ALAM SEBELAH

ALAM SEBELAH
TUJUH


__ADS_3

Setelah lebih dari dua jam lamanya, Darto dan lima temannya akhirnya berhasil sampai pada pintu masuk kamar sepuluh. Mereka cukup merasa lelah, mengingat jalan yang sudah mereka susuri cukup panjang dan juga berkelok-kelok.


Tidak membuang waktu lagi, Darto langsung membuka pintu nomor sembilan kemudian berkata, "Jaka ... Sastro dan Komang, kalian masuk kamar nomor ini, sisanya ikut aku ke kamar nomor delapan."


Jaka, Sastro dan Komang langsung mengangguk, mereka masuk menuju kamar yang sudah Darto buka, tanpa mengucap sepatah pun kata pada bibir mereka.


Mereka benar-benar tidak mempermasalahkan kehebatan musuh yang akan mereka hadapi, yang mereka tahu hanya satu, yaitu perhitungan Darto dan juga informasi yang Brahmana berikan tidak pernah meleset.


Setelah melihat tiga temannya masuk, Darto, Maung dan Wajana bergegas membuka pintu nomor delapan. Mereka juga masuk tanpa sedikitpun rasa takut yang singgah di dalam dada, yang ada hanya rasa ingin cepat menyelesaikan tugas yang sudah terlalu lama membebani dirinya dan juga seluruh temannya.


Dua kelompok itu bertarung setelah masuk ke dalam kamar. Musuh yang mereka hadapi benar-benar lebih kuat dari semua musuh yang sudah dikalahkan, namun itu tidak cukup untuk memberikan tekanan pada dua kelompok tersebut.


Darto, Wajana dan Maung keluar terlebih dahulu dan selang satu jam lamanya Jaka dan dua temannya ikut keluar dari kamar nomor sembilan.


"Sungguh, Kang ... Anak buahnya saja sudah sekuat pemilik kamar yang sudah kita kalahkan," ucap Jaka dengan bibir mengambang.


"Tapi kamu kuat, kan?" Darto terkekeh sembari mengacak rambut Jaka.


"Jelas dong ... Aku sendiri saja sudah cukup," Jaka menjawab sembari melihat Sastro dan Komang dengan tatapan mengejek.


"Halah ... kalau tidak ada aku, sudah dimakan sama mahluk itu kamu, Jak ... ha ha ha ha ha," Sastro terbahak.


"Sudah-sudah ... yang penting kita semua aman sekarang. Jadi bagaimana, Dar? Kita pisah lagi?" tanya Wajana.


"Jangan ... Dari nomor tujuh kita harus terus bersama. Kalian seharusnya ingat, Brahmana sudah berkata jika tempat yang pernah dia kunjungi hanya sampai kamar nomor delapan," Darto menjawab dengan wajah serius.


Mendengar itu, lima teman Darto langsung mengangguk. Mereka juga sedikit merasa bimbang, karena mereka tidak memiliki informasi seperti kamar-kamar yang sudah mereka bersihkan.


Dari kamar nomor tujuh, Darto dan lima temannya akan melakukan usaha yang sebenarnya. Yang mereka tahu hanya bentuk dari pemilik kamar seperti yang Brahmana ucapkan, namun mereka tidak tahu dimana letak sarang maupun seberapa banyak jebakan yang sudah disiapkan.


"Kalian siap?" tanya Darto sembari memegangi gagang pintu.


Mendengar itu semua orang langsung mengangguk, sedangkan Daro langsung membuka pintu tanpa ragu-ragu setelah melihat semua temannya mengangguk.

__ADS_1


Setelah pintu terbuka lebar, pemandangan yang terpampang benar-benar sama seperti apa yang pernah mereka lihat sebelumnya di dalam dunia ilusi.


Tampak sebuah danau yang memiliki air hitam kebiruan, membentang begitu luas sejauh mata enam pria itu memandang. Danau itu tampak tidak memiliki ujung dan pantas jika dikira sebagai lautan.


Melihat hal tersebut, Darto hanya menghembuskan nafas dengan kasar sembari berkata, "Sepertinya kita harus berpencar lagi."


Maung dan Komang langsung merubah wujud menjadi harimau setelah mendengar rengekan Darto, kemudian mempersilahkan Darto dan Jaka untuk menaiki punggung mereka.


Jaka dan Darto langsung melompat dan naik ke atas punggung Maung dan Komang, sedangkan Sastro dan Wajana masih diam di tempatnya.


"Sastro ikut Jaka. Naik saja di atas punggung Komang ... dan Wajana, sini naik ke atas punggung Maung, kita tidak boleh terpencar lebih dari dua kelompok," ucap Darto sembari menatap Sastro dan Wajana secara bergantian.


Setelah Sastro dan Wajana naik,


Maung dan Komang langsung berlari. Mereka menuju dua arah mata angin yang berlawanan, untuk memperpendek waktu penelusuran.


