kepala.
"Nama saya, Jaka ... ," ucap Jaka terhenti karena bingung hendak memanggil Abirama dengan sebutan apa. Saat ini Jaka juga sedang menjulurkan tangan miliknya, hendak berjabat dengan Abirama.
"Abirama ... nama saya Abirama," jawab Abirama sembari meraih tangan Jaka. tatapannya langsung tertuju pada Jaka untuk mencari kebenaran dari lawan bicaranya.
Ketika tangan Abirama menyentuh tangan Jaka, Abirama mencoba menyalurkan energi miliknya ke dalam tubuh Jaka. Jaka yang mengetahui itu, seketika langsung menarik tangannya. Jaka merasa tangannya sedikit kebas, setelah energi milik Abirama masuk ke dalam lengannya.
"Bagai mana energi itu bisa sampai di tubuh pemuda ini, Dar?" tanya Abirama kepada Darto, dia memasang wajah heran dengan tangan menunjuk pada Jaka.
Mendengar ucapan itu, Darto meminta Jaka untuk menjelaskan secara rinci kejadian yang dialami oleh penduduk kampungnya. Bukan hanya itu, Jaka bahkan menceritakan tentang mimpinya juga kepada Abirama serta Kanti yang tengah memasang telinga.
"Kamu keturunan Ki Surya?!" sergah Abirama dengan mata terbelalak, dia merasa tidak percaya, karena bisa kembali menemukan satu keping pecahan masa lalu yang hampir sepenuhnya terlupakan.
"Mungkin iya, tapi saya tidak bisa jamin kebenarannya. Cuma sesepuh desa yang tau semuanya, aku hanya melihat mereka di dalam mimpi," jawab Jaka keheranan, setelah melihat Abirama begitu tersentak ketika dirinya menyebut nama Surya di dalam ceritanya.
Setelah mendengar ucapan Jaka, Abirama langsung mendekap Jaka dengan air mata yang mulai mengalir. Dia terlihat sangat senang dengan kedatangan Jaka, sebelum akhirnya dia kembali berdiri dan mengajak Jaka untuk keluar meninggalkan gubuk. Jaka langsung menurut, dia mengikuti langkah Abirama tanpa sedikit pun bertanya.
__ADS_1
"Coba kamu keluarkan energi milikmu," ucap Abirama sesaat setelah Jaka sudah sampai di pekarangan gubuk milik Kanti.
Mendengar itu, Jaka langsung mencoba mengeluarkan energi dari tangannya. Abirama terus melihat energi yang berpendar dari lengan Jaka, dia terus mendekatkan wajahnya untuk melihat apakah ada kejanggalan pada tubuh pengguna energi tersebut. Cukup lama Jaka mempertahankan energi di tangannya, namun Abirama tidak menemukan kelainan sama sekali pada lengan Jaka.
"Dar ... sebenarnya ini aneh. Setahu saya, manusia tidak mungkin bisa mengenakan energi ini. Namun jika ada, itu pasti setelah mereka melakukan perjanjian jiwa dengan Banaspati," ucap Abirama dengan dahi berkerut. Dia mencoba memberitahukan usulnya kepada Darto.
"Apa penduduk desa kamu pernah bertemu dengan Banaspati setelah pertarungan terakhir Ki Surya?" sambung Abirama, kali ini dia bertanya pada Jaka.
"Tidak, kami semua hidup di dalam desa, dan tidak pernah keluar kecuali mencari pasangan. Ditambah kita bisa keluar desa, jika sesepuh ikut menemani," jawab Jaka dengan tatapan lurus, tidak ada kebohongan yang tampak dari pancaran matanya.
"Dar ... coba kamu salurkan energi kamu ke tubuh Jaka," pinta Abirama sesaat setelah Jaka selesai berbicara.
Mendengar itu, Darto langsung mendekat. Dia meminta Jaka untuk duduk bersila, kemudian Darto ikut duduk di belakang Jaka. Setelah mereka berdua duduk, Darto menyentuh pundak Jaka, dia melakukan sesuatu yang sama, seperti yang Si Mbah Turahmin lakukan, ketika dirinya menyalurkan energi ke dalam tubuh Darto, di hari lampau.
