
"Apa maksudmu?" Tanya Mbah Turahmin sembari menatap Wajana dengan wajah terkejut.
"Darto baru saja menyelesaikan satu urusan, Ki. Dia itu sama seperti kanjeng Darma, takdirnya tidak hanya mengurus masalah yang dialami keluarganya saja," ucap Wajana sembari membalas tatapan Mbah turahmin.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan mulai dari sekarang?" Sergah Darto sembari menatap Wajana dengan tatapan kecewa.
"Apa ular itu tidak mengucap sesuatu sebelum mati? Maksudku ular jantan yang menjadi pasangan ular milik Gending?" Sambung wajana.
"Tidak, dia mati hanya dalam satu serangan. Bahkan sebelum melihat penyerangnya," timpal Ki Karta sembari menirukan gerakan Darto ketika memanah.
"Sungguh?!" Sastro membuka suara dengan mata terbelalak.
"Iya, dia aku bunuh dari kejauhan. Dia mati bahkan sebelum tau dirinya sedang di serang," jawab Darto sembari duduk kembali.
"Untunglah kalau begitu. Dia lebih kuat dari ular milik Gending, jika saja kamu harus melawannya bersamaan.." Ucap Sastro terhenti, dia membayangkan Darto akan kalah lagi jika saja ular jantan itu menyadari kehadirannya terlebih dahulu.
"Sudah yang penting itu sudah berlalu, dan hasilnya bisa kalian lihat sendiri. Aku menang tanpa sedikitpun terluka," ketus Darto sedikit tidak senang, karena Sastro seakan meremehkan dirinya.
"Iya, Dar. Maaf saya hanya merasa takut jika terjadi apa-apa lagi sama kamu. Mau bagaimanapun, kamu harapan kami satu-satunya. Cuma kamu yang kuat melawan mereka, dan kami sudah menunggu untuk bertemu dengan dirimu untuk waktu yang sangat lama," sambung Sastro kemudian mendekat ke arah tubuh Gending yang kini masih terbaring di atas dipan. Kemudian ia berkata "Lebih baik, kita kubur dulu jasad Gending untuk sekarang."
Mendengar permintaan Sastro, Ki Karta berpamitan. Dia undur diri untuk pergi ke rumahnya, untuk mengambil beberapa perlengkapan yang di perlukan untuk prosesi pemakaman. Setelah itu, Ki Karta berjalan sendirian meninggalkan Darto beserta tiga lelaki tua di dalam gubuk tersebut untuk menunggu kedatangannya kembali.
__ADS_1
"Sebenarnya apa Gending tidak bisa mati sebelumnya?" Ucap Darto setelah melihat punggung Ki Karta sudah menghilang ditelan kegelapan di depan sana.
"Jika dia bisa mati, dia sudah bunuh diri sejak dulu, Dar. Kami tahu persis betapa inginnya Gending mati. Setiap dia mati ruhnya kembali ke raganya lagi, dan sebagai ganti dari kematiannya anak ular di dalam tubuhnya menggantikan kematiannya. Bisa dibilang nyawa Gending ada ribuan, dan tidak terhitung sudah berapa kali Gending menusuk tubuhnya setiap tujuh tahun sekali," ucap Wajana mencoba menjelaskan apa yang mereka sudah saksikan selama ini.
"Jadi kita memang harus menghabisi anakan ular itu terlebih dahulu? Agar Gending bisa mati?" Tanya Darto kembali.
"Itu salah satu cara, Dar. Tapi daripada harus repot membunuh satu persatu anakan ular, lebih baik kita membunuh langsung si pemilik perjanjian. Jika salah satu dari dua orang yang melakukan perjanjian mati, maka perjanjian itupun dianggap usai," timpal Sastro yang sedari tadi menyimak percakapan dua pemuda di depannya.
"Terimakasih, Dar. Berkat kamu kami bisa bebas, Gending juga bisa pulang dengan tenang. Dia sungguh menginginkan kematian untuk waktu yang sangat lama," sambung Sastro kembali. Dia menatap wajah Darto dengan tatapan sendu dan juga mata yang berbinar.
"Kalian sendiri kan, yang bilang? Kalau itu takdir saya? Jadi untuk apa kalian berterimakasih? Jika memang itu sudah ketetapan yang harus kulakukan?" Tanya Darto dengan wajah acuh. Dia sudah bisa mengendalikan emosi di dadanya, dan tidak ingin terlihat senang ketika menerima ucapan terimakasih yang dilebih-lebihkan.