Jika mereka berlari satu arah akan membutuhkan waktu dua kali lipat lamanya. Tapi jika mereka berpencar, setidaknya dua kelompok itu hanya perlu berlari dan mengitari setengah danau saja.


Hampir satu jam lamanya dua kelompok tadi berpencar, namun sama sekali tidak menemukan titik terang sama sekali.


Darto sedikit khawatir tentang kelompok Jaka, sedangkan Jaka kuga menghawatirkan kelompok yang lainnya karena mereka belum juga bertemu setelah cukup lama.


Bayangkan saja sebesar apa danau yang sedang mereka sisir. Dengan kecepatan yang diluar nalar saja mereka tidak saling berpapasan setelah hampir satu jam lamanya.


Jika berjalan kaki, mungkin mereka sudah menghabiskan waktu lebih dari satu minggu lamanya, hanya untuk sampai di titik dimana kini mereka tengah berdiri. Untung saja ada Maung dan Komang, mereka berdua benar-benar tidak memiliki rasa lelah, meski terus berlari dengan kecepatan yang gila.


Detik demi detik terus berlalu, yang semula hanya satu jam perlahan menjadi dua jam, hingga tidak terasa sudah lima jam Komang dan Maung berlari tanpa berhenti sembari menggendong dua pria di atas pundaknya.


Nafas dua mahluk itu mulai terengah-engah, bahkan kecepatan mereka mulai melambat meski hanya sedikit saja.


"Maung ... Kita beristirahat saja dulu. Kamu pasti lelah," ucap Darto sembari menatap wajah Maung di depannya.


"Tidak, Dar sudah terlalu jauh kita berlari. Mungkin sebentar lagi kita bertemu Komang dan yang lainnya," Jawab Maung dengan nafas memburu.

__ADS_1


Benar saja, setelah Maung mengucap Kata tersebut, mereka berpapasan dengan Komang yang tengah berlari, dua harimau kuning dan hitam itu hampir bertabrakan, namun mereka mengelak dengan begitu sempurna.


"Kamu istirahat di jalan Komang?" tanyakan Maung sembari merubah wujud menjadi manusia.l kemudian ambruk di atas tanah karena kelelahan.


"Tidak ... sepertinya danau ini benar-benar luas," jawab Komang sembari merebahkan badan setelah menjadi manusia.


"Lebih baik kita istirahat saja dulu, nanti kita bahas lagi kalau sudah mendingan," ucap Darto yang ikut merebahkan tubuh.


Mendengar hal tersebut, enam pria tersebut memutuskan untuk beristirahat tepat di titik temu. Rasa lelah benar-benar menguasai seluruh tubuh, meski selain Maung dan Komang hanya duduk saja selama berjam-jam lamanya.


Setelah beberapa puluh menit mereka merebahkan tubuhnya, Darto beranjak duduk dan kembali membuka suara, "Apa mungkin kita harus masuk ke dalam air? Sepertinya sama sekali tidak ada musuh di seluruh tepi danau."


Mendengar ucapan tersebut, enam pria saling memandang satu sama lain secara bergantian. Mereka hanya diam dan tidak membuka suara sebelum akhirnya satu keputusan keluar dari salah satunya.


"Biar aku dan Wajana dulu yang mencari tahu, Dar ... kami tidak akan mati meski masuk ke dalam air," ucap Sastro.


"Boleh ... tapi kalian harus janji, jika melihat musuh jangan langsung berkelahi," jawab Darto serius.


"Tenang saja, aku tahu, dan aku tidak seceroboh itu," sahut Wajana sembari berdiri.


Setelah mengucap kata tersebut, Sastro dan Wajana bergegas melangkahkan kaki. Mereka berjalan tepat menuju arah danau, dan langsung masuk ke dalam air tanpa rasa ragu sedikitpun.


Semakin Sastro dan Wajana melangkah, semakin tubuh mereka tenggelam. Mereka berdua benar-benar terus maju meski seluruh tubuhnya sudah terendam air hitam kebiruan di dalam danau tersebut.


Darto, Jaka, Maung dan Komang hanya bisa berharap jika dua lelaki itu kembali dengan sebuah jawaban. Mereka tidak bisa ikut, mengingat Darto dan Jaka adalah manusia yang tidak bisa bernafas di dalam air.


Sesaat tidak terjadi apapun setelah Sastro dan Wajana masuk ke dalam air, tidak ada pergerakan sama sekali untuk waktu yang cukup lama, hingga sesuatu yang mencengangkan terjadi setelahnya.


Permukaan air yang semula begitu tenang mulai beriak kemudian bergelombang, gelembung demi gelembung mulai keluar dari dalam air di berbagai tempat, kemudian satu persatu tubuh manusia mulai mengambang ke atasnya dengan posisi tengkurap.


Sungguh itu benar-benar tubuh manusia, jasad yang mengambang masih mengenakan baju dan celana, meski tubuh mereka sudah menggembung dengan kulit yang begitu putih di seluruh badannya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2