Melihat itu, Abirama kembali membuka suara, "Cukup, Dar. Saya sudah tahu."
Mendengar perintah Abirama, Darto langsung melepas telapak tangan miliknya dari punggung Jaka. Dia berangsur mundur dan membiarkan Abirama mendekat pada Jaka.
Setelah itu, Abirama meraih tangan Jaka kemudian dia memejamkan mata untuk sejenak. Tidak butuh waktu lama Abirama membuka mata miliknya sembari berkata, "Coba kamu pakai lagi energi kamu, Jak."
Jaka mengangguk dia langsung menuruti permintaan Abirama, dan mencoba menggunakan energi di dalam tubuhnya. Saat itu yang keluar dari tubuh Jaka adalah energi merah yang lebih menyala, berbeda dengan sebelumnya, energi yang keluar dari lengannya memiliki warna merah yang begitu cerah, dan juga kobarannya terasa lebih dan lebih panas lagi.
"Bukan energinya, Dar. Tapi tubuh Jaka yang berbeda," ucap Abirama memetik kesimpulan.
__ADS_1
"Maksud guru?" tanya Darto heran, dibarengi anggukan kepala Jaka.
"Ki Surya yang saya tahu dia memiliki energi yang hampir mirip dengan Banas pati, Dar. Tapi energi miliknya tidak sepanas milik Banaspati, mungkin Jaka memiliki energi yang mirip dengan kepunyaan Ki Surya, ditambah dia terlahir dengan energi Banaspati yang mengekang hidupnya. Yang jelas tanpa satu orang pun sadar, rantai yang mengikatnya sudah menjadi bagian dari tubuhnya, dia terus menyatu dengan energi milik Jaka, hingga Jaka bisa mengendalikan energi tersebut," ungkap Abirama panjang lebar, sembari menatap Jaka dengan tatapan sendu.
"Apa memang bisa seperri itu?" tanya Darto heran.
"Sebenarnya Jaka hanya sudah terbiasa hidup dengan energi itu, Dar. Orang gunung tidak akan bisa menyelam selama sepuluh menit di dalam laut, tapi orang laut tidak akan kuat mendaki gunung tinggi secepat penduduk kaki gunung. Kamu tahu maksudnya?" tanya Abirama.
"Iya saya tahu, semua orang punya kehebatan di bidang masing-masing," jawab Darto.
"Salah, Dar. Semua orang akan melakukan sesuatu dengan mudah, jika sesuatu itu sudah menjadi bagian hidupnya," ucap Abirama berhenti. Dia tersenyum kepada Darto kemudian kembali berkata, "Sedangkan Jaka ... dia bukan orang gunung maupun laut, Dar. Dia terlahir dengan api yang melilit lehernya."
Mendengar ucapan Abirama, Darto dan Jaka seketika saling bertukar pandang, mereka mencoba mengartikan ucapan Abirama. Setelah cukup lama bungkam, Darto akhirnya bersuara, "Jadi ... energi itu tidak membahayakan tubuh Jaka, 'kan? Saya sangat takut karena saya pernah menyentuh tubuh Jaka, dan saat itu tubuhnya benar-benar panas."
"Tidak sama sekali," jawab Abirama sembari terus memandangi Jaka dengan tatapan senang.
Setelah cukup lama memperhatikan Jaka, Abirama kembali membuka suara, "Jika kamu mau. Saya bisa melatih kamu, agar kamu bisa menjadi bantuan untuk Darto. Lawan Darto kali ini tidak bisa diremehkan."
Mendengar ucapan Abirama, Jaka spontan melihat Darto. Dia ingin meminta pendapat dari Darto, dan Darto yang melihat wajah bingung Jaka langsung berkata, "Terima saja, Jak. Meski kamu tidak membantuku untuk melawan Banaspati, ilmu yang akan kamu dapatkan akan sangat berguna untuk hidup kamu."
Setelah mendengar ucapan Darto, Jaka sejenak menghela nafas panjang. Dia menunduk dalam kebingungan, namun tak lama kemudian dia berkata, "Tolong bimbing murid bodoh ini, agar bisa membantu seseorang yang berharga bagi saya. Maaf jika nanti saya merepotkan. Mulai sekarang saya akan menuruti semua perintah Guru."
Bersambung ....
__ADS_1