"Yahhh..." Sastro tidak bisa menjawab apapun pernyataan yang Darto pertanyakan.
Mendengar pertanyaan itu, Sastro dan Wajana saling bertukar tatapan. Mereka sejenak diam kemudian saling mengangguk dilanjut mengatakan sebuah kata yang sama secara bersamaan "Raja utama."
"Ular jantan itu setara panglima, dia memiliki kerajaan anakan sama seperti saya, Dar. Hanya saja dia berada di atas saya, dia adalah tangan kanan dari sosok yang mungkin sudah pernah kamu dengar. Namanya Banaspati," sambung Wajana kemudian menatap wajah Darto dengan tatapan lurus dan mencekam.
Mendengar itu. Mbah turahmin langsung terperanjat dari posisi duduknya. Dia berdiri dengan wajah yang tampak gelisah, juga mata yang terbelalak karena begitu terkejut dengan apa yang baru saja Wajana katakan. Bulir keringat langsung keluar dari pelipisnya, dia tampak ketakutan sembari berkata "Jangan bercanda kamu! Kamu mau cucuku melawan mahluk itu?"
"Memang kenapa, Mbah?" Timpal Darto singkat, dia kebingungan dengan sikap Si Mbah yang selalu tenang tiba-tiba memampangkan wajah yang begitu ketakutan.
__ADS_1
"Dia mahluk yang bahkan sudah hidup sebelum manusia menginjak tanah jawa! Kalian tau ada buku kuno yang sempat saya baca, semuanya menceritakan tentang mahluk terkutuk tersebut. Ada satu bagian yang mengatakan jika dia bahkan sampai menghanguskan satu desa hanya dalam satu malam, hanya karena alasan dia sedang bosan!" Ketus Si Mbah sungut-sungut. Dia tampa marah karena mengingat cucunya harus menghadapi sosok yang menjadi momok bahkan sudah beribu tahun lamanya.
"Masih ada harapan, Ki. Teman Kanjeng Romo tidaklah lemah, salah satunya juga Raja di tanah ini. Dia lebih tua dari banaspati, dan dia pasti akan memberikan petunjuk jika dia bertemu dengan Darto," sambung Sastro sembari memalingkan pandangannya ke arah Mbah turahmin.
"Siapa?" Tanya Darto.
"Kalian pasti tahu, dia penjaga dayang di pulau ini, dia dia juga mahluk tertua di tanah ini. Kalian pasti sering mendengar namanya ketika menonton wayang kulit," ucap Wajana sembari memegang pundak Darto dengan kedua tangannya.
"Iya, Dar. Kita sebaiknya minta petunjuk dari kanjeng Semar di kaki gunung merbabu," sambung Sastro.
"Kalian kenal sosok itu?!" Sergah Si Mbah dengan mata terbelalak.
"Dia teman Abah Romo," jawab Sastro singkat.
"Darto pernah dengar dari Abirama, jika Kanjeng Darma bahkan seimbang melawan raja tertua. Mungkin yang dimaksud oleh dia itu Semar, Mbah," jawab Darto sembari menoleh ke arah Si Mbah dengan tatapan menyelidik.
"Hah... Semuanya jadi serumit ini, Dar. Si Mbah tidak mungkin bisa membantu lagi dari sekarang. Aku ada di tingkatan yang sangat jauh dari dua mahluk yang Sastro dan Wajana ceritakan. Tapi meski hanya bisa memberi sedikit sekali bantuan, aku akan memberikan semua yang terbaik, dari apa yang bisa aku lakukan," sambung Si Mbah, sembari mendekap kepala Darto. Dia mengusap kepala cucunya dalam rasa khawatir, namun sedikit merasa bangga kepada takdir yang cucunya emban.
Melihat Si Mbah yang sudah menyetujui Darto untuk melakukan apa yang mereka pinta. Sastro dan Wajana seketika tersenyum, dia merasa bangga karena akan mengikuti perjalanan panjang pemuda di depannya. Semua percakapan malam itu pun akhirnya disudahi, Ki Karta beserta Ujang, Gayatri dan juga Asep sudah datang membawa peralatan penuh. Malam itu mereka mengubur jasad Gending di sebelah gubuk reot, tempat dimana dirinya mati.
Bersambung,-
__ADS_1
...Jangan lupa vote nya ya 😁😁...